Cerita Tugu dan Monumen Proklamasi

Monumen Proklamator di Taman Proklamasi Jakarta. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Siang yang sangat terik itu, saya sedikit terselamatkan dari panas matahari kala berjalan di antara pepohonan rindang di sebuah taman di depan Gedung Perintis Kemerdekaan atau Kantor Pusat Bakamla, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Tak jauh menapaki taman, di sebuah lapangan berkeramik saya mendapati dua tugu dan satu monumen patung Sukarno-Hatta. Taman itu dikenal sebagai Taman Proklamasi.

Saya memarkir sepeda motor di dekat gerbang masuk Gedung Perintis Kemerdekaan, yang dahulu bernama Gedung Pola Rencana Pembangunan Semesta. Gedung yang dibangun pada 1961 itu, di masa pemerintahan Sukarno mulanya ditujukan sebagai museum dan galeri yang bakal memamerkan rencana-rencana fisik besar yang digagas pemerintah.

Saat itu, saya masuk ke Taman Proklamasi lewat pintu kecil di Gedung Perintis Kemerdekaan. Sementara gerbang utama taman tersebut terkunci. Membuat taman yang punya nilai historis perjalanan perdana bangsa merdeka melalui pembacaan naskah proklamasi, 17 Agustus 1945, terkesan mati. Tanpa pengunjung. Hanya menyisakan terik matahari, suara bising kendaraan, asap polusi, dan sesekali desir angin.

Robohnya Rumah Bung Karno

Pembangunan Gedung Pola dan Taman Proklamasi mengorbankan rumah Sukarno. Dahulu, di teras rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56—yang lalu berubah nama menjadi Jalan Proklamasi—tersebut, Sukarno didampingi Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia membacakan naskah proklamasi kemerdekaan. Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau Henk Ngantung, Gubernur Jakarta tahun 1964-1965 dalam buku Karta Jaya: Kenang-Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta 1945-1966 (1977) menulis, pembongkaran Gedung Proklamasi—nama yang disematkan untuk rumah Sukarno, tempat pembacaan teks proklamasi—adalah keputusan pribadi Bung Karno. Henk menyayangkan keputusan itu. Ia mengaku tak setuju dengan keputusan itu.

Suatu pagi, beberapa hari sebelum Gedung Proklamasi dibongkar, Henk menghadap Bung Karno di Istana Merdeka, Jakarta. Henk sempat menanyakan apakah keputusan Bung Karno untuk membongkar Gedung Proklamasi tidak bisa dipikir ulang lagi. Selanjutnya, ia menyarankan agar bangunan itu dipertahankan, dengan tujuan dijadikan gedung bersejarah untuk kepentingan generasi mendatang. Sebelum bertemu Bung Karno, Henk melihat ada tamu yang menemui Sukarno. Henk menduga, mereka mengusulkan agar Gedung Proklamasi dijadikan semacam museum.

Maka, dengan nada kecewa dan agak marah, Bung Karno mengatakan kepada Henk, “Apakah kamu juga termasuk mereka yang ingin memamer celana kolorku!” Merasa sarannya diabaikan, Henk lantas mengusulkan membuat duplikat Gedung Proklamasi. Kali ini, tanpa ragu, Bung Karno setuju. Henk membuat miniatur Gedung Proklamasi berbentuk maket berukuran 2 meter per segi dengan teliti, termasuk pembuatan konstruksi, jenis bahan-bahan, dan warna bangunannya.

Mulanya, maket itu diletakkan di Balaikota Jakarta. kemudian, disimpan di Gedung Pembangunan Perumahan di Jalan MH. Thamrin, Jakarta. Kini, entah di mana. Belakangan, Henk baru menyadari kalau persetujuan Bung Karno tentang pembuatan duplikat itu bisa juga diartikan membangun kembali gedung Pegangsaan Timur 56 itu dalam keadaan maupun dalam ukuran yang sama, namun tidak di atas tanah dan tempat yang sama.

Rencana pembongkaran Gedung Proklamasi dilontarkan juga oleh Sukarno di sidang pleno istimewa Dewan Perancang Nasional (Depernas) Bandung pada 13 Agustus 1960. Selain akan meratakan rumahnya sendiri di Pegangsaan Timur 56, Sukarno pun bakal menghancurkan tugu kecil yang letaknya di halaman muka rumah itu.

Nama lengkap tugu yang dimaksud adalah Tugu Peringatan Satu Tahun Republik Indonesia.

Orang-orang mengenalnya sebagai Tugu Proklamasi.

Dalam buku Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesia jilid 3 (2009), jurnalis Rosihan Anwar menulis, pemimpin pelaksana proyek pembangunan tugu itu adalah Johanna Masdani atau Jo Masdani. St. Sularto dalam tulisannya di buku Bung Karno di antara Saksi dan Peristiwa (2009) menyebut, ketika itu Jo Masdani dibantu beberapa orang tokoh perempuan, seperti Mien Wiranatakusumah, Zus Ratulangi, Zubaedah, dan Nyonya Gerung.

Sketsa tugu dibikin mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Kores Siregar. Pada Juli 1946, tugu dibangun. Pertengahan Agustus 1946, siap diresmikan. Sayangnya, dengan alasan kemanan lantaran banyak pasukan Sekutu, Wali Kota Jakarta Suwirjo menolak meresmikannya.

Akhirnya, Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang meresmikan tugu itu pada 17 Agustus 1946. Sejak itu, tempat ini jadi lokasi penyelenggara upacara peringatan kemerdekaan. Tugu itu berbentuk jarum, simbol perkembangan kemajuan. Di bawah tugu, ada tulisan “atas usaha wanita Jakarta”. Lalu, kutipan naskah proklamasi dan peta Indonesia.

Pamor Tugu Peringatan Satu Tahun Proklamasi mulai menyurut sejak 1956. Apalagi, di sidang pleno istimewa Depernas Bandung pada 13 Agustus 1960, Sukarno terang-terangan bilang, tugu itu bukan Tugu Proklamasi, melainkan Tugu Linggarjati. Walau ia tak memaparkan buktinya. Maka, Bung Karno memerintahkan membongkar tugu—dan juga rumahnya—sebelum 17 Agustus 1960.

Rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. (Foto: repro buku Karya Jaya Kenang Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta 1945 1966)

Setelah Gedung Proklamasi dihancurkan, B. Suharto menulis cerita satire terkait peristiwa itu. Dalam “Rumah Proklamasi” yang dimuat Mimbar Indonesia Nomor 9, September 1966, Suharto mengisahkan tokoh bernama Sarmin yang mengajak keluarganya ke Jakarta dari kampungnya di Dieng. Kebetulan menjelang peringatan 20 tahun kemerdekaan Indonesia, Sarmin membawa keluarganya ke Jalan Pegangsaan timur.

Namun, tiba di tempat tujuan, Sarmin bingung. Rumah yang dicarinya sudah tidak ada. Yang ada gedung beton megah. Sarmin lantas bertanya kepada seorang penjaga gedung.

“Numpang tanya je pak. Ngkali di sini dulu rumah proklamasi kita je pak?” tanya Sarmin.

“Bener.”

“Kok dibongkar, emangnya ngapain sih pak?”

“Tau! Itu sih urusan bapak-bapak kita yang kuasa, bang.”

Tugu dan Monumen

Empat bulan setelah Gedung Proklamasi dan Tugu Proklamasi diratakan dengan tanah, tepatnya pada 1 Januari 1961, upacara pencangkulan pertama oleh Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 dilakukan. Itu adalah salah satu isyarat pembangunan nasional semesta tahap I. Lalu, pada 1 Februari 1961, dimulai pembangunan Gedung Pola di bawah arahan arsitek F. Silaban.

Tugu Proklamasi atau Tugu Petir di Taman Proklamasi Jakarta. (Foto: Dokumentasi penulis)


Dalam sidang pleno istimwa Depernas Bandung, Sukarno bakal membangun tugu pengganti di atas tempat dahulu proklamasi dibacakan. Selain itu akan dibangun taman yang indah. “Di mana kita punya anak-anak bisa bersenang-senang setiap hari,” kata Sukarno dalam Mimbar Indonesia Nomor 1, Januari 1964.

Menurut Susilo Winarno dalam “Gedung Pola: Lambang Kebesaran Tjita-tjita Bangsa Indonesia” di
Mimbar Indonesia Nomor 1, Januari 1964, tugu itu setinggi 17 meter, yang melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan.

Di puncaknya ada simbol kilatan halilintar, yang melambangkan betapa hebatnya petir kemerdekaan menyambar ke seluruh pelosok dunia. Bentuk linggis yang berwujud tugu melambangkan proklamasi kemerdekaan, yang harus diisi dengan pembangunan.

Di bagian bawah tugu, terdapat tulisan, “Di sinilah dibacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.”

Namun, setelah Sukarno lengser dari kekuasaan, Tugu Peringatan Satu Tahun Republik Indonesia dibangun kembali. Usaha itu dimulai pada 1972. Pada 17 Agustus 1972, tugu yang dibangun ulang tersebut diresmikan. Usai ada dua “tugu proklamasi” di Taman Proklamasi, terjadi semacam ambigu: mana yang disebut Tugu Proklamasi?

Menurut Wasif Yafisham dalam “Tugu Proklamasi yang Mana?” di Selecta, 16 Agustus 1976, yang disebut tugu proklamasi adalah tugu berlambang petir di ujungnya.

“Banyak orang yang menafsirkan bahwa tugu peringatan setahun proklamasi itu adalah Tugu Proklamasi dan kenyataan itu selalu dibantah dengan keterangan-keterangan yang diberikan oleh pihak Gedung Pola apabila ada rombongan yang ingin melihat dari dekat bagaimana bentuk dan ‘gaya’ tugu proklamasi tersebut,” tulis Wasif.

Menurut Wasif, Bung Hatta termasuk orang yang sering mengunjungi Tugu Proklamasi. Ia selalu datang sendirian, setiap jam 5 sore. “Terkadang Bung Hatta meneteskan air mata karena terharu mengingat peristiwa proklamasi yang lalu,” tulis Wasif. “Berada di lokasi Tugu Proklamasi itu, Bung Hatta tidak mau banyak bicara, paling banter matanya menyusuri ke sudut-sudut pagar yang mengelilingi gedung tersebut.”

Di antara kedua tugu, ada satu lagi bangunan yang tampak menjadi sentral Taman Proklamasi: Monumen Proklamator. Monumen yang menggambarkan sosok Sukarno dan Hatta serta teks proklamasi di tengahnya itu diresmikan Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1980. Monumen itu memang tampak megah dibandingkan dua tugu yang sebelumnya sudah ada.

Namun, bisa saja monumen itu justru mengaburkan letak persisnya Sukarno didampingi Hatta membacakan teks proklamasi. Kemegahannya pun tersapu kesunyian taman. Nyaris tak ada pengunjung, bila bukan hari kemerdekaan. Yang saling bersautan hanya klakson kendaraan di luar pagar besi. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top