Taufiq Ismail dan Horison: Yang Berdiri Kokoh Bersama Cita-Cita

Taufiq Ismail. (Sumber: FIB Universitas Indonesia)

Sebuah pameran unik dan penting diselenggarkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 23 April – 24 Mei 2026 lalu. Sebuah pameran sastra bertajuk, Yang Terbit, Yang Tenggelam, 60 Tahun Majalah Horison. Unik, karena pameran majalah sastra jarang diselenggarakan. Apalagi dengan kuratorial, bahan dan display yang menarik.

Di sebuah pusatk kesenian pula. Penting, karena Majalah Horison merupakan majalah sastra yang paling panjang umurnya di Indonesia, dan salah satu majalah sastra tertua di dunia. Dalam pameran itu hadir penyair Taufiq Ismail, satu-satunya pendiri Majalah Horison yang masih hidup. Kehadiran lelaki berusia sembilan puluh tahun dalam pameran tersebut seakan ingin menunjukkan bahwa ia masih berdiri kokoh bersama cita-citanya, menerbitkan majalah sastra.

Majalah dan Sejarah Sastra

Majalah sastra dan kebudayaan menempati posisi penting dalam perjalanan sastra Indonesia modern. Bahkan beberapa angkatan dalam sejarah sastra dinamai dengan nama majalah. Angkatan Pujangga Baru, misalnya, ditandai oleh penerbitan majalah Pujangga Baru yang digawangi Sutan Takdir Ali Sjahbana. Di majalah itulah dimulai Polemik Kebudayaan, sebuah usaha merumuskan arah kebudayaan Indonesia di masa depan.

Pada periode berikutnya ada majalah Kisah, yang mengawali tumbuhnya Angkatan 50-an – yang juga disebut generasi Kisah. Beberapa majalah sastra dan budaya yang cukup populer di masa lalu adalah Pandji Poestaka, Poedjangga Baroe, Pantja Raja, Pembangoenan, Mimbar Indonesia, Gema Suasana, Indonesia, Zenith, Konfrontasi, Boedaja, Zaman Baru, Budaja Djaja.

Bisa jadi, kenyataan itulah yang mendorong beberapa sastrawan muda untuk menerbitkan sebuah majalah sastra dan kebudayaan di awal keruntuhan Orde Lama. Berawal dari diskusi di antara sesama, mereka memutuskan untuk mengunjungi Mochtar Lubis— wartawan dan sastrawan yang lebih senior – di rumah tahanan Salemba. Dalam pertemuan itulah Taufiq Ismail, Ras Siregar dan Arif Budiman mendesak Mochtar Lubis untuk menerbitkan sebuah majalah sastra.

“Ketika diskusi sampai kepada siapa yang akan menyandang dana, kami bertiga saling berpandangan, dan kemudian tertawa. Bang Mochtar juga tersenyum. Dia jadi tahu pasti ketiga penulis muda ini tidak punya modal dan juga tidak punya usul nama pemodal”

(Ismail, 2016)

Ketiadaan uang tidak menyurutkan semangat mereka. Rapat-rapat terus diadakan hingga disepakati untuk menerbitkan majalah Horison, nama yang diusulkan Taufiq Ismail. Mochtar Lubis kemudian mengontak beberapa rekannya. “…mulai dari Ali Audah, H.B. Jassin, Umar Kayam, termasuk Sudakak yang menyumbangkan modal pertama Rp.10.000,- dan A.H. Shahab yang bersedia menerbitkan nomor pertama”.

Dilihat dari kacamata sekarang, kelahiran majalah ini sungguh unik karena berawal dari rumah tahanan dan tanpa modal. Begitulah majalah Horison mengawali langkah panjang dalam perjalanan sastra Indonesia. Sejarah mencatatnya sebagai majalah sastra terlama yang pernah terbit di Indonesia dan merupakan salah satu majalah sastra tertua di dunia.

Merayakan Kebebasan

Dalam Kata Perkenalan di edisi perdana, Juli 1966, Mochtar Lubis menuliskan arah majalah ini. “Sesuai dengan namanya Horison, kaki langit, maka kami mengajak Suadara-Saudara pembaca supaya kita selalu menengok dan mencari “horison” baru, dalam arti supaya kita sadar dengan menghapuskan bata-batas pemikiran, penelaahan, kemungkinan-kemungkinan daya kreatif kita di semua bidang penghidupan bangsa kita”.

Majalah ini lahir selepas masa kekuasaan otoriter, dan edirorial di atas memperlihatkan keinginan untuk membuka ruang bagi kebebasan penjelajahan pemikiran dan kreatifitas. Kelahiran Horison— dengan pendiri Mochtar Lubis, HB. Jassin, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin, P.K.Ojong, dan Zaini— disambut gembira oleh kalangan sastrawan. Pengawal awal dari dapur redaksi adalah Mochtar Lubis, HB. Jassin, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin, D.S Moeljanto. Pada edisi 2 tahun 1967, bergabung Goenawan Mohammad. Sebagaimana bisa diamati pada katalog pameran Yang Timbul, Yang Tenggelam, beberapa terjadi pergantian di jajaran redaksi, bahkan pada tingkat pimpinan redaksi.

Sikap redaksional yang terbuka telah terlihat sejak awal penerbitan. Horison memberi ruang untuk karya terjemahan dari Amerika, Perancis, Yunani. Tapi juga menurunkan tulisan dari penulis asal Rusia, Chekoslovakia hingga Cina. Meskipun para penulis itu berasal dari blok yang bertentangan – pada masa perang dingin itu politik dunia terbelah menjadi blok barat dan timur—majalah ini tidak melakukan pemihakan. Melalui Horison kita mengenal karya Sartre, Camus, George Sefiris, Arthur Miller, hingga William Soroyan, Rielke, Gabino Allejandro, Boris Pasternak, Lu Hsun. Sesuai nama dan harapan pendirinya, Horison melebar-luaskan cakrawala bacaan dan pemikiran pembacanya.

Di awal 1970-an, Horison menjadi sarana bagi banyak eksperimen dalam bidang sastra. Karya-karya avant-gard karya penulis Indonesia mulai bermunculan. Sejak dari puisi-lirik Goenawan Mohammad, puisi konkret dan mantra Sutardji C. Bachri. Atau cerpen surealis Budi Darma dan Danarto. Perlu juga dicatat cerpen-cerpen absurd Putu Wijaya, dan sosio-psikologis Umar Kayam. Pada masa itu, Horison menjadi pintu masuk untuk mengamati sastra Indonesia kontemporer yang dinamis, variatif, dan penuh kejutan.

Ruang Alternatif di Majalah dan Surat Kabar

Memasuki tahun 1980-an, keadaan ekonomi membaik dan banyak kaum terdidik memiliki waktu luang, terutama wanita. Pada pertengahan era itu itulah tumbuh majalah-majalah wanita seperti Femina, Sarinah, Kartini dan sejenisnya. Salah satu rubrik favorit dari majalah itu adalah ruang sastra, berupa cerita pendek, atau novel dalam bentuk cerita bersambung. Untuk mengisi kebutuhan itu, beberapa sastrawan yang sudah dikenal pembaca diundang menulis.

Tentu saja yang dimuat harus sejalan dengan kebijakan redaksi dan segmen pembaca media bersangkutan. Penerbitan majalah wanita itu juga merangsang lahirnya wanita penulis. Di era itulah kita membaca karya Ike Soepomo, Mira W. Titie Saik, dan Marianne Katoppo.

Disebabkan oplahnya yang tinggi dan jumlah iklan yang melimpah, majalah wanita populer itu mampu nmemberikan honor yang cukup tinggi untuk penulis yang karyanya diterbitkan. Beberapa penulis yang sebelumnya mempublikasikan karyanya di Horison mulai bergeser ke media lain. Era 1990-an adalah masa booming surat kabar di Indonesia.

Sejak dari surat kabar berita umu, politik, kriminal, bahkan tabloid ‘kuning’. Semua surat kabar itu membuka ruang untuk karya sastra. Beberapa surat kabar bahkan membuat antologi cerita pendek terbaik. Beberapa tahun kemudian diikuti majalah remaja seperti Hai dan Anita Cemerlang, Gadis hingga Kawanku. Pendek kata, masa itu media cetak amat ramainya. Apalagi beberapa waktu kemudian juga terbit banyak surat kabar cetak.

Sarana publikasi karya sastra beralih dari majalah ke surat kabar. Surat kabar dan majalah non-sastra kini menjadi media publikasi karya sastra. Sejak itu Horison tidak lagi menjadi standar tunggal dalam dunia sastra. Horison yang dulu diincar, kini mulai ditinggalkan. Menurut catatan direktris eksekutifnya, pada 1993-1996, majalah bulanan Horison hanya terbit enam kali setahun.

Kenyataan pahit ini membuat Ati Ismail prihatin dan akhirnya mencemplungkan diri sebagai Direktris Eksekutif selama 20 tahun. Dengan berbagai cara, Ati Ismail berusaha mendapat uang agar majalah ini terbit dengan teratur, bisa menggaji redaktur dan karyawan, serta mampu memberikan honor yang layak untuk penulis.

Yang mengubur Horison akhirnya bukanlah kekurangan uang, tapi perkembangan teknologi. Pada 2016 dua pendiri Horison yang masih hidup, Taufiq Ismail dan Arif Budiman, memutuskan untuk beralih dari majalah cetak menjadi majalah online. Tapi usaha itu terhenti tiba-tiba karena meninggalnya admin pengelola web— yang membawa serta password seluruh berkas dan penyewaan provider untuk internet. Toh, Horison tidak benar-benar lenyap. Kita masih bisa mengaksesnya melalui arsip di internet.

Dari keenam orang pendiri majalah ini, hanya Taufiq Ismail satu-satunya yang masih hidup. Dialah yang mencetuskan pendirian, mengusulkan nama, hingga menjadi redaktur majalah ini. Seperti Horison, Taufiq juga menolak lenyap dari dunia sastra yang dicintainya. Hingga hari ini, ia masih kokoh dengan cintanya pada dunia sastra. Ia terus berkarya untuk dunia sastra. Termasuk dengan mendirikan Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Museum Sastra Indonesia di kampung halamannya. Pada kesempatan lain kita akan mengunjungi ruang yang tenang di antara Gunung Merapi dan Singgalang ini.


Kepustakaan

  • Ismail, Taufiq. 2016. “Latar Belakang Lahirnya Horison”. Horison, I/Juli/2016. Hal.5.
  • Putra, Esha Tegar. 2026. Katalog Pameran Yang Terbit, Yang Tenggelam. Jakarta. PDS HB. Jassin dan Perpustakaan Jakarta.
  • Lubis, Mochtar. 1966. “Kata Perkenalan”, Horison, 1/Juli 1966.Hal.2.
  • Ismail, Ati.2016. “Suka Duka 20 Tahun Bersama Sastrawan di Majalah Horison”, Horison, I/Juli/2016. Hal. 7
  • Sunarti, Sastri. 2016. “Majalah Sastra Horison, Dari Medium Cetak ke Medium Digital”. Horison, I/Juli/2016. Hal.17.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top