
Di dalam angkot berwarna biru itu, kami melaju. Kulihat wajah istriku di sampingku tampak pucat pasi dalam balutan jilbab lebarnya. Matanya sayu, seperti sudah kehilangan tenaga untuk sekadar mencemaskan sesuatu. Kugenggam tangan kanannya, kulempar sedikit senyum, menenangkan hati dan pikirannya. Di pangkuannya, anak kami yang berusia dua tahun terlelap tidur, tampak pakaiannya sudah tidak teratur. Mereka berdua pasti kelelahan. Delapan belas jam perjalanan dalam bus antarprovinsi bukan waktu yang sebentar. Berangkat dari pukul setengah satu siang dari tempat asal, dan baru subuh kami sampai di pemberhentian terakhir. Perjalanan itu cukup merampas hak kami untuk merasa nyaman; sendi kaku, punggung menggigil, dan tubuh seperti disimpan semalaman dalam peti es yang berjalan di atas roda. Serasa beku.
Sedikit lagi perjalanan usai. Berdasar aplikasi peta, kurang lebih satu setengah jam lagi sampai.
“Pak, kalau di peta, dalam satu kilometer, kita akan masuk jalur macet, ya. Merah banget ini.” Dari kursi belakang, aku mendekat ke kursi kemudi, mewanti-wanti Pak Heri, sopir angkot yang baru sejam yang lalu kami kenal. Memperlihatkan peta yang memerah semerah kepenatan yang kami bawa dari kampung.
Di pemberhentian terakhir, sehabis turun dari bus tadi, sejatinya kami mencoba memesan layanan transportasi online. Namun tidak ada satu driver pun yang menerima, jangkauannya terlalu jauh. Mungkin karena terlalu pagi juga.
Kami menoleh ke sekitar, mencari alternatif. Pak Heri yang sedang memanaskan mobil angkotnya di seberang jalan menghampiri kami, menawarkan bantuan. Lidah lincahnya mengeluarkan rentetan kalimat marketing, meyakinkan kami bahwa dengan jasanya, kami akan sampai dengan cepat dan selamat ke tujuan. Setelah berdiskusi panjang, tawar-menawar harga, kami iyakan dengan syarat tidak menerima penumpang lain sepanjang perjalanan.
“Tenang, Mas Meduro. Kita ambil jalan tikus nanti. Aku sudah hafal jalan ini.” Saat berkenalan di awal tadi, aku sempat menyampaikan asal daerah. Sebagai bagian dari ilmu marketing-nya, Pak Heri menyampaikan bahwa tetangga di rumahnya mayoritas orang Madura dan dalam menjalankan pekerjaannya sebagai sopir angkot ini, ia seringkali dibantu oleh mereka. Orang Madura sudah seperti keluarga bagi saya. Jadi Mas Meduro tidak perlu khawatir, ujarnya menjilat lidah. Sebagai orang Madura, jiwa kekeluargaanku tumbuh. Hatiku terenyuh.
Aku mengangguk saja, berharap jalan tikus yang dimaksud adalah jalur takdir yang lebih cepat membawa kami pada hidup yang kami impikan, atau setidaknya yang ingin kami perjuangkan.
Kulihat kembali istriku. Jilbabnya berkibar-kibar tertiup angin yang masuk dari pintu angkot yang bagian jok penumpangnya tak berpintu itu. Sesekali ia memperbaiki jilbab dan posisi duduknya sambil tetap menjaga anak kami agar tidak terjaga. “Mau ke mana kita ini, Yah?” Ia menatapku, tersenyum hambar. Seperti bercanda, tapi mengandung seribu cemas. Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Seketika dadaku sakit, seolah ada banyak potongan jarum menusuk-nusuk di sana. Pertanyaan itu bukan tentang alamat, kami berdua sama-sama tahu lokasi di peta. Itu tentang arah masa depan. Kukendalikan dengan menarik napas panjang dan teratur, membiarkan nasib yang bergemuruh di dalamnya luruh.
Keputusan tentang perantauan ini sudah kami diskusikan sebelumnya dengan matang, panjang lebar. Bersamanya, juga bersama keluarga besar kami. Entah apa yang membuatnya bertanya itu. “Aku capek, Yah,” lanjutnya. Kulihat anakku menggeliat dari tidurnya yang tak nyenyak.
“Sini, kuganti pangku.”
Ia menghela napas. Kuambil alih anakku yang masih tertidur. Aku rasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang ia sudah tahu jawabannya. Aku tahu itu pertanyaan akan kekhawatiran hidup di masa depan, terlebih rencana perantauan ini teramat singkat, mendadak, dan belum ada jaminan kepastian di tempat tujuan. Maka, aku cukup perlu menenangkannya. Meyakinkan bahwa Allah selalu bersama kita.
“Bismillah, Allah yang bantu kita, Bun.” Itu kalimat pamungkas sekaligus penutup wejangan yang selalu kuberikan kepadanya sebagai penenang. Sementara jauh di dalam ruang diri yang tak terjangkau, hatiku sebetulnya remuk seremuk-remuknya. Memikirkan banyak hal. Memikirkan ketakutan-ketakutan.
Angkot biru melaju dengan kecepatan sedang, mengambil jalur berbeda dari petunjuk aplikasi peta. Suhu dingin di perantauan ini cukup tinggi. Angin pagi menelusup. Kabut embun masih bertebaran di mana-mana. Aku mengencangkan jaket anakku agar badannya tidak kedinginan. Kubiarkan kepala istriku bersandar di bahu agar bisa lelap dan melupakan semua kekhawatiran. Aku memandang ke jalan depan, mencoba meyakinkan diri bahwa masa depan yang kami tuju adalah kebahagiaan. Dengan begitu, ketakutan-ketakutan itu perlahan enyah, dan kuharap tidak pernah lagi singgah.
Aku tahu bahwa jodoh, rezeki, masa depan, dan segalanya itu ada di tangan Tuhan. Mereka akan tetap di tangan Tuhan kalau tidak kita jemput, bukan? Maka, kami datang untuk menjemput rezeki itu. Bismillahi tawakkaltu ….
Dalam deru angkot yang kian berat menjelajah jalan berbelok, kusimpul senyum untuk menghibur diri. Betapa hidup ini penuh dengan kejutan dan teka-teki.
Aku menikahi seorang perempuan, lalu saat ia melahirkan, kutitipkan di rumah orang tuaku karena kondisi pekerjaan, demi menghemat biaya, juga permintaan orang tua agar dekat dengan cucunya. Kamu bisa pulang sepekan atau dua pekan sekali, Nak. Toh, jaraknya tidak begitu jauh. Anak dan istrimu aman bersama Ibu, ujar Ibu kala itu.
Aku yang sebelumnya gagal dalam seleksi CPNS harus tetap mendapatkan penghasilan. Menjadi PNS adalah harapan besar kedua orang tuaku. Maka saat aku gagal, setidaknya aku harus bekerja dengan penghasilan yang setara dengan gaji PNS atau melebihinya. Itu sebagai bukti kepada orang tua bahwa berpenghasilan tinggi dan menjadi terhormat itu tidak melulu harus menjadi PNS. Namun, pemikiran konservatif orang tua tentang PNS ini melekat kuat, seakan pekerjaan yang aku jalani, sekalipun bergaji lebih tinggi, serasa tetap tidak mengangkat derajat orang tua di mata tetangga. PNS adalah kunci.
Setiap dua pekan sekali, aku pulang, memastikan kabar istriku yang kerap menjawab baik-baik saja. Setiap pulang juga, PNS kerap menjadi pembahasan inti orang tuaku, membanding-bandingkan dengan tetangga atau anak saudara yang lolos dan sukses menjadi PNS. Bukan terpacu, justru sebaliknya, makin ke sini keinginan menjadi PNS dalam diriku makin sirna. Biarlah orang lain yang menjadi PNS, banyak toh yang berebut pekerjaan ini. Biarlah aku tidak ikut rebutan, memberikan peluang lebih banyak kepada orang lain yang membutuhkan. Setidaknya aku tidak pengangguran dan tidak menjadi beban negara.
Namun, rencana kadang tidak melulu sesuai dengan yang kita harapkan. Aku tidak bisa terus-menerus meninggalkan istriku demi pekerjaan ini. Ditambah kenyataan bahwa selama ini istriku tidak betah tinggal bersama mertuanya, bersama orang tua dan keluarga besarku.
“Bagaimana dengan Ibu dan mbakku?” Pertanyaanku setiap pulang padanya.
“Keluargamu baik semua,” jawabnya.
Ketidakpekaanku pada kondisi yang sebenarnya membuatku merasa menjalani hidup berumah tangga selama ini baik-baik saja. Hingga pada puncaknya, mungkin saking tidak kuatnya istriku memendam lelahnya selama ini, ia meluapkan segalanya. Tentang semua rasa tidak enak yang ia rasakan, serta perlakuan menyindir yang dikemas dalam canda yang ia terima.
“Aku tahu maksud mereka baik, Yah. Tapi aku ini istrimu. Aku bukan orang asli sini. Harusnya kamu tidak meninggalkanku sendiri di sini begitu saja. Aku capek harus selalu berpura-pura baik-baik saja. Harus selalu mengerti dan mengikuti kemauan dan kebiasaan keluargamu. Rasanya, aku selalu salah. Aku tidak enak. Aku di sini kan menumpang, aku tidak bisa dong seenaknya,” dan seterusnya dan seterusnya.
Hatiku retak sepenuhnya mendengar kalimat-kalimat jujur yang pahit itu. Seolah kantung empeduku pecah dan cairan pahitnya menyebar ke seluruh tubuh, membuatku mual tapi tak bisa kumuntahkan. Terpaksa, tetap harus kutelan. Itu kenyataan hidup yang harus kuterima dengan lapang, sebab jika kutolak ia akan menjelma perang yang tak kunjung usai.
Akhirnya, pada keputusan yang tidak direncanakan, aku ajak istriku dalam perantauan ini. Aku tidak ingin disebut durhaka kepada kedua orang tua karena harus menyampaikan keluh kesah istriku dan memberikan berbagai pembelaan terhadapnya. Itu akan membuat kondisi makin runyam. Aku juga tidak ingin membuat istriku menderita. Maka kutinggalkan pekerjaan yang gajinya lebih tinggi dari PNS itu, kucari perantauan yang sejauh-sejauhnya agar aku tidak bisa pulang dua pekan sekali. Dengan begitu, aku bisa punya alasan membawa serta istri dan anakku.
Matahari sepenggalahan naik. Sinarnya menembus kaca depan angkot biru yang terus melaju, membawa hangat pada tubuh. Suara klakson ramai di mana-mana, saling bersahutan, saling berebut jalan. Aku berhenti berselancar pada bayangan kejutan dan teka-teki hidup. Istri dan anakku terbangun oleh keramaian.
“Ayah, itu rel kereta. Itu rel kereta. Seperti di Bebibes.” Anakku melompat-lompat kegirangan melihat rel kereta secara langsung untuk pertama kalinya. Istriku tersenyum saja melihat tingkahnya.
“Iya, Sayang. Iya. Itu seperti di BabyBus.” Aku mengiyakan validasinya.
“Kita sudah masuk perkotaan, Mas Meduro. Coba cek di aplikasi. Berapa menit lagi tiba di tujuanmu?” Pak Heri mengingatkan bahwa sebentar lagi akan sampai ke tujuan.
“Lima menit lagi, Pak.”
Mobil melaju lurus. Melewati kebisingan deru mesin dan klakson kendaraan lain yang masih bersahutan. Gedung-gedung tinggi menjulang hendak menggapai langit terpampang di kanan kiri jalan. Sejenak kami takjub, tapi hati juga gugup. Merasa belum terbayang apa yang akan kami lakukan saat sudah tiba. Ketakutan itu datang lagi. Tenang, tenang. Allah akan bantu. Ini bumi-Nya.
Angkot ini mulai memasuki jalan kompleks perumahan. Tampak tenang, tapi rumah-rumah banyak, berjejer rapi. Mungkin penghuninya masih sibuk dengan aktivitas di dalam rumah, sehingga tidak tampak di luar. Ini bukan Madura kan, yang pagi-pagi buta masyarakatnya sudah ramai di halaman rumah untuk bersiap gotong-royong atau pergi berjamaah ke sawah-sawah. Lagi pula ini hari Minggu. Hari libur orang-orang kota. Jadi kesibukan mereka bekerja tidak tampak. Mungkin sudah ada yang pergi berlibur ke mana saja, atau sengaja beristirahat total di dalam rumah.
“Itu, Pak. Yang sebelah kiri. Nomor 37.” Sesuai aplikasi peta, kami sudah sampai. Pak Heri menepikan angkotnya tepat di pagar depan rumah. Kami keluar angkot, menurunkan barang-barang. Pak Heri kuminta untuk menunggu sebentar sampai kupastikan bahwa rumah ini adalah benar yang kami tuju. Rumah ini adalah rumah yang kusewa melalui iklan di internet. Harganya cukup terjangkau tabunganku untuk pembayaran awal kontrak rumah itu selama setahun. Melalui nomor kontak pengiklan, kuhubungi, kutawar. Tidak sampai lima belas menit, langsung deal.
Kupencet bel rumah itu. Sesaat seseorang membukakan pagar. Senyumnya melebar menyambut dengan ramah. Itu pemilik rumah.
“Pak Arif, ya? Aku Hanggono. Pemilik rumah, yang langsung berhubungan dengan Bapak via telpon.” Pak Hanggono menyilakan kami masuk dan duduk di ruang tamu. Mengobrol singkat, tanpa basa-basi, menyerahkan kunci rumah kemudian pergi, memercayakan rumah dan segala isinya kepada kami.
Aku datangi Pak Heri yang masih menunggu di luar rumah. Mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan mengantar kami dengan selamat dan sepenuh hati. Kalimat marketing-nya yang disampaikan pada awal pertemuan ternyata tidak sekadar cuap-cuap. Itu benar adanya. Kuberikan tambahan tips dan menitipkan salam ke saudara-saudara Madura-ku, yang mayoritas menjadi tetangganya.
Aku masuk kembali ke rumah. Istriku sudah mulai beres-beres di ruang tamu. Sepertinya pikirannya sudah tenang. Dia tampak lebih bahagia dibanding saat mengajukan pertanyaan di perjalanan dalam angkot. Anakku berlari-lari memutari area ruang tamu, bentuk selebrasi atas perjalanan panjang yang dilaluinya. Aku merasa lebih lega. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan yang masih tanpa tujuan ini.
Kuhampiri istriku yang sudah berpindah ke area dapur. Kubuka jendela yang ada di sana. “Bagaimana, Bun? Lebih senang seperti ini, ya?” Aku mencoba menebak-nebak perasaannya.
“Alhamdulillah, Yah. Ini adalah kita. Terima kasih. Tapi, maaf, Ayah jadi kehilangan pekerjaan dan jauh dari orang tua.” Dia mendekat, lalu memelukku erat.
Aku membalas pelukannya. “Perihal kerja, kita pikirkan setelah menata rumah kita. Perihal jauh dari orang tua, kita berdua sama-sama jauh dari orang tua kita, bukan? Kita masih bisa berkabar jarak jauh. Di sini, kita bikin keluarga versi kita.”
Kami menatap matahari dari jendela dapur. Sinarnya terang benderang, memberi tanda harapan di masa depan dan mengusir kegelapan dalam ketakutan. Kami tersenyum sambil melepas napas panjang. Tenang, ada Allah. Allah yang bantu …. []




