
Foto: Jay Dixit/WikiPortraits, Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).
Ketika seorang penyair yang buku-bukunya berbulan-bulan kauhabiskan menerjemahkannya, kata per kata, memenangi Anugerah Nobel, kegembiraannya terasa istimewa. Ini adalah kegembiraan melihat karya seorang penyair akhirnya memperoleh pengakuan, karya yang arti pentingnya sudah kaurasakan sedari awal, dan karenanya kaucoba dengan segala cara untuk mendorong orang, bahkan yang menaruh prasangka pada puisi, untuk membacanya.
Dalam pandanganku, setelah almarhum penyair Amerika John Ashbery1, Anne Carson merupakan suara yang paling bergaung dalam puisi kontemporer berbahasa Inggris. Dia adalah satu di antara sedikit penyair yang kata “jenius” tidaklah terlalu berlebihan untuk disematkan. Dan pembawaan alaminya yang radikal terletak tidak hanya pada cara dia menulis tetapi juga caranya berpikir.
Kemana Subjek Membawa
Terobosan, pertama dan utama sekali, karena buku-bukunya menolak klasifikasi. Apakah puisi? Esai? Novel dalam syair? Terjemahan? Kritik? Drama? Sastra klasik? Bagi seorang pustakawan—dan juga penyair dalam hal ini—seperti Philip Larkin, yang membela batasan puisi dengan prosa dan esai—menyusun katalog untuk buku-buku Carson mungkin bisa menjadi mimpi buruk.
Tapi hibriditas ini pulalah yang menjadi cirinya yang paling unik. Bukan permainan sastra, juga bukan unjuk kepiawaian semata; justru inilah cara dia berpikir: sebuah subjek2 membawanya ke tempat yang diminta oleh subjek itu, bukan ke tempat yang diperbolehkan oleh genre sastra tertentu.
Dan ke mana subjek itu membawanya? Ke kaitan yang tak berani dibuat oleh orang lain. Dalam “Men in the Off Hours” (akan segera diterbitkan oleh Patakis), misalnya, dia menyejajarkan Thucydides dan Virginia Woolf untuk menggali bagaimana waktu diserap oleh kedua penulis yang, tampak sekilas, tidak memiliki kesamaan apapun.
Namun, melalui refleksi Carson, kedua penulis ini tampak seolah-olah telah menunggu berabad-abad untuk bertemu. Di situlah letaknya orisinalitas Carson: pengetahuan sarjana klasik berkombinasi dengan imajinasi puitisnya yang berani, menghasilkan sesuatu yang terasa seperti sebuah penemuan daripada sekadar kompilasi pengetahuan.
“Autobiography of Red” barangkali adalah contoh yang paling mengagumkan. Carson mengambil mitos kuno tentang Geryon, monster bersayap merah yang dibunuh oleh Heracles, dan membawanya ke dunia modern. Geryon menjadi seorang bujang rapuh yang kesepian dan jatuh cinta dengan Heracles, seorang kekasih yang dingin dan berjarak.
Apa yang awalnya bermula sebagai penafsiran subversif terhadap mitos kemudian berkembang menjadi kisah penemuan diri yang sangat menyentuh: Melalui cinta, kehilangan, dan perpisahan yang menyakitkan, Geryon menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Tak banyak buku dalam puluhan tahun terakhir berbicara dengan kejelasan dan kelembutan seperti itu tentang cinta pertama dan harga menjalani sebuah pertumbuhan.

Ilustrasi AI: S.Sam26/ChatGPT. Sumber: Kompasiana.
Satu karyanya yang lain, mungkin yang paling pribadi, menyingkap bagaimana Carson mengalami kehilangan personal yang mendalam. “Nox,” diterbitkan 2010, adalah sebuah buku-objek: lembaran panjang kertas dilipat seperti akordeon di dalam sebuah kotak sehingga menjadi scrapbook [buku tempel] yang dia ciptakan untuk mengenang almarhum saudara lelakinya.
Bertahun-tahun sudah meninggalkan Kanada dan lama tinggal di Eropa dengan nama samaran, berita kematiannya datang dari jauh, meninggalkan kehampaan yang selalu dicoba Carson mengisinya. Foto, surat, dan kenangan bersatu menjalin sebuah narasi yang tetap luput menangkap pemaham tentang dirinya, sementara itu dalam waktu bersamaan Carson menerjemahkan syair elegi Catullus 101, ratapan Catullus sendiri untuk saudara lelakinya.
Teks Latin dihadirkan kata per kata, setiap kata ditafsirkan secara terpisah sendiri-sendiri, seperti dalam kamus, mengubah tindakan penerjemahan menjadi sebentuk perkabungan, di mana syair yang tak selesai berfungsi sebagai pengingat abadi pada luka yang menganga. Pasase yang paling lantang adalah pengakuannya sejak mula sekali:
“Aku ingin mengisi elegi dengan berbagai cara. Tapi kematian membuat kita pelit. Tak ada lagi yang bisa dibelanjakan untuk itu, kita pikir, dia sudah mati. Cinta tak bisa menggantikannya. Kata-kata tak bisa menambahkan apa-apa. Betapapun aku mencoba membangkit-bangkitkan dari dirinya sosok anak lelaki yang penuh bintang, ini tetap tinggal sebagai sejarah yang ganjil dan tak menarik. Jadi aku mulai berpikir tentang sejarah.”
Di Tinos
Bagaimanapun, perkenankanlah aku bicara tentang Carson juga sebagai seorang teman. Aku cukup beruntung menerjemahkan tiga dari buku-bukunya yang paling penting ke dalam Yunani—”Short Talks,” “Autobiography of Red,” dan “Men in the Off Hours”3—tapi bahkan lebih dari, aku juga cukup beruntung mengenalnya secara pribadi dan membangun kedekatan dengannya.
Pada 2010, aku menjadi tuan rumahnya selama seminggu di Tinos. Satu minggu yang penuh dengan diskusi, jalan-jalan, percakapan tiada akhir—dan sebagaimana yang selalu terjadi saat bersama Carson, kau tidak akan pernah tahu ke mana percakapan itu akan berujung. Tak lama setelah itu, aku mengundangnya ke American College of Greece, tempat aku mengajar, untuk memberikan kuliah. Akan tetapi, ia mengajukan sesuatu yang jauh lebih menarik: “menampilkan” “Antigonick,” drama subversif-nya tentang “Antigone”-nya Sophocles.
Dan tentu saja, bahkan itu pun tidak dilakukan dengan cara yang biasa. Dia ingin yang lelaki membacakan peran perempuan dan perempuan membacakan peran lelaki. Aku membaca pasase Antigone (pasase yang juga dibaca oleh Lou Reed pada pembacaan yang sama di New York, sebagaimana dia ceritakan padaku kemudian saat makan malam!), professor lain membaca baris-baris Creon, dan dia sendiri mengambil peran Chorus.
Belum lagi cara berpikirnya yang unik: dia mengambil sesuatu yang selama ini kita ambil begitu saja, dengan gestur yang hampir bermain-main, memutarbalikkannya—bukan untuk menghasut, tapi mengajak kita untuk melihatnya secara baru dan, dengan demikian, membuatnya hidup sekali lagi di dalam diri kita kali ini dengan cara yang berbeda.
Barangkali itulah mengapa Carson menjadi daya tarik istimewa bagi kami orang Yunani. Bagi dia, kesusastraan Yunani kuno bukanlah kepingan museum, juga bukan beban warisan, tapi kawan bicara yang hidup. Dia mendekati Homer, Heracles, Geryon, Thucydides, Simonides, dan tragedi kuno tanpa takjub atau rasa rendah diri, tapi lebih karena rasa ingin tahu dan keberanian. Dan tentu inilah salah satu pelajaran terhebat yang dia tanamkan; bahwa mitos dan teks kuno masih mampu membuat kita terkejut, kalau saja kita dekati dengan pemahaman baru atau mata terbuka.[]
Diterjemahkan oleh Marfaizon Pangai dari Haris Vlavianos, “From Homer to Virginia Woolf,” ekathimerini.com, 13 Oktober 2026, https://flip.it/AIINjD, (diakses 13 Oktober 2026.).
Catatan Kaki
- Salah satu penyair paling berpengaruh abad ke-20 setelah Eliot. Carson katanya pernah bilang dia belajar cara membuat esai yang tidak selesai dari Ashbery, dan agaknya bukan kebetulan kalau Haris menyebut namanya di sini. ↩︎
- Cukup menarik mengapa Haris menggunakan kata “subjek” di sini bukannya “objek” untuk menyebutkan karya yang sedang digarap pengarang. Kupikir ini bisa menjadi topik obrolan tersendiri yang bakal bikin asyik. ↩︎
- Perlu kiranya untuk menyebut dua karya lain Carson yang tidak diulas di artikel ini tetapi bagiku “Carson banget”, terutama elaborasinya tentang cinta dan cemburu spiritual, yang mengingatkan kita pada cinta dan cemburu-nya Amir Hamzah dalam “Padamu Jua” (Nyanyi Sunyi, 1937): “Decreation” (2005) dan “Eros the Bittersweet” (1986).
Yang pertama adalah esai panjang tentang bagaimana tiga orang perempuan—Sappho, Marguerite Porete, dan Simone Weil—”menghapus diri” untuk bisa mencintai Tuhan. Pertanyaan intinya: What is it that love dares the self to do? Jawabannya: Love dares the self to leave the self behind. Tinjauan The New Yorker pekan ini bahkan bilang Carson memenangi Nobel karena esai ini — tentang menjadi “holy fool”.
Yang kedua adalah buku pertama Carson, berasal dari tesis doktornya. Kalimat pembukanya: “It was Sappho who first called eros ‘bittersweet’. No one who has been in love disputes her.” Dia tidak menjelaskan apa itu cinta, hanya mencoba memahami mengapa cinta itu manis dan pahit sekaligus.
Bandingkan (terutama dalam Decreation) dengan “holy fool” yang mungkin juga termaktub dalam “Padamu Jua”. Mengapa ini penting? Sekali lagi, permainan dan percobaan dengan segala penasaran dan penundaan yang kita lakukan untuk menggapai makna tetapi senantiasa terkurung dalam spektrum bertukar-tangkap-dengan-lepas—ironi dan paradoks berbancuh sehingga menggelikan dan mengharukan sekaligus—memang masih menjadi penanda tabiat asali bagi kemanusiaan dan senantiasa mendorong penciptaan bagi oeuvre dari para penulis dengan segenap otoritas kepengarangan yang diampunya. ↩︎




