Sebuah Pantai

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Malam ketika Malik meninggalkan kampungnya, langit di atas Rakhine tidak menampakkan satu pun bintang. Langit seolah-olah tengah menutup matanya sendiri agar tidak melihat manusia-manusia yang pergi diam-diam seperti bayangan.

Malik berusia enam belas tahun. Tubuhnya kurus, tapi matanya telah menanggung lebih banyak hal daripada yang seharusnya dipikul oleh seorang anak. Di dadanya ia membawa sebuah kantong kain kecil. Di dalamnya hanya ada dua benda: sebuah foto keluarganya yang mulai memudar dan sepotong tasbih kayu milik ayahnya.

Ibunya memasukkan tasbih itu ke tangannya sebelum mereka berpisah.

“Kalau laut membuatmu takut,” kata ibunya, “pegang ini.”

Malik tidak menjawab. Ia tahu ibunya tengah menahan gemuruh tangis, dan tangis ibunya acap membuatnya merasa dunia sedang porak-poranda.

Malam itu orang-orang bergerak menyerupai kawanan burung yang kehilangan arah. Mereka berjalan tanpa suara menuju pantai. Anak-anak digendong, orang tua dituntun, dan perempuan-perempuan membawa kantong kecil berisi pakaian atau nasi kering yang dibungkus daun.

Di kejauhan, sebuah tongkang tua menunggu. Kapal kayu itu terlihat terlalu kecil untuk menampung begitu banyak manusia.

Seorang lelaki yang berdiri di pantai berbisik, “Cepat.”

Tidak ada yang berani bertanya apa pun. Mereka semua sudah tahu bahwa pertanyaan hanya akan memperlambat langkah dan membuat mereka tak sampai pada tujuan.

Ayah Malik memegang bahunya sebelum ia naik ke kapal.

“Dengarkan aku baik-baik,” katanya pelan. “Di sana ada tempat yang lebih aman. Orang-orang bilang ada pulau bernama Achin. Di sana orang-orang masih mau membuka pintu.”

Malik menatap wajah ayahnya yang dipenuhi garis-garis kelelahan. Ia ingin berkata bahwa ia tidak ingin pergi tanpa mereka. Tapi ia juga tahu bahwa keinginan itu tidak akan mengubah apa-apa.

“Kami akan menyusul,” kata ayahnya.

Itu adalah kalimat yang sering diucapkan orang-orang dewasa ketika mereka tidak tahu apakah mereka akan pernah bertemu lagi.

Malik mengangguk. Ia naik ke kapal bersama ratusan orang lainnya. Tongkang itu berangkat sebelum fajar. Mesin tuanya meraung pelan, bagai binatang renta yang dipaksa bangun dari tidur panjang.

Ketika kapal mulai bergerak menjauh dari pantai, Malik berdiri di pinggir dek. Ia melihat garis gelap daratan perlahan-lahan memudar. Di sana rumahnya berada. Sebuah rumah kecil dari bambu yang selalu dipenuhi bau makanan hangat dan kayu bakar. Ia mencoba mengingat suara ayam jantan di halaman rumah mereka. Ia mencoba mengingat bagaimana cahaya matahari jatuh di wajah ibunya setiap pagi. Namun laut datang terlalu cepat untuk kenangan. Angin asin menyapu wajahnya. Kapal terus bergerak, dan daratan akhirnya hilang. Sejak saat itu, yang tersisa hanya air.

Di dalam kapal, manusia-manusia duduk berdesakan. Tidak ada ruang untuk berbaring. Bahkan untuk menggerakkan kaki saja terasa sulit. Bau keringat, garam, dan muntah bercampur menjadi satu. Tak jauh dari Malik duduk, seorang bayi menangis tanpa henti. Dan di sebelah ibu bayi itu, seorang perempuan tua batuk-batuk sampai tubuhnya menggigil.

Malik duduk di antara dua orang lelaki yang tidak dikenalnya. Salah satunya memiliki bekas luka panjang di pipi.

“Namaku Karim,” kata lelaki itu suatu malam.

Malik mengangguk.

“Kamu sendirian?”

“Ya.”

Karim memandang laut yang gelap.

“Kita semua sendirian sekarang,” katanya.

Hari-hari di laut tidak memiliki bentuk yang jelas. Waktu terasa bagai lumpur yang menempel di kaki. Mereka diberi air sedikit-sedikit. Bekal makanan yang mereka bawa mulai habis. Dan beberapa orang mulai terserang sakit.

Seorang anak laki-laki demam selama dua hari sebelum akhirnya berhenti bernapas. Ibunya tidak menjerit ketika tubuh kecil itu dibungkus kain dan diturunkan ke laut. Ia hanya menatap air itu untuk waktu yang lama. Malik tidak akan pernah melupakan wajah perempuan itu. Sejak hari itu, ia mulai menyadari bahwa laut bukan sekadar jalan. Melainkan juga bisa menjadi kuburan.

Suatu sore langit berubah warna. Angin datang dari arah barat dengan suara yang aneh, menyerupai seseorang yang sedang menggeram dalam tidur.

Para lelaki di kapal mulai saling memandang.

“Badai,” kata seseorang.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi di laut.

Langit menjadi hitam serupa tinta. Ombak pertama menghantam lambung kapal dengan suara keras. Tongkang itu bergoyang. Anak-anak mulai menangis. Orang-orang berpegangan pada tiang kayu atau tali yang tergantung di dek. Malik memegang tasbih ayahnya. Butiran kayu itu terasa hangat di tangannya. Namun, ombak berikutnya ternyata lebih besar dari sebelumnya. Air laut menyapu dek dan membuat orang-orang terjatuh. Kapal terangkat, lalu jatuh kembali seperti sepotong kayu yang dilempar oleh tangan raksasa.

Dalam kilatan petir, Malik melihat wajah-wajah yang dipenuhi ketakutan. Ia melihat Karim berusaha membantu seorang perempuan berdiri. Ia juga melihat seorang lelaki tua berdoa keras-keras. Namun, lagi-lagi, angin malah makin meraung. Kapal berderit. Lalu terdengar suara retakan.

Seseorang berteriak. Air mulai masuk dari bagian lambung yang pecah. Kepanikan menyebar cepat serupa api di atas jerami. Orang-orang berdesakan, mencoba menyelamatkan diri dengan cara yang tidak jelas. Malik terjatuh. Lututnya membentur papan kayu. Air laut terasa sangat dingin. Ia mencoba berdiri, tapi kapal tiba-tiba miring.

Tubuh-tubuh manusia saling bertabrakan. Seseorang menarik tangannya. Karim.

“Pegang ini!” teriak lelaki itu sambil menyerahkan sebuah papan kayu.

Ombak berikutnya menghantam. Kapal itu pecah. Segalanya berubah menjadi suara air, jeritan, dan kegelapan. Dan ketika Malik membuka mata, dunia mendadak terasa sunyi. Ia terapung di atas papan kayu.

Langit pagi berwarna pucat. Di sekelilingnya hanya ada laut. Beberapa potong kayu mengambang. Sebuah sandal. Sehelai kain. Malik memanggil nama Karim. Namun panggilannya tak sekalipun berbuah jawaban. Putus asa, Malik memanggil ibunya, meskipun ia tahu ibunya berada jauh di daratan yang tidak terlihat. Tetapi laut tetap diam. Dan Malik tidak tahu berapa lama ia terapung.

Matahari naik tinggi. Bibirnya pecah karena garam. Beberapa kali Malik merasa ingin melepaskan papan itu dan tenggelam saja. Namun setiap kali pikiran itu datang, ia memegang tasbih di tangannya. Butiran kayu itu mengingatkannya pada sesuatu yang lebih tua daripada laut: doa.

Hari kedua, ia melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah perahu kecil.

Pada awalnya ia mengira itu hanya bayangan. Namun perahu itu makin dekat. Beberapa lelaki berdiri di dalamnya. Kulit mereka gelap oleh matahari. Salah satu dari mereka berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti Malik. Namun nada suaranya terdengar seperti panggilan pulang.

Tangan-tangan kuat menariknya naik ke perahu. Malik terlalu lemah untuk berbicara. Ia hanya melihat wajah-wajah yang asing tapi penuh perhatian.

“Anak ini masih hidup,” kata salah seorang lelaki.

Angin menjulurkan bau tanah. Untuk pertama kalinya sejak kapal itu pecah, Malik merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Harapan.

Perahu itu menuju sebuah pantai panjang yang dikelilingi pohon kelapa. Di kejauhan tampak rumah-rumah kayu. Orang-orang mulai berkumpul di tepi pantai ketika perahu mereka mendekat. Malik melihat perempuan-perempuan membawa air. Seorang lelaki tua membantu mengangkat tubuhnya dari perahu.

“Tenang saja,” kata lelaki itu dengan suara lembut.

Malik tidak memahami semua kata-katanya, tapi ia mengerti maksudnya. Tanah terasa hangat di bawah kakinya. Entah siapa yang memerintah, mendadak Malik berlutut di pasir. Air matanya tiba-tiba saja mengalir tanpa bisa ia tahan. Kini laut yang luas dan dingin berada di belakangnya. Sementara itu, di depannya, orang-orang yang belum pernah ia kenal berdiri dengan wajah-wajah yang tampak tidak memusuhi.

Malik memegang tasbih ayahnya sekali lagi. Ia tidak tahu apakah orang tuanya masih hidup. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah melihat rumahnya lagi. Namun, untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan daratan, ia merasa dunia belum sepenuhnya tertutup. Kadang-kadang, bahkan setelah begitu banyak pintu tertutup, masih ada satu pintu kecil yang terbuka. Dan sering kali pintu itu berada di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Di sebuah pantai yang jauh dari rumah. Di sebuah pulau yang orang-orangnya tidak mengenal namamu. Di sebuah tempat di mana laut akhirnya berhenti menjadi jalan pelarian dan mulai menjadi saksi bahwa manusia masih mampu menolong manusia lain.

Malik menatap laut sekali lagi. Airnya tampak berkilau di bawah matahari pagi. Ia tidak tahu apakah laut itu kejam atau penyayang. Akan tetapi yang ia tahu hanyalah: laut tidak pernah benar-benar menolak siapa pun yang berani bertahan hidup di atasnya. Dan selama manusia masih mau mengulurkan tangan kepada manusia lain, selalu ada kemungkinan kecil bahwa perjalanan yang paling gelap sekalipun dapat berakhir di sebuah pantai.

Sebuah pantai yang membuka kembali arti rumah. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top