Pertanggungjawaban Dewan Juri: Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2026
Membaca secara cermat 90 naskah yang lolos seleksi administrasi Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2026, membuat kami mempertanyakan kembali apa yang sedang terjadi dalam perpuisian Indonesia hari ini—terutama puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair generasi terbaru. Hampir sebagian besar puisi berisi semacam permainan jungkir balik perumpamaan dalam bahasa Indonesia. Seakan-akan, semakin gelap dan ajaib bentukan perumpamaan itu, semakin asyik permainan yang diinginkan. Dengan kata lain, puisi kehilangan kejernihannya.
Jika tidak, kami mendapati puisi-puisi dengan langgam sajak-sajak lama, dengan permajasan yang cenderung berbunga-bunga, atau bertebarannya klise di sana-sini, di samping pembentukan frasa atau satuan terkecil puisi dalam bahasa Indonesia yang belum lagi kokoh.
Terlalu banyak kecenderungan mencoba-coba, sehingga puisi tidak pernah sampai pada bentuknya yang stabil. Ada kesan, para penyair seperti tengah “menyalin ulang” apa yang sudah dikerjakan oleh penyair pendahulu mereka, atau memakai secara kelewat sering ungkapan-ungkapan tertentu, sehingga ungkapan-ungkapan itu tidak lagi menimbulkan pesona bagi pembaca.
Kami juga menemukan beberapa manuskrip dengan puisi-puisi yang berupaya mengolah ragam bentuk, dalam hal ini tipografi, tetapi seakan-akan melupakan fungsi dari kemunculan ragam bentuk itu sendiri. Melalui kecanggihan elemen pada papan tombol komputer puisi-puisi tersebut mungkin hendak diupayakan bebas keseluruhannya dari pola metrum, rima, atau baris tertentu. Namun, pada akhirnya pengolahan tersebut tidak sampai pada tujuan mendobrak konvensi bentuk puisi.

Kondisi ini sebenarnya bukan hanya melanda puisi-puisi yang masuk ke dalam Sayembara, tetapi kecenderungan yang belum lagi hilang dari lanskap puisi Indonesia mutakhir. Puisi Indonesia, pada akhirnya, mengalami penyempitan model, hanya mengacu kepada satu-dua penyair yang sudah telanjur terkenal.
Kurang ada penjelajahan kepada model-model lain yang tersedia di luar sana, atau keberanian melebur model-model itu ke dalam satu penulisan baru yang bisa menjadi khas milik penyair yang berani mencari jalan baru. Namun, biarlah masalah ini menjadi persoalan kritik sastra kita.

Keseluruhan naskah puisi kami baca secara buta alias tanpa nama penyair di dalam naskah atau pada nama fail—kecuali nomor naskah. Dari pembacaan secara saksama dengan mempertimbangkan aspek-aspek penilaian berupa gagasan, orisinalitas, bahasa dan puitika, bentuk dan eksplorasi dan kebulatan manuskrip, juga melalui perdebatan yang sengit tentang keunggulan masing-masing manuskrip, ditambah dengan pemeriksaan dengan menggunakan “AI-detector”, berikut ini adalah Lima Terbaik Sayembara Manuskrip Puisi PPF 2026 yang diurutkan berdasarkan nomor naskah:
“Soal-Soal yang Tak Pernah Kita Kumpulkan” (37) karya Ihya Nur Fawa’id
Manuskrip ini menghadirkan tema yang nyaris bulat: dunia anak-anak yang bebas di antara gencetan dunia pendidikan dan pendisiplinan orang dewasa. Selain itu: kemiskinan yang tak mau pergi. Dunia anak-anak itu ditampilkan secara polos dan jenaka, tetapi dunia itu lantas dihancurkan oleh nalar orang dewasa. Narator puisi mewakili nalar orang dewasa yang mencoba membuat dunia anak-anak berada di bawah kendali mereka.
Pada kali lain, sebagai semacam pembalasan, anak-anak pun meledek dunia orang dewasa yang megap-megap menghadapi kehidupan yang serba-sulit ini. Meski hadir dengan frasa-frasa yang lumayan jernih, puisi-puisi dalam manuskrip ini belum ditopang sepenuhnya oleh kepadatan ungkapan. Hasrat mengkritik dominasi orang dewasa kadang-kadang lebih kuat ketimbang upaya untuk mempertajam ungkapan itu sendiri.
Meski belum sepenuhnya berhasil melebur pengaruh penyair-penyair terdahulu, puisi-puisi dalam manuskrip ini berusaha berdiri sebagai eksemplar baru dari suara dunia anak-anak yang terancam, yang tidak menghadirkan perlawanan terang-terangan, kecuali gugatan-gugatan kecil yang serupa geremengan.
“Pintu belakang Kebun Binatang yang Lain” (46) karya Listio Wulan Nur Mutaqin
Puisi-puisi dalam manuskrip ini menghadirkan dunia anak-anak yang telah bergerak menjauh dan memudar, digantikan dengan gambar dunia orang dewasa yang keras, dalam deraan kerja dan kemiskinan. Sebagian besar puisi dibangun dengan larik-larik pendek, dalam dua-tiga kata, tetapi dengan nalar naratif yang kuat, sehingga kehadiran larik yang ringkas itu hanya sekadar tipografi yang hampir tidak berdampak apa-apa, pada permainan enjambemen, misalnya.
Sementara, di kali lain, penyair menghadirkan puisi-puisi naratif sepenuhnya, yang belum lagi mencapai kualitas “puisi-prosa”. Dengan bentuknya yang ganda, puisi-puisi dalam manuskrip ini berusaha menyuarakan protes kepada segala mala dalam hidup manusia hari ini. Hasrat protes yang kelewat kencang, menjadikan puisi-puisi termaksud terasa rewel, tanpa didukung oleh frasa-frasa yang kokoh-padat.
Namun, manuskrip ini masih bisa memberikan kita satu keyakinan bahwa dengan penyuntingan yang lebih keras, ia akan mencapai bentuk yang lebih baik, tanpa kehilangan watak lirik dan protes secara bersamaan.
“Doa Seekor Kucing untuk Kaleng Sarden yang Tertutup Rapat” (60) karya Muhammad Farid Hermawan
Puisi-puisi naratif dalam manuskrip ini berusaha keluar dari jebakan keharuan yang menghantui puisi lirik berbahasa Indonesia sejak lama. Tiba-tiba, puisi-puisi bisa terasa begitu nyinyir sekaligus didaktis. Telihat bagaimana penyairnya mengolah secara lebih ekstensif dan tekun langgam pengucapan puisi para penyair sebelumnya—dalam hal ini M. Aan Mansyur.
Di dalamnya kita mendapatkan semangat “anti-sains” dalam pengertian yang positif ketika penyair memberi nalar baru pada fenomena alam yang telanjur digambarkan oleh bidang ilmu tertentu, tentang jatuhnya hujan atau suasana senja, misalnya. Atau sebaliknya, mengizinkan bekerjanya rasionalitas mesin dalam pemahaman manusia tentang takdir dan kuasa Tuhan.
Dengan cara kerja puisi yang seperti itu pembaca mendapatkan permainan yang menyegarkan, terkait makna baru yang muncul dari sesuatu yang biasa saja. Meski larik-larik puisi sepenuhnya telah menjelma kalimat, pembaca tidak mendapatkan kebulatan naratif fiksi, sebaliknya, fragmen-fragmen yang meletup dan susul-menyusul.
“Dekap Musim Hangat” (67) karya Pasya Alfalaqi
Sekali lagi, dunia anak-anak masih menjadi bahan olahan yang tidak kehabisan pesona dalam manuskrip ini. Yakni, dunia anak-anak yang riang sekaligus terancam oleh otoritas orang dewasa. Larik-larik puisi disusun dengan kata-kata yang hemat dan sadar komposisi. Permainan jukstaposisi citraan menjadi salah satu yang terpenting di dalamnya. Jukstaposisi dalam hal ini memungkinkan apa-apa yang tidak saling berkaitan bisa berdampingan demi memperkokoh rancang bangun puisi.
Setiap larik atau bait puisi hampir selalu menjadi unit peristiwa kecil yang kait-mengait, atau timpa-menimpa, antara satu dan lainnya. Watak surrealistis sekali waktu muncul juga, tetapi, hampir selalu penyair menghadirkan semangat bermain-main yang membuat suasana surrealistis itu tersela oleh semacam humor tipis. Humor itu muncul salah satunya karena benturan antara kebebasan dalam dunia anak-anak dan pengaturan orang dewasa.
Namun, jika tidak ada humor, maka suasana surrealistis itu hadir kepada pembaca sebagai semacam teror yang mengisyaratkan bahwa puisi adalah dunia yang tidak baik-baik saja, tetapi selalu menggoda kita untuk masuk ke dalamnya.
“Skriptorium Waktu” (85) karya Teguh Tri Fauzi
Manuskrip ini menampilkan puisi-puisi yang mempersoalkan kembali puisi—bukan semacam “ars poetica, tetapi bagaimana puisi lahir dari modus penciptaan yang berbeda-beda. Pada bagian awal, penyair berdialog dengan tidak kurang dari 21 penyair dunia—yang terkesan pamer bacaan—pada bagian-bagian selanjutnya, ia menyerap dan melahirkan kembali keharuan akan alam kampung halaman.
Tempat-tempat yang mungkin tidak tercatat dalam peta menampilkan kembali pesona mereka, sehingga dari situ penyair mengawetkan satu demi satu ke dalam puisi. Puisi menjadi semacam ruang pengawetan ingatan—itulah kenapa manuskrip ini berjudul “Skriptorium Waktu”—yang darinya penyair membentangkan perhitungannya pada dunia sekeliling.
Dibangun dengan larik-larik ringkas, tetapi sesekali masih terpeleset ke dalam ketidakhematan ungkapan dan keharuan yang berlebihan, puisi-puisi dalam manuskrip ini memberikan kita semacam peringatan bahwa apakah itu dunia luas di luar sana atau kampung halaman sendiri akan sama berharganya di hadapan seorang penyair yang punya kepekaan kepada setiap gejala alam, terhadap tenaga kata-kata yang membuat puisi jadi hidup dan berharga.

Demikianlah lima pemenang Sayembara Manuskrip Puisi Payakumbuh Poetry Festival 2026 telah menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Namun, harus segera dipahami bahwa manuskrip terbaik ini masih harus melewati beberapa tahapan sebelum terbit sebagai buku. Salah satu yang terpenting adalah penyuntingan yang bisa membuat setiap manuskrip mencapai bentuk terbaiknya. Peluang ke arah itu terbuka dengan diselenggarakannnya program pendampingan (mentoring) bagi para pemenang oleh para penyair pengampu yang juga terlibat dalam penjurian ini. Program ini didukung oleh MTN Lab Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Proses diskusi dan penyuntingan kembali selama pendampingan dan sesudahnya, mungkin, akan membuka kesempatan yang lebih baik lagi untuk setiap manuskrip—meski semua itu berpulang pada kesiapan dan kemampuan penyair masing-masing.
Selamat kepada para pemenang. Tetap semangat kepada yang belum beruntung.
Jakarta, 26 September 2026
Esha Tegar Putra
Inggit Putria Marga
Zen Hae





