Abstraksi dan Harmoni Global dalam Karya Patung

Pematung Don Wright menceritakan proses kreatif karya yang berjudul “The Sound of Silent”, bersama Plt Kadis Kebudayaan Sumatera Barat Ahmad Zakri, Anita Dikarina di hari penutupan pameran.
(Foto: Bunga Suci Pertiwi)

“Patung ini sebenarnya adalah sosok ayah yang memeluk anaknya ketika ledakan bom terjadi,“ ucap Tsai-Yu-Han dengan mata berkaca-kaca, kepada pengunjung Galeri Taman Budaya Sumatra Barat. Hari itu, Selasa, 13 Oktober 2026, adalah penutupan The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition, yang dibuka 8 Oktober.

Patung kayu setinggi kurang lebih 40 sentimeter itu memperlihatkan dua sosok yang saling berpelukan. Di ujung uluran tangan siluetnya, Tsai-Yu-Han memahat bunga lily, bunga yang kerap dimaknai sebagai simbol cinta yang murni. Dalam karya ini, cinta tersebut adalah cinta seorang ayah kepada anaknya.

Pematung asal Taiwan itu bercerita bahwa karyanya terinspirasi dari ledakan bom di Taiwan beberapa waktu lalu. Ledakan itu terjadi tidak jauh dari rumahnya. Ketika itu, ia melihat sendiri orang-orang berlari menyelamatkan diri. Ingatan tersebut begitu membekas sampai kini baginya, hingga membuat ia sering menangis diam-diam saat menyelesaikan karyanya selama residensi. Pengunjung yang memandangi patung itu pun ikut hanyut dalam cerita Tsai-Yu-Han.

Tsai-Yu-Han dan pengunjung berpose di dekat karyanya.
(Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Menoleh ke sebelah kiri dari karya Tsai-Yu-Han berdiri karya Sung Baeg, pematung asal Korea Selatan. Nuansanya bertolak belakang dengan karya Tsai-Yu-Han. Karya ini menyerupai kepala manusia dengan lubang panjang yang membentang dari pelipis hingga bagian belakang tengkorak.

“Patung ini menggambarkan manusia yang kebanyakan mikir, sampai-sampai kepalanya meledak!” kata Sung Baeg sambil berkelakar. Lewat karya ini ia ingin memperlihatkan kepada pengunjung bahwa manusia yang keras pada akhirnya bisa hancur oleh pikirannya sendiri. Suatu hal yang menarik tentu, ketika kita menafsir, bahwa pikiran sesungguhnya adalah energi yang harus dikelola secara proporsional, sehingga ia bisa menjadi bagian dari kepala yang menampungnya dengan baik.

Material yang dipilih adalah kayu dan batu, kedua seniman itu sejalan dengan makna karya masing-masing. Pilihan material seolah ikut menguatkan konsep dan makna yang ingin mereka sampaikan.

Hal serupa terlihat di tengah ruangan, tempat karya Masahito Iwano dipajang. Salah satunya adalah instalasi berbentuk awan yang ditopang besi hitam. Namun perhatian saya justru tertuju pada karya Iwano yang lain, yaitu patung batu di sebelah instalasi awan itu.

Masahito Iwano dan karyanya.
(Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Awalnya saya mengira patung tersebut terinspirasi dari situs tambang. Ternyata saya keliru. Iwano terinspirasi dari bagian tubuh yang jarang diperhatikan, yaitu pusar. Menurut Iwano, pusar adalah tanda pusat tubuh, dan karena itu juga pusat dunia bagi setiap makhluk hidup. Dalam berbagai tradisi dan budaya, pusar dipandang sebagai titik pusat (umbilikus) atau poros keseimbangan tubuh. Ia melambangkan keterhubungan manusia dengan alam semesta, sumber energi, serta jaringan kehidupan yang lebih luas.

Dilihat dari atas, bagian di sekeliling pusar itu tampak seperti ombak. Dilihat dari samping, bentuknya menyerupai kapal. Patung ini juga menjadi tafsir Iwano atas Padang sebagai pusat, tempat orang-orang dan struktur sosial berkumpul. Karena dibuat selama residensi di Sumatra Barat, patung itu diberi nama Pusar Padang/Perut Padang.

Kita juga menemukan karya lain, berjudul “Pesan dari Laut”, karya Sung Baeg. Patung ini mengusung konsep hibrida. Sung Baeg menggabungkan pohon yang masih hidup dengan potongan kayu yang terapung di sepanjang Pantai Purus, Padang.

Karya ini menurut pematungnya lahir tanpa sengaja. Panitia tidak bisa menyediakan material yang ia butuhkan sebagaimana mudah ia dapatkan di Korea Selatan. Sung Baeg lalu mencari inspirasi dari apa saja yang bisa ia manfaatkan di sekitar area residensi. Kreativitasnya berkembang setelah ia melihat tepi pantai yang memang dekat dengan Taman Budaya Sumatra Barat dan tempat residensi.

Karya Sung Baeg. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Untuk karyanya di dalam galeri, Sung Baeg memakai bentuk anatomi tubuh. Di luar ruangan, ia memilih bentuk kursi. Meski begitu, jika diperhatikan lebih teliti, potongan-potongan kayu pada patung itu menyerupai tulang.

Sejak dulu, kursi identik dengan simbol kekuasaan dan status. Tapi kursi Sung Baeg jelas tidak nyaman dan tidak dibuat untuk diduduki. Kursi ini justru ingin menegaskan bahwa pemegang kekuasaan terbesar adalah alam. Dengan memadukan kayu yang dibawa ombak Purus Pantai Padang dan pohon yang masih hidup, Sung Baeg menyindir manusia yang sombong karena bangga pada peradabannya. Menurutnya, manusia semestinya rendah hati di hadapan alam yang agung.

Setelah memahami maknanya, perasaan saya campur aduk. Potongan kayu yang menyerupai tulang itu tak ubahnya sisa kerangka makhluk hidup, entah manusia, entah hewan. Setelah mati, tulang-tulang itu kembali ke alam. Di hadapan alam yang bisa memusnahkan kapan saja, sebenarnya tidak ada yang pantas dibanggakan.

Terasa Sung Baeg menyindir manusia dan kehidupan dengan getir. Ketika mengalih pandang, terasa suasana melunak di hadapan karya Jon Wahid. Ia mengusung “History of Love“, patung kayu berukuran 100 x 60 x 13 sentimeter. Jhon menempuh pendekatan abstrak organik. Ia memahat kayunya dengan halus, menyusun kontur yang melengkung dan rongga-rongga yang seakan memberi serta menyediakan ruang bagi dialog. Dari karya ini terlihat hubungan antara bentuk fisik dan lingkungan di sekitarnya.

“History of Love” karya Jon Wahid. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Perempuan menjadi sumber inspirasi utama Jhon. Karena itulah ia memilih kayu mahoni. Mahoni memiliki karakter kayu dan alur serat yang lembut. Bagi Jon, hal itu seolah merepresentasikan kelembutan hati perempuan.

Lain lagi dengan Don Wright. Pematung ini memilih kawat sebagai bahan, lalu memberi karyanya judul “The Sound of Silence“. Lewat karya itu ia mengkritisi krisis komunikasi antarmanusia di era digital. Kawat-kawat dibentuknya menjadi dua sosok manusia yang duduk saling bersandar punggung, masing-masing asyik bermain gawai.

“The Sound of Silence” karya Don Wright. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Patung ini adalah potret ironi kemajuan teknologi informasi. Teknologi yang semestinya membuat manusia saling dekat justru berbalik arah. Alih-alih bertatap muka dengan jujur di antara manusia, gawai di tangan seakan memperjauh jarak rasa, hati, dan wajah. Satu sama lain terasa asing, dan bagai tidak saling bersitatap.

Perempuan pematung Lara Forma menghadirkan “In the Between” (Di Ruang Peralihan) dengan pendekatan arsitektural. Garis, bidang, volume, proporsi, keseimbangan, dan ruang ia olah sebagai bahasa utama penciptaan. Melalui kayu loban, Lara mentransformasikan struktur tersebut menjadi bentuk-bentuk abstrak yang ekspresif. Di tangannya, patung adalah ruang yang diberi tubuh untuk menghadirkan bentuk dari kedalaman rasa. 

Dari ruang, perhatian beralih ke asal mula kehidupan. Pematung Irwanto menyuguhkan patung dari kayu nangka berjudul “Plasenta”. Pesan yang ditawarkannya menarik: sebuah jembatan suci yang menghubungkan awal mula kehidupan. Secara filosofis, plasenta atau ari-ari melambangkan ikatan suci, pengorbanan tanpa pamrih, dan siklus kehidupan, yang memberi banyak pelajaran mendalam bagi manusia.

Sementara itu, John Hardi menghadirkan “Studi Kelopak”, patung kayu mahoni berukuran 50 x 40 x 70 sentimeter. Karya ini bertutur secara puitik tentang kelopak yang, dalam kematangannya, memberi jalar warna yang berbinar: tajam, namun meninggalkan kesan lembut.

“Servent Vase” karya Tok Basuki. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Sisi menarik lainnya, terdapat pada “Servent Vase” karya Tok Basuki, pematung Australia berdarah Indonesia. Memandang karya Tok, bagai melihat sebongkah batu yang ditumbuhi besi dalam lengkung yang berwarna. Patung ini dibentuk dari batu dan berdiri di atas penyangga besi putih berkaki. Besi-besi ulir menancap ke batu itu dengan alur bengkokan yang berbeda-beda. Masing-masing besi pun berlainan warna, merah, biru, dan kuning, sehingga menawarkan bentuk yang estetik.

Bagi Totok, karya itu menyimpan makna yang tersirat. Batu ia analogikan sebagai “ibu bumi”. Secara makna, ia hendak menyampaikan bahwa jika ada pertikaian antara anak dan ibu ibarat batu bertemu besi, sama-sama keras satu sama lain. Namun justru dengan demikianlah hakikat kasih sayang bisa dipahami dan dimaknai.

Menurut saya, karya-karya dalam pameran ini banyak menyindir kehidupan manusia dan alam masa kini. Para peserta mengerjakan karyanya masing-masing, tetapi keresahan mereka tentang dunia menyatu dalam harmoni yang sama. Sumber masalahnya ada pada perangai manusia. Manusia merusak alam dan mencelakai sesamanya, padahal manusia hanyalah titik kecil dalam kehidupan.

Penghormatan untuk Sang Maestro

The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition digelar untuk menghormati Maestro Arby Samah. Ia Mempelopori patung non-figuratif/abstrak sejak tahun 1957 yang saat itu dianggap mendobrak pakem seni patung Indonesia.

Almarhum Arby Samah bersama istri. (Dokumentasi Keluarga)

Acara ini digagas oleh putri kandung Arby Samah, Anita Dikarina, yang akrab disapa Rina. Tahun lalu, saat memperingati 95 tahun Arby Samah, Rina menghubungi Kementerian Kebudayaan untuk mengusulkan pameran patung di Padang. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut usulan itu dan memberi dukungan. Pameran patung Arby Samah pun digelar pada 2025. Pameran ini sekaligus menjadi pameran patung pertama di Sumatra Barat dalam hampir dua puluh tahun. Pameran sebelumnya terakhir diadakan pada 2007.

Kali ini pameran dan residensi berlangsung pada 8–14 Oktober 2026 di area Taman Budaya Sumatra Barat dan mengundang pematung dari mancanegara. Awalnya, 19 pematung dari 13 negara dijadwalkan ikut. Namun karena isu bencana dan kendala keberangkatan, pematung dari India, Nepal, Filipina, Singapura, dan Turki batal datang ke Indonesia. Beberapa di antara mereka tetap mengirimkan karya untuk dipamerkan, yaitu Laxman Bhujel dan Jorg Van Daele yang tahun lalu juga ikut dalam pameran dan sempat membuat karya secara langsung di Padang.

The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition diharapkan hadir sebagai ruang perjumpaan bagi gagasan, material, bentuk, dan pengalaman artistik yang melampaui batas geografis. Kegiatan ini mempertemukan seniman-seniman terpilih dari berbagai latar untuk mengeksploras kemungkinan seni patung abstrak dalam konteks seni rupa kontemporer.

Nama Arby Samah menjadi titik berangkat sekaligus sumber inspirasi bagi perhelatan ini. Sebagai salah satu pelopor seni patung abstrak Indonesia, kita bisa mengenang Arby Samah dalam membuka kemungkinan baru untuk melihat hubungan antara bentuk, ruang, material, dan pengalaman manusia. Abstraksi tidak sekadar meninggalkan bentuk nyata, tetapi menjadi bahasa visual yang bebas dan terbuka terhadap beragam tafsir.

Peserta yang hadir adalah Don Wright (Skotlandia), Iwano Masahito (Jepang), Sung Baeg (Korea), Totok Basuki (Australia), Tsai-Yu-Han (Taiwan), Nor Naziroh (Malaysia), Bettina Vogel (Jerman), dan Emma Kissova (Slovakia). Dari Indonesia ada Ali Umar, Ardim, John Hardi, Irwanto, Lara Forma, Angga Elpatsa, dan Jon Wahid.

Puluhan patung dipamerkan. Tata ruang galeri sengaja dibuat lepas agar ruangan terasa lega dan pengunjung bisa memandang tanpa terhalang sekat. Separuh karya adalah koleksi pribadi para seniman. Separuh lainnya baru dibuat selama residensi.

Melintas Batas, Berguru pada Alam

Menurut catatan kuratorial Ali Umar, pameran ini mengusung tema “Melintas Batas: Abstraksi dan Harmoni Global”. Tema ini mengajak seniman melampaui batas geografis, bahasa, identitas budaya, dan medium, juga batas antara tradisi dan modernitas. Dalam abstraksi, bentuk tidak lagi sekadar menggambarkan objek. Bentuk menjadi ruang untuk menyampaikan pengalaman, gagasan, dan hubungan manusia dengan dunia.

Kurator Ali Umar. (Foto: Bunga Suci Pertiwi)

Kayu dan batu dipilih sebagai material utama residensi karena dekat dengan filosofi Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru. Bagi filosofi ini, alam adalah sumber pengetahuan, bukan hanya sumber material. Serat kayu, kerasnya batu, retakan, tekstur, dan bentuk alaminya menjadi bagian dari dialog antara seniman dan material.

Menghidupkan Lagi Ekosistem Patung

Sebagai satu-satunya pameran seni patung di Sumatra Barat, The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition dinilai banyak seniman sebagai ruang untuk membangkitkan ekosistem seni patung.

Sumatra Barat sudah lama absen dari kegiatan semacam ini. Padahal, menurut Jon Wahid, salah seorang peserta residensi, daerah ini punya sejarah panjang dalam seni patung. Sampai sekarang pun masih banyak pematung berdarah Sumatra Barat. Namun karena tidak ada ruang diskusi dan ekosistemnya kurang baik, kebanyakan dari mereka memilih berkegiatan dan membangun galeri di luar Sumatra Barat.

Ali Umar sebagai kurator sependapat dengan Anita Dikarina bahwa kegiatan ini penting. Kegiatan ini memunculkan pertanyaan tentang arah seni patung ke depan, posisi institusi, dan sejauh mana seni patung Sumatra Barat semestinya berkembang. Setiap kali pameran digelar, terasa banyak energi dan semangat untuk menghidupkan kesenian.

Pada akhirnya, pameran ini bukan hanya tentang patung, melainkan tentang pertemuan antara manusia dan material, gagasan dan bentuk, tradisi dan eksperimen, serta berbagai kebudayaan dalam satu ruang. Melalui perjumpaan tersebut, semangat Arby Samah diharapkan terus hidup, berkembang, dar menemukan kemungkinan- kemungkinan baru bagi seni patung. Pameran ini menjadi ajakan untuk melihat abstraksi bukan sebagai sesuatu yang harus dijelaskan, tetapi sebagai ruang terbuka untuk nengalami, merasakan, dan menemukan makna. Dari setiap bentuk yang hadir, setiap material yang disentuh, dan setiap gagasan yang dipertukarkan, seni terus menemukan cara baru untuk berbicara.

Memang, sambutan atas upaya itu belum sepenuhnya seperti yang diharapkan. Tapi Sumatra Barat semestinya bisa membangunnya pelan-pelan. Dan, tentu sangat disayangkan, dalam upaya membangun ekosistem, pameran ini tidak terapresiasi maksimal oleh masyarakat pecinta seni Sumatera Barat, khususnya kota Padang. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top