Membaca Remaja Lewat Cerita Shazia Naura

Masa remaja kerap sulit dipahami orang tua. Upaya untuk memahami fase ini tak jarang berujung pada ketegangan, kekhawatiran, rentetan pertanyaan, bahkan stigma. Menghadapi remaja kadang terasa seperti menghadapi cuaca yang tak menentu: orang tua berusaha mengendalikan perilaku mereka layaknya pawang hujan atau penangkal badai. Tak jarang, orang tua juga meminta bantuan ahli untuk memahami sisi terang dan gelap jiwa anak-anaknya.

Namun, orang dewasa sering kali lebih cepat mengenali perilaku yang dianggap menyimpang daripada memahami alasan dan perasaan di baliknya. Remaja yang gemar membantah dicap sulit diatur; yang membuat ulah dianggap mencari gara-gara. Padahal, di balik perilaku yang mengusik ketenangan, mungkin ada kekecewaan, kebingungan, atau kesepian yang tak menemukan jalan keluar.

Bisa jadi, remaja melakukan sesuatu yang tampak tak masuk akal bukan karena tak memahami akibatnya, melainkan karena kehabisan cara untuk sekadar mendapat perhatian. Waktu bersama dan komunikasi dua arah seharusnya menjadi bagian penting dalam pengasuhan. Namun, diakui atau tidak, keduanya kerap terabaikan. Bukan karena tidak penting, melainkan karena dianggap remeh—bahkan receh.

Di tengah berbagai persoalan remaja, ada hal yang sejujurnya masih luput dibicarakan dalam literatur: apakah kita memiliki karya sastra yang sungguh-sungguh menghadirkan realitas remaja, selain kisah asmara dan fantasi dalam novel populer, teen-lit, atau Wattpad? Sastra anak—terutama buku bergambar untuk pembaca awal—terus diproduksi, dibicarakan dalam berbagai festival buku, dan kerap menjadi pegangan orang tua sekaligus pintu masuk anak ke dunia literasi.

Seharusnya, sastra untuk pembaca pra-remaja dan remaja juga mendapat ruang yang sama. Bagaimanapun, masa anak-anak mencakup rentang usia yang panjang, dengan kebutuhan bacaan yang terus berubah seiring pertumbuhan mereka.

Kita juga tahu bahwa karya sastra anak dan remaja selama ini kebanyakan ditulis berdasarkan pengalaman orang dewasa. Pernahkah kita melihat pembicaraan tentang sastra remaja benar-benar memberi mikrofon dan kursi kepada remaja itu sendiri? Seperti dalam sastra anak, karya-karya untuk mereka tidak selalu lahir dari bahasa dan pengalaman mereka sendiri.

Padahal, bahasa lekat dengan realitas yang dialami penuturnya—bukan seperti kincir hamster yang terus berputar di tempat. Ada jarak yang perlu disadari penulis dewasa ketika menulis bacaan untuk anak dan remaja hari ini: pengalaman, kondisi mental, gaya hidup, dan generasi mereka sudah berbeda dari zaman penulis tumbuh.

Cara penulis dewasa bercerita pun tidak selalu sehidup cara anak-anak bercerita. Saya teringat buku-buku Abinaya Ghina Jamela yang ditulisnya ketika berusia 6–12 tahun. Naya menggambarkan dunia anak melalui kalimat yang konkret dan terus terang, dengan kiasan yang hiperbolis dan khas cara berpikir anak-anak.

Sebaliknya, ketika penulis dewasa mengisahkan masa kecil, ceritanya kadang bertele-tele dan dipenuhi ungkapan abstrak. Perbedaan serupa saya temukan dalam bacaan untuk remaja, terutama dalam sastra remaja.

Sudahkah kita memberi lebih banyak ruang bagi anak-anak dan remaja untuk menggunakan bahasa mereka sendiri saat menceritakan dunia? 

Atau, setidaknya, sudahkah penulis dewasa bersikap setara: berusaha memahami dan menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan dan kebutuhan pembacanya? 

Dua pertanyaan itu harus terus diproduksi dan mengemuka, semata agar anak dan remaja memperoleh ruang yang sama untuk bersuara dan bercerita.

Saya juga mengajukan agar “sastra-remaja” ini ikut masuk dalam perbincangan dunia kepenulisan dan sastra di Indonesia. Hal tersebut tak lain karena masa remaja adalah bagian penting dari perjalanan hidup manusia, dengan pergulatan menghadapi kenyataan dan upaya mencari jalan keluar dari pengalaman yang menyakitkan.

Dalam satu dekade terakhir, saya melihat berbagai peristiwa perundungan, pelecehan, dan rasa tidak percaya diri yang dialami remaja sebagai pengingat bahwa mereka berhak memperoleh pemahaman tentang persoalan di sekitarnya melalui karya sastra. Buku-buku itu seharusnya tidak hanya menjadi pelarian lewat kisah romansa dan fantasi, tetapi juga membantu mereka memahami diri sendiri dan dunia di sekelilingnya.

Cerita dari Sudut Pandang Remaja

Dalam pembicaraan tentang kepenulisan remaja, perhatian kerap tertuju pada lomba dan kelas menulis instan yang diarahkan untuk meraih prestasi akademik. Bagi saya, hal ini belum tentu menjadi jalan untuk membentuk remaja sebagai penulis mandiri yang berani berpikir sendiri. Tema, syarat, dan pesan moral yang ditetapkan dalam penilaian bisa membatasi ruang gerak mereka.

Padahal, imajinasi dalam menulis dan mengembangkan cerita membutuhkan kebebasan sekaligus logika. Akibatnya, potensi seorang penulis remaja bisa tersisih atau tak terbaca karena selera juri dan ukuran yang digunakan. Dalam jangka panjang, hal ini juga bisa mengurangi semangat mereka untuk terus menulis.

Mungkin, sejumlah persoalan itu ikut menjelaskan mengapa sastra remaja masih terasa sepi. Namun, di tengah kesenyapan tersebut, muncul seorang penulis remaja yang mengajukan cerita tentang dunia remaja dari sudut pandangnya sendiri.

Shazia Naura Andiqna, dengan tekun, mengolah pengalaman dan peristiwa yang ia amati menjadi cerita. Dalam buku kumpulan cerpen perdananya, ia menghadirkan tokoh perempuan fiktif untuk membawa pembaca masuk ke dalam narasi-narasi tersebut.

Keisha, tokoh utama dalam kumpulan cerita Rencana agar Terlihat Keren yang Gagal Total, sedang menghadapi masa remaja yang tidak mudah. Ia kesal karena teman-teman, bahkan gurunya, berulang kali salah menyebut namanya. Bagi orang lain, hal ini mungkin tampak sepele. Namun, bagi Keisha, itu sumber kekecewaan: bagaimana mungkin orang-orang yang setiap hari berada di sekitarnya tak mampu mengingat siapa dirinya?

Pada saat yang sama, Ibu—sosok yang ia harapkan hadir saat menjalani masa peralihan—sering kali terlalu sibuk berjuang untuk bertahan hidup. Pertemuan antara dunia remaja dan kenyataan hidup orang tua inilah yang membentuk cerita-cerita dalam buku tersebut.

Buku ini sepenuhnya berisi cerita rekaan yang ditulis seorang siswa sekolah menengah pertama. Hal ini penting saya tekankan karena Shazia Naura Andiqna, yang baru berusia 14 tahun, telah menunjukkan kesungguhan dalam mengolah bahasa. Ia menangkap berbagai peristiwa, lalu meramunya dengan imajinasi untuk menghadirkan kehidupan remaja melalui tokoh fiktif yang terasa begitu hidup.

Tiga belas cerita pendek dalam buku debut ini berpusat pada masa peralihan seorang anak perempuan bernama Keisha. Masa itu berjalan seiring dengan kepindahannya dari rumah lama ke kota lain, kehidupan sebagai murid baru, usaha menyesuaikan diri dengan tetangga dan teman-teman, serta kenangan tentang ibu dan nenek.

Kenangan masa kecil itu tersimpan seperti barang-barang lama di dalam kardus. Penulis tak sekadar menyampaikan cerita; ia merangkai metafora yang sesuai dengan karakter tokoh dan suasana kisah. Alurnya sesekali menghadirkan kejutan. Pembaca bisa terkekeh, geleng-geleng kepala, ikut deg-degan, merasa sinis, hingga ngelangut saat menyelami kesunyian batin Keisha.

Pada masa remaja, hampir semua orang ingin terlihat keren dan gaul. Dorongan ini bukan hanya berkaitan dengan perubahan biologis saat tubuh beranjak dewasa, tetapi juga dengan lingkungan sosial yang ikut membentuk mereka. Melalui Keisha, Shazia menelusuri pengalaman remaja di rumah, sekolah, dan kota tempat tinggalnya.

Berulang kali Keisha menegaskan bahwa teman-teman, bahkan gurunya, keliru menyebut namanya. Dalam cerita Rencana agar Terlihat Keren yang Gagal Total, protes itu diarahkan kepada orang-orang yang ia sebut teman, termasuk gurunya sendiri—meski hanya terdengar dalam suara batinnya yang kecewa.

Alasan orang-orang yang keliru mengingat dan menyebut namaku selalu, lupa. Maksudku, hei jujurlah! Masa sejak SD kita berteman kamu tetap memanggilku seperti itu? atau aku memang begitu mudah untuk dilupakan? (Hal. 1)

Pada kenyataannya, remaja memang membutuhkan pengakuan sosial. Namun, Keisha justru merasa diabaikan. Kekecewaan itu mendorongnya melakukan tindakan nekat yang tak lazim bagi seorang remaja perempuan. Ia bukan hanya ingin diakui keberadaannya, tetapi juga ingin agar tak seorang pun lagi salah menyebut namanya.

Di lingkungan sekolah, sadar atau tidak, seolah ada daftar singkat tentang siapa yang mudah dikenali atau populer: murid terpintar di kelas, siswi tercantik, siswa teladan, atau anak yang paling populer. Sayangnya, Keisha tidak masuk dalam kategori-kategori itu.

Penulis menggambarkan situasi tersebut dengan metafora sorot lampu panggung yang spektakuler. Keisha pun mencari cara agar keberadaannya diakui melalui ponsel. Ia mengetikkan kata kunci “Cara agar dilihat, diingat, dan disukai di sekolah” di kolom pencarian. Namun, baginya, semua kiat dari para kreator konten itu hanya omong kosong karena tak satu pun terasa bisa ia lakukan.

Tips ini sudah jelas hanya berlaku bagi mereka yang memiliki fisik yang oke atau prestasi yang cemerlang, atau kemampuan public speaking yang aduhai. (Hal.3)

Akhirnya, Keisha memilih caranya sendiri: merokok di tangga lorong sekolah. Namun, tindakan nekat itu tak mengubah apa pun. Rencananya untuk meluruskan kesalahan penyebutan namanya tetap gagal total.

Guru yang memergokinya tidak mengumumkan kejadian itu kepada semua murid atau guru lain. Sebaliknya, perbuatannya justru dianggap sebagai akibat tekanan atau perundungan yang dilakukan geng murid di sekolah.

Tapi tetap saja, Bu Rita menyebut namaku dengan keliru, sama seperti orang lain. “Nama saya Keisha, Bu, bukan Kesyi,” bisikku pada diriku sendiri. (Hal.7)

Bagaimana mungkin seorang remaja perempuan punya gagasan seaneh itu? Pertanyaan seperti ini mungkin muncul di benak orang dewasa. Bahkan, pertanyaan itu bisa saja tak hanya ditujukan kepada tokoh, tetapi juga kepada penulisnya. Padahal, melalui fiksi ini, pembaca bisa melihat sisi kehidupan remaja yang mungkin luput dari perhatian orang tua: hal-hal yang diam-diam disembunyikan anak dari lingkungan sekitarnya.

Lalu, apa yang mendorong Keisha bertindak demikian? Shazia merangkai cerita-cerita ini dengan hubungan sebab-akibat yang cukup jelas. Di balik perilaku Keisha, ada kenyataan bahwa keluarganya tidak utuh dan ia tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal. Ibunya pernah mengatakan bahwa merokok dapat menenangkan pikiran; bagi Keisha, kebiasaan itu kemudian menjadi cara untuk meredakan kegelisahan.

Namun, disadari atau tidak, penulis juga menghadirkan kenyataan lain yang sering kita jumpai di masyarakat. Di balik ucapan itu, ada beban seorang ibu yang bekerja keras sendirian demi masa depan anaknya, sekaligus berusaha menjadi pengasuh bagi putri satu-satunya. Ketangguhan dan kesunyian Keisha dan ibunya saling bertaut dalam cerita yang disampaikan dari sudut pandang seorang remaja berusia 14 tahun.

Kenangan masa lalu menjadi bahan renungan, sekaligus tempat melarikan diri dari kenyataan yang tidak menyenangkan. Namun, masa lalu itu kini telah jauh tertinggal, seperti serbuk kapur di papan tulis yang mengendap di bantalan penghapus—tak mungkin kembali ke bentuk semula.

Kenangan Keisha bersama ibunya pun tidak semuanya manis. Kedekatan mereka terlihat ketika menonton film dan bermain perang bantal, seperti dalam cerita Benteng Bantal dan Tersesat di Negeri Oz. Namun, kenangan itu juga memperlihatkan kesunyian yang dialami Keisha.

Dalam cerita Rambut dan Hal-Hal yang Teramat Ingin Aku Lupakan, penulis tidak hanya menggambarkan rutinitas seorang ibu yang mencukur rambut putrinya. Rambut ikal panjang Keisha punya makna lebih dalam: ia menjadi lambang hidup yang berantakan, sekaligus semacam museum tempat debu, ketakutan, kesepian, dan kehilangan menumpuk di kota baru.

Pertemuan antara ketangguhan dan kesunyian kedua tokoh itu akhirnya memuncak dalam ungkapan getir: Koe ngrusak uripku. Kalimat itu diucapkan sang ibu dalam bahasa yang asing bagi Keisha. Ungkapan tersebut menjadi pelampiasan atas peristiwa masa lalu, sekaligus penyesalan kepada laki-laki yang semestinya hadir di tengah keluarga mereka. Namun, penulis tidak membiarkan tokohnya terus tenggelam dalam kesedihan.

Rasa ingin tahu khas remaja mendorong Keisha mencari arti kalimat itu melalui Google Terjemahan di laptop lama ibunya: “Kau menghancurkan hidupku.” Ia bahkan sempat mengira hasil terjemahan itu keliru. Setelah menemukan fakta dalam jurnal harian ibunya, ia pun mulai bertanya-tanya:

Apakah Ibu menyesal? Apakah semuanya akan berbeda jika waktu itu ia membuat pilihan lain? Bagaimana jika yang muncul di alat tes itu hanya satu garis? Apakah Ibu akan menghela napas lega? Apakah ia akan melanjutkan hidup dan mengejar mimpinya? Apakah ia akan masuk jurusan kedokteran di perguruan tinggi terbaik seperti yang dulu diimpikannya? (Hal.53)

Sekali lagi, kesungguhan Shazia dalam menulis terlihat dari caranya menghindari cerita yang terasa dibuat-buat. Ia membawa pembaca menuju akhir kisah Keisha melalui cerita Tidak Masalah Bagiku jika Ibu Beraroma Tembakau. Dalam cerita ini, ia berani menghadirkan seorang ibu yang merokok dan karena itu dicap sebagai perempuan nakal.

Bahkan, melalui tokoh remaja, ia menggunakan kata “jalang” secara terang-terangan. Sebutan itu muncul dari stigma yang berkembang di lingkungan luar rumah mereka. Dengan menghadirkannya, penulis menggugat pandangan sosial yang patriarkal—pandangan yang menempatkan perempuan sebagai pihak kelas dua. Namun, ia tidak berhenti pada sindiran.

Cerita ditutup dengan ungkapan kasih sayang sang tokoh kepada ibunya. Di tengah ketangguhan, kesunyian, dan konflik batin mereka, ada ikatan yang tetap erat: hubungan seorang ibu dan anak.

Tapi buatku, asap rokok, aroma tembakau, itu adalah Ibu. Aku begitu terbiasa dengannya, sampai-sampai aneh jika Ibu tidak beraroma tembakau.
Bagiku, tak masalah jika hal terakhir yang kuhirup adalah aroma tembakau. Asalkan bau tersebut berasal dari ibuku.
(Hal.78)

Yang perlu lebih sering diberi ruang bukan hanya cerita tentang anak dan remaja, tetapi juga suara mereka sendiri. Mereka sering dibicarakan dari luar—sebagai anak yang sulit diatur, terlalu sensitif, sibuk dengan gawai, atau sekadar mencari perhatian—sementara alasan dan perasaan di balik perilaku itu belum tentu didengar.

Buku anak semestinya menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat cerita. Sastra juga dapat membuka ruang bagi ekspresi emosi, empati, dan kehangatan hubungan orang tua dan anak. Ketika anak atau remaja menulis sendiri, pembaca berkesempatan mendengar kegelisahan melalui bahasa, humor, dan imajinasi yang mereka pilih, termasuk hal-hal yang tidak selalu nyaman dibicarakan di rumah: kesepian, penyesalan orang tua, stigma terhadap perempuan, atau kebutuhan sederhana untuk diingat.

Dalam konteks ini, buku bukan hanya sarana mengajar, tetapi juga jembatan ketika percakapan langsung terasa sulit. Kumpulan cerita karya Naura, Rencana agar Terlihat Keren yang Gagal Total, mengajak kita memasuki ruang tersebut.

Karena itu, kehadiran Rencana agar Terlihat Keren yang Gagal Total karya Shazia Naura Andiqna (Naura) penting bukan hanya karena ditulis oleh remaja berusia 14 tahun. Lebih dari itu, buku ini mengubah posisi remaja dari objek yang dinilai menjadi subjek yang berhak menceritakan pengalaman dan menafsirkan dunianya sendiri.

Keisha tidak meminta pembaca membenarkan semua tindakannya. Ia mengajak kita melihat kesunyian, frustrasi, dan kebutuhan untuk diingat yang tersembunyi di balik pilihan yang tampak ganjil.

Bagi pembaca sebaya, cerita-cerita ini bisa menjadi cermin bahwa kebingungan mereka layak diakui.

Bagi orang tua, buku ini membuka kesempatan untuk bertanya sebelum menghakimi, mendengar sebelum menasihati, dan memahami bahwa kasih sayang juga hidup dalam keluarga yang tidak sempurna.

Buku seperti ini penting bagi bacaan pra-remaja dan remaja Indonesia bukan karena harus mewakili semua pengalaman mereka, melainkan karena menambah suara yang berani membicarakan keluarga yang tidak sempurna, perasaan yang bertabrakan, dan pertanyaan yang tak selalu terjawab di halaman terakhir. Kadang-kadang, sebuah buku menjadi tempat pertama bagi orang tua dan anak untuk mulai saling mendengar. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top