Eksekusi Setelah Hujan

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Pagi itu sungai masih keruh oleh hujan semalam. Air bergerak pelan, membawa daun-daun kecil dan ranting yang tersangkut di batu sebelum hanyut. Pria itu berdiri di beranda rumah, menunggu langit cukup terang untuk melihat jalan. Udara masih dingin. Tanah di halaman lembab, meninggalkan bekas gelap di papan tangga.

Dari dalam rumah terdengar suara batuk pendek. Ibunya muncul di ambang pintu, menyampirkan selendang tipis ke bahu. Rambutnya sudah banyak memutih, disanggul seadanya. Perempuan itu berdiri sebentar dan mengamatinya menggulung sarung. Sarung itu biasa dipakai ibunya untuk salat atau sekadar duduk di beranda sore hari. Warnanya sudah pudar, tapi kainnya masih kuat. Dia melipatnya rapi—dua kali memanjang, sekali melebar—seperti cara ibunya selalu melipat. Dia memastikan ujungnya sejajar sebelum mengikat tas kain dengan simpul sederhana.

Senapan disandarkan ke bahu kiri. Tali kulitnya sudah mengelupas di beberapa bagian, tapi masih kuat. Dia menarik simpulnya sekali lagi. Gerakannya otomatis, tanpa ragu.

“Jangan terlalu lama,” kata ibunya.

Pria itu mengangguk. Tidak menjawab. Dia tahu ibunya tidak menunggu jawaban.

Setelah itu, dia melangkah turun dari beranda. Ayam-ayam mengais tanah di dekat pagar bambu. Namun, jalanan sunyi. Sejak beberapa bulan terakhir setelah Belanda kembali, jalanan selalu sepi. Jalan setapak menuju pos bambu licin dan sempit. Semak-semak di kiri kanan masih menyimpan sisa air hujan. Beberapa daun meneteskan air ke bahunya saat dia lewat.

Jalan itu sudah dia kenal sejak kecil, sejak masih menjadi tempat anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Dulu, dia sering pulang dengan lutut kotor dan kaki penuh lumpur. Sekarang, jalan itu dipakai orang-orang bersenjata.

Di pos bambu, dua orang menunggunya. Mereka duduk di bangku panjang. Senjata diletakkan di samping, moncongnya mengarah ke tanah. Salah satu berdiri dan menyerahkan secarik kertas lusuh. Pria itu membaca cepat. Tidak ada yang asing. Lantas melipat kertas itu dan menyelipkannya ke saku celana.

“Ke sungai,” kata salah seorang dari mereka.

Dia mengangguk. Tidak ada yang perlu ditanyakan.

Tawanan itu berdiri di bawah pohon pisang di belakang pos. Tangan terikat tali kain di depan. Seragam KNIL yang dikenakannya kusam, seperti sudah lama tidak dicuci. Kancing-kancingnya tidak seragam—ada yang logam, ada yang plastik—seolah diganti seadanya. Sepatunya masih lengkap, meski tumit sebelah kanan sudah tipis.

Wajah tawanan itu pucat, tapi terlihat tenang. Berdiri tegak, tidak menunduk. Ketika pria itu mendekat, tawanan itu menatapnya sebentar lalu mengangguk pelan. Tidak ada kata-kata.

Mereka mulai berjalan. Pria itu di belakang, tawanan di depan. Jalan setapak menyempit setelah belokan kedua. Di kiri, tebing kecil dengan akar-akar menyembul. Di kanan, semak rapat. Udara masih dingin. Bau tanah basah dan daun membusuk terasa kuat.

Mereka berjalan tanpa bicara. Langkah tawanan itu teratur, tidak tergesa. Tali kain di pergelangan tangannya bergerak naik turun mengikuti langkah. Pria itu sesekali menoleh, memastikan tak ada yang mengikuti. Terkadang dia mendorong tubuh tahananya.

Sungai terdengar sebelum terlihat. Suaranya pelan, konstan. Di tempat itu, air selalu keruh setiap kali hujan turun semalaman. Pria itu berhenti di tepi sungai. Menurunkan senapan dan menyandarkannya ke batang pohon. Tawanan itu berdiri beberapa langkah di belakang, menunggu.

Air sungai cokelat, mengalir pelan. Beberapa daun berputar di permukaan sebelum hanyut. Pria itu berdiri diam sejenak, memandang air.

“Boleh duduk?” tanya tawanan itu.

Pria itu mengangguk.

Tawanan itu jongkok di dekat batu. Menggeser posisi kakinya sedikit, menarik lutut ke dalam agar celananya tidak menyentuh tanah basah. Gerakannya tenang, terlatih. Pria itu membuka tas kain dan mengeluarkan sarung. Dia meletakkannya di atas batu lain. Tawanan itu diminta duduk di atasnya, punggung lurus, tangan masih terikat di depan.

“Sungainya selalu keruh sejak dulu,” kata tawanan itu, seperti berbicara pada dirinya sendiri, dan seolah dia pernah berada di sini.

Pria itu tidak menanggapi. Dia mengambil senapan dan memeriksa pelatuknya. Tangannya sedikit basah oleh keringat. Dia mengusap telapak tangannya ke celana, lalu kembali memegang senapan. Lalu berdiri beberapa langkah di belakang. Jaraknya pas.

“Kamu siap?”

Tahanan itu tersenyum. Mengangguk.

Pria itu menarik napas sekali, lalu langsung menekan pelatuk.

Doorr!

Suara tembakan memantul ke tebing. Burung-burung terbang dari semak. Air sungai bergetar sebentar, lalu kembali mengalir seperti semula.

Pria itu menurunkan senapannya. Tidak langsung memeriksa korbannya. Dia melangkah ke sungai dan mencuci tangannya. Airnya dingin dan keruh. Dia menggosok jari-jarinya pelan, lalu membilasnya sekali lagi. Bayangannya di permukaan air terpecah oleh arus kecil. Kemudian dia kembali ke batu. Tubuh tawanan itu tergeletak miring. Sarung yang tadi rapi kini sebagian basah oleh darah, ujungnya menyentuh air.

Tangannya membalikkan tubuh itu. Wajahnya kini terlihat jelas. Garis rahang itu dan bekas luka kecil di pelipis kanan terasa akrab, tapi dia tidak berhenti lama di sana. Segera saja, dia merapikan seragam tawanan itu, seperti rutinitas. Dari saku dalam jaket, dia menemukan dompet tipis dari kulit, dan membukanya. Di dalamnya ada selembar foto yang sudah terlipat dan kusam.

Dia membuka lipatan foto itu.

Di sana ada wajah mirip ibunya, masih muda, berdiri di halaman rumah lama. Rambutnya masih hitam. Di sampingnya, seorang bocah kecil mengenakan kemeja putih. Bocah itu tersenyum. Tangan ibunya diletakkan di bahunya. Sebentar dia berpikir dan menghela napas, lantas menutup dompet itu dan memasukkannya kembali ke saku jaket. Kemudian dia mengambil sarung dan melipatnya kembali, meski kainnya masih basah dan bernoda darah. Lipatannya kali ini tak serapi tadi. Dia meletakkannya di atas batu, lalu memanggul senapan dan berjalan pergi.

Jalan pulang menjadi terasa lebih panjang. Tanah masih basah. Daun-daun menempel di sepatu. Setelah belokan kedua, suara sungai tidak terdengar lagi.

Ketika dia tiba di rumah, ibunya sedang duduk di beranda, membersihkan kacang di atas tampah. Ibunya menoleh ketika mendengar langkah kaki.

“Kamu sudah pulang,” katanya.

Pria itu mengangguk. Lalu duduk di bangku kayu. Dari saku celana, dia mengeluarkan dompet itu dan mengambil foto di dalamnya. Tanpa kata, meletakkannya di antara mereka, di atas papan beranda.

Ibunya berhenti bekerja. Dia mengambil foto itu dan memandangnya lama. Wajahnya tidak berubah, tapi tangannya sedikit gemetar.

“Kamu bertemu dia?” tanya ibunya. Matanya bercahaya. Wajahnya penuh harapan.

Pria itu mengangguk, tapi tak bertanya.

Ibunya menarik napas pendek.

“Dia kakakmu.”

Mata pria seperti tersentak ke belakang. Jantungnya seperti meledak. Lalu menatap halaman dengan mata kosong. Ayam-ayam masih mengais tanah seperti pagi tadi.

“Ayahmu membawanya,” lanjut ibunya.

“Ibu tinggal bersamamu.”

Pria itu masih terdiam.

“Di mana dia sekarang? Ibu ingin bertemu ….”

Pria itu tak menjawab. Wajahnya mengeras, lantas bangkit dan memutuskan kembali ke sungai. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top