
Kipas angin yang melekat pada dinding ruangan berayun ke kanan dan ke kiri, menyapu lebih dari empat puluh lima orang yang duduk di kursi plastik cokelat. Hampir setiap tangan menggenggam buku yang baru saja dibagikan gratis di meja pendaftaran, yaitu buku kumpulan puisi Heru Joni Putra berjudul “Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan”. Di ruang sederhana itu, sastra sedang dipertemukan dengan pembaca dan penikmatnya serta pembicaranya.
Sabtu, 26 September 2026, kegiatan “Cagak Sastra” resmi dibuka oleh Ketua Yayasan Cagak Inti Kultura, Yusrizal KW.
“Acara ini temanya cukup lugas: Regenerasi Pembaca Sastra. Artinya, Yayasan Cagak, antara lain melalui media jurnalisme, sastra dan budaya cagak.id, juga berkomitmen membangun dan mewadahi pembaca-pembaca sastra, berikut mengapresiasi karya sastra dan menyediakan ruang-ruang eskpresi bersama. Tentu regenerasi pembaca sastra sebagai gambaran pembaca sastra masa depan yang lebih tumbuh dan hadir secara bermakna,” kata Yusrizal KW yang juga Pemimpin Redaksi cagak.id ini dalam sambutannya.
Menurut Dr. Ria Febrina, M.Hum, ketua pelaksana kegiatan yang didukung Direktorat Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan RI ini, menghadirkan tiga sesi diskusi, yang terdiri terdiri atas bincang buku, orasi sastra, dan diskusi sastra zaman perang, serta telusur latar novel Sitti Nurbaya, dengan harapan menghidupkan kembali jejaring komunitas sastra anak muda. Merekalah pembaca dan penulis sastra masa depan.

Apa yang terjadi selama dua hari itu ternyata membentuk satu benang merah: bagaimana sastra membaca identitas, bagaimana kita membaca sastra, dan bagaimana sastra pada gilirannya membentuk ingatan sebuah masyarakat.
Tersesat di Tanah Matrilineal
Di hadapan peserta telah duduk tiga orang. Di bagian kiri, Ganda Cipta, jurnalis sekaligus redaktur halaman utama Padang Ekspres, bertindak sebagai moderator. Di tengah, naratolog Bunga Suci Pertiwi. Di bagian kanan, kritikus sastra dan dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas, Ivan Adilla. Dua buku akan “dibincang”: novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen dan buku puisi Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra.
Ganda membuka dengan mengatakan, dialah wartawan pertama yang mewawancarai Yoga Zen soal novel itu, dan Yoga, yang duduk di barisan kedua dari depan, mengangguk membenarkan. Kedua buku yang dibahas pun bukan buku sembarangan. Pada 2023, novel Yoga meraih juara pertama Sayembara Dewan Kesenian Jakarta, sementara naskah puisi Heru meraih juara kedua.
Bagi Bunga, novel Yoga menuntut pembacaan berulang. Yoga piawai melukiskan dengan kekuatan deskriptif menggerakkan tokoh-tokohnya hingga nyaris tak ada karakter yang diam.
Tokoh “aku”, setelah menikah, pindah ke kota B di pedalaman Minangkabau. Namun, menurut Bunga, alur justru digerakkan Leman, mantan tentara penghuni rumah jengki yang dicap gila oleh orang kampung.
Yang paling menarik perhatian Bunga adalah cara novel ini menghadirkan maskulinitas yang rumit di tanah matrilineal. Menurut jurnalis budaya ini, maskulinitas yang ingin ditampilkan Yoga adalah bentuk keresahan dari penulis atas peran laki-laki di masyarakat Minangkabau. Laki-laki dibentuk oleh sistem sosial masyarakat. Laki-laki diharuskan ikut berburu babi; yang menolak dianggap lemah dan tak pandai bergaul, bahkan dicap sumando kutu dapua, menantu yang menjadi kutu di dapur mertua. Tetapi adegan berburu itu sendiri, kata Bunga, tidak digarap konkret. Pembaca hanya tahu bahwa lelaki harus bersiap, membawa anjing ke hutan, dan makan tanpa bekal. Isu ini muncul di awal lalu menghilang hingga cerita usai. “Apakah tradisi berburu babi hanya bumbu, atau ceritanya memang belum selesai?” tanyanya.
Ia juga menyebut Yoga menulis “Minangkabau ala Latin”, latar penuh imaji liar yang kerap berbenturan dengan nilai Minangkabau sendiri.

Diskusi makin menarik. Najmi Syffa Ananta, salah seorang peserta, menduga bahwa yang digambarkan novel ini sesungguhnya adalah patriarki kultural, yakni laki-laki yang dibentuk oleh budaya persaingan. Apakah ini potret toxic masculinity, semacam tuntutan “jangan banci, jangan lemah”? Bunga menjawab bahwa novel ini lahir dari keresahan penulis atas peran laki-laki dalam masyarakat Minangkabau; laki-laki dibentuk oleh sistem sosialnya.
Di sisi lain, Al-Fikri bertanya soal judul dan tokoh paling berkesan. Bagi Bunga, judul itu lebih dekat dengan gambaran “tujuh menit sebelum meninggal” ketimbang reinkarnasi identitas, dan tokoh yang paling melekat justru Inyiak Dagok, lelaki gagap yang ucapannya kerap dianggap tak penting.
Anggi Oktavia, salah seorang peserta, setuju novel ini bicara maskulinitas, tetapi melihat lapisan yang lebih dalam: absurditas dan pencarian eksistensial si aku. Anggi menemukan realitas filsafat-psikologi, unsur absurditas, yaitu eksistensial tokoh aku yang lebih ditonjolkan, dibandingkan tokoh Leman yang diungkapkan sebelumnya menjadi penggerak cerita oleh Bunga Suci Pertiwi. Pertanyaannya, menjadi apakah? Jangan-jangan alasan maskulinitas berburu babi itu tidak dituntaskan sampai akhir cerita, memang bukan karena realitas utama dan sesungguhnya realitas yang ingin ditonjolkan penulis adalah realitas absurditas, pencarian makna atas eksistensi diri. Dan, Bunga menanggapi, maskulinitas dalam novel ini adalah produk sejarah dan budaya: lelaki harus begini, lelaki harus begitu.

Deddy Arsya bertanya pada Bunga, apa maksud “Minangkabau ala Latin” dan apakah novel ini bisa dikotakkan sebagai novel antropologis, sosial, atau psikologis. Bunga menilai Yoga banyak dipengaruhi penulis Barat, dan novelnya mencampur semua itu. Barangkali Yoga memang sengaja membuat pembaca ikut “tersesat setelah lahir kembali” di tengah budaya dan norma yang asing. Argumen atau maksud “Minangkabau ala Latin”, tidak dijawab detil dan tuntas oleh Bunga dari apa yang ditanyakan Deddy. Begitu juga Bunga tidak memberi jawaban apakah karya Yoga Zen ini sebagai novel antropologis, sosial, atau psikologis. Tapi Bunga mengulas, bahwa Yoga Zen berhasil menuliskan Minangkabau ala latin sebab latar cerita Minangkabau yang ditampilkan itu sedikit banyaknya menampilkan imaji liar, banyak berkontradiksi dengan nilai-nilai Minangkabau itu sendiri. Dalam hal ini, salah satunya adalah penggambaran hubungan Mak Utiah dan Leman.
Jeda sesi pertama diskusi ini diisi musikalisasi puisi “Kupu-kupu” karya Mohamad Zain Saidi oleh Adni Salsabil Azizi, mahasiswa Sastra Indonesia Unand, dengan suara lembut yang membuat telinga nyaman mendengarnya.
Dari Satire ke Sajadah: Puisi Heru Joni Putra
Pelantang suara sudah di tangan Ivan Adilla untuk membicarakan karya Heru Joni Putra. Ia memulai dengan membaca “habitus” Heru Joni Putra: alumnus Sastra Inggris Unand yang tumbuh bersama nama-nama yang kelak menjadi sastrawan penting, seperti Esha Tegar Putra, Pinto Anugrah, dan Yetti A.K. Ia rajin membaca, cerdas menulis, dan sempat rutin menulis cerita satire berbahasa Minang di kolom “Cubadak Kantang” di Garak.id.
Buku puisi pertamanya, Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (2017), memodifikasi pantun Minangkabau dengan satire dan ironi. Lalu pandemi datang. Sejak 2020, Heru banyak berguru kepada para guru Tarekat Naqsyabandiyah; sebelum menulis puisi, ia berwudu dan salat lebih dulu. Puisi-puisi dalam Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan lahir dari fase itu.

Hasilnya kontras. Heru tak lagi meledak-ledak. Bahasanya sangat sederhana, metaforanya biasa, tetapi peristiwa yang ia pilih membentuk tikungan-tikungan yang mulus.
“Tidak mudah melahirkan karya sederhana yang menarik,” kata Ivan, sembari mengutip puisi tentang Palestina, “Sebuah Negeri-negeri”: sebidang tanah di pekarangan rumahmu, mungkin tak berarti apa-apa, bahkan bagi orang palestina, yang diusir dari kampung halamanny…
Ivan memetakan tiga tema besar dalam buku ini: lingkungan dan kepedulian sosial, renungan diri, serta pengalaman spiritual. Puisi-puisi naratif Heru terasa terbuka karena menyodorkan kesan dan kesaksian tanpa menarik kesimpulan. Pembaca dibiarkan menafsir sendiri.
Setelah pembacaan puisi “Prajurit Jaga Malam” karya Chairil Anwar oleh Amanda Salsabila, sesi diskusi dibuka. Edi Indrizal, seorang antropolog dari Universitas Andalas, merujuk konsep habitus Pierre Bourdieu, bertanya modal apa yang dimiliki Heru. Ivan menyebut modal intelektual (Sastra Inggris Unand, Kajian Budaya UI, residensi di Bristol) dan modal budaya berupa kedekatannya dengan penutur pantun Minangkabau.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, Nurmatias, yang mengenal opini-opini tajam Heru di Padang Ekspres, ingin tahu bagaimana sikap itu bisa berubah. Ivan menjawab, perubahan itu lahir dari proses panjang bersama orang-orang surau Naqsyabandiyah.
Pertanyaan pamungkas datang dari Deddy Arsya: jika puisi adalah biografi penyairnya, dan laku penyairnya kini sufistik, apakah puisinya juga sufistik? Ivan tersenyum. “Inilah istimewanya,” katanya. Meski perjalanan spiritual membawa Heru lebih dekat kepada Tuhan, puisinya tidak menjelaskan hubungan manusia dan Tuhan secara gamblang.
Dua buku yang dibincang tersebut, menyimpulkan Yoga tersesat di tengah budaya, Heru menemukan arah lewat laku spiritual. Keduanya sama-sama bicara tentang identitas yang terus dicari.
Orasi Melawan Distraksi
Siang harinya, pukul 13.30 Wib, wajah-wajah di kursi berganti. Di depan, sastrawan Gus tf Sakai memperkenalkan diri dengan kelakar kecil: nama “Sakai” ia pakai untuk cerpen, tanpa “Sakai” untuk puisi. Redaktur Cerpen cagak.id itu lalu berorasi tentang “Disrupsi dan Distraksi dalam Sastra”.

Disrupsi adalah sesuatu yang tercerabut dari akarnya; distraksi adalah sesuatu yang mengalihkan. Menurut Gus tf, ancaman distraksi bukan terletak pada produksi atau distribusi karya, melainkan pada kerusakan kognitif dan psikologis manusia, yang ujungnya melahirkan krisis identitas dan mental.
Jika kerja otak terus diserahkan kepada AI, yang ia sebut “akal imitasi”, jaringan berpikir kita melemah. “Kembalilah menulis dengan benar!” serunya, membangkitkan semangat hadirin dalam ruangan berkipas angin itu.
Gus tf lalu memetakan tiga ancaman ketika kita menggantungkan diri pada layar dan mesin:
- Matinya pembacaan mendalam. Stimulasi digital membuat otak kehilangan ketahanan untuk mencerna teks panjang. Sastra kehilangan pembaca bukan karena bacaan terbatas, melainkan karena tak ada lagi pikiran yang cukup tenang untuk merenung. “Berapa lama kita bisa membaca satu cerpen sebelum tangan meraih ponsel?”
- Kedangkalan emosi. Video pendek melompat dari tragedi ke komedi dalam hitungan detik, mengikis empati. Padahal, sastra adalah ruang latihan empati. Gejalanya tampak dalam kebiasaan skimming: ingin cepat sampai ke akhir cerita.
- Kelumpuhan imajinasi. Sastra menuntut pembaca aktif membangun dunia dari deretan kata. Pikiran yang terdistraksi menjadi malas berimajinasi, dan teks pun terasa kering.
Jalan keluarnya? Jadikan membaca sastra bukan sekadar hobi, melainkan aktivitas rekreatif, bahkan tindakan politis: menolak didikte algoritma, berani mengambil jeda, dan menjaga fokus.
Penyair Arif P. Putra bertanya dari mana harus memulai. Jawab Gus tf, gerakan bersama menjauhkan ponsel dan kembali ke buku. Deddy Arsya bertanya apa yang bisa dilakukan sekolah dan kampus: menjauhi AI atau ada cara lain? Jawaban Gus tf ternyata tidak hitam-putih. AI boleh dimanfaatkan untuk berdiskusi atau membantu menulis, “selama kita yang menentukan.”

Afri Meldam mengajukan pertanyaan yang cukup menggelitik: jangan-jangan distraksi justru lahir dari sastra itu sendiri? Teks digital melimpah sehingga pembaca bingung memilih, sementara bacaan berkualitas cenderung berbayar. Gus tf menjawab tegas. Kita tetap bagian dari perkembangan zaman, tetapi untuk melahirkan aliran baru, kita harus memahami aliran sebelumnya. Bacalah karya-karya yang mendapat penghargaan, bacalah teori sastra. Dengan begitu, indra kita terbuka.
Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, menurut Gus tf, merawat dan membaca sastra tidak bisa lagi dilihat sebagai sekadar hobi atau aktivitas rekreatif. Ia harus bertransformasi menjadi sebuah tindakan politis: pilihan sadar untuk mengambil jeda, menolak disuapi oleh algoritma, dan mempertahankan wilayah kemanusiaan kita yang paling intim dari gempuran distraksi.
“Sastra tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi, tetapi oleh seberapa gigih kita menjaga keheningan pikiran agar indra kita tetap terbuka—tersentuh atau disentuh, masuk jauh ke kedalaman rasa,” tukas Gus tf di akhir orasinya.
Sastra yang Tak Memotret Perang
Rangkaian ditutup dengan Diskusi Sastra Zaman Perang yang dipandu moderator Mila Kurnia Sari. Ahmad Febriansyah, mahasiswa Ilmu Sejarah Unand, membuka sesi dengan membacakan dua puisi Rivai Apin, “Dari Dua Dunia Belum Sudah” dan “Kebebasan”. Setelah itu sesi diskusi dimulai.
“Apakah sejarah Indonesia di buku pelajaran sudah benar?” tanya Mila, sang moderator.
“Belum!” sahut peserta hampir serempak.

Artinya peserta sudah memiliki pengetahuan sejarah yang ditulis oleh seorang pemenang dari subjektivitas tertentu dan golongan atau kelompok tertentu pula, terutama untuk kepentingan politik. Berdasarkan simpang-siurnya sejarah yang ditulis dalam buku pendidikan, ada sejarawan mengakali dengan menulis sejarah secara individu yang disebut dengan istilah ekohistori yang menggunakan observasi mendalam ke berbagai sumber, bisa melalui wawancara atau dokumen tertulis.
Deddy Arsya mendisklaimer bahwa sastra zaman perang yang dimaksud dalam diskusi kali ini adalah sastra angkatan 45 yang ditulis dari tahun 1945—1950. Dari periodesasi tersebut, menjadi tonggak pembatas antara angkatan lama dan baru. Angkatan ini yang melahirkan sastra Indonesia modern dan meninggalkan sastra tradisional. Sampai hari ini, bahkan karya sastra angkatan 45 inilah yang diperkenalkan di ruang-ruang sekolah. Lahirlah karya-karya untuk menunjukkan perang-perang sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Hal menarik yang terjadi adalah puisi-puisi yang lahir pada zaman perang itu tidak memotret kondisi perang, tetapi secara gamblang malah cenderung memotret kondisi mental atau pikiran. Bahkan, Chairil Anwar dengan keakuannya berbicara tentang cinta-cintaan. “Barangkali itu adalah bentuk pelarian diri dari dunia perang yang pahit, angan-angan untuk merdeka secara mental dan pikiran menjadi cita-cita,” tukas Deddy.
Dalam dunia perpuisian, setidaknya lahir tiga penyair besar, yaitu Chairil Anwar dengan puisinya yang paling terkenal Aku dan Kerawang Bekasi, lalu ada Asrul Sani seorang esais dan sastrawan, dan Rivai Apin juga merupakan penyair angkatan 45. Ketiga penyair ini banyak berbicara tentang kapal dan laut, barangkali ini adalah representasi dari revolusi, yaitu sesuatu menyangkut idiologis dan psikis yang tidak jelas di depan sana. Hal itu adalah upaya untuk melupakan realitas perang yang pelik.
Tidak hanya dalam dunia perpuisian, prosa pun tidak banyak memotret realitas perang. Idrus dalam cerpennya “Surabaya” bercerita tentang perang yang terjadi di Surabaya. Di pikiran kita, pahlawan dengan musuh heroisme, sedangkan Surabaya sesungguhnya adalah gambaran antiheroisme. Dalam sebuah cerpen “Kepala-Kepala Bandit” ditujukan untuk menyindir Bung Tomo dan Kepala-kepala Koboy ditujukan untuk Soekarno-Hatta, baik antara pengarang puisi maupun prosa berpisah dari kepentingan orang banyak. Terjadi tumpang tindih ideologi antara revolusi humanis yang menggerakkan orang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan revolusi radikal yang menggerakkan orang dengan cara membunuh. Sejarah mencatat bahwa lemper adalah makanan paling penting saat zaman perang dan itu ditulis dalam sebuah karya sastra.
Pada tahun 45, menurut Deddy, ada dua logika yang memiliki kemampuannya masing-masing. Pertama, logika orang Belanda bahwa mereka masih menganggap Hindia Belanda atau Indonesia ini masih wilayah kekuasaannya meskipun sudah diduduki Jepang. Kemudian, yang kedua logika Indonesia, berpikir bahwa Jepang sudah kami usir, kalian suruh pergi Belanda, ini adalah negeri kami.
Penyair muda, Dandri Hendika, memberi tanggapan dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana penggunaan diksi pada puisi-puisi angkatan 45 ini? Apakah genrenya masih ada atau tidak?”

Menjawab Dandri, Deddy Arsya mengatakan bahwa penggunaan diksinya lebih ke aku lirik. Sebetulnya di awal kepenulisan, Deddy Arsya juga menggunakan karya-karya angkatan 45 sebagai referensi. Bahkan, di ruang-ruang kelas yang pertama kali ditunjukkan adalah karya-karya sastra angkatan 45 ini, puisi Aku atau Kerawang – Bekasi.
Akhmad Febriansyah, peserta yang juga seorang mahasiswa mempertanyakan apakah karya sastra di zaman itu adalah gambaran mental penulis. Apakah bisa menjadi rujukan atau landasan sejarah? Apakah perasaan itu valid? Bagaimana merekonstruksi sejarah melalui karya sastra? Apakah ada penulis yang pro-Belanda. Deddy Arsya menjawab, tentu untuk menjadikan karya sastra sumber sejarah itu tidak bisa karena sastra adalah karya fiksi. Namun, untuk mendapatkan sekadar informasi dan memotret suatu kejadian mungkin bisa, seperti karya sastra yang berbicara tentang lemper tadi. Jika ingin mencari sumber sejarah, tetap harus menggunakan data pembanding, seperti wawancara atau tulisan di koran. Salah satu yang bisa direkonstruksi dari sastra ke sejarah adalah hal-hal kecil yang tidak ditulis oleh sejarah. Penulis yang dirasakan pro Belanda itu, sejauh pengamatan tidak ada, tetapi kalau pro Jepang itu ada, seperti Chairil Anwar menulis puisi pesanan yang berjudul Diponegoro dan yang lainnya ada Idrus.
Pertanyaan ketiga datang dari Bunga Suci Pertiwi. Ia menanyakan, adakah karya-karya yang membahas masa bersiap dalam perang? Deddy Arsya menjawab bahwa ekresi revolusi tidak disebut era bersiap, tapi masa perang dan kolonial.
Deddy Arsya juga menjelaskan bahwa banyak Majalah Sastra yang lahir di angkatan 45, tetapi tidak bertahan dan mati dengan cepat. Hal itu disebabkan oleh pengelolaannya yang terbatas. Deddy Arsya mengemukakan catatan bahwa belum menemukan sastrawan daerah tentang perang, khususnya di Minangkabau angkatan-45. Catatan Deddy Arsya itu menjadi penutup acara Cagak Sastra yang diselenggarakan oleh Yayasan Cagak Inti Kultura.
Dua hari kegiatan Cagak Sastra memperlihatkan bahwa sastra selalu bekerja di tiga wilayah sekaligus. Ia membaca identitas, seperti dalam lelaki Minang yang tersesat dan penyair yang menemukan jalan sunyi. Ia menuntut cara membaca yang tekun, sebagaimana diserukan Gus tf di tengah gempuran algoritma. Dan ia membentuk ingatan, entah lewat makam fiktif Sitti Nurbaya maupun puisi-puisi yang memilih menulis batin ketimbang dentum meriam.
Pada sesi terakhir ini, Cagak Sastra menghadirkan Monolog Katib Sulaiman oleh Bunga Padi Official yang dipimpin Irawan Winata, yang naskahnya ditulis Deddy Arsya. Pertunjukan ini menarik, menyegarkan peserta diskusi.
Perjuangan ini tidak berhenti karena satu tubuh jatuh.
Ia berhenti hanya kalau yang tersisa memilih untuk lupa, bahwa sesuatu yang diyakini mestilah diperjuangkan sampai di titik nadirnya yang paling akhir. []




