Film Sebagai Katarsis Perlawanan dan Potret Bencana Sosial

Ada banyak ruang media untuk merespon keadaan sosial masyarakat, terutama bencana alam. Baik skala kecil ataupun besar, baik yang dianggap bencana atau tidak. Sebagian berbentuk fenomena belaka, sebagian lagi sudah menjadi tabiat ataupun penyakit akut yang—nampak di mata tapi tak kunjung mau disembuhkan. Keadaan sosial tersebut tidak hanya mencerminkan laku manusia dan hewan, tetapi juga alam semesta. Bencana alam layaknya akumulasi dari perbuatan di masa lalu.

Film menjadi media paling populer menarasikan/menggambarkan/menvisualkan banyak kejadian di muka bumi ini. Film hadir sebagai corong paling lengkap untuk menyampaikan sesuatu hal yang panjang, bahkan bisa menjelma alat propaganda. Tentu saja posisi film tak semata hiburan, tak melulu soal kepuasaan akan apa yang ditayangkan (tokoh atau sinematografi). Sebut saja Steven Spielberg dalam karyanya The Fabelmans, 2022. Film yang cukup intim menceritakan perjalanan personalnya.

Steven Spielberg memanfaatkan Katarsis dalam Fabelmans dengan terang. Para karakter tidak hanya menghadapi ketakutan mereka terhadap hal yang tidak diketahui, tetapi mereka benar-benar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagaimana yang digambarkan dalam film pada babak awal ia mengenal film sampai menghancurkan pakem pembuatan film yang menurutnya tak berkembang.

Cuplikan film “The Fabelamns”.

Ada banyak Katarsis yang disampaikan lewat film sebagai ruang ekspresi atau lebih ekstrimnya, sebagai alat meluapkan segala bentuk ketidakpuasan pada kehidupan nyata—melawan kenyataan. Barangkali, perfilman India akan terus masuk sebagai bagian penting perfilman dunia. Baik sebagai kandidat kuat mematahkan dominasi Hollywood ataupun sebagai simbol kreatifitas dunia perfilman tanpa batas.

Saya rasa, hanya India yang tetap konsisten pada corak khas perfilmannya; koreografi tari, lagu, musik, replika latar (non CGI), karakter tokoh, karakter film, penceritaan dan sering mengambil hal-hal terdekat (realis). Perfilman India dengan Katarsisnya yang sedikit rumit dalam penceritaan tergambar jelas di film-film produksi Bollywood. Di masyarakat awam, barangkali semua film India dianggap Bollywood, padahal tidak demikian. Jauh sebelum Bollywood berdiri, Tollywood sudah aktif memproduksi film-film India sejak tahun 1931. Tollywood adalah sebutan untuk industri film berbahasa Telugu yang berbasis di Hyderabad, Andhra Pradesh/Telangana, India.

Sedangkan Bollywood baru mulai berkembang setelah pusat industri perfilman berpindah ke ibukota India, Mumbay, sekitar tahun 1950-an. Nama Bollywood sendiri terinspirasi dari nama Tollywood karena menyamakan dengan Hollywood yang ada di Amerika. Paling tidak ada beberapa sinema India populer dan memiliki sejarah panjang: Tollywood, Bollywood, Tellywood, Punjabi, Kollywood, Mollywood, Sandalwood, Tollygunge dan beberapa lainnya. Sebagian juga lebih mengenal sinema tersebut dari segi bahasa, seperti Tamil, Malayalam, Hindi, dan Kannada.

Film-film produksi yang dihasilkan perfilman India banyak mengekspresi perlawanan sosial dan politik. Kasta dan persoalan agama tentu telah menjadi cerita paling mencolok dalam film-film India, terlebih Bollywood. Berbeda dengan lainnya yang lebih acap menohok menggambarkan tentang kehidupan politik dan sosial (semacam perlawanan masyarakat pinggiran) di India. Namun Tollywood lebih banyak memotret keadaan masyarakat, terutama kelindan sosial politik.

Tapi tak sedikit pula mereka berangkat dari cerita-cerita Katarsis yang lebih personal bahkan terkesan menohok. Kumbalangi Nights (2019) misalnya, fenomena kehidupan beradik kakak (3 bersaudara lelaki) yang tak henti didera prahara. Sampai harus menerima kenyataan bahwa sang kakak yang menafkahi keluarga adalah seorang homoseksual, situasi pelik itu membuat film ini terlihat komplek. Namun seakan ingin melepaskan sesuatu kejanggalan yang bagi masyarakat sebagai aib—hina—halal darahnya.

Cuplikan film “Kumbalangi Nights”. (Foto: reviews by vinsi)

Katarsis dalam film-film produksi India kadang memang terkesan patriotis belaka, kadang nampak sosialis, kadang agamis pula. Tidak sedikit aktor film India yang berbanding terbalik antara kehidupan sebagai tokoh dan realita. Katarsis Patriotisme itu paling sering diperankan oleh John Abraham dalam banyak filmnya yang bermuatan soal negara; agama, politik, teroris, biografi dan history.

Terhitung sejak 2013 sampai 2025, John Abraham memang banyak memerankan karakter seorang patriot—heroik, seluruhnya hampir bernuansa militer. Seolah militer India sangat Jai Hind. Tapi tulisan ini sebenarnya tidak akan menyajikan cuap-cuap di atas atau keganasan John Abraham memanfaatkan ototnya dalam penyelidikan ala-ala detektif itu serupa sekuel kelompok bersenjata Jarhead milik Hollywood, atau lebih heroik kisah Lone Survivor milik Peter Berg.

Memotret Tajam Lewat Film

Memantik respon kepedulian sosial menjadi terminal awal dibanyak film-film. Bila Hollywood punya film berjudul “2012” pada tahun 2019 yang membahas bencana besar (tsunami), diperankan seorang tokoh berprofesi sebagai ilmuwan. Indonesia juga punya film yang berangkat dari kisah kebencanaan, Hafalan Shalat Delisa, 2011. Film ini berangkat dari kisah nyata Tsunami Aceh 2009. Tentu tidak buruk, film ini bermain di area drama, penceritaan, bangunan alur dan karakter.

Film sebagai pengingat, barangkali demikian. Kita sebutkan saja film-film yang berangkat dari bencana secara umum—bahkan dunia mengingatnya; Togo (Amerika Serikat), 2019, Kedarnath (India), 2018 (India) dan banyak lagi. Film-film tersebut memang secara keseluruhan menceritakan kejadian bencana dan berangkat dari kisah nyata. Meski ada banyak cerita bencana dalam film, tapi sebagian juga tak melulu utuh menggambarkan (video visual) suatu kejadian: sesudah dan sebelum. Misalnya dalam film Train to Busan Presents Peninsula (Korsel), 2020, atau paling dekat film-film berbentuk dokumenter terkait bencana alam.

Film yang berangkat dari kisah nyata seperti bencana alam; banjir, longsor, tsunami, badai kebakaran, dan perubahan cuaca, terasa menjadi kuat apabila bangunan cerita dibentuk oleh narasi yang runut, bahkan rapat tak memberi jeda penonton berpikir ke lain hal. Indonesia, barangkali tidak sedang berusaha membangun kelindan bagian itu. Film Hafalan Shalat Delisa misalnya, film yang telah berumur 15 tahun itu masih dapat kita temui corak yang sama di film Indonesia 5 tahun terakhir; drama kesedihan (dramatisasi).

Bukan hal yang janggal, banyak produksi memang lebih nyaman bermain di sana. Indonesia adalah salah satu negara yang masih saja bermain di wilayah itu, tanpa dibalut kritik sosial, politik, agama, sains. Ketajaman cerita atau penggambaran secara visual masih menyajikan kisah masa lampau (film memiliki batang tubuh hari ini, tetapi tetap menggunakan kilas balik utuh). Tidak ada yang benar-benar berani menayangkan kenyataan hari ini secara nyalang. Bahkan Mens Rea Panji Pragiwaksono pun hanya gelombang kecil ruang Katarsis di media. Sehingga perfilman Indonesia hanya menghasilkan film history, biografi sentris, atau sejarah-sejarahan. Sebut saja film Buya Hamka, atau Bumi Manusia. Aneh. Atau yang paling bombastis, Agak Laen.

Potret bencana dalam film menimbulkan banyak Katarsis diberbagai kalangan, apalagi mereka yang mengalami amuk bencana serupa. Tsunami tentu saja sudah menjadi isu sejuta umat, bahkan nyaris tiap tahun ada simulasi bencana tsunami. Padahal jelas-jelas itu baru perkiraan. Pemerintah seolah menjadikan program itu sebuah wadah baru dalam permainan politisnya. Ya, tidak salah juga program itu dijalankan. Tetapi, mengapa bencana banjir dan longsor kerap terabaikan. Padahal, ia nyaris datang tiap tahun. Bahkan, paling gilanya, bencana ini telah menjadi langganan di beberapa daerah. Semacam penyakit begitu, lain yang sakit lain pula yang diobat.

Pilinan film dan kehidupan nyata adalah sebuah pelarian paling ampuh dalam meluapkan gagasan tentang sebuah bencana. Banyak dari pemikir mempunyai gagasan, solusi, upaya, reaksi yang tidak mendapatkan porsi cukup dalam menyampaikan isi pikirannya. Film rasanya telah berada dipuncak paling komplit dalam menyampaikan itu semua. Media sosial, bisa saja dikontrol, tapi film adalah bentuk lain dari itu. Ada banyak penulis skenario canggih memamerkan kelihainya memainkan kata menjadi satu bangunan cerita yang kuat dan utuh. Barangkali sisi itulah yang sekarang berjarak dalam perfilman Indonesia yang masih terus berkutat dalam cerita keluarga, horor, lawak-lawak verbal, romantisme, dan sesekali mengadu peruntungan lewat film biografi. Tidak ada yang salah, toh, diberbagai belahan dunia, bahkan ada negara yang tidak mempunyai rumah produksi.

Lagi, India adalah negara yang paling massif memproduksi film bermuatan sosial, politik, dan agama. Mereka sungguh tidak ragu-ragu dalam menayangkan kebiadaban pejabat publik, tidak terkecuali. Meski hampir senada dengan tabiat Hollywood yang terus menampilkan patriotisme militernya, India juga demikian. Hanya saja India cukup berimbang, tak sedikit pula pejabat negaranya digambarkan sesuai kenyataan. Misalnya, mentri, polisi dan tentara. Mereka bahkan terang-terangan menyebutkan identitasnya. Tentang agama Islam adalah cerita paling musykil untuk berimbang. Meski bencana agama di India sangat ekstrim dan brutal. Rasis tak ketulungan kalau soal agama. Dan film adalah bagian propaganda India menjaga tensi dengan negara tetangga.

Jika bicara film dengan latar bencana alam, saya rasa banjir Kerala pada akhir Juli 2018 adalah banjir parah yang melanda negara bagian Kerala, India Selatan. Akibat curah hujan yang sangat tinggi selama musim hujan. Itu merupakan banjir terburuk di Kerala dalam kurun waktu hampir satu abad. Lebih dari 322 penduduk tewas, 15 hilang dalam waktu dua minggu, sementara sedikitnya satu juta penduduk dievakuasi, terutama dari Chengannur, Pandanad, Aranmula, Aluva, Chalakudy, Kuttanad, dan Pandalam. Keseluruhan 14 distrik di negara bagian ini berada dalam status siaga merah. Menurut pemerintah Kerala, seperenam dari total penduduk Kerala telah terkena dampak langsung banjir dan insiden-insiden terkait.  Pemerintah Union telah menyatakannya sebagai Bencana Tingkat 3 atau bencana alam yang parah. Begitu pemerintah di sana merespon bencana yang terjadi.

Di tahun yang berbeda, bencana alam tragis itu diangkat menjadi film berjudul “2018” Everyone is a Hero, sebuah film bencana berbahasa Malayalam tahun 2023 yang diproduksi berdasarkan banjir besar Kerala tahun 2018 yang meluluhlantahkan Kerala. Film ini sangat minimalis, tidak terlalu mementingkan sinematografi yang berlebihan atau penggunaan video visual mencolok untuk menggambarkan keganasan air. Film ini kuat secara bangunan cerita, alur yang padat dan karakter tokoh kuat secara penceritaan. Film ini juga menunjukan potret masyarakat tradisional dalam membaca alam, dan menjaga masyarakatnya. Sudah serupa tagline Indonesia beberapa bulan belakang, warga bantu warga.

Poster film “2018”. (Sumber: IMDB)

Film “2018” dipicu setelah Jude Anthony Joseph didekati oleh sebuah LSM untuk mendokumentasikan tindakan heroik ribuan orang selama banjir, memberikan pesan positif bagi masyarakat saat itu. Sebagai bagian dari risetnya yang ekstensif, ia bertemu dengan nelayan dari Kollam yang pergi untuk misi penyelamatan di Chengannur pada waktu itu. Ia juga berbicara dengan petugas polisi, sukarelawan, personel militer, dan petugas pemadam kebakaran yang telah membantu dalam operasi penyelamatan tersebut. Ia mulai bekerja dengan novelis Akhil P. Dharmajan pada skenario (kolaborasi yang sangat sulit ditemukan di film-film Indonesia), awalnya menyelesaikan draf pada Juni 2019 dan mulai syuting di sebuah sekolah di Kalady pada Oktober 2019. 

Tidak ada yang instan, semuanya diproses sedemikian rupa sampai menghasilkan film yang tak hanya diterima oleh penonton negaranya. Tidak semata persoalan komersil dan capaian jam tayang. Mereka benar-benar mempersiapkan produksinya dengan rumit, sabar dan riset mendalam. Tetapi hasil produksinya benar nampak sungguh-sungguh, walau disajikan begitu terlihat minimalis.

Bagi saya, film ini termasuk film biopik Malayalam terbaik satu dekade terakhir. Film yang tidak disajikan sebagaimana film bencana yang dinarasikan bombastis bahkan sangat menakutkan serupa kiamat. Film ini tampil sangat sederhana, terasa padat dan pas.

Tidak bisa dipungkiri, manusia adalah penyebab utama terjadinya bencana alam. Sekali lagi, nyaris disemua bencana alam selalu bersebab laku pemanfaatan berlebihan manusia. Dalam kasus ini, ada beberapa faktor-faktor perbuatan manusia yang mengakibatkan peristiwa bencana itu terjadi. Mungkin nyaris sama dengan apa yang terjadi di wilayah Pulau Sumatra, Indonesia beberapa bulan lalu.

Kerala mengalami penggundulan hutan yang meluas, pembangunan yang merajalela, dan penggalian batu tanpa pandang bulu dalam 100 tahun terakhir yang telah memicu tanah longsor dan juga menghambat saluran air sehingga diperburuk terjadinya banjir. Hampir sekitar 80 bendungan di wilayah yang berbatasan dengan Kerala sudah meluap. Pemerintah negara-negara bagian ini tidak mampu menyusun rencana bersama untuk melepaskan kelebihan air tersebut.

Kurangnya koordinasi dalam pelepasan air dari bendungan di Kerala dan negara bagian sekitarnya telah memperburuk situasi, bahkan menghambat operasi penyelamatan dan bantuan. Pemerintah negara bagian juga tampaknya bersalah karena tidak mengambil beberapa langkah mitigasi risiko rutin yang tercantum dalam Kebijakan Manajemen Bencana Nasional. Kalian pasti akan mengaitkan perangai pemerintah ini kepada sebuah negara. Ya, nyaris senada; pembukaan lahan ekstrim, deforestasi, longsor yang mengakibatkan kemurungan berjamaah. Tapi bukan disebut sebagai bencana besar oleh pemerintah.  

Film “2018” ini memperlihatkan Katarsis tokoh yang tenang dan heroik. Tentu saja ini adalah karakteristik khas perfilman Malayalam. Apakah sifat heroik adalah salah satu karakteristik tinggalan untuk masyarakat bekas jajahan? Secara harfiah mungkin tidak. Tapi melihat ke khasan karakter, bisa saja iya. Walau sifat heroik tidak secara eksklusif merupakan karakteristik negara bekas jajahan, tetapi seringkali lebih menonjol di sana karena sejarah perjuangan mereka melawan penjajahan. Ada dugaan/alasan mengapa sifat heroik sering dikaitkan dengan negara-negara bekas jajahan:

Melepaskan belenggu dari penjajahan: proses meraih kemerdekaan sering melibatkan perjuangan, pengorbanan, dan tindakan berani yang luar biasa dari banyak individu, yang kemudian menjadi pahlawan nasional dan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dalam budaya bangsa. Meski sejatinya hal demikian sudahlah lampau, karakteristik tersebut rupanya menjadi warisan dalam banyak bentuk, sehingga juga tinggal pada generasi selanjutnya.

Kemudian pembentukan Identitas Nasional: narasi kepahlawanan ini memainkan peran penting dalam membentuk identitas nasional dan memperkuat rasa persatuan di antara masyarakat yang beragam. Inilah barangkali karakteristik khas masyarakat di negara bekas jajahan yang sangat mencolok bahkan kadang nampak menohok. Terlebih ditunjukan pejabat pemerintah. Bagian terakhir yang tak kalah pentingnya adalah memori kolektif ataupun sejarah.

Kisah-kisah heroik banyak diwariskan dari generasi ke generasi, baik melalui pendidikan formal maupun tradisi lisan sebagai upaya menjaga semangat kepahlawanan tetap hidup dalam memori kolektif bangsa. Alih-alih menghidupkan itu semua sebagai penghormatan, malah menancapkan sifat/laku/karakteristik apatis akut yang sudah sulit sekali dibedakan: katarsis atau apatis. Tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga ke khalayak.

Film “2018” adalah gambaran nyata bagaimana masyarakat harus berjuang bersama. Jahitan cerita dalam film tersebut menyiratkan banyak perangai dan laku manusia secara individu maupun kelompok. Menarik penonton kebanyak tradisi masyarakat tradisional membaca alam, mengatasi petaka ditengah keterabaian. Film ini tidak menghadirkan pemukiman urban, atau perkotaan layaknya film-film canggih buatan Amerika full CGI. “2018” hadir sebagai potret katarsis tokoh-tokoh yang kuat dan sederhana.

Betapa perjuangan itu nyata terasa bagi penonton yang pernah/melihat langsung bagaimana banjir melanda pemukiman. Bagi masyarakat urban-modern, ini barangkali semata film masyarakat terpinggirkan; norak dan menohok. Atau balutan dramatisasi belaka. Lebih dari itu, ini adalah realita yang ditangkap lewat film penuh karakteristik katarsis. Bukan apatis dan menye-menye. Ini yang membuat film Tollywood—Malayalam selalu menarik ditunggu. Ia tidak melulu memaksakan kisah romansa/vulgar dalam film yang sudah di premiskan sebagai film peristiwa bencana yang tujuannya sebagai penanda/pengingat zaman.

Dilain hal, Film Indonesia suka sekali menghadirkan ide-ide dibagian-bagian film yang sebenarnya sudah mereka bangun dari awal dengan bagus. Alih-alih mengharapkan kejutan, malah jadi menghancurkan bangunan cerita. Sebagaimana banyak para ahli menyimpulkan film adalah karya seni yang dibaluti audiovisual, dimana segala seni dapat dihadirkan dan film adalah sebuah bangunan cerita yang dimainkan tokoh-tokoh di dalamnya.

Dalam banyak media berupa audiovisual, film adalah produk paling populer untuk menyampaikan suatu kejadian secara detail dan tajam. Didunia perfilman negara maju, film tidak hanya hadir sebagai hiburan belaka, tetapi lebih dari itu adalah persoalan seberapa dapat mereka memengaruhi penonton. Riset yang mendalam adalah salah satu keunggulan film-film di negara maju seperti; Amerika Serikat, India, Korsel, Tiongkok, Prancis, Jepang dan Kanada.

Dari semua negara yang disebutkan tadi, semuanya memiliki program inisiatif untuk mendukung industri film, termasuk pendanaan untuk produksi film, distribusi, dan penayangan film, serta intensif pajak dan hibah. Bahkan, di India tidak menarik pajak untuk produksi film yang bermuatan pesan moral, pendidikan, atau nasionalisme. Aneh, negara yang selalu masuk 50 negara termiskin di dunia memiliki aturan demikian.

Negara-negara yang mempunyai perhatian terhadap industri film juga membuat sejumlah perjanjian produksi bersama dengan negara lain, yang membantu dukungan pengembangan industri film. Indonesia rasanya juga sudah mengupayakan ini, tapi tidak lewat program pemerintah. Jangan berusaha berpikir bahwa pemerintah hadir lewat dana indonesiana atau layar indonesiana adalah dana untuk memproduksi film.

Sebagaimana kata seorang penyair kelewat nujum, tidak ada yang baru di dunia ini. Tapi percayalah, di dunia film selalu ada hal yang baru. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top