Rahmad Kartolo

Ilustrasi: Aprililia

Tiga hari sebelum menapak usia 46 pada 10 November 2025, tanpa pemicu yang jelas, Rahmad Kartolo mendadak merasa menyadari betapa ia tak pernah betul-betul berbahagia. Hidupnya berjalan serba tak menyenangkan, dan ia tercenung untuk setidaknya 10 sampai 15 detik. Pascakesadarannya pulih, Rahmad Kartolo berupaya mengorek ingatan; siapa tahu di antaranya terselip peristiwa yang sebenarnya menyenangkan tapi terlewatkan, entah lantaran lupa atau memang tak disadarinya sebagai hal menyenangkan.

Tentu saja Rahmad Kartolo tidak dapat mengingat secara detail semua peristiwa yang terjadi dalam rentang 46 tahun. Peristiwa paling terdahulu yang masih bisa ia ingat adalah kegagalannya menyelamatkan diri dari kejaran Marjili Samsuri, orang gila yang kerap mengaku pernah bertempur di Afganistan bersama John Rambo melawan pasukan Uni Soviet. Satu peristiwa sepele yang berawal dari salah paham tapi sukses membuat masa kecilnya berantakan.

Dibanding anak-anak lain, kegesitan dan kecakapan Rahmad Kartolo dalam permainan apa pun memang sungguh terbelakang. Walau demikian, lantaran keceriaan yang kerap ia hadirkan, terutama lewat tingkah polah ajaib dan cerita yang aneh-aneh dan sering kali cabul, Rahmad Kartolo tetap diajak serta. Setidaknya untuk jadi bahan tertawaan, dan ia sama sekali tak keberatan.

Suatu hari mereka bermain perang-perangan. Lantaran tak pernah beres dalam perkara membidik sasaran, ia diberi peran pembantu saja: pembawa amunisi dan senjata cadangan. Ia bergerak maju saat diperintah maju. Ikut menunduk tersuruk-suruk di antara belukar saat dibombardir mortir dan rentetan mitraliur musuh. Pendek kata, semua berjalan sempurna, hingga pada satu momentum di tengah kecamuk perang, Marjili Samsuri tiba-tiba melintas dan Adenan Jailani sang penembak jitu iseng membidiknya. Biji jambu air dari ketapel melesat menghantam tangan Marjili dan membuat seplastik es doger yang sedang diseruputnya terlepas.

Adegan selanjutnya monumental. Marjili mengejar Adenan Jailani. Namun, lantaran Adenan Jailani melesat terlalu laju, ia ganti memburu Rahmad Kartolo dan dengan segera berhasil meringkusnya. Marjili menggapai pinggang celananya, lantas merenggut dan menyentakkan, membuat karetnya mengendur, kancingnya terlepas, dan celana itu melorot sampai ke lutut. Sembari berupaya menaikkan celana, Rahmad Kartolo yang jatuh tersungkur menangis sesenggukan dalam pitingan Marjili Samsuri. Ia memohon-mohon ampun. Minta dilepaskan. Bukannya iba atau tergerak menolong, kawan-kawannya malah tertawa seolah itu kesempatan terakhir mereka melakukannya.

Bisik-bisik yang kemudian menjalar menyebut ihwal tawa tiada lain adalah perkakas kelaki-lakian milik Rahmad Kartolo, yang dianggap agak kelewat batas untuk ukuran bocah 11 tahun. Mereka sebenarnya sudah lama tahu. Mereka sering mandi di sungai usai bermain bola dan sudah barang tentu sering pula melihatnya. Namun, adegan Rahmad Kartolo menangis sembari berupaya menaikkan celana dalam pitingan Marjili dan perkakasnya terayun-ayun begitu rupa, ternyata menjadi kelucuan tersendiri bagi kawan-kawannya.

Sejak itu ia dijuluki Rahmad Kaki Tiga.

***

Rahmad Kartolo memutuskan mengakhiri nasibnya yang malang persis di hari ulang tahunnya, dan ia tak mau setengah-setengah. Ia bahkan siap melawan takdir. Artinya, jika ia memang ditakdirkan bernasib malang, maka takdir itu akan ia belokkan. Sore 29 Agustus, atas petunjuk kawannya, Rahmad Kartolo mendatangi orang pintar yang konon dapat membelokkan garis takdir. Menurut kawannya, orang pintar ini selama bertahun-tahun dipercaya sebagai penasihat spiritual sejumlah artis papan atas, para pebisnis top, pejabat-pejabat teras pemerintahan, dan tentu saja politisi, baik yang sudah duduk di gedung parlemen mewakili rakyat maupun yang masih gentayangan mengejar proyek demi mengumpulkan modal untuk memburu suara rakyat.

Mula-mula orang pintar ini menyasar namanya. Berdasarkan penerawangan dan tafsir atas sejumlah kartu, disimpulkan Rahmad Kartolo bukan nama yang cocok bagi dia: tidak cemerlang dan tidak membawa keberuntungan, dan oleh sebab itu harus diganti. Rahmad Kartolo tahu, nama ini sepenuhnya pilihan ayahnya dan pada dasarnya sangat tidak disukai ibunya. Ia ingat ibunya pernah bercerita, sebelum mereka berpacaran ayahnya pernah punya kekasih yang sepertinya sangat dalam ia cintai, hingga perpisahan yang terjadi demikian lekat membekas di hatinya. Bahkan sampai mereka menikah pun ayahnya masih mengenang kekasihnya itu, masih merasakan kecewa dan sakit, dan ini dilampiaskannya dengan kerap mengirim kupon atensi ke radio. Lewat kupon-kupon ini ayahnya minta diputarkan lagu Patah Hati dari Rachmat Kartolo. Cerita ibunya pula, tiap kali lagu diputar ayahnya akan ikut bernyanyi dengan penghayatan yang begitu bersungguh-sungguh. Patah hatiku jadinya, merana berputus asa …

Ayahnya sudah lama almarhum. Maka mestinya perkara mengganti nama ini akan jadi lebih mudah. Nyatanya tidak. Alih-alih mengabulkan, saat ia menyampaikan maksud, ibunya justru membelalakkan mata, lalu mencecarkan kalimat yang bikin hati Rahmad Kartolo serasa diremas-remas.

“Eh, sudah makin tak beres pikiranmu, ya? Makin sarap. Makanya, kawin kau biar ada yang urus. Cuma kali ini cari bini yang betul, jangan asal libas!”

Dari semua hal tak menyenangkan yang bisa diingat Rahmad Kartolo, perihal riwayat percintaan termasuk yang paling tidak menyenangkan dan oleh sebab itu sesungguhnya paling tak ingin ia kenang. Cinta, dan terutama sekali perkawinan, mengingatkannya pada Mira Marcela dan Laila Habsa.

Kedua perempuan ini dikenalnya sejak masih bocah. Kawan-kawan sepermainan. Rahmad Kartolo membenci Mira Marcela, sebaliknya, selalu menaruh sayang pada Laila Habsa. Ia menyebut Mira pembawa petaka, dan tak berhenti memberi Laila segenap puja puji. Bahkan sampai hari ini. Tidak hanya dia, ibu dan ayahnya juga menyukai Laila. Ayahnya pernah meminjam kalimat Marah Roesli dari roman Sitti Noerbaja untuk melukiskan keindahannya, dan ini membuat hati Rahmad Kartolo makin berbunga-bunga.

Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan tertarik oleh satu tali rahasia yang mengikat hati. Pandangan matanya lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Jika ia minum, seolah akan terbayanglah air yang diminumnya di dalam kerongkongannya.

Bukan sekadar cantik rupa, Laila Habsa juga elok pekerti. Bertutur lembut sopan santun budi bahasa. Keluarganya terpandang, terhormat lantaran tinggi pendidikan dan kaya raya pula. Pendek kata, jarak di antara mereka membentang sejauh-jauh mata memandang. Ayahnya berulangkali mengingatkan Rahmad Kartolo untuk tahu diri, sayangnya ia memilih untuk tak tahu diri. Nekat ia menyatakan cinta dan amat gampang menerka hasilnya.

Diguncang kecewa luar biasa, Rahmad Kartolo yang limbung berpaling pada Mira Marcela. Namanya saat lahir Anamira Isnaini Khadijah, anak kedua dari lima bersaudara. Tak lama setelah ia menuntaskan sekolah menengah, ibunya pergi ke Saudi dan sejak itu tidak kembali. Ayahnya, bajingan stedi yang merawat ketampanan lewat kepiawaian meloloskan proposal-proposal fiktif, kemudian menikahi Sela Marlena, perempuan paruh baya pemilik orkes dangdut Asmaraloka. Perempuan inilah yang pertama kali melihat bakat Anamira dan pelan-pelan menyertakannya dalam pertunjukan, lalu mengubah namanya, semata agar kedengaran lebih enak manakala diteriakkan dari atas panggung.

Hanya sebulan berselang keduanya menikah. Keputusan yang tak pernah berhenti disesali Rahmad Kartolo. Bukan tak adanya rasa cinta benar yang jadi perkara, melainkan dendam yang sejak masa kanak-kanak sudah membara.

Di kampung ini anak laki-laki dan anak perempuan sama-sama hobi mengintip orang mandi. Anak laki-laki mengintip gadis-gadis, ibu muda, atau janda. Anak perempuan mengintip anak-anak laki-laki saat mereka ramai-ramai mandi di sungai usai bermain bola. Kendati begitu, ada satu kesepakatan di antara mereka: pemandangan macam apa pun harus tetap diperlakukan sebagai rahasia. Mira Marcela melanggarnya dengan semena-mena. Alih-alih menutup mulut, ia malah bergunjing. Sembari tertawa-tawa, disebutnya, betapa ia sempat salah menyangkakan perkakas kelaki-lakian milik Rahmat Kartolo sebagai kepala ikan sembilang, ‘yang bisa bergerak timbul-tenggelam’.

Pergunjingan ini beredar jauh sebelum peristiwa Marjili Samsuri, dan sedikit banyak, sebenarnya, jadi titik tolak awal penabalan sebutan ‘Rahmad Kaki Tiga’. Teringat gunjingan Mira Marcela, kawan-kawan Rahmad Kartolo sampai pada kesimpulan bahwa ukuran perkakas kelaki-lakian itulah yang jadi jawaban atas segenap kelambanan gerak-geriknya.

Didorong keinginan melampiaskan dendam, meski jijik, Rahmad Kartolo menonton film-film hardcore. Ia berpikir alangkah menyenangkan bisa bercinta sembari menyiksa. Namun ia lupa betapa sejak kanak-kanak Mira Marcela selalu sukses membuatnya teraniaya. Semangat yang menggebu langsung merosot ke titik beku tatkala Mira Marcela, dari atas ranjang, berceloteh sembari menatap sinis ke bawah perutnya. Rahmad Kartolo tak pernah bisa melupakan kalimat itu: “Oimak, apakah waktu itu aku salah lihat, atau memang tak lagi ingat?”

Sepekan berselang, Mira Marcela bertanya apakah tak jadi soal apabila mereka bercerai walau janur kuning di ujung kampung masih melengkung? Rahmad Kartolo menggeleng tegas. Tak lama ia resmi menduda. Namun masalah belum selesai. Kehormatan Rahmad Kartolo sebagai laki-laki hancur sebetul-betul hancur karena para gadis dan janda lebih percaya mulut Mira Marcela yang kembali bergunjing ke mana-mana, menyebut dirinya bukan saja kecewa lantaran salah sangka perihal perkakas kelaki-lakian Rahmad Kartolo, tapi lebih-lebih merasa sedih lantaran benda yang menurut dia ukurannya tak seberapa itu bahkan tak bisa berbuat apa-apa.

***

Rahmad Kartolo nyaris membatalkan rencana membelokkan garis takdir sekiranya tidak teringat kalimat seorang juru anggit kata-kata nasihat. Bilangnya, pasrah lalu menyerah kalah cuma milik kalangan pengecut, dan Rahmad Kartolo tak ingin dianggap demikian. Lagi pula, bukankah orang pintar pembelok takdir telah berjanji membantunya? Semangat Rahmad Kartolo  kembali menggebu. Namun pertanyaannya, kenapa ia justru menyimpan bantuan ini di urutan paling belakang?

“Waktu itu aku merasa masih punya banyak waktu,” katanya saat menceritakan kisah ini padaku di bangku peron Stasiun Kereta Api Lubuk Pakam, beberapa hari lalu, kira-kira satu jam sebelum ia meninggalkan kota kecil kampung halaman kami ini menuju Tanjung Balai. Rahmad Kartolo hendak menyeberang ke Malaysia, menyahuti ajakan Adenan Jailani. Dengar-dengar kabar, Adenan Jailani, yang delapan tahun lalu juga masuk Malaysia sebagai pendatang haram, telah memiliki dua kedai kopi di kawasan Bukit Jalil.

Bagi kalian yang sejak awal tak sepintas lalu menyimak penuturanku, tentu sudah bisa menerka bagaimana kisah ini berakhir. Hidup memang seringkali diwarnai keajaiban. Namun perlu dipahami betapa keajaiban tak pernah datang dalam rupa tolol seperti digambarkan di sinetron dan kukira Rahmad Kartolo tak menyadarinya. Ia berupaya menuntaskan pemberontakan terhadap takdir tapi justru berharap pada keajaiban yang sejatinya merupakan anak kandung takdir yang bersifat sama rahasia.

Dengan demikian tak perlu lagi kuceritakan secara detail tentang serangkaian hal tak menyenangkan lain yang dialami Rahmad Kartolo sepanjang hari itu, hingga ia akhirnya menyerah dan memutuskan kembali mendatangi orang pintar pembelok takdir. Maksud ini pun bahkan tak pernah kesampaian. Hanya sekian menit sebelum Rahmad Kartolo tiba di kediamannya, orang pintar itu menemui ajal akibat terjerembab di aspal lantaran diserempet pengendara motor ugal-ugalan saat berteriak-teriak kesal di tengah jalan setelah kalah taruhan bola. Tetangga-tetangganya bersaksi betapa ia begitu optimistis Liverpool dapat menekuk Manchester City yang sedang goyah, setidak-tidaknya menahan imbang, hingga merasa tak perlu repot-repot melakukan penerawangan. Nyatanya, justru Liverpool yang bermain amburadul dan disikat tiga gol tanpa balas.

Walau terkesan pasrah, aku tahu asa Rahmad Kartolo untuk lepas dari nasib buruk belum betul-betul pupus. Ia masih menyimpan harapan. Maka jika suatu hari nanti ia kembali ke Lubuk Pakam dan mengulang upaya ini, aku berjanji menceritakannya lagi pada kalian.

Kuala Lumpur, 2013
Medan, 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top