
Di bulan Oktober tahun 2025 lalu, saya dilibatkan sebagai reviewer dalam rangkaian Jong Bataks Arts Festival #12 di Medan, Sumatera Utara. Saya menyimak pertunjukan demi pertunjukan. Salah satunya, pertunjukan yang berjudul Meja Makan Mikir-Mikir. Sebuah pertunjukan yang dipersembahkan oleh anak-anak muda Sumatera Utara yang menamakan diri dengan Medan Teater.
Saya menyimak betul-betul pertunjukan ini. Saking ingin menyimaknya, saya menyiapkan buku catatan. Saya ingin mencatat bagaian-bagian yang sekiranya menarik untuk disalin.
MC masuk dengan girang sekali. Ia menyapa penonton dengan suara serak. Dengan suara itu, ia seolah ingin membakar penonton. Saya merasakan hangatnya. Tanpa banyak cuap-cuap, MC mempersilahkan pertunjukan. Lampu panggung berpendar dalam remang. Dalam keremangan itu, tampak lima orang aktor duduk di belakang panggung. Mereka membelakangi penonton. Sementara itu, di bagian depan panggung terdapat peralatan-peralatan makan. Sendok menyendok, garpu, piring-piring. Cerek, gelas, magic com, panci, dan lain sebagainya. Di tengah panggung, terdapat kursi dan meja. Kursi plastik ini siap untuk diletakkan dimana saja sesuai kebutuhan adegan.
Cahaya di panggung perlahan menjadi terang. Seorang perempuan kemudian berdiri di atas bangku. Di tangannya ia memegang sesuatu. Perempuan itu seolah sedang memperagakan kisah-kisah. Kisah-kisah dimana sejarah belum tercatat dalam tulisan, melainkan dengan gambar pada dinding-dinding goa. Konon pada masa itu perempuan memiliki posisi yang sentral. Perempuan itu berbicara pada pengikutnya. Seolah sedang memberikan semacam pengarahan. Beberapa kali kata “tanam” disebut-sebutnya. Sebagaimana zaman purba, menanam adalah sebuah pengetahuan yang revolutif bagi manusia. Dimana sebelumya, manusia telah begitu lama hidup berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu sumber makanan ke sumber makanan yang lain.

Aktor lainnya merespon dengan gerak. Gerakannya seperti menghentak-hentak tanah. Sesekali gerakan berganti seperti menadahkan tangan untuk menampung sesuatu dari langit. Adakalanya juga bergerak seperti memainkan instrumen musik. Setelah beberapa kali gerakan itu, kemudian blocking berpindah. Sembari bergerak, mereka tampak saling pandang, secara bersama mereka mengucapkan kata “uraaa”.
Terdengar musik dengan tempo lambat mengalun pelan. Alunannya diiringi ritmis drum dengan warna bunyi yang paling klasik. Musik ini seolah hendak mengantar penonton pada suasana yang lain. Barangkali ke masa sekarang, masa yang sudah begitu jauh bergerak dari dunia yang berpindah-pindah, dunia berternak dan tanam menanam, bahkan juga dunia masak memasak. Masa dimana segala sesuatu sudah saling melampaui. Bahwa segala sesuatu, termasuk juga makanan bisa datang sendiri ke rumah hanya dengan perantara digital. Penggambaran itu tampak di panggung.
Dua adegan dibangun sekaligus. Pada layer pertama, seorang perempuan yang begitu sibuk dengan kuali-kualinya. Sementara di meja makan, sambil mencat mencet telepon genggam pintar, tampak seorang anak yang begitu gelisah. Agaknya, aroma yang keluar dari dapur ibunya tidak lagi menggugah seleranya. Kemudian, pada layer kedua, seperti di sebuah cafe, beberapa remaja tertawa senang sambil mengklik pesanan-pesanan yang tersaji dari dalam handphonenya. Setelah sajiannya tiba, seseorang berkata, “Foto dulu”.

Tak kalah gelisah, kopi yang dihidangkan ibu di atas meja terasa begitu hambar bagi seorang Ayah. Biasanya segala persoalan yang datang silih berganti akan berakhir di dalam cangkir itu. Setelah mengaduknya, dengan sedikit hembusan di permukaan, ia lantas meneguknya. Kemudian segala persoalan akan lesap bersamaan dengan hembusan panjang nafasnya pada tegukan demi tegukan.
Tapi kali ini, agaknya cicilan demi cicilan pinjaman ini dan itu telah semakin menumpuk. Atau mungkin saja karena pesanan demi pesanan, mulai dari yang COD sampai dibayar dengan uang digital tiap sebentar berbunyi di beranda rumahnya.
Yang lebih membuatnya semakin sesak adalah, kebingungannya terhadap kondisi yang serba kehilangan bermakna. Anaknya, tak lagi berselera dengan masakan-masakan di rumahnya. Masakan yang dibuat oleh tangan istrinya. Dan lebih suka masakan tangan orang lain. Begitu juga melihat fenomena-fenomena iklan peralatan dapur yang tak terkira model dan harganya. Sementara, para istri tak lagi doyan memasak.
Untuk apa kemudian dibeli mahal-mahal kalau tidak ada aktivitas memasak?
Pada kondisi serupa itu, apa kemudian yang bisa menjadi penawar? Tidak lain adalah ingatan. Karena itu sebagian orang ingin kembali kepada ingatan-ingatan masa lalu. Benar saja, pada bagian selanjutnya para aktor mengajak penonton untuk menjelajahi kembali ingatan masa kanak-kanak. Pada masa dimana panci bisa menjadi mahkota raja. Kuali bisa menjadi perisai para tentara kerajaan. Sendok dan garpu tidak lain adalah pedang saktinya.
Masa itu pula kampung begitu tenangnya, ladang-ladang, kunang-kunang, sungai-sungai yang bersih, bukit-bukit yang ditumbuhi ragam buah-buahan, jambu, belimbing, pepaya, dan seterusnya. Ketika itu, mendaki bukit adalah puncak dari “ritual” hari-hari. Tanpa Tupperware pun bisa makan kenyang dan nikmat meskipun wadahnya dari daun atau plastik. Tanpa makan siang gratis pun banyak anak yang bisa makan dengan gratis.

Barangkali, dari ketinggian itu pula seorang “raja” kecil terenyuh karena mimpi-mimpinya akan masa depan. Dimana pada masa itu manusia didera penyakit yang asing dan langka. Darah tinggi, kolesterol, jantung, diabetes, kanker, dan lain sebagainya.
Masa dimana bencana ekologi tak terhindarkan. Masa dimana bumi semakin padat karena sampah, oleh pembangunan-pembangunan. Masa dimana ladang-ladang berganti dengan gedung-gedung. Masa dimana pertanian mulai ditinggalkan, lalu manusia berbondong-bondong mencari pekerjaan lain yang lebih mentereng. Masa dimana makanan-makanan dibungkus dengan plastik. Masa dimana manusia terbiasa memakan yang tidak haknya. Masa dimana segala sesuatu bisa dikonversi menjadi lembaran uang. Dan uang adalah segalanya.
Begitulah, tak terkira banyaknya persoalan yang disorot dalam pertunjukan ini.
Menghidangkan Kembali Sejarah Manusia
Saya sering membayangkan, sejak awal sejarahnya, dibandingkan dengan makhluk hidup lain, apakah manusia makhluk yang terkuat secara fisik? Saya rasa tidak. Dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, manusia adalah makhluk yang kuat secara kognitif. Kemampuan itu, memungkinkan mereka bisa membayangkan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.
Ini barangkali yang disebut oleh Yoval Noah Harari dalam bukunya Sapiens sebagai Revolusi Kognitif. Dimana, manusia mulai membangun kerja sama skala besar melalui cerita-cerita kolektif, mitos leluhur, dewa, hukum, sampai identitas suku. Dengan kemampuan itu, agaknya manusia mulai membangun apa yang hari ini disebut dengan organisasi sosial yang mungkin melampaui batas keluarga, membangun kepercayaan satu sama lain, dan membayangkan struktur sosial.

Kemudian, perubahan besar berikutnya datang dalam apa yang disebut Harari dengan Revolusi Pertanian. Dimana, manusia mulai hidup menetap. Dengan kebiasaan baru itu, manusia haruslah bekerja keras untuk meningkatkan produksi mereka. Mulai dari sandang, pangan, dan papan. Konsekuensi yang lahir kemudian adalah bertambahnya dan mungkin tidak terkendalinya populasi.
Lalu, apa akibat yang tidak bisa tidak terjadi? Sistem kerja yang harus lebih keras dari berburu dan meramu, pola makan yang monoton dan sejenis, kecemburuan dan ketimpangan sosial, tumbuhnya kelas-kelas sosial di dalam masyarakat. Harari melihat, alih-alih manusia menjinakkan tanaman dan tanah, justru gandum, dan jelai lah yang menjinakkan manusia. Membuat manusia terikat pada tanah, pada kerja berat, dan mungkin saja pada kehidupan yang lebih rapuh.
Hidup menetap membuat manusia banyak waktu di lingkungan sosial mereka. Dengan begitu banyak waktu kosong untuk memikirkan banyak hal. Misalnya, teknologi untuk membantu pekerjaa-pekerjaan berat mereka. Ini pula kemudian yang disebut Harari dengan Revolusi Sains. Sikap serupa ini yang kiranya membuka cakrawala manusia atas penemuan-penemuan.
Penemuan-penemuan yang hingga hari ini mengubah wajah dunia, melahirkan teknologi, industri, kapitalisme, dan jaringan kekuasaan global. Sains kemudian memberi peluang pada manusia bukan hanya memahami dunia, tetapi juga memodifikasinya.
Saya kira, pertunjukan Meja Makan Mikir-Mikir seperti menghidangkan kembali sejarah manusia itu. Meskipun dalam porsi yang kecil. Dari dapur, dari meja makan, dari tubuh sehari-hari. Pertunjukan ini, seperti memotret perjalanan panjang manusia yang digambarkan Harari dalam Sapiens. Jika Harari menjelaskan sejarah manusia lewat tiga revolusi besar, dalam pertunjukan ini kita bisa melihat jejak-jejak revolusi itu pada panci, kuali, dan telepon pintar.
Gerakan para aktor seperti menghentak tanah, menadahkan tangan, memanggil ingatan tentang bagaimana leluhur kita pertama kali mengenali pangan, menanam, mengumpulkan, memasak. Pertunjukan ini serupa sedang hendak mengingatkan bahwa pangan adalah benar-benar menjadi pengetahuan pertama umat manusia. Sebelum kemudian negara, sebelum perdagangan, sebelum aplikasi pesan-antar makanan menjinakkan kita. Kita pernah benar-benar belajar dari membaca alam, membaca tanah, apa yang ada di atasnya, dan apa yang ada di dalamnya.
Sebagaimana revolusi pertanian, di Indonesia pada masa Orde Baru mewujud pada apa yang disebutnya dengan Revolusi Hijau. Mengenai Revolusi Hijau ini, dalam Melacak Sejarah Pemikiran Agraria, Ahmad Nashih Luthfi membentangkan pemikirannya dengan begitu menarik. Luthfi mengeksplorasi berbagai aspek Revolusi Hijau dan mengkritisi dampaknya. Baik itu secara sosial, budaya, maupun secara ekologis.
Teknologi pertanian modern misalnya. Melalui benih unggul, pestisida atau pupuk, ataupun sistim irigasi, cenderung lebih bisa diakses oleh petani yang sudah relatif mapan. Dengan begitu, tentu akan memperlebar kesenjangan antara petani kaya dan petani kecil. Disamping itu, dalam konteks gender, Revolusi Hijau dapat menurunkan peran perempuan tradisional di desa dalam produksi pertanian karena mekanisasi dan sistem produksi baru. Yaitu pergeseran cara kerja tradisional ke cara kerja yang baru. Revolusi Hijau juga mengubah struktur dan sistim pertanian. Dimana pertanian terhubung kepada modal.
Lantas, banyak petani kecil yang tiba-tiba kehilangan lahan atau tidak lagi bisa bersaing. Akibatnya lagi, mendorong mereka untuk bermigrasi ke kota. Inilah yang kemudian ikut menggeser profesi mereka. Dari pertanian menjadi buruh, dan seterusnya. Dengan begitu, pekerjaan ini juga akan ikut merubah kebudayaan yang tercermin dalam laku tubuh manusia. Tubuh tani bergeser menjadi tubuh buruh, tubuh kantoran, dan lain sebagainya.
Sementara, yang tetap memilih tinggal di desa, dengan tekanan modernisasi dan teknologi, cara hidup tradisional desa mulai terganggu. Luthfi mencatat adanya semacam keresahan di pedesaan. Rasa tidak aman sebagaimana yang disampaikan seorang Ayah ketika mencicipi kopi buatan istrinya. Dimana, identitas mulai berubah, dan konflik kelindan antara modernitas dan tradisi terus menerus.
Saya benar-benar merasa keasikan menonton pertunjukan ini. Sebuah pertunjukan yang dikerjakan secara kolaboratif yang mengaduk isu-isu dan fenomena-fenomena sosial terkait dengan pangan. Isu itu kemudian didekatkan dengan kehidupan sehari-hari, tentu terkhusus dalam konteks Medan. Sebuah karya dengan “olahan dapur” sederhana namun menjadi drama yang santai. Yang tentu oleh Medan Teater diharapkan bisa memberikan manfaat kepada penonton, penyaji, dan seterusnya.
Sebagaimana pengakuan sutradaranya, dalam penggarapan karya ini, Medan Teater mengolahnya dengan metode yang baru saja mereka dapatkan dalam dapur workshop JBAF #12 beberapa bulan sebelumnya.
Dari dapur itu, kemudian mereka menghidangkannya dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang tanpa harus dijawab seketika itu. Bagi Medan Teater, jawaban atas pertanyaan itu mungkin telah tersedia di dalam diri penonton, di ladang-ladang desa-desa, di dapur-dapur masyarakat desa dan kota, dalam panci, dalam kuali, atau juga di meja makan masing-masing. Tinggal memberi sedikit garam, cabai, micin, dan sebagainya, kemudian memberi makna pada rasanya. []




