Mewawancarai Almasih

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Kedatangan pria itu ditandai dengan fenomena alam yang misterius di langit Timur Tengah. Orang-orang bilang ada cahaya luar biasa terang membentuk seperti terowongan, tetapi tak terlihat di mana ujungnya. Rusia yang lebih dulu bereaksi. Mereka mengirimkan jet tempur jenis terbaru demi menyusuri lorong tersebut dan konon kabarnya pesawat itu tak pernah kembali. Untung saja itu pesawat tanpa awak. Rusia tentu tak pernah mengakui bahwa pesawat tanpa awak mereka hilang. Amerika yang membocorkan melalui berita-berita internet yang tersebar seperti campylobacter di musim panas.

Konon, lorong cahaya itu bertahan selama 40 hari dan tak ada satu pun negara yang berhasil menjelaskan dengan tepat fenomena tersebut. Cina mulai menuduh itu hanya akal-akalan Amerika untuk membuat kondisi politik di Timur Tengah makin tidak stabil. Sejak Raja Arab meninggal dua bulan lalu, ketiga putra mahkota masih belum bersepakat tentang siapa yang akan mewarisi tahta. Kemunculan lorong cahaya itu adalah gangguan yang tidak diperlukan.

Jepang dan Swiss paling antusias. Mereka mendirikan posko pemantau tepat di bawah lorong cahaya. Ilmuwan mereka tak berhenti meneropong selama 24 jam. Ratusan penderum diterbangkan demi mengamati lorong cahaya itu dari dekat. Di hari ke 40, lelaki itu muncul. Pesawat nirawak perekam menangkap sosok manusia yang berjalan menyusuri lorong. Seperti melayang tetapi menapak. Seolah menapak tetapi melayang. Tidak memiliki sayap, normal seperti manusia pada umumnya. Pakaiannya adalah jubah putih bersih yang di kemudian hari oleh laboratorium forensik milik PBB, dikatakan terbuat dari kasmir terbaik yang pernah ada.

“Sudah siap, Ang?” Pertanyaan Seva mengejutkan lamunanku. “Tidak perlu terlalu gugup seperti itu. Aku sudah menyediakan TOR yang bisa menjadi panduanmu untuk mewawancarainya.”

Sebagai seorang jurnalis pemula, ini kali pertama aku mewawancarai sosok yang bisa dibilang kontroversi setelah satu tahun belakangan aku hanya berperan sebagai asisten Seva. Dia yang mewawancarai seorang tokoh besar dan aku yang mengedit beritanya jika berita itu perlu tayang di internet. Kantor berita ERA bukan satu-satunya kantor berita di Indonesia, tetapi entah kami beruntung– atau sial–kantor berita kami yang terpilih oleh negara untuk mewawancarai pria misterius itu.

“Kenapa bukan kau saja? Negara memilih ERA karena berharap kau yang mewawancarainya.”

“Dan aku menyerahkan amanat besar itu kepadamu,” jawab Seva acuh tak acuh. “Lagi pula aku sudah bosan mewawancarai orang-orang yang mengaku sebagai nabi, Tuhan, alien, makhluk setengah manusia setengah hewan.”

“Tapi dia adalah pria itu, Seva. NASA juga menyebar rekaman pria yang menyusuri lorong cahaya dan mengatakan itu bukan buatan AI. Ada lebih dari seribu orang yang menyaksikan dia berjalan menyusuri langit dan turun ke bumi. Dialah Almasih.”

“Ha ha ha!” Di luar dugaan, wanita 40 tahun itu malah tertawa terbahak-bahak. “Ang, jangan terlalu larut dalam kitab-kitab kuno yang kau baca. Aku tahu jauh di dalam lubuk hatimu, kau sangat antusias menunggu kesempatan ini. Jadi, pergilah sebelum kau terlambat dan membuat Almasih murka.” Saat mengucapkan Almasih, Seva membentuk tanda kutip dengan kedua jari manis dan telunjuknya.

“Ah, soal NASA, kau tahulah mereka itu siapa. Semua yang dibuat Amerika harus kau curigai kebenarannya. Kau tentu tidak lupa pelajaran sejarah tentang pendaratan pertama manusia di bulan. Hanya akal-akalan mereka saja,” Seva berbisik ketika mengucapkan kalimat terakhir.

Jarak kantor berita ERA dengan hotel tempat wawancara akan berlangsung tidak begitu jauh. Kuhampiri sepeda terbangku di lahan parkir sambil berpikir untuk langsung ke lantai 30. Mereka memiliki lahan parkir khusus kendaraan terbang di sana.

Sembari mengayuh, pikiranku ikut terbang pada momen percakapanku dengan Opa Zaf minggu lalu.

“Sesungguhnya akhir dari dunia sudah dekat. Almasih telah datang untuk yang kedua kalinya. Celakalah orang-orang yang tidak beriman.”

Ngomongngomong soal Almasih, aku dapat tugas dari kantor untuk mewawancarainya begitu dia datang ke Indonesia nanti. Adakah yang ingin Opa tanyakan?”

“Tanyakanlah tentang surga dan neraka. Tanyakanlah tentang kehidupan setelah kematian.”

Meski aku sangat yakin bahwa setelah mati nanti jasad-jasad manusia akan didaur ulang menjadi kompos, aku tetap mengangguk dan berjanji akan mewakili Opa Zaf untuk bertanya tentang itu.

Seperti kata Seva, kedatangan Almasih yang kedua kali memang termaktub dalam beberapa kitab kuno. Ada dua golongan besar keyakinan leluhur di masa lampau yang mengimani kedatangannya. Ah, aku lupa apa nama golongan keyakinan itu. Sebut saja golongan A dan golongan B. Yang satu meyakini Almasih adalah Tuhan dan yang lainnya meyakini Almasih adalah utusan yang dikirim Tuhan untuk mengabarkan kehancuran dunia sudah dekat.

Aku yakin Opa Zaf adalah penganut salah satu keyakinan itu karena ketika dia mendengar dari Rita, robot asisten rumah tangga kami, perihal kemunculan seorang manusia berjubah yang turun dari langit, dia langsung bersimpuh dalam sujud yang panjang. Aku tahu karena sistem komputer Rita terhubung dengan ponselku dan akan otomatis menyiarkan kondisi di apartemen jika ada hal-hal yang tak biasa. Opa Zaf yang bersimpuh dan sesenggukan dalam tangis adalah hal yang tak biasa. Opa Zaf adalah orang yang periang dan jarang bersedih.

Hotel berupa gedung 50 lantai sudah berdiri tegak di hadapanku. Setiap kali sepeda terbangku menambah ketinggian, pelantangnya mengeluarkan suara yang menginformasikan sudah berapa lantai aku menanjak dan tersisa berapa lantai lagi. Saat tiba di lantai 30, mode auto pilot sepeda menyala dan benda ini segera menemukan tempat parkir yang pas. Sangat dekat dengan pintu masuk gedung.

Aku merasakan debaran jantungku makin kencang seolah-olah tengah menggedor-gedor rongga dada. Seolah-olah isinya akan melompat keluar dari mulut. Sudah beberapa kali aku mendampingi Seva saat dia mendapatkan tugas mewawancarai tokoh-tokoh penting, tetapi melakukan semua ini sendiri benar-benar menyiksa.

Perangkat jemala yang kukenakan berulang-ulang memutar riwayat hidup Almasih, dari pendapat orang-orang yang mengimani bahwa dialah Tuhan, atau utusan Tuhan, yang lahir dari seorang perawan suci, yang mati lebih dari 2.000 tahun lalu tetapi tidak berubah menjadi kompos melainkan hidup kembali dan datang ke bumi untuk memperingatkan bahwa akhir dunia sudah dekat.

Saat tiba di ruangan yang sudah diinformasikan sebelumnya, aku menempelkan kartu identitasku pada peranti pembaca dan seketika itu juga lampu hijau berkedip-kedip. Bunyi besi beradu terdengar di kejauhan sebelum pintu sebesar gerbang di hadapanku terbuka. Dari jenis kamar di mana dia ditempatkan, aku langsung bisa menduga bahwa orang ini ada di dalam penjagaan yang ketat. Tidak diizinkan keluar dan tidak diizinkan menerima siapa pun orang asing yang ingin masuk.

“Jadi kau rupanya tamu yang sedang kutunggu?” Suara berat laki-laki terdengar menggema di seantero ruangan sebelum sosoknya bisa kulihat. Seketika itu juga membekukan tubuhku.

Dari literatur-literatur yang menggambarkan sosoknya dan rekaman NASA yang tersebar di internet, dia mestinya adalah seorang lelaki dewasa muda yang belum empat puluh tahun. Berambut gelombang dengan panjang sebahu. Memiliki janggut. Mengenakan jubah putih yang terbuat dari kasmir terbaik yang pernah ada.

Namun, begitu sosoknya muncul di hadapanku, semua citra yang kugambar di kepalaku tentang wujud Almasih sirna. Dan, oh, apakah dia baru saja berbicara bahasa Indonesia yang fasih? Apakah itu salah satu mukjizatnya selain membangkitkan orang–termasuk dirinya sendiri–dari kematian? Tentu saja bukan, karena perusahaan Jepang tahun lalu mengeluarkan kenop penerjemah yang tinggal kau rekatkan di kancing kemejamu dan langsung bisa menerjemahkan apa pun yang kau katakan ke dalam bahasa asing seolah-olah kau sendiri yang tengah berbicara. Mungkin kenop itu jugalah yang dikenakan Almasih di kemejanya.

Almasih mengenakan kemeja dan celana bahan! Rupanya mereka belum mengembalikan jubahnya.

“Duduklah. Orang-orang itu bilang kau datang menemuiku untuk menanyakan beberapa hal,” suara berwibawa itu kembali terdengar, membuat tubuhku seolah bergerak sendiri untuk duduk di hadapannya. Tidak ada janggut di wajah Almasih. Mungkin mereka meminta penata rias untuk mencukurnya.

“Tuan bisa memanggilku Ang.”

“Baiklah, Ang. Apa yang ingin kau tanyakan? Orang-orang selalu datang dan bertanya, tetapi belum ada satu pun yang percaya. Aku dengar negara ini, dulunya, dihuni oleh orang-orang yang beriman. Penduduk beriman paling banyak di dunia. Aku harap kau salah satunya.”

Mata Almasih menatap lurus menumbuk manik mataku dan seolah-olah baru saja memindahkan beban berat entah dari mana ke bahuku. Masyarakat Indonesia memang dulunya dikenal sebagai masyarakat yang mengimani Tuhan, di kartu identitas mereka bahkan tertera golongan keyakinan yang dianut. Aku pernah melihatnya di museum. Namun, siapa yang percaya hal-hal kuno semacam itu di masa sekarang? Almasih sudah mati suri lebih dari 2.000 tahun lamanya. Wajar dia tidak tahu zaman sudah berubah begitu cepat.

“Kakek saya adalah salah satu orang yang beriman,” sahutku. “Sedikit yang tersisa di antara ratusan juta penduduk negeri ini.”

“Apa yang dia imani?”

“Bahwa Tuan adalah utusan Tuhan atau justru Tuhan itu sendiri.”

Almasih tersenyum. “Lalu, apa yang kau imani?”

“Aku tidak percaya Tuhan ada,” jawabku.

“Celakalah.” Dan secepat itu pula Almasih bereaksi. “Di zaman seperti apa aku datang ini?”

“Kalau dari artikel dan jika memang Tuan adalah Almasih, maka tentulah ini sudah penghujung zaman.”

“Tetapi, kau sendiri pun tidak yakin. Aku turun dari langit, berpegang pada sayap malaikat, itu pun tidak cukup untuk membuat orang-orang beriman.” Terdengar nada kecewa dalam suara Almasih. “Tapi, seharusnya aku tidak heran. Saudaraku Musa bisa membelah lautan, tetapi umat-umatnya justru adalah yang paling pembangkang. Mukjizat seperti apa lagi yang harus aku tunjukkan? Manusia zaman dulu maupun zaman sekarang tetap saja makhluk-makhluk yang bebal.”

Demi mendengar gerutuan Almasih, semua pertanyaan pada daftar TOR yang diberikan Seva kepadaku lenyap seketika. Yang tersisa hanya pertanyaan Opa Zaf, maka pertanyaan itu segera pula kulontarkan.

“Aku tidak tahu bagaimana surga dan neraka,” jawab Almasih. “Aku belum mati. Aku hanya tidur dan bangkit kembali. Hanya orang yang sudah melalui kematian dan penghakiman yang akan mengetahui bagaimana hidup setelah mati. Kau dan aku akan sama-sama mengetahuinya, tak lama lagi.”

“Berarti benar dunia akan kiamat?” tanyaku.

“Bukankah tanda-tandanya telah dikabarkan kepada kalian sejak ribuan tahun lalu?”

Aku mengangguk karena demikianlah yang termaktub dalam kitab kuno yang kubaca.

“Bukankah peperangan sudah terjadi?” tanya Almasih.

“Ya, ada banyak perang, Tuan. Tetapi tiga tahun belakangan ini relatif aman,” jawabku.

“Bukankah bencana-bencana dahsyat sudah terjadi?” Almasih bertanya lagi.

“Ya, lima tahun lalu mega tsunami menghantam Tokyo. Ombaknya juga sampai ke beberapa pulau di Indonesia. Tetapi, Jepang sudah pulih dan tidak ada korban jiwa.”

“Bukankah wabah penyakit sudah menyebar?”

“Ya, belum lama ini varian covid 19, yang pernah muncul lebih dari 100 tahun lalu, muncul lagi dan mewabah.”

“Itulah sebagian dari tanda-tandanya. Dan kalian tak juga mengimani?”

“Kami berhasil mengatasi semua itu, Tuan. Syukurlah.” Aku tersenyum.

Almasih menatapku dengan heran. “Bukankah matahari sudah terbit di sebelah barat?”

“Apa?”

***

Tiga puluh hari setelah mewawancarai Almasih, atau setidaknya sosok misterius yang mengaku sebagai Almasih dan beritanya yang kutulis di internet mendapatkan jumlah pembaca yang banyak, paling banyak dalam satu tahun belakangan, ponselku mengeluarkan bunyi bip bip, menandakan ada aktivitas tak biasa sedang terjadi. Aku membuka satu per satu video yang menampilkan kondisi setiap ruangan di dalam apartemenku secara aktual. Ini baru pukul 6 pagi. Keanehan apa lagi yang kira-kira dilakukan Opa Zaf?

Aku menemukan sosok Opa sedang berdiri di balkon apartemen kami. Dia adalah satu-satunya kerabat yang kumiliki. Aku tidak ingin dia bersedih, tetapi sejak berita kemunculan Almasih tayang di berbagai media, dia tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa bersedih.

Aku beranjak dari tempat tidurku lalu berjalan menghampirinya. “Selamat pagi, Opa.”

“Kiamat sudah makin dekat,” suara tuanya bergetar. Dia masih berdiri memunggungiku, menghadap ke luar balkon apartemen kami, pada langit yang mulai terang.

“Aku tahu,” jawabku acuh tak acuh sambil meraih roti yang sudah dipanggang oleh Rita.

“Tidakkah kau lihat di sana? Hari ini matahari terbit di sebelah barat, Ang.” []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top