| Judul | Padang Kota Tercinta |
| Penulis | A.A. Navis, Wisran Hadi, Salius St. Sati, Muchlis Sulin, M. Yoesfik Helmy, Indra Nara Persada, Edi Utama, Eva Idroes, dan Harris Effendi Thahar |
| Penerbit | Genta Singgalang Press, 1983 |
| Tebal | 100 halaman |
Kota Padang masa sekarang ini hadir melalui perjalanan panjang. Kota bandar di pantai barat Sumatera ini memiliki sejarah perjalanan yang dapat dikesan baik dari nilai budaya maupun dari tinggalan yang dapat dilihat. Kebudayaan yang telah berevolusi dapat ditelisik dari karya-karya seni dan budaya, nilai budaya yang berkembang, pola interaksi, hingga cita rasa yang terekam dalam berbagai bentuk seperti kuliner, upacara, festival, atau juga agama. Sementara tinggalan kasat mata masih dapat kita nikmati seperti bangunan, monumen, tata ruang, fasilitas umum, hingga lanskap alam yang ada.
Bagaimana kita dapat menemukan sumber-sumber yang menarik menyangkut sejarah Kota Padang ini? Jika kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkeliling atau mengunjungi museum, maka buku Padang Kota Tercinta dapat menjadi salah satu sarana untuk mengetahuinya. Buku yang terbit pada tahun 1983 ini menyajikan informasi naratif dan visual mengenai Kota Padang. Kita dapat membayangkan atau mengimajinasikan Padang pada periode waktu tertentu, melalui cerita dan gambar yang disajikan dalam buku ini.

Padang, sebagaimana lazimnya kota-kota lainnya, tidak melulu berisi kisah sukses gemerlap hasil dari teknologi dan fasilitas yang ada. Kota ini pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang, dan juga beberapa bagiannya pernah dibumihanguskan. Demikian juga dengan sisi lain dari kota, yang meninggalkan kehidupan suram bagi mereka yang tidak berhasil meraih mimpi yang dibawa menuju kota. Beberapa peristiwa menyedihkan juga dapat kita baca dalam buku ini, seperti kebakaran, bencana alam, atau keruntuhkan masa-masa emas transportasi kereta api.

Buku ini dibuka dengan sebuah foto lanskap Kota Padang yang diambil dari atas Gunung Pangilun, yang diambil oleh Wisran Hadi. Foto ini menunjukkan kota yang masih asri, dengan tingkat kepadatan yang masih rendah. Halaman berikutnya memuat puisi berjudul “Padang: Halo Padang!” yang ditulis oleh Leon Agusta. Puisi ini selain menceritakan mengenai keanggunan Kota Padang namun juga menyajikan satir dari sebuah kota. Para pekerja kelas bawah, anak-anak yang tinggal di jalanan, pekerja pabrik, dan kontras yang terjadi lainnya.
Halaman-halaman berikutnya berisi narasi tentang Kota Padang dari berbagai perspektif, yang ditulis oleh Rosihan Anwar, Edwar Sutan Pamuncak, dan para penyusun buku. Mereka yang terlibat dalam penyusunan buku ini adalah A.A. Navis, Wisran Hadi, Salius St. Sati, Muchlis Sulin, M. Yoesfik Helmy, Indra Nara Persada, Edi Utama, Eva Idroes, dan Harris Effendi Thahar. Sementara foto-foto disediakan oleh Edy Utama, Wisran Hadi, Yoerman Dahwati, Jamrah, Chun Law, arsip lembaga, dan masih banyak lagi.
Informasi dan dokumentasi yang disajikan dalam buku ini memberikan gambaran yang cukup lengkap dan hidup mengenai Kota Padang. Buku ini menyediakan cerita yang menginspirasi, dan dapat menjadi jejak untuk melihat kembali Padang sebagai sebuah kota yang dicintai.





