Menanti Episode Akhir Kegilaan Gabo

One Hundred Years of Solitude. (Sumber: Netflix)

Sejak novel One Hundred Years of Solitude (Cien años de soledad) pertama kali dicetak pada 1967, para pembaca umumnya meyakini kalau karya Gabriel García Márquez yang karib disapa Gabo tak akan pernah difilmkan. Padahal, puluhan karyanya sudah diadaptasi menjadi film layar lebar atau serial televisi.

Novel yang dalam edisi bahasa Indonesia diberi judul Seratus Tahun Kesunyian oleh Penerbit Bentang Budaya (2003) dan Gramedia Pustaka Utama (2018) memang pernah bersinggungan dengan film My Macondo (1990). Namun itu hanya semacam dokumenter tentang lokasi imajiner yang ada dalam novel tersebut, di mana Gabo ikut tampil dalam film ini.

Demikian pula dengan film Saraba Hakobune (1984), film Jepang yang menyadur novel ini dengan lanskap serta berbahasa Jepang. Sesuatu yang sangat diharamkan oleh Gabo.

Gabo lahir di Aracataca, Kolombia, 6 Maret 1927. Ia kuliah di Universitas Bogotá dan kemudian bekerja sebagai reporter untuk surat kabar Kolombia, El Espectador. Dia bahkan lebih lama tinggal di luar negeri dan berkeliling dunia saat menjadi koresponden asing di Roma, Paris, Barcelona, Caracas, dan New York sebelum akhirnya menetap di Mexico City.

Ketika itu Gabo dan keluarganya berjuang untuk bertahan hidup dengan upah rendah sebagai koresponden. Meski sejumlah novel dan cerpen karyanya sangat dipuji, secara komersial dinilai gagal.

Selama dua dekade, Gabo sebenarnya sudah memiliki bayangan tentang sebuah cerita yang hebat. Namun, dia tak kunjung bisa menuliskan, semua itu hanya pikiran yang berkelindan di otaknya.

Tibalah suatu hari, Gabo dan keluarga dalam perjalanan liburan ke pantai di Acapulco, Meksiko. Ketika itulah dia mulai membayangkan dengan jelas bagian demi bagian yang akan dia tulis. Dia pun memutar mobil, membatalkan liburan dan kembali ke rumahnya.

Selama delapan bulan berikut, Gabo mengurung diri di kamar dan fokus menyelesaikan novelnya. Seratus Tahun Kesunyian kemudian lahir dan merebut hati pembaca di seluruh dunia. Saat Gabo meninggal pada 17 April 2014, novel itu sudah terjual 50 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam lebih 40 bahasa.

Poster serial TV One Hundred Years of Solitude. (Sumber: IMBD)

Pencapaian luar biasa Gabo adalah Ketika dia dianugerahi Nobel Sastra pada tahun 1982, didorong oleh mahakarya Seratus Tahun Kesunyian, yang mempopulerkan genre realisme magis. Gabo kemudian menjadi tokoh utama dalam sastra Amerika Latin dan penulis yang paling banyak menggunakan bahasa Spanyol.

Kembali ke awal, betapa pun popular dan dipujinya novel ini, kemungkinan untuk bisa dinikmati sebagai sebuah film tetap sulit. Alasan utamanya adalah karena kisah dalam novel ini memusingkan, ruwet dan sulit dipahami.

Betapa tidak, kisah yang menceritakan kehidupan keluarga Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran ini memakan rentang waktu 100 tahun atau satu abad, di mana tujuh generasi keluarga ini bermula hingga tak menyisakan keturunan lagi.

Selain itu, jika melihat pohon silsilah keluarga Buendia, kita juga akan dipusingkan dengan nama atau karakter yang berulang. Misalnya, terdapat 22 orang anggota keluarga Buendía yang menggunakan nama Aureliano secara turun-temurun.

Termasuk Aureliano Buendia, satu dari tiga anak Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran, yang memiliki 17 putra dari 17 ibu berbeda, di mana seluruhnya dinamai Aureliano.

Selain itu, tema realisme magis yang diusung Gabo juga menambah tingkat kerumitan. Otak pembaca dipaksa bekerja ekstra untuk menangkap makna di balik hal-hal mistis dan ajaib yang dianggap biasa dalam cerita ini. Ditambah lagi, halaman demi halaman novel ini minim percakapan serta paragraf yang sangat panjang bak ketiak ular.

Demikian pula dengan penokohan yang begitu kompleks, tidak terduga dan terkadang membuat frustrasi. Gabo menciptakan karakter yang tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Pahlawan bisa berubah menjadi penjahat tanpa alasan jelas, sementara tokoh protagonis tiba-tiba menjadi antagonis tanpa latar belakang meyakinkan.

Selain masalah di atas, Gabo sendiri sudah memberi syarat bahwa novel ini hanya boleh difilmkan dengan menggunakan bahasa Spanyol dan lokasi syuting harus di Kolombia. Dengan semua kerumitan itu, tiba-tiba saja penyedia layanan streaming Netflix menyatakan akan memproduksi film tersebut.

Serial ini merupakan produksi Netflix termahal dan paling ambisius di Amerika Latin. Difilmkan dalam bahasa Spanyol dan berlokasi di Kolombia dengan seluruh pemerannya merupakan aktris dan aktor Kolombia, semua harapan Gabo seolah terkabulkan.

Netflix membangun tiga set Kota Macondo sekaligus untuk tiga era yang berbeda dengan mengerahkan kelompok-kelompok dan komunitas adat untuk membangun properti serta set serial tersebut. Bahkan, dua putra Gabo yaitu Rodrigo García dan Gonzalo García Barcha didapuk sebagai produser.

Pemimpin Kuba Fidel Castro (kiri) dan peraih nominasi Nobel asal Kolombia Gabriel Garcia Marquez berbincang saat makan malam di festival cerutu tahunan di Havana, Kuba. 3 Maret 2000. (Sumber: Fox News)

Serial ini juga sangat setia dengan alur cerita yang ada. Menjadikan judul asli novel ini, Cien años de soledad sebagai judul serial serta mengawali film dengan kalimat pertama yang tertulis di novelnya:

Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es

Kalimat itu kerap disebut ikonis karena secara indah mengaburkan batas antara masa kini, masa lalu, dan masa depan. Tak hanya itu, serial ini juga tetap setia memadukan elemen realitas dan magis, serta melanggar semua aturan bercerita yang kita kenal.

Seperti novelnya, serial ini mengikuti perjalanan hidup dua sepupu, José Arcadio Buendía dan Úrsula Iguarán, dalam upaya mereka mencari kebahagiaan sejati. Melawan larangan orangtua, José Arcadio dan Úrsula memutuskan untuk menikah dan meninggalkan desa tempat mereka dibesarkan.

Bersama sekelompok teman dan petualang, pasangan ini memulai perjalanan panjang mencari tempat yang dapat mereka sebut sebagai rumah baru. Perjalanan berbulan-bulan akhirnya berujung pada pendirian sebuah desa utopis di tepi sungai berawa yang dinamai Macondo.

Seluruh generasi dari garis keturunan Buendía akan membentuk masa depan kota mitos ini, tersiksa oleh kegilaan, cinta penuh nafsu, perang berdarah, dan kutukan mengerikan yang membuat mereka terperangkap dalam 100 tahun yang melelahkan.

Kegilaan Jose Arcadio Buendia terhadap mitos-mitos lama, seperti batu alkemi dan magnet, akhirnya menurun pada dua anak laki-lakinya: Jose Arcadio dan Aureliano Buendia.

Sementara ayahnya menjadi gila dan diikat di bawah pohon, kedua putranya juga sibuk dengan kegilaan masing-masing. Baik Aureliano dan Jose Arcadio kemudian jatuh cinta pada perang dan pemberontakan. Mereka bergabung dengan gerilyawan melawan pemerintah dan berkali-kali mengalami ketidakberuntungan dengan obsesi mereka akan perang.

Sosok penting dan penjaga utama keluarga ini sesungguhnya adalah Ursula, yang sejak suaminya berubah gila, menjadi satu-satunya orang waras di rumah itu.

Hingga cerita berakhir ketika Amaranta Ursula, keturunan kelima Buendia meninggal dunia setelah melahirkan Aureliano yang menjadi Buendia terakhir. Ironisnya, Aureliano terlahir dengan ekor babi, seperti ramalan yang didengar Ursula Iguaran sejak akan menikah dengan Jose Arcadio Buendia.

Dan takdir kembali menemukan kebenarannya, karena ayah dari si bayi Aureliano yang juga bernama Aureliano adalah keponakan dari Amaranta Ursula. Maka lengkaplah sudah kegilaan keluarga ini.

Cuplikan adegan serial TV One Hundred Years of Solitude. (Sumber: Netflix)

Apa yang dialami José Arcadio Buendía dan Aureliano merupakan akhir tragis dari generasi pertama dan terakhir keluarga Buendía yang sudah diramalkan sejak awal. José Arcadio Buendía menghabiskan akhir hayatnya terikat di pohon kastanye karena kegilaan, sementara Aureliano, keturunan terakhir hasil inses, tewas digigit semut, yang menandai akhir dari kutukan itu.

Secara keseluruhan, durasi Seratus Tahun Kesunyian garapan Netflix ini menghabiskan 16 jam tayangan yang dibagi menjadi 16 episode. Delapan episode musim pertama sudah tayang pada 11 Desember 2024 dan meraih angka penilaian tinggi berdasarkan laman Internet Movie Database (IMDb), yaitu 8,4 dari 10.

Sementara untuk delapan episode musim pamungkas baru bisa dinikmati pada Agustus mendatang. Tak sabar rasanya melihat kegilaan apa lagi yang akan dipertontokan keluarga Buendia hingga semuanya musnah. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top