Tanah Asal

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Bapak hanya bisa mengantarku sampai Terminal Kampung Rambutan. Katanya, tubuhnya sudah tidak kuat untuk ikut dalam perjalanan.

Lima tahun lalu, Ibu meninggalkan kami untuk kembali ke kampung halamannya di Tanah Asal karena mengidap asma kronis. Kata ibu, dadanya mudah sesak saat menghirup udara Jakarta yang penuh polusi. Berulang kali ia harus bolak-balik ke rumah sakit karena paru-parunya dipenuhi bercak hitam. Sejak menetap di sana, Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi.

Dalam ingatanku, batuk Ibu selalu terdengar paling nyaring menjelang subuh. Kadang aku terbangun karena suara napasnya yang berat dari kamar sebelah. Karena itu, kabar bahwa ia tak lagi sesak terasa seperti keajaiban yang ingin kupercaya.

Aku belum pernah ke Tanah Asal. Baik Bapak maupun Ibu belum pernah mengajakku ke sana. Sejak kecil, aku selalu diajak pulang ke kampung halaman Bapak setiap Lebaran, bukan kampung Ibu.

Aku pernah bertanya, “Mengapa aku tidak pernah diajak ke Tanah Asal?”

“Belum saatnya. Nanti kamu akan ke sana jika memang sudah ditakdirkan,” kata Bapak menjawab rasa penasaranku.

Setelah Ibu tinggal di sana, Bapak baru mengizinkanku pergi ke Tanah Asal. Aku sama sekali buta tentang kampung itu. Dari bangku sekolah hingga kuliah, aku belum pernah mendengar nama daerah itu. Aku bahkan tak tahu, Tanah Asal itu desa, kecamatan, atau sekadar nama yang diwariskan dari mulut ke mulut. Bahkan, Google yang konon tahu segalanya tak memiliki satu pun informasi tentang tempat itu.

Untuk bisa pergi ke sana, aku harus naik bus khusus di Terminal Kampung Rambutan yang hanya datang pada pukul dua pagi. Sebuah kendaraan yang hanya tersedia saat orang-orang terlelap.

Tidak sembarang orang bisa mendapatkan tiket ke Tanah Asal. Namaku harus tercantum dalam buku besar yang dipegang penjaga loket. Ia akan mencocokkannya dengan daftar di tangannya. Jika namaku ada di sana, barulah ia menyerahkan tiket itu kepadaku.

“Sudah pernah menempuh perjalanan jauh naik bus?” tanya penjaga loket.

“Dulu aku rutin mudik ke Aceh naik bus selama empat hari,” jawabku.

“Perjalanan ke Tanah Asal akan lebih lama.”

“Memangnya berapa hari?”

“Aku tidak diizinkan mengatakan lebih dari ini.”

Demi bisa bertemu Ibu, aku tetap menerima tiket itu. Di sekeliling loket, kulihat orang-orang yang tampaknya datang dari tempat-tempat jauh. Mereka membawa koper-koper kusam seolah sudah menyiapkan perjalanan ini seumur hidup.

Seorang perempuan tua memeluk bingkai foto ke dadanya seperti benda paling berharga yang tak boleh tertinggal. Di sebelahnya, seorang anak muda berjaket lusuh duduk memandangi sepasang sandal di tangannya. Mereka datang dengan wajah orang-orang yang telah selesai mempertimbangkan hidup.

Sebegitu yakinkah mereka pada Tanah Asal? Orang-orang di sana memandangku seolah aku akan pergi untuk selama-lamanya.

“Sebentar lagi pukul dua. Bus yang membawamu menuju Tanah Asal akan tiba. Lebih baik kamu menunggu di peron supaya bisa langsung naik,” kata Bapak, lebih menyerupai bisikan.

Sesudah berpamitan, Bapak menghindari mataku seolah ada sesuatu yang tak bisa ia katakan. Sejak kami tiba di terminal, wajah Bapak tampak lebih pucat dari biasanya. Ia beberapa kali meremas ujung lengan bajunya sendiri. Terakhir kali aku melihat kebiasaan itu saat aku dan Bapak melepas Ibu menuju Tanah Asal.

Aku menatap punggung Bapak yang perlahan hilang di balik remang lampu terminal. Mungkin ini yang dirasakan Ibu saat berpisah dengan Bapak. Atau mungkin lebih dari itu. Ada kesan aneh yang menyelinap dalam dadaku. Bapak seolah bukan sedang melepas keberangkatanku, melainkan menyerahkanku kepada sesuatu yang tak dapat ia cegah.

Pukul dua telah tiba. Di sampingku, seorang pria paruh baya dengan koper yang sudut-sudutnya mengelupas berdehem pelan. Ia menatap ke arah kegelapan tempat bus seharusnya muncul. Jemarinya memegang tiket menuju Tanah Asal.

“Pulang ke Tanah Asal juga?” katanya.

Aku tersenyum tipis, mencoba tidak memberinya ruang untuk lebih dekat denganku.

Pria itu mengeluarkan foto dari saku baju. “Anak dan istriku sudah lebih dulu tinggal di sana. Baru sekarang aku bisa menyusul mereka,” katanya.

Bayangan Ibu muncul dalam benakku. Di bawah naungan kabut, ia duduk di teras sebuah rumah kayu. Ia sudah menyiapkan teh dengan gula batu dan keripik tempe untuk menyambut kedatanganku.

“Aku juga ingin segera bertemu Ibu,” ucapku, lebih kepada diriku sendiri.

Dari pintu terminal, bus jurusan Tanah Asal menembus cahaya rembulan. Bus berwarna putih kapas itu tampak pucat di tengah kegelapan. Saat berhenti di depanku, ia begitu senyap seperti datang dari negeri mimpi. Aku tak bisa melihat ke dalam karena kabinnya dipenuhi kabut, seakan menyembunyikan sesuatu yang belum waktunya terungkap.

Tak lama berselang, pintu bus terbuka. Kabut yang menggumpal di dalam meluber ke jalan. Mulanya, kabut hanya mengelilingi bus. Lambat laun, kabut menjalar hingga menutupi seisi Terminal Kampung Rambutan.

Seorang kondektur turun dari tengah kabut. Wajahnya berkilau pucat, seperti rembulan yang terperangkap gumpalan awan. Aku berusaha menangkap raut wajahnya, tetapi selalu ada sesuatu yang mengaburkannya.

Setiap kali kupaksa menatap lebih lama, wajah itu seperti bergeser dari ingatanku. Meski ia berdiri di hadapanku, tak satu pun cirinya bisa kusimpan utuh seakan keberadaannya bukan untuk dikenali.

“Penumpang yang sudah memiliki tiket bisa segera naik,” kata si kondektur pelan, tapi berwibawa.

Orang-orang yang berada di sekelilingku bergegas menaiki bus. Wajah mereka terlihat pasrah seolah sudah siap pergi tanpa kembali. Aku jadi ragu berangkat ke Tanah Asal, khawatir tidak bisa berjumpa lagi dengan Bapak.

“Kenapa belum naik?” tanya kondektur.

“Aku masih ragu untuk pergi.”

“Kamu ingin bertemu ibumu, bukan? Ia sudah menunggu kedatanganmu.”

Jawaban itu membuatku menaiki bus tanpa ragu. Orang-orang yang sudah berada di dalam menghadiahiku senyum simpul. Begitu juga dengan pria berkoper yang sebelumnya mengajakku bicara. Ternyata kami duduk bersebelahan.

Di dalam tak terdengar suara mesin atau dengus napas penumpang yang biasanya memenuhi perjalanan malam. Kesunyian di dalam bus ini terlalu rapi. Bahkan gesekan baju saat seseorang bergeser pun tak terdengar, seolah udara di sini telah membeku.

Kabut yang menutupi Terminal Kampung Rambutan perlahan menghilang begitu pintu bus ditutup. Dari jendela, aku melihat dunia luar dengan cara berbeda. Orang-orang yang masih tersisa di terminal melambai-lambaikan tangan ke arahku begitu bus pergi. Dalam naungan cahaya bulan, mereka membentuk iring-iringan melepas kepergian kami.

Setelah keluar dari terminal, bus melesat serupa kilatan ingatan. Aku belum pernah menaiki bus yang melaju seperti ini. Tanpa suara, kendaraan ini seolah digerakkan energi dari alam mimpi.

Ruang dan waktu di dalam bus seolah memiliki aturannya sendiri. Ponselku tiba-tiba tidak bisa digunakan. Jam tangan yang kukenakan jarumnya berhenti di angka dua belas. Aku menepuk-nepuk kacanya, berharap jarum itu bergerak lagi. Namun, waktu di pergelangan tanganku tetap beku.

Untuk sesaat aku merasa bukan hanya jamku yang berhenti. Ada sesuatu dalam diriku yang ikut tertahan. Sejak naik bus ini, aku seakan telah keluar dari hitungan dunia.

Aku tidak tahu sekarang pukul berapa. Begitu juga dengan lokasi bus saat ini. Mulanya, aku masih sempat melihat kilasan lampu jalan yang memanjang seperti benang cahaya. Namun, tidak lama kemudian, semuanya menghilang. Bus melintasi jalan yang sepertinya tak pernah ada di peta mana pun.

Jalan ini begitu gelap, hanya bus yang kami tumpangi yang melewatinya. Aku tidak tahu apakah para penumpang menyadari bahwa bus ini melintasi jalan yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka.

Aku ingin mengungkapkan kegelisahanku pada Bapak, tetapi ponselku sudah tidak bisa menyala. Aku hanya bisa memandang ke luar jendela, menyaksikan hamparan kegelapan di sisi jalan. Tak ada lalu lalang kendaraan, apalagi rest area. Apakah penumpang yang turun di jalan ini bisa kembali pulang?

Apakah bus ini memang bisa membawaku bertemu Ibu? Pertanyaan itu mungkin juga ada di benak penumpang lain. Tidak ada satu pun informasi yang kuketahui mengenai Tanah Asal. Aku hanya menuruti permintaan Bapak. Katanya, jika sudah saatnya bertemu Ibu, aku harus naik bus ini.

“Kita tidak tahu sampai kapan bus ini akan melaju. Namun, kita sama-sama percaya bahwa bus ini akan membawa kita ke Tanah Asal, bukan?” kata pria berkoper, membaca kegelisahanku.

Ia menatapku dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Dalam remang-remang cahaya lampu bus, wajahnya yang berkerut menemukan tempat ternyaman untuk memejamkan mata. Padahal, kami tidak tahu akan dibawa ke mana. Bagaimana jika kami dibawa ke tempat antah-berantah, bukan ke Tanah Asal?

Di dalam bus, aku hanya bisa termenung. Kegelapan yang tiada berujung di sisi jalan membuat perjalanan ini seolah abadi. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top