Balige: Semua Jalan Menuju Marchia

Danau Toba, dari tepi Balige, di pagi yang masih muda: biru, jauh, dan kuasa melepas masa lalu. (Foto: Benny Arnas)

Saya menyukai pasar karena pasar adalah satu-satunya tempat di mana manusia akan “telanjang”. Keculasan, hipokrisi, dan pencitraan bertabrakan kacau-balau di tengah riuh transaksi. Di media sosial, orang bisa menjadi siapa saja. Di kantor, orang memainkan peran. Bahkan di rumah, tidak sedikit yang hidup di balik topeng kesabaran atau kewibawaan.

Namun di pasar semuanya lebih sederhana. Tak terkecuali Pasar Balige, di mana pedagang leppet yang ingin dagangannya laku, ibu-ibu mau mendapatkan kue gandong yang masih panas, atau tukang becak yang berharap ada penumpang pertama di pagi yang belum tinggi. Karena itulah, selain museum, saya selalu merasa lebih mudah memahami sebuah kota melalui pasar. Museum bercerita tentang masa lalu yang sudah dikurasi. Pasar bercerita tentang kehidupan yang sedang berlangsung.

Suasana Pasar Balige. (Foto: Benny Arnas)

Bahasa Ibu Balige

Di Villach, kota kecil di Austria Selatan yang terjepit di antara pegunungan Alpen dan sungai-sungai yang dingin, saya pernah menghabiskan hampir satu jam berbincang dengan seorang penjual roti yang mengaku tidak pernah meninggalkan kota kelahirannya selama lebih dari enam puluh tahun. Mula-mula saya hanya ingin membeli dua potong pastri untuk sarapan.

Namun laki-laki itu rupanya lebih tertarik menjual cerita daripada menjual roti. Ia bercerita tentang anak-anak muda yang semakin sedikit, tentang toko-toko keluarga yang tutup satu demi satu, tentang bagaimana kota mereka menjadi lebih kaya tetapi terasa lebih sepi. “Sekarang semuanya lebih bagus,” katanya sambil menunjuk jalanan yang bersih dan bangunan-bangunan yang terawat.

Lalu ia mengangkat bahu. “Tapi entah kenapa rasanya lebih kosong.” Kalimat itu mengikuti saya bertahun-tahun setelahnya. Bukan karena istimewa, melainkan karena saya terus-menerus mendengarnya di tempat lain.

Di Verona, Italia, seorang perempuan tua yang menjual tomat dan zaitun mengeluhkan hal yang hampir sama. Di Sydney, seorang sopir bus yang mengantar saya menuju pinggiran kota mengatakan bahwa orang-orang sekarang lebih sibuk mengejar kehidupan dibandingkan menjalaninya.

Bahkan di Panca Mukti, sebuah desa di Bengkulu Tengah, seorang petani kopi pernah berkata bahwa kampung mereka kini memiliki lebih banyak motor, lebih banyak rumah permanen, dan lebih banyak parabola dibandingkan dua puluh tahun lalu, tetapi orang-orang semakin jarang duduk bersama selepas Magrib.

Seolah-olah modernitas, di mana pun ia mendarat, selalu membawa hadiah dan kehilangan dalam kotak yang sama.

Barangkali karena itulah saya menyukai kota kecil yang menyelinap perlahan ke dalam kesadaran ini. Dari jendela kendaraan yang membawa saya dari Bandara Silangit menuju tepian Danau Toba, air dan pegunungan bergantian muncul di antara tikungan. Kadang danau itu tampak seperti laut yang tersesat di tengah daratan. Kadang seperti lembaran logam raksasa yang memantulkan langit.

Semakin dekat ke Balige, semakin banyak rumah dengan atap menjulang khas Batak berdiri di tepi jalan. Sebagian masih dihuni. Sebagian tampak lebih mirip monumen bagi keluarga yang pernah tinggal di dalamnya.

Belerong yang kesepian. (Foto: Benny Arnas)

“Lihat itu,” Sebastian menunjuk sebuah balerong ketika kami berjalan kaki lebih satu kilometer meninggalkan penginapan dan tiba di simpang pasar, tempat sebuah tugu dan balerong–yang berdiri seorang diri–dipisahkan oleh jalan raya. “Rumah adat itu memang gagah, tapi kalau sendirian, dia ‘kering’.”

Belum sempat saya merespons, pendiri Toba Art Galery itu menunjuk ke pusat keramaian, lima ratus meter dari tempat kami berdiri. Di sana, lima balerong berbaris.

Saya menganga. Laki-laki–berkulit gelap dengan sebagian besar rambut yang sudah beruban–itu benar. Bukan hanya gagah, barisan balerong itu juga “tidak kering”. Saya terdiam beberapa saat. Memikirkan bagaimana Tuhan menciptakan kota ini.

Ya, banyak kota wisata bergantung pada satu keajaiban alam. Balige seolah diberi dua sekaligus. Danau Toba di satu sisi. Bukit-bukit hijau di sisi lain. Namun yang paling menarik perhatian saya justru cara kota ini bergerak.

Di banyak tempat, modernitas datang seperti buldoser. Ia meratakan masa lalu, menghapus jejak-jejak lama, lalu menggantinya dengan bangunan baru yang seragam. Balige tampaknya memilih jalan yang lebih rumit. Masa lalu masih tampak di sana-sini. Pada gereja-gereja tua, nama-nama keluarga yang terus disebutkan dalam percakapan, cara orang-orang membicarakan sejarah kotanya bukan sebagai sesuatu yang telah selesai, dan tentu saja rumah-rumah adat–seperti balerong–yang masih bertahan.

Bersama Sebastian Hutabarat saat jalan kaki di Pasar Balige. (Dokumentasi penulis, 2026)

Saat itu saya belum mengetahui bahwa nostalgia adalah salah satu bahasa ibu Balige, sebagaimana saya juga tak tahu bahwa Sebastian Hutabarat adalah salah satu penutur yang fasih.

Kisah Marchia

Saya bertemu dengan laki-laki yang suka tersenyum itu di The Boat, homestay miliknya yang juga menjadi lokasi kelas menulis Balige Writers Festival pengujung Mei itu. Tempat itu berdiri tenang di tepian danau, cukup jauh dari keramaian sehingga suara air dan angin menjadi bagian dari suasana sehari-hari. Tidak ada kemewahan yang berlebihan. Justru kesederhanaannya yang membuatnya menarik. Taman kecil yang terawat. Pondok kayu yang menghadap danau di kejauhan. Kursi-kursi yang mengundang orang untuk duduk lebih lama daripada yang mereka rencanakan. Saya selalu menyukai tempat-tempat yang tidak berusaha terlalu keras untuk mengesankan pengunjungnya.

Percakapan kami bermula dari hal-hal yang biasa: perjalanan, cuaca, dan kegiatan festival yang akan berlangsung beberapa hari ke depan. Lalu entah bagaimana topiknya bergeser ke kebiasaan saya berjalan kaki.

“Kau jalan kaki ke pasar?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Hampir selalu.”

“Sendirian?”

“Biasanya.”

Ia tertawa.

“Lalu kau ngobrol dengan orang-orang yang tidak kau kenal?”

“Kuharap selalu begitu. Tidak semuanya berhasil. Tapi seru.”

Ia tertawa lebih keras lagi.

“Pukul enam lewat lima belas saja,” katanya. Saya tahu dia sedang membicarakan rencana saya jalan pagi esok pagi. “Semoga besok aku bisa ikut.” Cara ia mengucapkannya terdengar lebih seperti pemberitahuan daripada permintaan izin (untuk menemani saya).

Tapi, tentu saja saya menyukai hal-hal baru, tak terkecuali teman jalan pagi yang jatuh dari langit. Duh.

Saya pernah membaca bahwa manusia tidak benar-benar hidup berdasarkan kalender. Kita hidup berdasarkan peristiwa. Sebab tidak ada yang benar-benar mengingat tanggal Empat belas Juni sepuluh tahun lalu kecuali sesuatu terjadi pada hari itu. Yang kita simpan bukan waktunya, melainkan apa yang terjadi di dalam waktu tersebut.

Itulah sebabnya sebagian orang dapat lupa tahun kelulusan mereka, tetapi masih mengingat warna baju yang dikenakan ketika pertama kali jatuh cinta. Sebagian orang lupa tanggal pernikahannya, tetapi masih mengingat aroma rumah sakit ketika ayah atau ibunya meninggal. Hidup rupanya bekerja dengan cara yang aneh. Ia menghapus ribuan hari biasa dan menyisakan beberapa hari yang terus menolak pergi.

“Dia anak kedua kami. Namanya Marchia,” katanya di kilometer ketujuh perjalanan kami.

Dari Balige, Danau Toba kala senja seperti kehidupan tak takut kehilangan semburat cahaya. (Foto: Benny Arnas)

Saat itu matahari mulai naik di atas perbukitan. Di sela-sela bangunan, Danau Toba sesekali muncul seperti lembaran perak yang dibentangkan di bawah langit pagi. Sebuah pikap bermuatan sayur melintas. Di depan warung kopi, beberapa laki-laki duduk mengelilingi meja plastik sambil menyesap kopi hitam. Kota perlahan terbangun, tetapi perhatian saya tertahan pada suara Sebastian.

“Ketika masih kecil, dia ingin jadi penata rambut.” Sebastian tersenyum kecil.

Saya tidak menangkap kegetiran di sana. Saya membiarkan ia menyelesaikan ceritanya.

Rumah-rumah tua yang menjadi simbol bagaimana Balige masih memeluk masa lalunya. (Foto: Benny Arnas)

Seperti banyak anak seusianya, Marchia tumbuh bersama mimpi-mimpi yang berubah bentuk, yang mulai tertarik pada seni, kebiasaannya belajar, guru-guru yang melihat potensinya, dan bagaimana salah seorang gurunya kemudian menyarankan agar ia mengambil jurusan bisnis setelah lulus sekolah menengah. Cerita itu mengalir seperti ketika Sebastian bercerita tentang rumah adat atau sekolah-sekolah tua di Balige. Tidak ada dramatisasi dan upaya membuat kisah itu terdengar menyedihkan.

Justru karena itulah saya mulai merasa tidak nyaman.

Saya pernah bertemu cukup banyak orang yang kehilangan orang-orang terdekat mereka. Sebagian menangis ketika bercerita. Sebagian lagi tidak mampu menyelesaikan satu kalimat tanpa berhenti. Namun ada juga kelompok yang lebih sulit dipahami: mereka yang bercerita dengan tenang, seolah-olah kesedihan mereka telah begitu dalam sehingga tidak lagi membutuhkan ekspresi.

“Satu Juni saya mengantar mereka ke Bandara Silangit. Enam belas hari kemudian saya ditelepon.”

Saya sudah tahu ke mana cerita tersebut akan menuju. Kerangka kehidupan yang terlalu rapi biasanya hanya muncul dalam dua keadaa. Ketika seseorang sedang mengenang keberhasilan besar. Atau ketika seseorang sedang berjalan menuju tragedi.

“Marchia meninggal.” Kalimat itu diucapkannya dengan nada yang sama ketika ia mengatakan bahwa Marchia diterima kuliah di UGM.

Hal itu mengingatkan saya pada penelitian Elizabeth Loftus yang berulang kali menunjukkan bahwa ingatan bukan rekaman video yang disimpan rapi di dalam otak. Ia lebih menyerupai cerita yang terus ditulis ulang. Kita lupa banyak hal. Kita mencampuradukkan detail. Kita menambahkan bagian-bagian yang tidak pernah terjadi dan menghilangkan bagian-bagian yang sebenarnya pernah ada. Setiap kali mengingat masa lalu, sesungguhnya kita sedang membangunnya kembali.

Namun para peneliti trauma menemukan sesuatu yang menarik. Pada peristiwa-peristiwa yang mengguncang hidup seseorang, terutama yang berkaitan dengan kematian, kecelakaan, perang, atau kehilangan besar, otak sering bekerja dengan cara yang berbeda. Sebagian detail yang tampaknya sepele justru tertanam sangat kuat. Psikolog menyebutnya sebagai flashbulb memory, semacam ingatan yang terasa seolah-olah dibekukan oleh ledakan emosi.

Orang bisa lupa apa yang dimakannya minggu lalu, tetapi masih mengingat warna baju yang dikenakan ketika menerima kabar kematian seseorang yang dicintainya puluhan tahun silam. Mereka dapat lupa percakapan yang terjadi kemarin, tetapi masih mengingat posisi kursi, cuaca, atau bunyi telepon pada hari hidup mereka berubah.

Tentu saja ingatan semacam itu tidak selalu akurat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang sering kali tetap melakukan kesalahan ketika mengingat peristiwa traumatis. Namun keyakinan mereka terhadap ingatan tersebut biasanya jauh lebih besar dibandingkan ingatan biasa. Seolah-olah otak menandai momen tertentu sebagai sesuatu yang tidak boleh hilang. Seolah-olah dengan menjaga setiap detail tetap hidup, kita dapat menjaga sebagian dari orang yang telah pergi.

Ketika mendengarkan Sebastian pagi itu, semua penelitian tersebut datang dan menawarkan diri. Mungkin itulah sebabnya laki-laki itu masih mengingat urutan peristiwa dengan begitu jelas. Sebab sejak telepon itu datang, sejak kabar tentang Marchia sampai kepadanya, waktu tidak lagi bergerak seperti biasanya. Ia terbelah. Seperti Nabi Yaqub yang bertahun-tahun hidup bersama kerinduan kepada Yusuf, Viktor Frankl yang kehilangan hampir seluruh keluarganya di kamp konsentrasi, C.S. Lewis yang menulis A Grief Observed setelah kematian istrinya, atau Abraham Lincoln yang harus menguburkan anaknya sendiri ketika perang dan politik terus menuntut waktunya. Tidak ada seorang pun yang benar-benar kembali menjadi orang yang sama setelah kehilangan besar.

Dan seperti banyak orang yang kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai, Sebastian tampaknya masih menyimpan serpihan-serpihan hari itu dengan ketelitian seorang penjaga museum. Untuk pertama kalinya saya merasa sedang melihat kota yang sebenarnya:

Balige yang hidup di dalam diri Sebastian.

Orang-Orang yang Tidak Meratapi Langit

Beberapa hari setelah percakapan panjang itu, saya duduk di pantry The Boat menunggu sarapan. Pantry itu sebenarnya lebih menyerupai pondok kayu yang terbuka ke arah taman. Dari sana danau tampak sebagian. Angin datang dan pergi sesuka hati. Di meja kayu yang mulai mengilap karena usia dan pemakaian, secangkir kopi mengepulkan aroma yang membuat pagi bergerak lebih lambat. Imelda Napitupulu, istri Sebastian sedang menyiapkan mi kuah.

“Saya pernah gila.” Ia mengucapkannya seperti seseorang yang sedang memberi tahu bahwa dirinya pernah tinggal di kota lain. Tidak ada nada dramatis. Tidak ada upaya membuat kalimat itu terdengar penting.

Saya bahkan membutuhkan beberapa detik untuk memastikan bahwa saya tidak salah dengar, sebelum kemudian saya teringat pada aktivitas Bastian yang menolak galian C di Samosir yang berujung pada dakwaan kepadanya sebagai pelaku fitnah sehingga menyeretnya ke balik jeruji.

Perempuan itu tersenyum. Mungkin karena melihat ekspresi saya. “Saya pikir kepergian Marchia akan membuat saya lebih gila lagi.” Ia masih berbicara dengan tenang. “Ternyata tidak.”

Oh, saya tidak tahu tanggapan seperti apa yang pantas diberikan kepada narasi retoris semacam itu.

“Tiap pukul lima pagi saya membaca Alkitab,” adunya.

Saya curiga luka itu sangat dalam. Namun sebagaimana suaminya, Imelda tidak mau melihat kesedihan sebagai sesuatu yang harus dipertontonkan.

Mungkin karena itulah saya terus teringat kepada balerong yang disebut Sebastian “kering”. Saat itu saya mengira ia sedang berbicara tentang arsitektur. Belakangan saya mulai curiga bahwa ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Sebab hidupnya tampak utuh dari luar: homestay berjalan, festival berlangsung, tamu datang dan pergi, dan ia masih bisa tertawa dan bercerita berjam-jam. Namun seperti balerong yang “tampak gagah” di tengah keramaian pasar, kehilangan Marchia membuat keluarga kecil itu kesulitan menata hidup.

Suasana Pasar Balige. (Foto: Benny Arnas)

Hal itu melempar saya pada perdebatan panjang dalam dunia psikologi tentang bagaimana manusia hidup setelah kehilangan. Selama sebagian besar abad ke-20, banyak teori duka berangkat dari gagasan bahwa orang yang sehat pada akhirnya harus belajar melepaskan mereka yang telah meninggal. Dalam bahasa para psikolog, ikatan emosional itu perlahan harus diputus agar seseorang dapat kembali berinvestasi pada kehidupan yang masih berjalan. Freud termasuk salah satu tokoh yang memengaruhi cara pandang tersebut. Duka dipahami sebagai pekerjaan batin yang berat, tetapi memiliki tujuan yang jelas: menerima kenyataan kehilangan dan melanjutkan hidup.

Namun sejak 1990-an, sejumlah peneliti mulai mempertanyakan gagasan itu. Dennis Klass, Phyllis Silverman, dan Steven Nickman, misalnya, menemukan bahwa banyak orang yang kehilangan pasangan, orang tua, atau anak tidak pernah benar-benar memutus hubungan dengan mereka yang telah meninggal. Yang terjadi justru sebaliknya. Mereka membangun apa yang kemudian dikenal sebagai continuing bonds, ikatan yang terus berlanjut meskipun kematian telah memisahkan keduanya.

Orang yang telah pergi tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai hantu atau bayangan, melainkan sebagai bagian dari cara seseorang memandang dunia. Mereka hadir dalam doa-doa yang masih diucapkan, dalam resep masakan yang tetap dimasak, dalam kursi yang sengaja tidak dipindahkan, dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dipelihara bertahun-tahun setelah kematian terjadi.

Temuan itu mengubah cara banyak psikolog memahami duka. Mereka mulai melihat bahwa tujuan berduka bukan selalu melepaskan, melainkan belajar membangun hubungan yang baru dengan kehilangan tersebut. Sebagian orang memang memilih menjauh dari kenangan. Namun banyak yang justru bertahan karena kenangan itulah yang memungkinkan mereka melanjutkan hidup. Orang yang meninggal tidak lagi hadir secara fisik, tetapi tetap menjadi bagian dari percakapan batin, keputusan-keputusan sehari-hari, bahkan identitas orang yang ditinggalkan.

Tiba-tiba saya mengerti mengapa Sebastian terus membawa saya berkeliling Balige melalui cerita.

Upaya merawat duka

Dari dataran tingginya, lanskap Balige kala pagi adalah perpaduan harapan dan kenangan yang selalu hijau. (Foto: Benny Arnas)

Jelang siang, ketika kelas menulis untuk emerging writers berlangsung, saya melihat Sebastian menjadi peserta penyusup. Sepanjang kelas, saya bisa merasakan usaha kerasnya menahan diri untuk tidak mengacungkan tangan sebab peserta “dilarang” bertanya di sesi materi adalah salah satu aturannya.

Ah, saya mulai tertawa sendiri. Barangkali Sebastian mengimani apa yang Bagus Mulyadi katakan dalam sebuah siniar, bahwa menulis adalah upaya terbaik untuk merawat pengetahuan, tak terkecuali duka yang menghidupi.

Beberapa hari sebelumnya, saya datang dengan harapan menemukan cerita tentang sebuah kota. Tapi, kini, saya pulang membawa cerita tentang seorang ayah yang berjalan hampir sepuluh kilometer bersama orang asing hanya untuk akhirnya menyebut satu nama; seorang ibu yang memilih membaca Alkitab setiap subuh agar hidup tetap bergerak; dan sebuah keluarga yang belajar hidup berdampingan dengan kehilangan.

Dan sejak percakapan-percakapan itu, saya tidak lagi melihat Balige sebagai kumpulan rumah adat, gereja tua, atau bentang alam yang indah, sebab di balik setiap kota selalu ada orang-orang yang diam-diam sedang menjaga sesuatu agar tidak ikut mati, termasuk memastikan luka lama tetap basah.(*)

Balige, 21 Mei–Lubuklinggau, 6 Juni 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top