Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan?

Menguak tabir Max Havelaar dan proses kreatif Multatuli, sang pemilik karya besar dunia abad 19, bukan menjadi hal yang baru. Dalam dunia sejarah, penobatan ‘Pahlawan’ kepada Multatuli menjadi problema yang belum sampai pada tahap konklusi. Banyak ahli sejarah yang tidak setuju dengan glamoritas namanya di Indonesia, terlebih dengan embel-embel sebagai pahlawan kebebasan kolonialisme. Namun, tak sedikit pula, sejarawan yang setuju atas keagungan namanya dan jasanya yang luhung dalam kemerdekaan Indonesia.

Karya roman populer ini, menangkap kisah penderitaan masyarakat tanah jajahan Hindia-Belanda di Rangkasbitung sebagai pusat keresidenan Lebak, atas penerapan culture stelsel (tanam paksa) yang diberlakukan. Suatu keajaiban terjadi pada pencipataan novel yang hanya dikarang selama sebulan pada tahun 1859 oleh sang empu karya, Multatuli. Selang setahun kemudian, karya ini terbit untuk pertama kalinya dan seketika mencuri perhatian publik Eropa atas praktik kekejian Kolonialisme dan Imperialisme. Sehingga tercetuslan sistem penjajahan baru yang disebut “politik etis” ala imperium Inggris sebagai respon dari resonansi kekejian praktik tanam paksa yang terekam dalam Max Havelaar. Tetap saja, dengan apapun itu disebut, penjahan adalah pencideraan hak-hak manusia yang seharusnya bebas berkehendak.

Perjalanan Hidup “Si Paling Menderita”

Multatuli merupakan nama pena dari penulis kelahiran Belanda 2 Maret 1820, memiliki nama asli Eduard Douwes Dekker. Kata Multatuli sendiri diambil dari bahasa latin yang berarti ‘Aku yang Menderita’. Penderitaan siapa yang mengantarkan Multatuli dan Max Havelaar men-Dunia?

Anak seorang kapten kapal itu, pergi ke pulau Jawa pada tahun 1838 dan pada 1839 tiba di Batavia sebagai seorang kelasi yang belum berpengalaman di kapal ayahnya. Dengan bantuan dari relasi-relasi ayahnya, tidak berapa lama Eduard (panggilan kecil Multatuli) memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri (ambtenaar) di kantor Pengawasan Keuangan Batavia.

Tiga tahun kemudian ia melamar pekerjaan sebagai ambtenaar pamong praja di Sumatera Barat dan oleh Gubernur Jenderal Andreas Victor Michiels ia dikirim ke kota Natal yang saat itu terpencil sebagai seorang kontrolir. Karena sikapnya yang mengabaikan peringatan-peringatan dari atasannya, serta adanya kerugian kas pemerintahan, Multatuli pun diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Gubernur Sumatera Barat Jendral Michiels. Dalam perjalanan karier selanjutnya, Multatuli diangkat menjadi sekretaris residen di Manado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karir terbaiknya. Multatuli merasa cocok dengan residen Scherius yang menjadi atasannya sehingga ia mendapat perhatian para pejabat di Bogor, di antaranya karena pendapatnya yang progresif mengenai rancangan peraturan guna perubahan dalam sistem hukum kolonial. Karirnya meningkat menjadi asisten residen, yang merupakan karier nomor dua paling tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda saat itu. Multatuli menerima jabatan ini dan ditugaskan di Ambon pada Februari 1851.

Rangkasbitung dan Penderitaan

Menjadi seorang Asisten Residen di bumi Hindia-Belanda, mengantarkan Multatuli ke Rangkasbitung, salah satu kantor cabang keresidenan Banten. Pada Januari 1856, Multatuli ditugaskan untuk menjadi asisten residen di Lebak. Multatuli melaksanakan tugasnya dengan cukup baik dan bertanggung jawab. Namun ternyata, dia menjumpai keadaan di Lebak yang sesungguhnya sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita-berita yang didapatnya. Bupati yang menjadi pemimpin pemerintahan di kalangan bumiputera dengan sistem hak waris telah memegang kekuasaan selama 30 tahun. Ternyata dalam keadaan kesulitan keuangan yang cukup parah lantaran pengeluaran rumah tangganya lebih besar dari penghasilan yang diperoleh dari jabatannya. Dengan demikian, bupati Lebak hanya bisa mengandalkan pemasukan dari kerja rodi yang diwajibkan kepada penduduk distriknya berdasarkan kebiasaan.

Multatuli menulis surat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen dengan penuh emosi atas kejadian-kejadian di wilayahnya. Multatuli meminta agar Bupati dan putra-putranya ditahan serta situasi yang tidak beres tersebut diselidiki. Atasannya, Brest van Kempen sangat terkejut dengan berita yang dikirimkan Multatuli sehingga mengadakan pemeriksaan di tempat, tetapi menolak permintaan Multatuli untuk memberhentikan jabatan Bupati Lebak dan menghukum bersama putra-putranya.

Atas dasar kekecewaan terhadap permohonannya yang ditolak itu, membuat Multatuli bentrok dengan pemimpinnya, dan untuk kesekian kalinya Multatuli diberhentikan dari pekerjaannya. Setelah jejak buruknya di Hindia Belanda, pemerintahan Hindia Belanda tidak mempercayai Multatuli untuk bisa bekerja lagi di pemerintahan, sehingga ia pun mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, dan memutuskan untuk pergi ke Eropa untuk bekerja. Lewat dendam kesumat Multatuli terhadap perlakuan pemerintah Hindia-Belanda kepada dirinya, melatar belakangi Multatuli mulai menulis dan mengumpulkan manuskrip-manuskrip pada saat bekerja sebagai ambtenaar, yang kelak melahirkan Max Havelaar.

Di tahun 1860, Max Havelaar berhasil diterbitkan. Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda). Roman ini ditulis oleh Multatuli hanya dalam tempo sebulan pada 1859 di sebuah losmen di Belgia. Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah.

Pada kancah dunia, novel ini menjadi landasan para kelompok sosialis sebagai rujukan untuk menghapuskan sistem penjajahan yang berlandaskan imperialisme berubah menjadi liberalisme. Hermann Hesse (dalam Amin, 2019), memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Pun, demikian dengan statement Pramudya Ananta Toer dalam esainya yang terpublikasikan di New York Time Magazine (1999), ia tak segan melabeli Max Havelaar sebagai The Book That Killed Colonialism. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.

Kritik untuk Max Havelaar

Dalam buku Max Havelaar, Multatuli menangkap penderitaan masyarakat Lebak akibat ulah pejabat-pejabat pribuminya. Pencitraan Bupati, RT Nata Kartanegara, dan para jajarannya begitu negatif, mengesankan pandangan sinis si penulis. Ia merangkai narasi dengan motif keprihatinan dan rasa empati terhadap penderitaan yang dialami orang-orang pribumi di Rangkasbitung. Mengutip dari laman Facebook milik Saut Situmorang,

Max Havelaar was not written as a form of protest against the colonial government whose actions crossed the line, but it was rather a protest against the colonial government which was considered to be less strict in implementing its policies. The main point of criticism in Max Havelaar was that the attitude of the Dutch East Indies colonial government was weak towards its colony!” (Saut Situmorang, 8 Oktober 2021).

Kritikus sastra itu berpendapat kalau Max Havelaar bukan merupakan karya sastra satire tentang sikap protes Multatuli terhadap perlakuan pemerintah kolonial yang berlebihan, tetapi merupakan bentuk protes terhadap perlakuan pemerintah kolonial yang kurang tegas kepada koloninya. Nieuwenhuys (1987) dalam esainya, De Mythe van Lebak (diterjemahkan Sitor Situmorang menjadi Mitos dari Lebak), berpendapat kalau kehadiran Max Havelaar tidak dengan tegas membuktikan kedudukan Dowes Dekker sebagai seseorang yang menolak kolonialisme.

Jika menukil teori Orientalism (1977) milik Edward Said, tergambar jelas kalau karya Max Havelaar merupakan wacana yang berisi tentang Ketimuran melalui cara pandang Barat. Hal tersebut terproyeksi lewat pasivitas masyarakat Lebak (sebagai korban) yang tidak berusaha membela diri; babak Saidjah-Adinda yang hadir sebagai simbol penderitaan bangsa terjajah, dengan kisah cinta yang kandas karena penindasan kolonial; juga, melalui kehadiran Havelaar (sebagai interpretasi Barat) yang menjadi juru selamat atas praktik dehumanisasi yang berlangsung. Narasi semacam ini menegaskan relasi kuasa kolonial dengan menghadirkan rakyak koloni yang digambarkan lemah, eksotik, penuh penderitaan, dan barat ditampilkan sebagai sosok yang kuat, rasional, dan bermoral (Said, 1977).

Tidak ada yang tahu persis tujuan dibalik penciptaan Max Havelaar. Entah bentuk rasa empati dan humanis terhadap perlakuan biadab kolonialisme dan imperialisme, atau bentuk protes ajang balas dendam Multatuli terhadap perlakuan pemerintah Hindia-Belanda. Itu semua merupakan rahasia semesta, dan yang mengetahui niatan sesungguhnya hanyalah Tuhan dan penulisnya sendiri, ‘si paling menderita’. Darren Zook (2006) melemparkan komentar pedas yang sempat menjadi polemik publik, ia mengatakan kalau kelahiran Max Havelaar dilandasi kepentingan politis penulisnya agar bisa memperoleh jabatan tinggi di pemerintahan Hindia-Belanda. Jalinan isi pada novel dan bio-historis si pengarang memang mencolok, saling berkaitan, mengingat Max Havelaar adalah sebuah karya semi-autobiografis. Apakah, Max Havelaar bentuk pledoi Dowes Dekker atas pemecatan yang dialaminya? Entahlah, mungkin ‘Si Paling Menderita’ lebih mengetahuinya.

Anak Kolinial yang Dirayakan

Saya yang sejak lahir dan sampai kini mendiami tanah persinggahan Multatuli. Merasa terhormat memiliki profil semegah namanya. Kendati demikian, saya kurang setuju dengan pengultusan berlebih yang terjadi. Monumen Multatuli tidak hanya berada di Amsterdam, Lebak pun mengabadikan sosoknya menjadi nama sebuah Museum dengan ornamen patung kuningan di pelatarannya. Museum yang diresmikan 2018 itu mengangkat tema anti-kolonialisme dengan mengusung profil anak bangsa kolonial. Sungguh ironi bukan? Lupakah kami, kalau Eduard Douwes Dekker, mantan pegawai Hindia-Belanda, merupakan identitas asli Multatuli?

Bangunan yang kini menjadi tempat berdirinya Museum, awalnya sempat beberapa kali beralih fungsi, mulai dari kantor Kawedanaan, Markas Wilayah Pertahanan Sipil, sampai kantor BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Kabupaten Lebak. Di tahun 2016 baru selesai dipugar menjadi bangunan Museum yang lay out bangunannya mereplika rumah dinas Asisten Residen pada masa Multatuli menjabat. Lantas apa yang dipugar, memori penderitaan masa-masa penjajah?

Belum selesai sampai disitu, sejak 2018 Multatuli selalu dirayakan melalui acara pagelaran kebudayaan di Kabupaten Lebak dengan mengusung nama Festival Seni Multatuli (FSM). Meskipun sempat vakum pada saat Pandemi 2020, namun di tahun berikutnya FSM kembali digelar. Tepat pada September-2025 kemarin, pagelaran tersebut menginjak tahun ketujuh dan perayaan keenam buat ‘Si Paling Menderita’. Entah sampai kapan sosok yang terafiliasi sebagai pegawai pemerintah Kolonial itu dirayakan oleh bekas koloninya sendiri. Lupakah kami pada penderitaan dan penghinaan dari orang-orang barat? Apa mungkin, masa itu bukanlah penderitaan bagi kami?

Sejak saya menduduki bangku sekolah dasar sampai menengah atas, pengantar ilmu Sejarah, tak lain dan tak bukan, hanya menarasikan seputar Multatuli. Tak pernah secuil pun saya diperkenalkan pada profil pahlawan lokal. Entahlah… mungkin saja, pada masa penjajahan masyarakat Lebak benar-benar sudah berdamai dengan penderitaan, sehingga tak melawan. Atau mungkin, pengetahuan generasi pasca-kemerdekaan yang mandeg di sosok ‘Si Menderi’ itu. Saya yang fakir ini tak mampu menelisik lebih jauh. Tetapi, asumsi saya terpilin kembali pada harumnya nama Multatuli, yang mungkin saja berhasil menghapus nama-nama pejuang bangsa, sehingga pahlawan bumiputera tertimbun dalam kemegahan penghormatan untuk sosok yang katanya ‘Pahlawan pembebas kolonialisme’ itu. Apakah kami amnesia? Entahlah, saya belum dapat petunjuk dan mungkin saja ‘Si Paling Menderita’ lebih mengetahui segalanya.

Sebagai bekas masyarakat jajahan yang memperjuangkan kemerdekaan penuh peluh dan keluh, seharusnya masyarakat Indonesia lebih bijak dalam menyikapi karya milik Multatuli. Disatu sisi memang tidak bisa dipungkiri ada jasa Multatuli yang turut serta menyadarkan kekejian dari praktik kolonialisme dan imperialisme di tanah negara ke-3. Namun, penjajah tetaplah penjajah dan tidak ada pembenaran atas dasar apapun perihal dehumanisasi yang dibawanya.

Multatuli lahir dari darah seorang Belanda, besar dan tumbuh di tanah Belanda, lalu datang ke Indonesia sebagai bagian dari pemerintahan Hindia-Belanda. Jadi, apakah Multatuli layak dinobatkan sebagai ‘Pahlawan Pembebas Kolonialisme’? dan karyanya, Max Havelaar, terbebas dari orkestrasi sakit hati sang mantan Asisten Residen? Apakah Multatuli perlu dikultuskan sebagai gagasan Museum Anti-kolonialisme oleh bangsa bekas korban kolonial? Apa Multatuli sang anak Kolonial musti dirayakan? (***)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top