Author name: Navide Amaluna

Lahir 1 Oktober 2000 di bekas pekarangan rumah Asisten Residen Lebak, Eduard Dowes Dekker. Seorang amatiran yang baru menyelesaikan studinya di prodi Sastra Indonesia, sebabkan pikirannya kalang-kabut tak keruan akibat belum dapat kerjaan. Giat menulis esai di beberapa laman media daring. Gemar membaca dan meramu tulisan, entah yang beraroma sastra atau segala yang bisa meluapkan isi kepala, demi menjaga akal sehatnya. Saat ini menetap di Rangkasbitung, Lebak-Banten.

Navide Amaluna
Esai

Manifesto Estetis ”Silampukau” Membongkar Alienasi Manusia Indonesia

Esai ini mengulas dwilogi album Stambul Arkipelagia karya Orkes Silampukau melalui kacamata mimesis Marxis. Karya ini dinilai bukan sekadar musik, melainkan manifesto estetis yang membongkar realitas pahit, alienasi manusia, ketimpangan ekonomi, fetisisme komoditas, hingga dominasi penguasa di Indonesia yang direfleksikan secara tajam lewat metafora negeri fiktif Arkipelagia.

Manifesto Estetis ”Silampukau” Membongkar Alienasi Manusia Indonesia Selengkapnya

Esai

Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan?

Esai ini mengulas kontroversi seputar Multatuli, penulis Max Havelaar, dan penobatannya sebagai ‘Pahlawan’. Karya besarnya mengungkap kekejian tanam paksa di Lebak. Namun, muncul kritik bahwa novel ini adalah protes pribadi dan manifestasi Orientalism, mempertanyakan apakah ia layak dirayakan oleh bekas koloni.

Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan? Selengkapnya

Scroll to Top