
Setelah sempat satu dekade, grup duo asal Surabaya, Silampukau, hiautus dari industri musik indie, dengan meninggalkan residu-residu potret kehidupan Surabaya dalam album DKK: Dosa, Kota, dan Kenangan (2015). Cak (sapaan orang Surabaya untuk laki-laki) Eki dan Kharis kembali berkicau dengan format Orkes, ditambah bergabungnya Cak Arif sebagai juru tekan di piano, Cak Pras sebagai juru pukul untuk Drum; dan Cak Reza sebagai juru betot buat Kontrabas.
Ada nuansa yang jauh berbeda dari album sebelumnya. Kalau DKK, memotret kehidupan urban Surabaya, Orkes Silampukau memperluas lanskapnya menuju spasial suatu kepulauan dan tempus yang lebih dalam. Stambul Arkipelagia menjadi album yang disubutitusi ke dalam dua volume EP (Extended Play). Dimensi ruang dan waktu yang lahir sebagai dwilogi seakan sajian bunga rampai dari sejarah tanah fiktif Arkipelagia. Stambul Arkipelagia tidak hanya menyajikan musik untuk didengar, sekaligus ihwal yang patut buat dibaca. Apalagi di pergolakan politik–ekonomi dewasa ini.

“Dari Surabaya, kita berlayar ke Arkipelagia ya…, ke negeri fiktif ini; ke distopia itu; ke negeri amit-amit ini,” tutur Kharis dalam penampilannya di Makarya pada kanal Youtube milik Smiljan Space (18/09/2025). Jujur saja, saya sebagai penikmat kicauan manuk –bahasa jawa untuk burung– Kepodang (Silampukau) ini, menyangsikan pengakuan yang didendangkan Cak Kharis. Kecurigaan saya terbit terbilang kalau negeri fiktif, distopia, yang amit-amit itu, mimesisnya Indonesia—musabanya, begitu banyak kesamaan dengan tanah air yang saya pijaki ini.
Mengingat Arkipelagia berasal dari kata Archipelago yang punya referensi makna kepulauan yang hanya memiliki dua musim, dan hanya Indonesia yang penampang geografisnya berupa bentang kepulauan, dilintasi khatulistiwa dari barat sampai timur dan beriklim tropis. Resepsi saya didasarkan pada lirik di lagu yang menangkap fenomena kehidupan tropikal di nusantra, seperti penggalan lirik berikut:
Kemarau datang, paceklik menang
Penghujan datang, paceklik menang
(Sejauh Kumemandang: Paceklik Blues, Stambul Arkipelagia, Vol. 1)
Dalam penggalan lirik Sejauh Kumemandang, negeri Arkipelagia digambarkan hanya memiliki dua musim dalam setahun. Ladang yang gersang pada periode September menandai musim kering/kemarau, dan rawa yang membentang tergenang air di bulan Januari menjadi penanda musim penghujan.
Di lagu Jurang Kemiskinan terdapat penyebutan Asia, dalam lirik, Korban kolateral, sabda kadal Asia (Jurangan Kemiskinan 1/ Dodoi, Stambul Arkipelagia, Vol. 1). Dalam hal ini kata /asia/ yang menjadi pewatas atas /kadal/, punya relasi makna polisemi (multi makna), dapat merujuk kadal Asia secara denotasi—sebagai binatang kecil melata berkaki empat asal asia—atau makna kias untuk binatang tokek yang dimitoskan—oleh orang Asia secara menyeluruh atau orang Indonesia secara spesifik—pembawa keberuntungan dan kemakmuran.
Baik pemaknaan konotasi maupun denotasi, tak menutup kenyataan kalau Indonesia menjadi habitat bagi 600 jenis reptil dan menjadi salah satunya ekosistem hutan hujan di Asia Tenggara yang digemari para Tokek. Tak luput, komodo sebagai varietas kadal purba terbesar di dunia mendiami tanah timur kita. Relasi istimewa yang hadir antara kadal dan Indonesia pada lirik tersebut begitu menyiratkan Arkipelagia sebagai wujud metaforis dari Ibu Pertiwi.
Bila ditilik mundur ke awal abad 19, melalui pandangan Marxis dan sosiologi sastra, maka dapat dikatakan kalau Stambul Arkipelagia merupan bentuk reflektif Orkes Silampukau terhadap realitas. Santer, penilaian saya terlihat jelas bila diamati menggunakan perspektif mimesis Marxis. Cerminan kontradiksi kelas, marginalisasi, praktik kapitalistik, dan fetisisme komoditas yang terang.
Mimesis sebagai Refleksi Ekonomi
Mimesis dalam pandangan Marxis bukan sekadar imitasi alam, melainkan sebuah refleksi aktif atas relasi kuasa. Penggunaan “Stambul” dalam tajuk album menjadi bukti bentuk mimesis terhadap sandiwara pembangunan di Indonesia. Sebagaimana dijelaskan Cohen (2006) dalam catatan sejarah, Komedi Stambul pada mulanya merupakan hibriditas budaya Pelabuhan yang dipentaskan menjadi bentuk teater komersial. Orkes Silampukau mengadopsi spirit tersebut untuk memotret Arkipelagia bukan laiknya tanah “surgawi”, melainkan sebagai “neraka” untuk kelas tertindas.
Di ekonomi sepelik ini
Musti sehat; Musti kuat
Semesta psikologi, serunyam ini
Halimun kian pekat
(Masuk Angin, Stambul Arkipelagia Vol. 2)
Dari penggalan lirik Masuk Angin, tercermin ketakberdayaan kelas marginal untuk melawan, penggambaran kondisi ekonomi yang pelik menuntut harus tetap sehat dan kuat. Penekanan kekacauan kondisi ekonomi yang dapat mengancam kesehatan mental dipertebal lewat larik, ”semesta psikologi, serunyam ini”. Fenomena kemiskinan yang ditangkap Orkes Silampukau, bukan disebabkan karena kurangnya ambisi dan motivasi perorangan untuk mengubah nasibnya, melainkan dampak dari praktik kapitalistme yang memelihara kesenjangan ekonomi.
Berpasrah pada angin, pada segala mungkin
Cuma bikin, masuk angin
(Masuk Angin, Stambul Arkipelagia Vol. 2)
Lanjutan penggalan lirik tersebut menerangkan, sikap skeptik yang hadir atas kemungkinan-kemungkinan baik hanyalah kesia-siaan dan hanya memperburuk kondisi pesakitan (miskin) yang tengah dialami. Kondisi yang relevan dengan fakta sosial dewasa ini. Data dari PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis) Nasional (26/06/2026), adanya kenaikan di beberapa jenis harga pangan, seperti beras, daging ayam, gula pasir lokal, dan bawang putih mulai dari kisaran Rp.50 sampai Rp.650. Hal itu mengindikasikan, semakin sulitnya kita dalam menjangkau bahan pokok untuk sekadar memenuhi kebutuhan perut. Memuat sumber di laman bi.go.id, kurs jual untuk dolar yang stagnan pada angka Rp.18.000-an menambah kesengsaraan kita.
Kekalahan tokoh dalam lagu Masuk Angin merupakan refleksi dari basis ekonomi yang timpang. representasi individu yang terasing (alienated) dari kebutuhan dapur akibat tuntutan ekonomi yang kian mencekik. Hal ini selaras dengan argumen bahwa seni harus menyingkap relasi produksi yang tersembunyi di balik estetika (Marx, 2016). Ketika modus ekonomi sulit diakses, subjek-subjek marjinal kehilangan ruang hidup layak dan nyaman. Bahkan untuk sekadar berharap pun cuma berisiko “masuk angin”. Apa kalian takut ”masuk angin?”
Alienasi dalam Panggung Komedi Stambul
Intisari dari keterasingan manusia dalam sistem kapitalisme terlihat nyata dalam narasi album ini. Cohen (2006) mencatat bahwa Komedi Stambul adalah panggung bagi kaum kosmopolitan marjinal yang mencoba meniru kemegahan dunia luar demi bertahan hidup. Penggalan larik Jurang Kemiskinan 2: Saga Khatulistiwa, mampu diamati sebagai berikut:
Kususun tangga dari mayat sanak-saudara
Lazimnya tradisi arkipelagia
Kupanjat tangga dari mayat sanak-saudara
Di kaki tebing neraka
(Jurang Kemiskinan 2: Saga Khatulistiwa, Stambul Arkipelagia Vol.2)
Tatanan sosial di era industrialisasi menuntut perubahan pola interaksi masyarakat yang tidak lagi berkolektif, corak individualistik mensegregasi relasi kekerabatan, rasa persaudaraan, dan hubungan emosional antar individu. Hal tersebut terekam dalam lirik, ”kususun tangga dari mayat sanak-saudara; dan kupanjat tangga dari mayat sanak-saudara”. Tampak, tokoh aku dalam lagu ini, mengalami alienasi dari keluarga dan kerabatnya sendiri karena tenaga mereka dikomodifikasi demi kepentingan pribadi—untuk keluar dari kaki tebing neraka (kemiskinan).
Begitulah yang terjadi saudara-saudari
Cari selamat sendiri-sendiri
Demikianlah yang senantiasa abadi
Di kakitebing neraka
(Jurang Kemiskinan 2: Saga Khatulistiwa, Stambul Arkipelagia Vol.2)
Relasi manusia baru menciptakan tradisi yang mengasingkan dan meniadakan satu dengan yang lain. Potret tersebut terealisasi pada kehidupan urban di Jakarta yang begitu penat dan cepat. Mereka bekerja dalam rutinitas yang mekanistik, yang menurut Marx (2016), menghancurkan hakikat kemanusiaan (species-essence) karena kerja tidak lagi menjadi aktivitas kreatif, melainkan paksaan fisik. Berpilin dengan pandangan Homo Homini Lupus milik Hobes. Kapitasisme bukan hanya mengasingkan manusia dengan lingkungan sosialnya, tetapi juga mengakomodasi hasrat pribadi di atas kepentingan bersama. Benarkah setiap kita adalah serigala yang menyusun anak tangga dari mayat yang lain?
Kritik terhadap Fetisisme Komoditas
Salah satu kekuatan Silampukau adalah kemampuan mereka memotret bagaimana benda-benda (komoditas) memiliki kekuatan mistis yang mendominasi manusia. Dalam perspektif Marx (2016), ini disebut sebagai fetisisme komoditas. Di album DKK saja, banyak tangkapan hasrat atas komoditas sebagai sarana kritik. Contohnya, penggambaran kemeriahan pasar malam di Taman Remaja Surabaya dalam lagu Bianglala; Gambaran pembangunan kota, menggerus lahan terbuka hijau untuk anak-anak yang sekadar ingin bermain bola pada lagu Bola Raya; Delokalisasi Doli demi citra moral Subaraya sebagai “Kota Pahlawan” dalam lagu Si Pelanggan; dan, Dikotomi antara Anggur cap Orangtua dengan Merlot asal Perancis dalam lagu Puan Kelana. Silampukau menyingkap bahwa di balik barang-barang mewah dan gemerlap pembangunan, terdapat relasi sosial yang terhapus.

Demikian pula Stambul Arkipelagia yang menyoroti bagaimana transformasi ruang fisik telah terkomodifikasi secara total. Pembangunan infrastruktur yang masif di “Arkipelagia” sering kali menyingsingkan rakyatnya ke pinggiran. Kicauan manuk Kepodang, menangkap fenomena ini melalui mimesis terhadap gaya hidup perkotaan yang penuh kepura-puraan. Misalnya saja dalam lagu Blues Bunga Api:
Semerbak pahit mesiu, bunga-bunga api tahun baru
Konfigurasi cahaya, berkilaian dan perlahan sirna
(Blues Bunga Api (Dan Maut Kian Benderang), Stambul Arkipelagia Vol. 2).
Hal itu disandingkan dengan lirik bait terakhir yang berbunyi:
Seperih cinta, seperih dia, seperih malam manakala
rembulan menghilang dan maut kian benderang
(Blues Bunga Api (Dan Maut Kian Benderang), Stambul Arkipelagia Vol.2).
Kemeriahan tahun baru yang tercermin lewat kembang api, permainan lampu, kilau-kemilau perayaan yang sekelibat merupakan bentuk kepura-puraan untuk menutupi keadaan yang sejatinya getir, miris dan memprihatinkan. Interkoneksifitas serupa terjadi di Indonesia. Gencarnya kebijakan pertumbuhan ekonomi yang dibalut dengan pidato-pidato normatif bernuansa glamoritas dan perjalanan kunjungan kepala negara ke luar negeri yang mengatasnamakan ”perjalanan dinas” berlangsung ketika protes-protes masyarakat atas kenaikan harga BBM belum dituntaskan; ekspansi dapur MBG di berbagai daerah terjadi di tengah-tengah intimidasi gaji-gaji guru honorer; ancaman deforestasi dan bentrokan di tanah timur, Papua, demi mencapai astacita “Ketahanan Pangan”. Lantas, apa mau dikata, kalau bukan fetisisme komoditas?
Fenomena serupa itu, merupakan bentuk sandiwara modern di mana individu dipaksa memakai “kostum” produktivitas demi menjaga roda kapitalisme tetap berputar. Sebagaimana teater Stambul di masa lalu yang menyajikan fantasi 1001 malam untuk melupakan getirnya kolonialisme (Cohen, 2006). Narasi pembangunan sering kali menjadi “Stambul” yang menutupi borok kemiskinan dan ketimpangan kelas. Syahdan, melaului musikalitas apik dan dibungkus lirik puitik, Orkes Silampukau dan Stambul Arkipelagia mengicau dengan berterusterang. Mampukah kalian membaca dan mendengarnya?
Dominasi Penguasa dalam Dialektika Materialisme
Lagu In Memoriam dalam Stambul Arkipelagia Vol. 1 menangkap praktik dominasi kekuasaan lewat sudut pandang mendiang korban kekerasan. Praktik kekerasan fisik sampai merenggut nyawa, nyata dalam penggalan lirik:
Smiliun desing peluru
Ribuan maut yang lalu
(In Memoriam/ Halimun Rahasia, Stambul Arkipelagia Vol. 1).
Perenggutan hak hidup dengan terang-terangan terproyeksi dalam larik, ribuan maut yang lalu. Dominasi hadir melalui desingan peluru, menjelma malaikat maut yang meyerbu ribuan jiwa dalam medan pertempuran yang dibuat penguasa. Citraan auditori diinterpretasikan pada kata desing menekankan ketakberdayaan tokoh untuk membalas, hanya mampu mendengar letupan-letupan milyaran peluru yang terlontar dari senjata yang dipantik.
Beta nirnyawa; nirderita; nirbinasa
(In Memoriam/ Halimun Rahasia, Stambul Arkipelagia Vol. 1).

Kata beta merupakan cakapan yang lumrah digunakan dan ditemukan pada periodisasi sastra Indonesia lama (kisaran 1920-an), sebagai pronomina (kata ganti benda) orang pertama tunggal yang merujuk subjek. Dapat diasumsikan kalau eksistensi beta dalam realitas materil berada pada tempus lampau. Nir– dalam kata nyawa; derita; dan binasa, memang terdengar asing digunakan dalam cakapan saat ini. Namun, bila merujuk pada KBBI, nir– merupakan bentuk terikat dalam proses afiksasi —pengimbuhan kata depan atau prefiks— yang memiliki makna tidak; bukan. Dapat disimpulkan kalau beta yang sudah tidak bernyawa; yang tidak lagi menderita; dan, yang tidak lagi binasa. Redaksi ini menyiratkan kalau beta semasa hidup mengalami penderitaan sampai mati, dan kini tidak dapat lagi dibinasakan, karena sudah tak bernyawa.
Selain dari kekerasan fisik, kehadiran dominasi kekuasaan selalu bersamaan dengan kekerasan simbolik lainya. Gramsci (2020) menyebutnya Hegemoni, ketika cara pandang kelas penguasa (borjuis) disebarkan sedemikian rupa hingga dianggap sebagai “akal sehat” (common sense) oleh kelas pekerja (proletar). Kontrol narasi lumrah terjadi dalam praktik dominasi, demi menutupi kebobrokan sistem kekuasaan.
Di halimun rahasia, historia
(In Memoriam/ Halimun Rahasia, Stambul Arkipelagia Vol.1).
Dari penggalan lirik tersebut, tegas adanya bentuk pengontrolan narasi sejarah. Kata halimun yang memiliki makna kabut, berkelindan dengan konteks membiaskan penulisan sejarah atas peristiwa kekerasan fisik yang menimpa beta; lae; dan/atau ose dalam lirik lagu In Memoriam.
Fragmen cerita di lagu tersebut, mengingatkan saya pada kilasan Sejarah Indonesia yang serupa. Telah diketahui bersama, saat Orde Baru mendominasi kekuasaan di Indonesia lewat kekerasan simbolik—pemaksaan cara pandang penguasa kepada rakyat—dan fisik. Buku sejarah sekolah dan media massa dikendalikan untuk menciptakan citra bahwa pemerintah adalah satu-satunya penyelamat bangsa; kemudian, masifnya dokumentasi kekerasan di Jawa Tengah tentang penemuan jasad tak bernama di sepanjang bantaran Sungai (Herlambang, 2013). Jelas teramati kalau Arpikelagia, si negeri fiktif ini; yang distopia itu; yang amit-amit ini, memiliki fragmen sejarah mirip dengan Indonesia masa Orde Baru. Beruntungnya, dominasi simbolik penguasa pun kembali hadir di masa kini, wajah penguasa ditampilkan dengan terang benderang melalui pidato kepala negara dan sikapnya dalam menanggapi kritikan penuh nyinyiran ”nyenyenye”. Mungkinkah kekesaran fisik yang serupa Orba akan terulang?
Prelude Al-Muqawim
Pendekatan mimesis Marxis terhadap Stambul Arkipelagia Vol. 1 & 2 ini menunjukkan bahwa album ini bukan sekadar hiburan, ia adalah sebuah dokumen sosial. Laku artistik Orkes Silampukau yang meniru realitas pahit masyarakat Indonesia agar bisa melihat kembali kontradiksi kelas yang ada di depan mata. Mereka membuktikan bahwa musik bisa menjadi cermin retak yang menunjukkan wajah asli dunia yang kita tinggali. Dwilogi ini adalah manifesto estetis yang berupaya membongkar alienasi manusia Indonesia. Paduan sejarah teater rakyat (Stambul) dan kritik ekonomi politik, berhasil menunjukkan bahwa di balik gemerlap narasi glamor kepulauan (Arkipelagia), terdapat tragedi kelas yang terus berulang. Album ini menjadi pengingat bahwa seni yang jujur adalah seni yang berani menatap borok realitasnya sendiri melalui kacamata sejarah dan materi. Mampukah kalian mendengar, melihat, dan merasakannya? []
Referensi
- Cohen, M. I. (2006). The Komedie Stamboel: popular theater in colonial Indonesia, 1891-1903 (Vol. 112). Ohio University Press.
- Gramsci, A. (2020). Selections from the prison notebooks. In The applied theatre reader (pp. 141–142). Routledge.
- Herlambang, W. (2013). Kekerasan budaya pasca 1965: bagaimana Orde Baru melegitimasi anti-komunisme melalui sastra dan film. (No Title).
- Marx, K. (2016). Economic and philosophic manuscripts of 1844. In Social theory re-wired (pp. 152–158). Routledge.
- Silampukau, Orkes. (2025). Stambul Arkipelagia Vol. 1&2 [Album]. Surabaya.




