Makam Burhan H.

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Orang-orang Zagreb berjalan cepat pagi itu. Sepatu mereka menjejak trotoar basah, menimbulkan bunyi ritmis yang anehnya menghiburku. Di kejauhan, puncak basilika Mirogoj mengintip di balik pepohonan cemara. Aku datang ke sini bukan untuk berdoa, melainkan mencari seseorang yang tak pernah benar-benar kukenal.

Namanya Burhan H.. Setidaknya, itulah nama yang kutemukan pada selembar rapor tua yang tersimpan di arsip universitas. Pada usia dua puluh lima tahun, ia tiba di Zagreb setelah menghabiskan dua pekan di Pécs, sebuah kota yang bersemayam di lereng Pegunungan Mecsek. Burhan H. melarikan diri ke Budapest setelah melewati serangkaian peristiwa yang menguras tenaga dan jiwa. Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu hanya sempat menghabiskan satu malam—malam yang terasa tak berkesudahan—di Jakarta sebelum kekasihnya membelikan tiket menuju Budapest.

Di dalam pesawat, kenangan akan peristiwa getir itu terus menghantuinya hingga ia tak sanggup memejamkan mata. Rumah keluarganya di Beliti telah digerebek serdadu, sementara jerit-jerit mereka dikuburkan bersama jasad-jasad yang dibenamkan di hutan karet di selatan wilayah kabupaten itu.

Tak ada yang tahu kenapa ia memilih Zagreb. “Kenapa tidak Moskow, Praha, atau Budapest seperti eksil lain?” tanya seorang kawan peneliti sejarahku lewat telepon semalam. Aku hanya diam. Bagiku, orang-orang yang terusir dari tanahnya tak pernah benar-benar memilih. Mereka sekadar menepi pada titik paling sunyi yang ditemukan nasib mereka.

Di pemakaman Mirogoj, aku berdiri lama di depan nisan tanpa nama. Hanya ada angka tahun: 1985. Petugas makam bilang, seorang pria Asia dimakamkan di sini tanpa identitas keluarga. Konon, ia mati di sebuah flat sewaan di Trnje, di meja makannya hanya ada selembar kertas puisi dan sisa roti keras.

Aku menunduk. Membayangkan Burhan H. duduk sendirian di kafe dekat Stasiun Glavni. Tangannya menggenggam gelas kopi, matanya menatap kabut Zagreb. Apa yang ia rindukan hari itu? Bau tanah basah halaman rumah masa kecilnya di Musi Rawas? Suara ibunya menyiangi kangkung di tepi sumur? Atau sekadar obrolan warung kopi berisi umpatan, tawa, dan doa?

Angin dingin berembus pelan. Daun cemara bergoyang pelan. Aku menulis namanya di notes ponselku: “Burhan H. Eksil. Mati tanpa nama, hidup dengan kata-kata.”

Di atas kepalaku, burung gagak terbang ke selatan. Mencari hangat, mencari pulang. Aku menatap langkah kakiku sendiri yang berat meninggalkan makam itu. Barangkali, kita semua, tak ubahnya eksil di kota yang tak mengenal nama kita. Hanya menepi, menunggu kabar pulang yang entah dari siapa.


Aku meninggalkan Mirogoj dengan langkah berat. Menyusuri jalan Ilica yang ramai toko roti dan butik kecil. Di setiap etalase, terpajang gaun musim panas berwarna cerah. Hidup di sini berjalan seperti biasa. Seolah tak ada satu pun nama asing yang pernah mati dalam sunyi di tanah ini.

Aku duduk di bangku kayu dekat trem nomor enam. Angin membawa bau roti panggang dan asap rokok murahan. Di seberang jalan, dua perempuan tua berbicara pelan dalam bahasa Kroasia. Aku menatap langit Zagreb yang abu-abu. Di langit seperti ini, barangkali Burhan H. sering berdiri, menatap tanpa tujuan.

Konon, sebelum ajal menjemputnya, ia bekerja di perpustakaan Fakultas Filsafat. Hari-harinya dihabiskan menyisir kartu-kartu katalog, menyalin petikan-petikan Marx dan Sartre untuk para mahasiswa. Tak ada yang mengetahui bahwa lelaki itu pernah menulis puisi-puisi berbahasa Indonesia tentang kekasih yang terpaksa ia khianati karena keadaan menuntunnya menikahi murid les bahasa Inggrisnya di Zagreb; juga tentang tanah air yang tak lagi bisa ia pulangi—dan, lebih dari itu, tak lagi berani ia pulangi.

Aku membayangkan flatnya di Trnje. Ruang sempit berbau kopi dingin dan debu buku. Di jendela kecil, tirai tipis berkibar tertiup angin pagi. Meja kayunya penuh catatan. Di atas kertas terakhir, kata-katanya mungkin berhenti pada satu titik. Tidak ada kalimat penutup. Tidak ada tanda seru. Hanya sebuah titik kecil, menandai akhir.

Orang-orang Zagreb tidak mengenalnya. Tak ada nama Burhan (apalagi Burhan H.!) di papan penghuni apartemen. Tak ada di daftar pegawai pemerintah. Hanya ada di dokumen arsip—yang terselip di buku hariannya—yang kusalin diam-diam semalam. Burhan H. Mati dalam sunyi, hidup dalam catatan orang asing.

Trem lewat dengan derit besi panjang. Penumpangnya menatap lurus ke depan, seolah tak ada yang lebih penting dari tujuan mereka hari ini. Mungkin begitulah caranya melupakan. Berjalan cepat, menatap lurus, dan pura-pura semua baik-baik saja.


Aku berjalan kaki ke Gornji Grad, mendaki jalan berbatu sempit menuju Museum of Broken Relationships. Tempat itu menempati bangunan tua berwarna krem di tepi alun-alun. Turis-turis menenteng kamera, bergantian masuk sambil berbisik kagum.

Di dalam, benda-benda patah hati dipajang dalam kotak kaca putih. Sebuah sepatu hak tinggi tunggal. Boneka beruang lusuh. Sekeping CD lagu cinta tahun 90-an. Semua memiliki kisah kehilangan. Aku membaca setiap narasi pendek di dinding. Perpisahan kekasih. Perceraian diam-diam. Kematian tanpa pamit.

Tiba-tiba aku terpikir: Museum ini seharusnya punya ruang khusus untuk para eksil. Mereka yang tercerabut dari tanah asal, tak sempat menyiapkan koper yang rapi, tak sempat memilih benda kenangan apa yang akan mereka bawa.

Bagiku, Burhan H. layak mendapat satu sudut di museum ini. Mungkin berupa sebuah buku catatan bahasa Indonesia, dengan tulisan miring kecil, berisi sajak rindu pada kampung halaman yang tak pernah menunggunya pulang. Atau sebuah cangkir keramik retak yang pernah ia pakai untuk menyeduh kopi tubruk di flatnya yang sempit di Trnje.

Aku menatap tulisan di salah satu dinding museum: “Some relationships end without closure. You leave, or are left, carrying only the silence.”

Bukankah eksil adalah patah hati terbesar? Bukan patah pada cinta satu orang, melainkan patah pada tanah, pohon, bau rumah, suara penjual bakso di ujung gang, peluit kereta di Stasiun Gambir yang tak pernah lagi didengarnya.

Di museum ini, aku merasa memahami Burhan lebih dalam. Bukan hanya sebagai nama dalam arsip rahasia, tetapi sebagai lelaki patah yang berjalan di antara kota-kota asing, sambil menulis puisi kepada negeri yang tak lagi mengakuinya.

Aku keluar museum dengan dada berat. Di luar, matahari musim semi menyorot genteng merah Zagreb dengan terang. Oh, Museum of Broken Relationships, batinku. Eksil adalah patah yang tak bisa dibawa pulang.


Aku duduk di kafe kecil di halaman museum, menyeruput espresso dalam cangkir putih mungil. Di depanku, pintu museum terbuka tutup, orang-orang keluar masuk membawa keheningan baru di dada mereka.

Aku membayangkan Burhan duduk di kursi ini, bertahun-tahun lalu, menatap alun-alun sambil menulis puisi di kertas kuitansi bekas. Mungkin ia menulis tentang Pasar Surulangun yang bising, tentang hujan sore di Tugumulyo, atau tentang bau jengkol di dapur ibunya. Hal-hal remeh yang tak bisa digantikan oleh roti pretzel Kroasia atau zinfandel Dalmacia.

Seorang kurator museum duduk di meja sebelahku. Aku memberanikan diri menyapa, bertanya tentang kemungkinan membuat pameran eksil. Ia menatapku lama, mengangkat alis pelan. “Eksil? Seperti para pengungsi perang Balkan?” tanyanya dalam bahasa Inggris pelan.

Aku menggeleng. “Tidak. Eksil politik. Mereka tidak membawa apa pun kecuali nama dan kenangan,” kataku.

Kurator itu terdiam sejenak. “Itu menarik,” katanya akhirnya. “tapi …,” dia berhenti.

Aku menunggu, sebelum dering ponsel di sakunya menyelamatkannya untuk mengeluarkan kata-kata penghiburan untukku.

Ach.

Dengan langkah berat, aku pulang sebelum sempat memasuki museum itu untuk kali kesekian. Di jalan, aku melihat gereja tua St. Mark dengan atap warna-warni biru merah itu, menatapku dengan tenang. Burhan pasti pernah melintas di sini juga, sendirian, menenteng kantong belanja plastik berisi roti tawar murah dan tomat untuk makan malamnya.

Malam itu, di hotel kecil dekat stasiun, aku teringat kata-kata yang kuucapkan kepada si kurator sebelum pamit tadi. “Ada patah hati yang lebih sunyi: menjadi eksil, dan mendapati tanah airmu adalah rumah yang tak lagi memberimu kunci.”

“Kembalilah besok,” tawarnya, yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. “Tadi aku mencarimu. Maaf, aku harus menjawab telepon penting.”

Aku mengangguk. “Insyaallah,” batinku.


Museum itu kecil saja, dinding putihnya dingin dan tenang. Namun di dalamnya, hati manusia berjejal tanpa suara. Ada pulpen plastik murahan yang dulu diberikan oleh kekasih pertama. Ada kalung imitasi yang tak pernah dikembalikan. Ada boneka panda kotor yang tak sempat dicuci sebelum kepergian orang yang dicintai.

Aku berjalan pelan menyusuri ruang pamer itu, menahan napas. Setiap benda punya cerita pendek yang menyesakkan dada. Tentang wanita Bosnia yang meninggalkan cermin rias ibunya karena tak sanggup menatap bayangan sendiri setelah perang. Tentang lelaki Serbia yang menyumbangkan sisa tiket kereta ke Zagreb—kereta yang seharusnya membawanya menuju pernikahan, tapi justru menuju perpisahan.

Aku berpikir, jika Burhan H. menyumbangkan sesuatu ke museum ini, mungkin itu akan berupa kunci rumah kontrakannya di Jagakarsa yang tak pernah lagi ia sentuh. Atau baju batik tuanya yang ia lipat rapi dalam koper saat berangkat ke sini, dengan harapan suatu hari akan ia kenakan kembali saat pulang ke tanah air.

Namun Burhan tak pernah pulang. Ia hidup di Zagreb, menjahit patah hatinya sendiri setiap malam. Makan roti keras dan tomat asin sambil menulis puisi pendek tentang laut Jawa. Membayangkan aroma cabai hijau tumis yang dimasak ibunya di Serang. Membayangkan bunyi toa masjid Magrib yang memanggil orang-orang pulang.

Museum ini menampung patah hati kolektif umat manusia. Bukan hanya patah hati cinta, tapi patah hati yang membuat orang kehilangan rumah. Dan Burhan H., di sudut sunyi Zagreb, adalah satu di antara mereka.


Aku berdiri lama di depan kotak kaca berisi potongan genteng kecil. Potongan itu milik seorang wanita tua dari Dubrovnik, yang menulis: “Ini sisa atap rumah kami sebelum hancur saat perang. Aku simpan, karena di sanalah dulu aku tidur di ranjang kayu bersama suamiku, mendengar hujan jatuh.”

Aku membayangkan Burhan H. membaca tulisan itu. Mungkin ia akan menulis kisah serupa di kertas museum. Namun, alih-alih genteng, ia akan menaruh setangkai melati kering dari halaman rumah kontrakannya di Jagakarsa. Ia akan menulis pelan:

“Ini melati dari rumah kontrakan di Jakarta Selatan. Aku petik subuh sebelum terbang ke Yugoslavia. Katanya, bunga ini menenangkan. Tapi di sini, ia hanya mengering dalam diam, seperti aku.”

“Ia tak pernah dimakamkan di Mirogoj,” kata laki-laki 29 tahun itu, serak dan datar.

“Jadi, di mana sebenarnya Burhan dimakamkan?” Aku tak bisa berbasa-basi lagi di hadapan cucu eksil yang memberiku buku harian sang kakek yang mengisahkan pelariannya dari Budapest. Di Zagreb, aku mungkin bisa lepas dari bayang perburuan, tulisnya di halaman terakhir buku yang kuterima dua pekan lalu itu. “Ada barang kakekmu yang kausumbang ke Museum Patah Hati atas nama orang lain … atau anonim?”

“Museum …?” Ia menunjuk Museum of Broken Relationships di seberang taman kota tempat kami biasa bertemu ini.

Aku diam. Ya, dia bahkan bisa menebaknya.

“Boleh aku ziarah?”

Dia mengangguk. Harapan merekah di kepalaku. “Jadi, di mana makamnya?”

“Di sini,” laki-laki itu menepuk-nepuk dada kirinya, dan tersenyum sebentar, sebentar saja.

Aku menatap langit Zagreb yang sendu. Mereka-reka perjalanan Burhan untuk punya rumah di negeri entah. Kutatap si cucu yang berjalan meninggalkan bangku taman. Lalu menatap tanganku sendiri, yang gemetar menahan dingin bulan April. []

Zagreb, 2019—Leiden, 2024

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top