Suatu Heru di Batas Ilmu Pengetahuan

Al-mar’u nitāju khalawātih, yang berarti “Seseorang adalah hasil dari saat-saat khalwat (kesendiriannya)”.  

Demikian penyair Heru mengirimkan mahfuzhot ini kepada saya melalui pesan WhatsApp di tengah kejengahan situasi politik negeri yang tak kunjung waras. Banjir-longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara—yang memakan ribuan korban dan kemudian ditanggapi pemerintah dengan asal bacot serta kebijakan tidak ditetapkannya sebagai bencana nasional—membuat kita hanya mengutuk diri sendiri.

Seperti tutup ketemu botol, ungkapan hikmah dan peristiwa ini menggeret kita pada situasi bagaimana kepribadian dan perilaku manusia dibentuk dalam momen-momen menyendiri dan kesepian. Sebagian peneliti menisbatkannya kepada Imam Syafi‘i atau tokoh lainnya, dengan penegasan bahwa maknanya sejalan dengan pernyataan para ulama seperti Ibnu Qayyim tentang pentingnya amal-amal yang dilakukan dalam kesendirian, baik dalam menjaga keteguhan maupun sebagai sebab kemunduran.

Namun, dalam konteks buku puisi Suatu Hari di Batas Ilmu Pengethuan, mahfuzhot ini merupakan pantulan cermin yang bergerak dua arah: keluar dan ke dalam. Bergerak keluar, artinya sebagai kritik terhadap kemanusiaan, yang jangankan dalam kesendirian berbuat kemungkaran, bahkan sekarang sudah menjadi kerja berjamaah untuk merampok kekayaan negara. Bergerak ke dalam, artinya sebagai bentuk tafakur atau muhasabah diri, sekaligus protes dalam menyikapi situasi yang terjadi di luar diri.  

Perasaan terasing (alienasi) ini merupakan tumpukan peristiwa selama bertahun-tahun yang ditandai dengan hajatan pemilu dan janji-janji kampanye mulut berbusa, dipoles dengan pembelaan terhadap rakyat kecil serta mimpi membangun peradaban yang gemilang. Bertahun-tahun saya mendengar kebohongan ini dan dipaksa mendengarkan atas nama demokrasi dan cinta tanah air, yang mana slogan ini pula yang kerap diteriakan melalui mulut TOA organisasi-organisasi masyarakat, baik yang nasionalisme maupun agama, yang suaranya memekakakan telinga dan menyakiti isi kepala saya.

Sebab faktanya organisasi-organisasi ini tidak bisa berbuat apa-apa, melempem, ketika negeri ini membutuhkan tempat bersandar di tengah kejahatan arus politik yang deras. Selebihnya, hanya kue demokrasi yang dibagi rata. Rakyat hanya diambil suaranya, setelahnya mereka tutup telinga. Korupsi? Jangan ditanya.

Rasa frustasi ini semakin memuncak ketika saya membaca berita presiden Prabowo menandatangani Board of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Donald Trump di tengah genosida yang terjadi di Palestina. Tidak dapat diakal lagi, kata Heru.

Bagaimana mungkin sekelas pemimpin negara mengambil keputusan yang ceroboh dengan mengabaikan nasihat-nasihat para ulama dan rakyatnya. Kenapa seorang pemimpin sekelas kepala negara mengenyampingkan sepak terjang Amerika serikat dan Israel yang kerap berkhianat dan melanggar hukum internasional.

Darah para pejuang seperti tidak ada artinya, dipendam dalam-dalam di kuburnya. Hanya nyanyian seremonial yang diadakan setiap upacara kemerdekaan, yang semakin menambah ironi kepedihan tak terperi. Maka dari pepatah ini, bagaimana perspektif saya bekerja membaca puisi-puisi Heru Joni Putra yang termaktub dalam buku Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan.

Hampir tidak pernah saya mendengar Heru membicarakan tasawuf dalam konteks kesusastraan, baik dalam acara-acara diskusi kesusastraan di Jogja maupun di tempat-tempat lain. Saya mengenal Heru sebagai seorang pemikir tekun, terutama pada sosok kritikus sastra, Terry Eagleton. Bahkan, Jual Buku Sastra pernah membuat kelas khusus “Heru Joni Putra” hanya untuk membahas teori Terry Eagleton. Kecondongannya ini menggandeng saya pada puisi-puisinya yang berupa perlambang-perlambang, simbol-simbol, kias, yang dibungkus dalam satir lembut, bahkan ke arah komedi gelap.   

Heru Joni Putra. (Instagram: @hjp_hjp)

Lebih jauh ke belakang, Heru mengingatkan saya pada tokoh yang ia abadikan dalam tesisnya dan telah menjadi buku yang berjudul Suara yang Lebih Keras: Catatan dari Makam Tan Malaka. Saya tidak tahu apakah Heru mempunyai kecendrungan pemikiran yang sama dengan Tan Malaka atau hanya sekadar tertarik dengan pemikiran-pemikirannya.

Tentu saja laku dan pengetahuan adalah dua hal yang berbeda. Dalam tradisi Islam, pengetahuan akan menjadi ilmu jika itu dipraktikan. Sebuah pengetahuan belum menjadi ilmu jika belum diamalkan. Hal ini menjadi batas dunia yang dikenal antara sosok Heru dan ruang “liyan” penyairnya. Batas ini mempertegas kemungkinan-kemungkinan baru antara hasrat keingintahuan dan laku pengetahuan. Ruang “liyan” ini semacam tafakur dan muhasabah diri terkait keterbatasan pandangan manusia pada dunia.

Membuka kemungkinan-kemungkinan baru dengan mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan lama. Menggali-menguburnya berulang-ulang di dalam ketidaktahuan. Menjadi kawan buru-memburu, tafsir menafsir seperti ujung akar/di sanding batu, runding-berunding seperti retak batu/ dengan pilinan akar, bahkan hantam-menghantam, deram-menderam, tikam menikam.

Penghormatan Untuk Ketidaktahuan

aku dan ketidaktahuan
kawan buru-memburu

di mana saja ia sembunyi

aku pasti menemukannya
tanpa perlu aku
mempelajari
sungsang langkah kakinya

ke mana pun aku menghindar

ketidaktahuan
pasti mencegatku
tanpa perlu ia
mengamati
senjang gerak-gerikku

pernah kukira
aku dan ketidaktahuan
tafsir menafsir seperti ujung akar
dengan sanding batu
dan pernah kuduga
aku dan ketidaktahuan
runding-berunding seperti retak batu
dengan pilinan akar

toh tetap saja aku dan ketidaktahuan
kawan hantam-menghantam
tiada henti deram-menderam
dan maunya kini tikam-menikam

tapi ketidaktahuan adalah kawan
yang takkan bisa dikandaskan

aku selalu mengenalinya
sekalipun babak-belur mukanya
aku bisa mendengar
hilang-timbul jerit ketidaktahuan
di setiap kata-kataku
aku bisa merasakan
tegak-rebah raga ketidaktahuan
di setiap tindak-lakuku

tanpa ketidaktahuan
aku tak bisa
memahami diriku sendiri.

(hal. 39)

Perangkat-perangkat pengetahuan yang didulang-sanjung sekarang, barangkali akan berubah ketika zaman menunjukan pengetahuan-pengetahuan baru. Sebab kesejatian yang tertuang dalam puisi di atas adalah ketidaktahuan itu sendiri. Merasa bodoh menjadi penting untuk memperoleh pengetahuan baru.

Sebab merasa pintar merupakan bentuk kesombongan yang menyamar, sebuah kamuflase untuk menutupi ketidakberdayaan pada hidup dan laku zaman yang menyeretnya. Meski dengan baku-hantam, tikam-menikam, ketidaktahuan akan selalu menjadi bayangan di bawah sinar matahari pengetahuan.

Maka, dari ungkapan “Seseorang adalah hasil dari saat-saat khalwat (kesendiriannya)” kita akan memasuki ruang privat Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan, yang merupakan “suara lain”—meminjam istilah Otavio Pazz—bagi penyairnya. Seperti kata Chairil, “ini ruangan pas bebas”, enggan terikat pada apapun.

Ia hanya ingin berdiri sebagai manusia yang tidak ingin terseret arus ideologi yang mengepungnya. Seperti pada “Surat Kepercayaan Gelanggang” yang dirumuskannya bersama Angkatan ‘45, bahwa dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri. 

Kemudian Pazz menimpali dengan pikiran yang sama, bahwa ia ingin terbebas dari belenggu kapitalisme ekstrim dan komunis totaliter yang menarik-nariknya dalam pusaran ideologi. Maka baik Chairil maupun Pazz keduanya sama-sama tumbuh dalam situasi revolusi, di mana ideologi saling tarik menarik untuk mendapatkan hak asuh negara yang baru mbrojol dan mendengar tangisan pertamanya.

Sementara penyair Heru, juga saya, tumbuh dalam situasi politik yang tidak jelas kemana arahnya. Ideologi negara—yang sering dikampanyekan ormas nasionalis dan ormas keagamaan—hanya sebagai alat legitimasi kekuasaan, bukan pengejawantahan praktik-praktiknya. Masa kekosongan ini—mungkin lebih tepatnya masa ketidakjelasan—telah menelantarkan hati dan pikiran dan tubuh kita ke dalam situasi yang tak terkatakan.

Kita hampir sableng oleh tingkah pejabat-pejabatnya yang cengengesan di tengah situasi negara yang berjalan ke arah yang tidak terarah. Rakyat mengkritik, tetapi justru dituduh sebagai pengkhianat dan pelaku makar. Tahu, ada yang bermain dua kaki. Namun, hal itu bisa dibicarakan di belakang panggung, dengan berbagai kemungkinan skenario di luar teks. Tetapi faktanya pemerintah tidak menjadi pendengar yang arif di tengah para pejabatnya yang berkhianat dan keluar dari jalur konstitusi dengan mengatasnamakan negara dan hidup mewah dari uang rakyat.  

Sumber Foto: Facebook Heru Joni Putra

Situasi-situasi demikian barangkali yang membuat penyair Heru berbicara dengan “keterasingannya” melalui puisi-puisinya yang aligoris dan filosofis; bergerak dari kerak hatinya yang dalam di atas permukaaan bahasa yang tenang, namun membawa gelombang yang besar. Berbanding terbalik dengan pilihan musik penyairnya yang berisik, grunge, rock, blues. Juga sikap kritisnya yang terang-terangan pada pemerintah dan ketidakadilan yang disuarakannya melalui media sosial.

Pilihannya ini barangkali bukan tanpa sebab, melainkan dunia personal “yang tak terungkapkan” kadang lebih intim disuarakan dengan tenang, dan tentu ini jatuh pada pilihannya menulis puisi, seperti pengakuan penyairnya pada saat diskusi kumpulan puisinya di Warung Sastra, Jumat, 19 Desember 2025.

Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan membicarakan semesta Heru. Dari ikatan semesta tersebut, manusia—yang merupakan aktor utama kehidupan—menjadi fokus utamanya. Manusia sebagai khalifah dalam buku puisi ini, beberapa bagian nampaknya digeprek habis-habisan dan dipertanyakan ulang stastusnya.

Beberapa bagiannya lagi sebagai cermin penyairnya. Hal ini merujuk pada konsep dasar rububiyah, yang dalam konteks ini manusia sebagai makhluk sekaligus khalifah Tuhan di bumi. Konsep rububiyah merupakan konsep dasar dalam Islam yang berarti mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur segala sesuatu di alam semesta, dari menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, hingga mendatangkan manfaat dan bahaya.

Dasar kata dari rububiyah adalah rabb. “Rabb” secara harfiah berarti “tuan”, “pemilik”, “penguasa”, “pemelihara”, atau “pendidik”. Istilah “rububiyah” (bentuk kata benda abstrak atau mashdar dari akar kata tersebut) merujuk pada sifat-sifat ketuhanan yang terkait dengan pemeliharaan, penciptaan, pengaturan, dan kepemilikan alam semesta oleh Tuhan.

Jalanku Pulang

ketika aku berenang
sebuah batu besar
di tengah sungai
terseret oleh kalbuku

begitu juga
gairah mudaku
mestinya membiarkan air telaga
mempelajari keheningan
di puncak gunung sana

o betapa parau
arus sungai ini

sedang aku sudah terlanjur
menghanyutkan badan

sebentar saja
sudah sampai aku
di pekak bumi

di susut cahaya dasar samudra

o jika bukan karena
percakapan ikan-ikan purba

tiada kutahu sedikit pun
di permukaan sana
ada sehelai benang dari baju ibu
bersitahan
di atas gelombang garang

berpilin dengan jalanku pulang

(hal. 65)

Hasrat duniawi yang menyeretnya ke dalam arus pengetahuan justru membuatnya tersangkut pada ketidaktahuan yang terlambat disadarinya. Gelombang purbawi hasrat dunia menyeretnya sebentar saja/sudah sampai aku/di pekak bumi//.

Namun keterlambatan itu menjadi kabar baik di susut cahaya dasar Samudra//o jika bukan karena/percakapan ikan-ikan purba// tiada kutahu sedikit pun/di permukaan sana/ada sehelai benang dari baju ibu/bersitahan/di atas gelombang garang//berpilin dengan jalanku pulang//.

Jalan pulang adalah kata lain untuk ibu. Semesta yang melahirkan kehidupan, sumber kearifan yang dikandungnya. Maka konsep “rububiyah” menjadi penyadaran di dalam ruang hidupnya. Memelihara kehidupan seperti keterikatan antara ibu dan anaknya, yang artinya menjadi sebuah keniscayaan. 

Menariknya, kata “rabbi” ini diadopsi ke dalam bahasa Jawa menjadi “rabi” yang berarti istri/ibu. Karena merekalah yang mengatur, memelihara, mendidik, berkuasa, dan menciptakan atmosfir ruang dalam semesta rumah tangga yang resonansinya sanggup menyentuh berbagai lini kehidupan.

Konsep ini sejalan dengan apa yang dikatakan Ibnu Arabi dalam kitab Fusus al-Hikam, bahwa perempuan merupakan tempat (mazhar) yang paling sempurna untuk menyaksikan manifestasi (tajalli) kehadiran Ilahi.

Konsep rububiyah ini sejalan dengan hadis “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak” (Al-Baihaqi) dan “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al Anbiya: 107). Pengertian akhlak ini kadang diartikan sebatas unggah-ungguh yang merupakan citraan luar saja, bukan pada esensi.

Padahal konsep akhlak ini bersumber dari dalam batin, yang kemudian pancarannya mewujud dalam perilaku yang terhubung dengan sifat-sifat kenabian, yang merupakan rahmat atau kasih bagi seluruh alam, yang meliputi tanggungjawab diri, sosial, dan lingkungan. Lain halnya dengan adab, yang disandarkan pada kearifan lokal masyarakat setempat, yang sering disebut dengan tatakrama atau adat kesopanan. Maka parameter tatakrama setiap daerah, suku, negara, berbeda-beda. Meski semuanya berada di bawah payung akhlak.

Adab lebih ke stilisasi tradisi masyarakat setempat. Jadi, memandang sebuah peradaban suatu daerah mesti dengan kacamata historis dan kebiasaan masyarakat tersebut. Kalau tidak, pasti akan terjadi kesalahpahaman dalam memaknainya. Maka, perlakuan negara ke setiap daerah pun mesti menggunakan adab (kearifan lokal) masyarakat setempat, terutama mengenai kebijakan-kebijakan politik. Tidak digebyah uyah. Supaya tidak terjadi konsleting dari dua arus yang berbeda.

Demikian pula yang dilakukan oleh para ulama terdahulu dalam berdakwah. Mereka senantiasa mengedepankan adab agar penyampaian nilai-nilai agama yang diajarkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Oleh karena itu, mempelajari adab dalam konteks kehidupan bernegara menjadi suatu keharusan.

Dengan demikian, kesalahpahaman dan miskomunikasi dapat diminimalkan sejak dini. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa lemahnya komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah telah berkontribusi terhadap munculnya berbagai konflik, seperti pemberontakan DI/TII, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), konflik antara Swapraja Kesultanan Ternate yang berhaluan federalis dengan kelompok Pro-Republik (1945–1950), serta Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Minangkabau.

Berbagai peristiwa tersebut, dalam kadar yang berbeda-beda, berkaitan dengan buruknya komunikasi pemerintah pusat dan daerah, baik menyangkut pemenuhan janji-janji politik maupun kebijakan politik hukum adat di daerah.

Bagai Kerbau Bagai Bangau

hanya deras arus sungai
dari hulu sana
yang terus berupaya
memahami
retak tanah kampung halamanku

ia tahu
tanggul yang segera jebol itu
masih berupaya mewakili
semua keinginan bicara

ia juga tahu pohon beringin
yang bakal hanyut itu
sedang belajar mengibaratkan
semua harapan
yang telah diucapkan

tapi entah apa kehendak
arus sungai itu kini
tatkala memasuki lagi
kampung halamanku

yang kutahu kini
ke mana-mana memandang
semua sudah jadi kubangan

mungkin aku
pernah sangat riang jadi kerbau
mungkin aku pernah tak ingin
hanya jadi bangau

ah perumpamaan lama

apa mau kalian sebenarnya

sampai hari ini masih suka

bikin sederhana sekarat dunia

(hal. 57)

Seperti apa yang dikatakan Eagleton, sastra bekerja melalui retakan ideologi, bukan slogan politik. Demikian penyair Heru menarik garis pernyataan ini ke dalam puisinya, di antara traumatik masa lalu dan kesadaran menggugat ketidakadilan.

Bahwa sikap pemerintah pusat yang jumawa dan otoriterian telah mengorbankan banyak hal dalam kemanusiaan. Ketidakpercayaan, traumatik, dan rasa sakit yang dipanggulnya. Ditambah pemerintah meremehkan peristiwa tersebut tanpa membangun kembali jiwanya yang runtuh. Seolah-olah peristiwa itu hilang begitu saja, bikin sederhana sekarat dunia.

Sumber: Instagram @hjp_hjp

Sikap kemanusiaan (rububiyah) inilah yang kemudian tampak dalam diri penyair Heru. Disadari ataupun tidak, ia telah membawa perangkat keilmuannya ke dalam alam bawah sadar sehingga memengaruhi cara pandang dan proses kreatifnya. Ia menerima hal-hal yang dipandangnya benar, sekaligus menolak apa yang tidak sejalan dengan keyakinannya. Dalam puisi-puisinya, Heru bergerak secara bebas sebagai manusia yang utuh, tanpa terikat pada satu ideologi tertentu maupun menolak ideologi tertentu.

Dengan kata lain, baginya kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun diucapkan oleh seekor beruk. Sebaliknya, kesalahan tetaplah kesalahan, meskipun diucapkan oleh seseorang yang dianggap suci. Pandangan ini sejalan dengan pepatah Arab yang kerap dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib: Unẓur mā qāla wa lā tanẓur man qāla, yang berarti, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya.”

Petani Tak Bersawah

aku berhak mengerjakan
satu hal sederhana
dalam hidupku

menggali tanah pelan-pelan
membuat sebuah sungai
dengan sangat santai

sehingga cangkulku
punya waktu
untuk belajar bicara

tanpa harus buru-buru
ditunggu oleh gunung
yang mulai terbenam
atau laut yang akan terbalik

dan aku berhak leyeh-leyeh
di antara bumi dan langit

berselonjor seharian
di angkasa raya
bersama pengetahuan
yang belum
ditemukan fisikawan

lantas
segala berat dalam diriku
dapat pulang sejenak

ke dalam sebuah batu besar
yang tersangkut
di pinggir jurang

(hal. 8)

Puisi “Petani Tak Bersawah” dapat dibaca sebagai kritik ideologis terhadap sistem kapitalisme yang menempatkan manusia dalam logika produktivitas dan kepemilikan. Melalui gambaran petani yang kehilangan ruang produksi, puisi ini memperlihatkan bentuk alienasi kerja, yaitu keterasingan manusia dari pekerjaan, hasil kerja, serta makna dirinya sebagai subjek sosial.

Namun, kritik yang dibangun tidak hadir dalam bentuk perlawanan terbuka atau seruan revolusioner, melainkan melalui pengalaman personal tokoh lirik yang merepresentasikan kesadaran kelas pada tingkat individual. Menariknya, penyampaian dalam puisi ini menggunakan diksi kolokial (sehari-hari) namun penuh ironi, bahkan terkesan “bermain-main”, dan aku berhak leyeh-leyeh/di antara bumi dan langit.

Kesadaran tersebut meski belum berkembang menjadi gerakan kolektif, tetapi telah menunjukkan adanya kegelisahan terhadap struktur sosial yang tidak adil. Dalam perspektif Terry Eagleton, kekuatan sastra justru terletak pada kemampuannya membuka celah dalam ideologi dominan melalui representasi pengalaman, kontradiksi, dan ketegangan sosial, bukan semata-mata melalui slogan politik.

Dengan demikian, “Petani Tak Bersawah” bekerja sebagai teks yang mengungkap keterbatasan sistem kapitalistik sekaligus menghadirkan ruang refleksi mengenai posisi manusia di dalam struktur ekonomi yang mengekangnya.

Penyair Heru meletakan judul puisi “Petani Tak Bersawah” menjadi dua judul yang sama, namun memuat pengertian yang berbeda, yakni pada halaman 8 dan halaman 11. Ini bukan tanpa disadari oleh penyairnya, hal ini merupakan himbauan keras terhadap nasib petani. Penyair Heru nampaknya sengaja menghilangkan kata “buruh” dengan mengubahnya menjadi “Petani Tak Bersawah”, di mana penguasaan lahan kerap dimonopoli oleh pemilik modal.

Oleh karenanya dalam Islam, tidak diperkenankan seseorang menimbun harta, karena akan berdampak pada sirkulasi ekonomi yang tidak merata, sehingga mengakibatkan ketidakadilan sosial bagi masyarakatnya. Dan hal ini bertentangan konsep rububiyah, seperti dalam puisi-puisinya Heru, yang dalam praktiknya konsep rububiyah ini menjadi kritik terhadap ketidakadilan yang mengekangnya.

Menafsir puisi-puisi Heru, barangkali persis seperti membaca puisinya yang berjudul “Petani Tak Bersawah” pada halaman 11. Dalam pencarian jarum dalam jerami, bisa saja tertusuk jarum itu atau tidak menemukannya sama sekali. Begitulah sebuah kebenaran dalam buku Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan, yang nyaris hilang dalam praktik idelogi bangsa ini.

Petani Tak Bersawah

jarum dalam jerami
tak sudah aku mencari

jarum dalam jerami
tak henti memanggil
telapak kakiku

jarum dalam jerami
tak sudah aku mencari

jarum dalam jerami
tak henti memanggil
serat-serat dagingku

memanggil urat-urat nadiku

memanggil tulang-belulangku

jarum dalam jerami
tak sudah aku mencari

jarum dalam jerami
ujungnya mengarah
ke mana lagi

jarum dalam jerami
jangan-jangan
mengintai
kemeja guruku
yang koyak ragi
mengintai
bendera negeriku
yang putus tali

jarum dalam jerami
ujungnya mengarah
ke mana lagi

jarum dalam jerami
jangan-jangan
mengintai kupak dadaku

tak sudah-sudah aku mencari
tak lelah-lelah
aku menyibak

menyingkap membalik jerami

(hal. 11)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top