
Laki-laki tua itu sudah berdiri di tanah lapang. Dia di sana setiap Kamis sore. Anak-anak pun berkerumun. Mereka tidak mau melewatkan pertunjukan yang datang sekali seminggu ini. Dari seorang laki-laki tua bertopi cokelat. Dia datang bersama Marionette, si Boneka Tali Penari.
Tak satu pun orang berani mengajak laki-laki tua itu bicara. Wajahnya terlalu kaku. Tanpa senyuman. Namun, kalau si Boneka Tali Penari sudah beraksi, dia akan menjelma menjadi seorang aktor. Dia begitu ekspresif dengan Marionette, boneka talinya. Marionette dipertunjukkan dengan tarian dan gerakan, khususnya ketika musik sudah dinyalakan.
Seperti dua minggu lalu, Marionette membawakan tiga buah lagu. Kotak hitam diletakkan laki-laki tua tak jauh dari Marionette. Kalau ada yang membawa uang sore itu, mereka boleh memasukkannya. Seakan ini sebuah pertunjukan. Ajaibnya, anak-anak selalu datang dengan uang saku mereka.
Kadang mereka sengaja tidak belanja hari itu hanya untuk memberikan uangnya kepada Marionette, si Boneka Tali Penari. Bagi mereka, lebih baik tak jajan daripada tidak menyaksikan pertunjukan Marionette setiap Kamis sore.
“Pantom, hari ini kau bawa berapa?” tanya Arkila kepada Pantom yang datang dengan senyum semringah.
“Aku menyimpan uangku sejak hari Minggu. Tak kubelanjakan. Sebagai gantinya, aku minta Ibu menyiapkan bekal untukku. Setiap hari,” jawabnya.
“Demi Marionette?” tanya Arkila sekali lagi.
“Demi Marionette yang membuatku jatuh cinta dengan ceritanya,” jawab Pantom meniru-niru gaya laki-laki tua itu membawakan cerita.
“Baiklah. Kita duduk di mana?”
Pantom melirik sekeliling. Orang-orang sudah ramai.
“Aku mau persis duduk di depan Marionette.”
Pantom memastikan tempat duduk sembari menunggu laki-laki tua itu berberes.
“Kali ini dia akan membawakan apa?” tanya Arkila menyusul langkah Pantom dan duduk di sebelah kirinya.
“Entahlah. Apa saja asalkan sebuah pertunjukan,” jawab Pantom.
“Aku rasa tidak. Aku menebak kali ini dia hanya menari. Raut wajak Pak Tua itu sedang kelelahan tampaknya,” jawab Arkila sembari menatap laki-laki tua itu.
“Apa saja asalkan aku bisa menyaksikan Marionette,” jawab Pantom sembari menyuruh Arkila diam karena laki-laki tua itu sudah mengeluarkan Marionette.
Musik terdengar mengeras. Orang-orang yang masih berdiri dari kejauhan terus merapat, membentuk setengah lingkaran. Mereka seakan-akan menjadi penonton di sebuah panggung mewah. Mereka langsung diam menunggu penampilan Marionette, si Boneka Tali Penari.
Marionette kali ini menari. Ia menari dengan irama musik dari Ava Della Pietra. Judulnya sama dengan dirinya. Marionette.
You’re talking to me, but i don’t hear a word
Focusing on my breath and the blur in my eyes
Trying to not cry
Pantom tahu lagu yang berjudul “Marionatte” itu. Sejak laki-laki tua itu datang ke tanah lapang dekat rumahnya, ia mencari tahu nama boneka yang selalu dibawanya saat pertunjukan. Ia membuka Google dan YouTube. Ia menemukan lagu Ava Della Pietra. Judulnya “Marionette”. Lagu itulah yang kemudian diputarnya setiap hari dalam kamarnya. Sejak dia jatuh cinta dengan Marionette.
Setelah Marionette menari dengan lagu Ava Della Pietra, laki-laki tua itu menghadirkan sebuah pertunjukan. Marionette memegang sesuatu di tangannya. Sebuah balon hijau. Ia meletakkan balon itu ke mulut—seakan meniupnya. Baru beberapa tiupan, balon itu kembali ke bentuk semula. Marionette tidak berhasil. Lalu, dia coba sekali lagi. Kembali dia tiup balon itu hingga mengembang. Namun, balon itu kembali ke bentuk semula.
Itu bukan ketidaksengajaan, tapi memang ceritanya. Seakan-akan Marionette sedang dikisahkan berjuang untuk meniup balon itu mengembang. Sekali lagi, laki-laki tua itu membuat Marionette meniup kembali balon hijau itu. Dan kali ini berhasil. Balonnya mengembang sempurna, membesar, dan membesar. Kaki Marionette tiba-tiba melayang. Ia kemudian memegang ujung balon itu sambil melayang ke udara seakan-akan bisa mencapai sebuah mimpi. Terbang.
Namun, tak seorang pun mengira, balon itu meletus. Marionette jatuh ke lantai dan kakinya patah. Musik sedih mengalun dan cerita selesai. Semua orang bertepuk tangan. Laki-laki tua itu menunduk dan kemudian orang-orang memasukkan uang ke dalam kotak hitam.
Laki-laki tua itu tidak pernah menolak berapa pun pemberian. Ia sadar karena melakukan pertunjukan di perkampungan. Ia paham orang-orang tidak akan mampu membayar banyak. Kata Pantom, bagi laki-laki tua itu pertunjukan Marionette adalah sebuah kebahagiaan.
“Aku rasa tidak,” jawab Arkila saat perjalanan pulang.
“Kenapa tidak?” tanya Pantom.
“Akhir-akhir ini aku sering melihat laki-laki tua itu meneteskan air mata setelah pertunjukan selesai,” Arkila menjawab dengan yakin.
“Itu tangisan haru karena dia berhasil,” jawab Panton dengan yakin.
“Benar juga,” Arkila tidak membantah lagi, “Aku mampir ke rumahmu ya, mau mendengar Marionette yang selalu kauputar.”
“Tonton dari hape-mu saja,” Panton menolak dikunjungi.
“Tidak seru,” balas Arkila sembari cemberut.
Kemudian mereka pulang ke rumah mereka dengan pikiran masing-masing. Pertunjukan Marionette tiba-tiba mengusik hatinya. Apa maknanya ya, ujar Pantom sendiri. Marionette yang terus berjuang meniup balon, akhirnya berhasil. Namun, baru saja ia berhasil terbang dengan balon itu, dia jatuh begitu keras.
Setiap pulang menonton pertunjukan Marionette, Pantom selalu memikirkan makna dari sebuah pertunjukan.
***
Kamis sore. Pantom dan Arkila datang lebih awal. Rasanya seminggu begitu lama menanti kedatangan Marionette. Mereka menunggu sembari membahas pertunjukan Pantom minggu sebelumnya.
“Kenapa laki-laki tua itu tidak membiarkan Marionette terbang dengan indah dan menutup ceritanya. Kan Marionette sudah berhasil meniup balon itu menjadi balon udara,” celetuk Arkila.
“Setiap impian tidak selamanya mulus,” jawab Pantom akhirnya. Itulah perenungannya seminggu ini.
Orang-orang mulai berisik. Sudah satu jam mereka menunggu. Marionette dan laki-laki tua itu belum juga datang.
“Apa dia sakit?” tanya Arkila.
Pantom bergeming. Dia tidak mau menerka-nerka. Jika benar laki-laki tua itu sakit, itu menjadi hal yang menyedihkan untuknya. Minggu ini tanpa Marionette. Padahal, dia sudah menyimpan uangnya sejak Jumat kemarin. Dia ingin memberikan kepada Marionette. Kali ini agak banyak karena pertunjukan Marionette minggu kemarin membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Dia terusik.
“Di mana rumah laki-laki tua itu ya?” sebuah suara agak jauh datang dari belakang Pantom.
“Kalau sakit, kita bisa kunjungi,” jawab yang lainnya.
Pantom mengingat kembali. Sejak setahun belakangan dia menyaksikan Marionette, rasanya belum pernah sekali pun laki-laki tua itu libur. Pada bulan Ramadan saja, dia juga tidak absen dan bahkan datang lebih awal agar bisa pamit sebelum berbuka. Hari Lebaran apalagi, dia justru sering terlihat dari satu kampung ke kampung lainnya.
Pantom benar-benar gelisah. Ini kali pertama laki-laki tua itu tak datang. Tanpa kabar apa pun. Dia menyesal selama ini tidak mengajak laki-laki tua itu bercerita. Dia bisa saja menanyakan alamat rumah Marionette. Jika sakit, dia bisa mengunjungi.
Satu per satu orang bubar hingga tak ada lagi orang-orang di tanah lapang. Hanya pantom dan Arkila yang masih setia menanti Marionette dan laki-laki tua itu. Menjelang malam, tampak sekali Pantom kecewa. Sangat sangat kecewa. Minggu ini terlewati tanpa Marionette.
***
Orang-orang menemukan laki-laki tua itu tertidur untuk selama-lamanya. Di sebuah kontrakan berjarak 5 kilometer dari tanah lapang, tempat Pantom dan Arkila selalu menanti pertunjukannya.
Semua orang menerima kepergian laki-laki itu. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah mereka terima. Pantom pun begitu. Sejak tadi dia sudah meremas tangannya, menyesali telah berkali-kali menonton pertunjukan Marionatte. Ia menyesal telah menyimpan uang jajannya untuk laki-laki tua itu. Arkila menyaksikan betapa sumpah serapah bisa saja tiba-tiba keluar dari mulut Pantom.
Marionette bukanlah boneka. Dia adalah anak kandung dari laki-laki tua itu. Anak itu meninggal pada usia 3 tahun, menyusul ibunya yang meninggal setelah melahirkan. Namun, laki-laki tua itu tidak menguburnya. Ia mengawetkan anaknya. Anaknya itulah yang kemudian menjadi Marionette. []




