
| Judul | TUANKU LINTAU Cerita Rakyat Minangkabau |
| Penulis | Musthafa Ibrahim |
| Penerbit | Akar Indonesia, Bekerja Sama dengan Pemda. Kabupaten Tanah Datar |
| Tebal | Xiv + 62 Halaman |
Tuanku Lintau (Cerita Rakyat Minangkabau) karya Musthafa Ibrahim berupaya mengajak pembaca untuk kembali menziarahi cerita-cerita rakyat Minangkabau. Buku ini menyajikan tiga cerita yang dituliskan dengan gaya penulisan sastra yang menarik untuk dibaca. Tiga cerita itu adalah, Tuanku Lintau yang juga dijadikan judul buku ini, Puti Andam Dewi, dan Harimau Agam. Ketiga cerita yang disajikan merujuk pada cerita yang berkembang di tengah masyarakat Minangkabau.
Cerita-cerita dalam buku ini kaya akan metafora, terutama pada cerita Puti Andam Dewi. Kepiawaian Musthafa Ibrahim dalam mengawinkan pola alam dengan suasana ceritanya, menjadikan cerita ini terasa bernyawa dan menggiring psikologi pembaca. Penulis terlihat benar-benar mengerti dengan lanskap yang menjadi latar cerita.
Cerita pertama, Tuanku Lintau. Berkisah tentang Aminullah atau Angku Pandito Mulano yang berpindah dari kediamannya semula di Saruaso ke Nagari Tapi Selo. Perpindahan itu terjadi setelah ia menuntut ilmu adat dan agama secara mendalam.
Pemahamannya mengantarkan ia pada sebuah keputusan untuk berpindah ke nagari Tapi Selo di Lintau Buo karena ia merasa di Saruaso ada yang tidak sesuai dengan aturan agama, Aminullah dan kaumnya diyakini beraliran cukup keras dalam menyebarkan Islam. Agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka ia dan kaumnya memilih untuk hijrah dari Saruaso.

Aminullah adalah nama kecil dari Tuanku Lintau, gelar Tuanku Lintau diberikan oleh pengikutnya ketika ia menjadi pemimpin perang. Dalam cerita ini, Tuanku Lintau diceritakan sebagai seorang pemimpin perang yang jenius. Kecerdasannya dalam menyusun strategi perang didukung oleh lokasi pertahanan yang strategis membuat tantara Belanda yang ingin menguasai Minangkabau kala itu kocar-kacir.
Untuk melawan dan menghadang pasukan Tuanku Lintau, Belanda bahkan sampai membuat benteng pertahahanan di daerah Tanah Datar, benteng itu bernama Van Der Capellen. Tuanku Lintau pada ujungnya gugur juga, gugur di tangan penghianat yang menjadi kaki tangan Belanda.
Berbeda dengan cerita pertama yang mengisahkan perjuangan heroik Tuanku Lintau, cerita kedua justru berkisah tentang hubungan percintaan Puti Andam Dewi dengan Nan Gombang Pituanan. Berlatar di dusun Mandeh, Pesisir Selatan. Dusun Mandeh kala itu dipimpin oleh seorang raja zalim Bernama Sipatokah yang datang dari benua seberang.
Kepemimpinan Sipatokah telah mendatangkan kepedihan kepada rakyat Mandeh. Mula-mula raja ini hanya mencari rempah, namun lambat laun semua hasil bumi dikeruknya hingga hutan-hutan gundul, kayu-kayu dibabat dan dijual ke pelabuhan untuk bahan dasar pembuatan kapal.

Kezaliman Sipatokah membuat banyak orang melarikan diri karena tidak kuat menahan pedih dibawah penguasaannya, termasuk Rajo Tuo, ayah Puti Andam Dewi. Karena ayahnya mengasingkan diri, Andam Dewi dan ibunya hanya tinggal berdua mendiami rumahya.
Suatu ketika, seorang pemuda gagah perkasa yang sedang mencari ayahnya menemukan rumah Andam Dewi di tengah keputus asaan sebab ia tidak menemukan seorangpun sepanjang perjalanannya di pesisiran. Dengan lapang hati mandeh Andam Dewi mempersilahkan pemuda itu tinggal bersama mereka, pemuda itulah ialah Nan Gombang Pituanan yang kemudian menjadi suami Andam Dewi.
Gombang dan Andam Dewi hidup penuh cinta hingga pada akhirnya mereka harus berpisah. Perpisahan itu disebabkan keinginan Gombang untuk mencari ayahnya yang belum membuahkan hasil, maka Gombang meninggalkan istrinya yang sedang hamil dan mereka berpisah dengan penuh kesedihan dan kebimbangan, Andam Dewi tinggal dengan anak di kandungannya serta kesedihan yang mendalam, Gombang melanjutkan mencari ayahnya dengan kebimbangan dan kerinduan akan istrinya yang selalu menggganggu pikirannya.
Cerita ketiga, Harimau Agam. Cerita ini mengisahan delapan orang ulama beraliran keras yang menyebarkan agama Islam dengan kekerasan. Cara mereka berdakwah yang sangat keras itulah yang membuat mereka dikenal sebagai “Harimau Nan Salapan” dan kemudian disebut juga “Harimau Agam” karena wilayah dakwah mereka yang meliputi daerah Agam.
Kedelapan ulama itu adalah:
- 1. Tuanku di Kubu Sanang
- 2. Tuanku di Ladang Laweh
- 3. Tuanku di Padang Lua
- 4. Tuanku di Galung
- 5 Tuanku di Koto Ambalau
- 6. Tuanku di Lubuak Auek
- 7. Tuanku Haji Miskin
- 8. Tuanku Nan Renceh.

Cara Harimau Nan Salapan dalam menyebarkan ajaran Islam berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Tuanku Nan Tuo dan Pakih Sagir. Dua ulama ini menyebarkan Islam dengan kedamaian tanpa kekerasan. Perbedaan ini mendatangkan perselisihan di antara dua kubu tersebut hingga terjadi peperangan. Peperangan itu dimenangkan oleh kubu Tuanku Nan Tuo.
Tiga cerita rakyat yang dituliskan oleh Musthafa Ibrahin ini menarik untuk dibaca, selain membentangkan kisah-kisah yang mendokumentasikan cerita-cerita rakyat, buku ini juga menyampaikan pesan moral yang kuat sebagaimana cerita rakyat pada umumnya. Di antara cerita yang disajikan terdapat juga data sejarah yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, dengan kata lain cerita-cerita yang disajikan tidak sepenuhnya fiktif, melainkan juga memuat konten sejarah.




