
Rasa kehilangan saya atas kepergian Airlanga Pribadi, atau Angga, kemungkinan akan panjang. Setidak-tidaknya rasa kehilangan ini pasti akan muncul berulang di setiap saya bersama segelintir teman ingin menggelar lagi acara diskusi buku di Gerakan Aksi Literasi. Seperti yang sering saya keluhkan di berbagai kesempatan, dua dekade terakhir makin sulit mencari orang yang mau membaca sebuah buku berbobot sampai tuntas berikut memberikan review atas buku tesebut. Bahkan kepada seseorang yang sudah saya ketahui bidang keahliannya, atau terlacak perhatian utamanya sebagai pengajar atau peneliti, tetap sulit meminta kesediaan membaca dengan tuntas buku terbaru di bidangnya dan memberi ulasannya di forum diskusi buku.
Buat saya Angga adalah jawaban ketika dari pencarian kesana-kemari pembahas buku tidak menemukan hasil. Dia pernah memenuhi permintaan membahas buku The Capital Thomas Piketty yang tebalnya 1000 halaman itu di acara Diskusi Buku Aksi Literasi. Sebelumnya Angga pernah mengisi sebagai penulis buku yang berasal dari disertasinya.
Di beberapa grup WA, IG dan Facebook, Angga juga satu dari sedikit orang yang sering menginformasikan buku-buku langka dan buku terbaru. Satu dua dari buku itu ia jelaskan isinya secara singkat. Ketika Angga memposting foto setumpuk buku yang baru dibelinya, saya biasanya memilih dan menyebutkan buku-buku yang relevan untuk saya koleksi dan saya katakan saya ingin pinjam.
Untuk memberi jaminan ke Angga bahwa saya akan mengembalikannya, saya tawarkan juga buku-buku terbaru dari saya untuk dia pegang selama buku-buku yang ia pinjamkan berada di tangan saya. Begitulah solusi yang saya tawarkan, dan Angga selalu bilang, “Gampang itu, Abangda”. Untuk tidak merepotkan, saya pernah menawarkan juga saya akan datang ke rumahnya ke Pamulang untuk menjemput buku-buku yang akan saya pinjam sambil membawa sejumlah buku-buku jaminan dari saya. Ini salah satu saja dari beberapa rencana saya dengan Angga yang batal diwujudkan.
Siang hari Rabu, 9 September 2026 itu, cuara di luar ruangan masih panas terik seperti hari-hari kemarinnya. Saya sedang berada di lorong lantai Gedung B FISIP UI di penghujung acara peresmian dua ruangan yang baru direnovasi dengan dukungan dari seorang alumni S2 Ilmu Politik bersama keluarganya. Sekitar pukul 13.40, Prof. Aditya Perdana, menyampaikan kabar dengan nada lirih, “Angga meninggal, Bang”. Pikiran saya belum tertuju ke siapa-siapa dan sambil berpikir ini Angga siapa? Angga yang mana? Aditya melanjutkan, “Airlangga Pribadi….”
Itulah berita yang membuat suasana di siang yang memang panas terik itu spontan bagai petir di siang bolong. Saya mencoba menahan napas. Kata-kata yang bisa terucap tidak banyak. Dengan napas yang agak sesak, saya bilang ke Adit (Panggilan saya ke Prof, Aditya Perdana), “Hahh! Tadi pagi dia masih aktif memberi komentar di grup.”
Setelah saya perhatikan kembali dua grup yang biasa diisi dengan diskusi-diskusi “setengah akademik”, salah satunya di grup Pembaca Prisma, terekam Angga tidak hanya mengeluarkan banyak energinya untuk menyampaikan pengetahuan bacaannya mulai dari waktu Subuh, Rabu, 9 September 2026 itu. Diskusi saling mencerahkan itu adalah kelanjutan dari diskusi sejak Selasa sore hingga tengah malam, walau diselingi waktu-waktu jeda.
Topik Rabu subuh hingga pagi masih sambungan dari pembicaraan sore dan malam Selasa kemarinnya. Di situ tampak Angga menjadi pengisi komentar dan ulasan paling aktif. Di Rabu pagi itu, beberapa jam sebelum kabar petir di siang bolong tadi, saya sempat ikut sharing sedikit.

Pukul 06.40, akhirnya saya posting foto buku Mariana Mazzucato, The Common Good Economy, disusul dengan pesan, “Ayo, baca bareng dan diskusikan bukunya Mariana Mazzucato ini”. Sambutan pertama datang dari Angga dalam waktu berselang dua menit. “Mariana, oh, Mariana. Dia ini asyik. Pikirannya sosialistik tapi jalannya bukan berangkat dari trajektori Marxisme.
Dia mengakui adanya eksploitasi oleh kapitalis, tapi solusinya menempatkan posisi masing-masing baik buruh, komunitas, bisnis dan negara,” begitu komentar awal dari Angga. Lalu, pada pukul 06.51, Angga menambahkan ketikannya, “Tinggal yang ini yang saya belum beli, Bangda.” Ketika membaca kembali kalimat pendek ini, rasa sedih makin menusuk jantung saya menghadapi kepergiannya.
Usai menyambut posting saya tentang buku Mariana Mazzucato, saya lihat diskusi Angga berlanjut dengan Fachru Nofrian, Ph.D dan dengan yang lain. Saya terus menyimak. Angka digital jam di HP menunjukkan waktu pukul 06.20 pagi. Saya menyambung ajakan saya ke Angga, “Ayo disegerakan belinya dan review. Saya mulai pakai buku ini untuk ngajar kelas “Politik dan Kebijakan Publik”. Angga membalas lagi, “Asyik. Ayolah kolabs ntar kita.”
Dengan beberapa teman, diskusi berlanjut sedikit ke diskusi substansi soal karya para intelektual liberal sosial dan lain-lain. Setelah itu, Angga tiba-tiba kembali menuliskan satu info ke saya tentang buku terbaru Daron Acemoglu dengan mengatakan bahwa saya pasti belum denger buku itu. Lalu saya jawab, “Wah, belum…. Itu buku yang mana tuh, Angga? Nggak sabar mau baca penjelasannya.”
Mendengar pengakuan dan harapan saya itu, Angga menyambut dengan permintaan yang tidak akan pernah terwujud, “Ada, Bang. Ini saya baru nyampe Jakarta. Ntar kita ketemu, traktir saya Nasi Kapau paling enak, ya….” Ketika membaca kembali kalimat ini di tengah rasa duka yang masih menggelayut erat, tambahan kesedihan kembali menghujam jantung saya.
Siapa Airlangga Pribadi?
Ini perlu saya sampaikan secara singkat saja dulu. Saya kenal pribadi dengan Angga sejak tahun 1990an. Waktu itu ada dua lingkaran komunitas aktifis dan intelektual dimana Angga sering bergabung sebagai kelompok yang junior-junior. Satu komunitas namanya Majelis Sinergi Kalam (Masika) di bawah payung Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Di sini ada Yudi Latif, alm, AE Priyoni, Tata Rahmita Utami, Nurul Isnaeni, Hamid Basyaib, Abdul Hamid, Ade Armando, dan lain-lain. Sesekali bergabung juga alm. Agus Lenon (Agus Edy Santoso), Nur Iman Subono, Eep Safulloah Fatah, dan beberapa nama lainnya. Lingkaran komunitas satu lagi berpusat di Yayasan Paramadina dan Universitas Paramadina. Di sini ada Indah Nataprawira, Agus Haryadi, Suryo, Angga sendiri dan beberapa lainnya untuk yang jauh lebih muda dari nama-nama seangkatan saya, Yudi Latif, dan lain-lain.
Baik yang senior maupun yang junior-junior ini disatukan oleh semangat yang sama: perubahan dan pembaruan. Salah satu produk percakapan kominitas intelektual muda di forum Masika tadi melahirkan buku berjudul, Kebebasan Cendekiawan: Refleksi Kaum Muda (Penerbit Bentang, 1996).
Di dua komunitas itulah saya awalnya mengenai Angga, Agus Haryadi, Suryo dan beberapa nama aktifis seangkatan mereka. Suatu hal yang menarik dan baru saya sadari kemudian, mereka plus Indah Nataprawiwa menjadi orang-orang yang dekat dengan tokoh-tokoh PDIP. Indah aktif di Megawati Institute.
Agus Haryadi yang menjelang Peristiwa 1998 dikenal sebagai aktifis Salemba karena dia berasal dari Kedokteran UI, sejak belasan tahun terakhir menjadi staf khusus Rano Karno. Suryo sudah Ph.D juga dari Prancis, lalu sering membantu seorang petinggi di PDIP. Namun, saya baru dapat kabar memprihatinkan juga bahwa Suryo baru-baru ini kena serangan stroke. Semoga dia bisa pulih.
Kontak langsung saya dengan Angga berlanjut di awal tahun 2000-an ketika ia melanjutkan studi S2 di Ilmu Politik UI. Di situ saya ketemu lagi dengan Angga sebagai dosennya di kelas Kebijakan Publik dan Kelas Ekonomi-politik. Alhamdulillah, berkat kegigihannya, Angga mendapatkan kesempatan melanjutkan ke Universitas Murdoch untuk mengambil Ph.D di bawah bimbingan dua profesor ekonomi-politik yang tidak asing lagi bagi kita pembaca karya-karya ekonomi-politik tentang Indonesia.
Mereka adalah Profesor Richard Robison dan Profesor Vedy R Hadiz. Selama Angga sibuk berjuang dengan studi doktornya, intensitas kontak langsung dengan Angga agak jarang. Dari proses studi di Murdoch ini lahirlah disertasi Angga mengenai peran intelektual organik dalam politik di Jawa Timur, yang kemudian diterbitkan menjadi buku oleh penerbit internasional bereputasi, Palgrave MacMillan. Setelah itu kontak dengan Angga kembali meningkat. Ditambah lagi dengan adanya medsos Instagram dan Facebook yang membuat kami dan teman-teman bisa saling sapa setiap selang beberapa hari.
Angkatan Gen-Z perlu tahu bahwa Angga satu dari sedikit bibit dari kalangan aktifis yang tampak forum-forum diskusi di tahun 1990-an yang terus tumbuh menjadi intelektual dengan karya-karya kritisnya. Sedikit di bawah Angga usianya yang juga tumbuh dan menjadi, adalah Burhan Muhtadi. Di atas Angga dan Burhan, ada Sukidi yang menyelesaikan Ph.D-nya di Harvard.
Sebagian lain dari aktifis intelektual muda yang menampakkan diri di penghujung Abad 20 itu meneruskan perjalanan aktifitasnya menjadi politisi, seperti Willy Aditya, Indra J. Piliang, Tb. Ace Hasan Syadzily, Martin Manurung dan lain-lain. Nama-nama ini tanpa melupakan para aktifis 1990-an yang juga menunjukkan potensi intelektual tetapi memilih lebih banyak di pergerakan dan aksi. Katakanlah Petrus Bima Anugrah, aktifis salah satu korban orang hilang tahun 1997-1998 yang juga dari Unair Surabaya seperti Angga, Mugiyanto (sekarang Wamen HAM), dan Faisol Riza (sekarang Wamen Perindustrian).
Agak di atas dari mereka sedikit, aktifis yang menunjukkan minat intelektual cukup tinggi pada masanya, antara lain Budiman Sudjatmiko dan Nezar Patria. Dua terakhir ini saat ini juga ada di pemerintahan. Salah satu yang langka dalam menjaga kesetiaan mengambil posisi sebagai aktifis hingga saat ini mungkin adalah Ray Rangkuti, yang dari segi usia hampir sama dengan Nezar Patria dan Budiman Sudjatmiko, atau sekitar 6 – 7 tahun lebih senior dari Angga.
Saya sebut nama-nama di atas bukan untuk melupakan nama-nama lain dari kalangan akfifis 1990-an dan awal tahun 2000-an yang sama-sama menunjukkan semangat untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Saya ingin mengunakan kenangan saya atas kepergian Angga untuk menyinggung sebuah kelangkaan di salah satu lini kekayaan publik, yakni kelangkaan intelektual yang militan dalam berkarya. Angga satu dari sedikit mereka yang makin langka itu. Tetapi dia pun pergi terlalu cepat.
Ada banyak yang hilang dibawa oleh Angga bersama kepergiannya ke alam keabadian. Sosok penggali pengetahuan sosial pekerja keras. Akademisi dan intelektual yang menjaga kehidupan dialektika. Orang yang rendah hati dan tetap menjaga rasa hormat pada orang lain. Lebih sering mengajak orang tertawa daripada memancing kemarahan.
Tetapi satu bentuk kehilangan yang sangat terasa di pegiat literasi adalah perginya satu dari sedikit orang yang paling bisa diandalkan untuk membahas buku yang telah ditulis dengan serius oleh para ahli ekonomi-politik. Selamat jalan, Adinda Angga. Namamu pasti akan spontan muncul setiap kami merencanakan diskusi buku, dan setiap saya akan makan nasi kapau. []




