DKJ – CAS: Lelang Lukisan SBY dan Hikayat Air Melompat ke Jalan

Lelaki tigapuluhan dengan tatapan berat itu, terlihat bagai membeku, di antara orang-orang berkerumun di dalam Posko Merah Putih. Tim Relawan Kemanusiaan-Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Cikini Arts Stage (CAS) baru saja sampai di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Tujuan kedatangan tim relawan ini, menyerahkan bantuan kemanusiaan.

Lelaki itu, setelah menjawil saya, lalu menoleh ke salah seseorang tim, kemudian terdengar ia berkata, “Saya juga korban bencana….”

Bencana yang dimaksud laki-laki tersebut adalah akibat sungai Batang Nanggang di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Air sungai itu meluap karena hujan deras, menyebabkan banjir bandang (galodo) parah pada akhir tahun 2025, terutama di bulan November, yang menimbulkan banyak korban jiwa. Luapan sungai Batang Nanggang ini menerjang dan menggenangi permukiman serta sawah, memaksa evakuasi dan pemulihan yang melibatkan tim SAR gabungan. Banyak korban jiwa.

Tim Relawan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Cikini Arts Stage (CAS) bersama warga penerima bantuan

Lelaki itu bernama Ariyanto. Sepuluh sanak saudaranya menjadi korban galodo yang menimpa mereka di ujung senja 27 November lalu. Tiga di antaranya tidak ditemukan, dan sudah dilakukan salat gaib bersama 36 lainnya. “Bahkan, saya masih ngobrol dengan seorang di antaranya,” ujarnya ketika itu, mengenang. Air yang telah menumpuk di hulu, curah menderas bersama gelondongan-gelondongan kayu, menerbitkan daya rusak yang berkali lipat. Membawa serta puluhan rumah dan apa saja yang terdapat di hadapannya.

Berdasarkan pengalaman di Batu Busuk, Padang– negeri yang juga diterjang bencana galodo, kedatangan kami ke situ, membuat saya tak berani lagi untuk memberikan informasi terkait ada bantuan. Takut tambah bersengkarut dan kisruh. Betapa tidak, terkadang bantuan bisa hilang di tengah jalan oleh mereka yang menuntut atau berperasaan iba. Sesuatu yang kadang bisa dimaklumi. Ini dikarenakan, oleh sekelompok satu-dua orang yang membocorkan secara berlebihan di sana-sini soal akan ada bantuan. Warga tak bisa disalahkan. “Negeri ini memang tak siap menghadapi bencana,” ujar Damhuri Muhamad, sastrawan asal Limapuluh kota yang ikut Tim Relawan dari Jakarta.

Saya kemudian menunjuk pria hampir botak yang memegang pena dan kertas. Ia, Abu Hanifah, relawan yang telah datang tiga hari setelah bencana pertama. Sejak saat itu, ia tak beranjak dari rumah yang ia datangi dari tiga hari lalu dan membantu mengelola bantuan yang datang agar tepat sasaran. Rumah tempat ia mengelola bantuan tersebut, listriknya dibayar atas iuran bersama.

Ariyanto bergerak, kemudian terlihat berdiri di dekat seorang ibu berjilbab, yang duduk di samping Babe, begitu Abu Hanifah dipanggil. Dan ibu berjilbab itu pun menceritakan sebuah peristiwa yang mirip hikayat.

Jalan setelah Batang Nanggang meluap, banjir di November lalu

“Air melompat ke jalan,” begitu ia memulai kisah, pada malam harinya, saat kami berkumpul. Ia menceritakan bagaimana ketika itu air besar dari sungai Batang Nanggang yang meluap hingga ke jalan akibat tingginya curah hujan. Batang Nanggang, katanya, berada sekitar 50 meter dari rumahnya. Ceritanya, sangat mengerikan, betapa air begitu ganas.

Debit air, ceritanya, yang begitu besar menghantam sebuah kelokan, lalu melambungkan air dan ratusan kayu. Air besar itu tampak bagai melompati jalan dan menjadikan rumah yang terhampar di lidah arusnya ikut digulungnya. Anehnya, arus itu berbelok sampai ke rumahnya, membawa sebagian material dan kembali menuju jalan untuk mengangkut bangunan lain.

“Sampai sekarang, mengingat peristiwa itu anak saya trauma,” tambah ibu berjilbab itu dengan siratan cemas tersisa di wajahnya.

“Setiap hujan deras, ia berlari ke lantai dua yang berada di depan rumah. Dan menyaksikan hujan turun dengan tubuh menggigil,” kisahnya, tentang si anak, akibat air yang melompat ke jalan.

Art for Humanity: SBY jadi Mualaf Seni Rupa

Tim Relawan datang ke Ranah Minang terkait “bencana melanda” untuk menyerahkan bantuan bagi korban bencana di

Batu Busuak, Nanggalo, Koto Tangah, Palembayan, Tanjung Raya dan Sungai Landia. Bertemu dengan warga yang terdampak dan menderita. Pada mereka, warga yang mulai ‘memaksa’ untuk dibagi, selalu kami katakan, “Ini bukan bantuan pemerintah.”

Di Lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta memajang 50 lukisan yang dilelang (Foto Dok CAS)

Pada 23 Desember 2025, CAS dan DKJ mengadakan program Art for Humanity. Lelang lukisan dari 26 perupa untuk bencana Sumatera, mulai dari Nasirun, Ridwan Manantik hingga Syakieb Sungkar.

Ketika itu, lobi Teater Kecil Taman ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi pajangan 50 lukisan. Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono digandeng untuk menaikkan tensi. Wow. Dua lukisannya diserahkan. Jika, pelukis lain diberikan 25 persen dari setiap harga jual lukisan, Pak SBY menyerahkan semuanya. Dua lukisan beliau, terjual seharga Rp. 511 juta. Yang satu malahan sudah terjual sebelum lelang dilaksanakan.

“Afnan Malay yang menginisiasi,” ujar M Aidil Usman, Ketua Komite Seni Rupa DKJ dan Ketua CAS dalam sambutan malam itu. Afnan, aktivis dan penyair dari Sungai Batang, Maninjau ini, tentu merasa terpanggil untuk ikut mencarikan akal guna membantu meringankan derita warga yang dilanda bencana.

“Dan, yang paling mengembirakan kami adalah, Bapak SBY, seniman yang sangat intens perhatiannya pada dunia seni rupa Indonesia, juga berkenan untuk ikut berpartisipasi. Untuk itu, saya atas nama panitia penyelenggara, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian, kepekaan, dan solidaritas “Warga Bantu Warga” yang sedang kita tunjukkan bersama-sama pada malam ini,” tambah Aidil, seniman nasionmal kelahiran Indarung, Padang, 55 tahun yang lalu.

Yang datang dalam acara itu, dari kalangan beragam. Itulah enaknya kalau lelang lukisan di Jakarta. Tak hanya Menteri yang hadir, pengurus partai bahkan kolektor dan pengusaha kaya diundang pun tiba. Selain menyumbang, para kolektor dan pengusaha yang hadir tentu saja ingin mendapatkan lukisan langsung dari pelukis.

SBY dalam sambutannya menceritakan bagaimana ia kembali tercebur dalam dunia lukisan. “Saya disebut mualaf seni rupa,” katanya disambut tawa hadirin. Ia menceritakan bagaimana masa sekolah dilalui beragam aktivitas. Terutama seni, termasuk melukis. “30 tahun kemudian meninggalkan dunia itu karena mendapat amanah di ketentaraan dan bangsa. Sekarang kembali,” tambahnya.

Memang setelah paripurna, SBY menjalani kehidupan seni. Tidak hanya rupa, tapi juga musik. Ia juga mengajak hadirin untuk sama-sama memikirkan kebudayaan, terutama seni, untuk menjadi jangkar. Di akhir kata, SBY mengajak DKJ untuk datang ke Cikeas, akhir Januari atau awal Februari untuk lebih luas dan matang merencanakan strategi kebudayaan.

Dik Doank, artis yang mendalami tasawuf bersama Buya Arrazi, yang kala itu tampil sebagai Janang (juru lelang) pun memulai aksinya dengan “Tepuk tangan yang Ikhlas.” Tepuk tangan iklas pun meriah.

Setelah itu, satu persatu lukisan pun ditampilkan. Dik ternyata punya banyak teman pelukis. Karena tahu bahwa pelukis mendapat 25 persen, kadang Dik menutup harga walau sekali baru ditawarkan.

Yang seru ketika lukisan ‘God’s Day’ karya Pak SBY ditampilkan. Seorang pengusaha yang ngebet langsung nawar Rp. 250 juta. Pengurus Partai Demokrat, Syafri hasan yang ikut hadir tak kalah gertak. Seperti enggan melepaskan, ia tawar diangka Rp. 260 juta. Pengusaha itu kemudian langsung angkat harga di Rp. 300 juta. “310,” kata Pak Syafri sambil menengok ke arah si pengusaha. Dik bersemangat dan melemparkan kembali ke pengusaha. “311,” ucap pengusaha.

Sepertinya ada saling pengertian. Pak Syafri ‘menyerah’. “311. Satu …, dua …, tiga! Sold!” teriak Dik.

Hari yang Tepat untuk Jiwa Ingin Berbagi

Tim Relawan datang pada pagi, 4 Januari 2026. Dua hari sebelumnya, sebuah jalan penghubung kembali patah di Batu Busuak. Hujan yang tak henti semenjak awal tahun Kembali jadi penyebab. Kami berharap untuk kembali menyigi situasi. Belum lagi, laporan yang diterima bernada ‘negatif’. Untunglah malam itu, bulan purnama memberi tanda bahwa ini hari yang tepat untuk jiwa yang ingin berbagi.

Bantuan Kemanusian melalui Tim Relawan DKJ-CAS

Sebelum datang, rapat via zoom diadakan. Sudah ditetapkan titik dan daerah yang akan diberikan bantuan. Aidil, Damhuri dan Adi Osman, sebagai tim, diminta mengawal di Padang. Sementara untuk Aceh dan Sumut, dilakukan pantauan dengan menunjuk beberapa koordinator.

Saat meninjau lokasi, selain kehancuran yang keos; kayu membelintang bungkang, rumah-rumah bolong atau tinggal pondasi, tiang-tiang listrik rebah, alat berat menggerung, terlihat sepanjang pandangan. Beberapa posko yang kami datangi, mengaku kepayahan dalam mengatur bantuan.

Aidil, S Metron M (Penulis) dan Damhuri Muhammad

Idaih, warga Batu Busuak, menyarankan untuk memberi bantuan di luar lokasi. Ia, si Idaih ini, koordinator lapangan. Aidil bilang, di Unand saja. Saya bilang, ya sudah di Fakultas Ilmu Budaya Unand. Seorang dosen FIB, Donny Eros, saya kabari. Jadilah bantuan itu diberikan di Medan nan Balinduang kampus tersebut esok harinya.

Untuk itu, disepakatilah 72 paket untuk 72 kepala keluarga. Baru saja berkumpul, seorang pegawai dekanat datang. “Boleh saya tambahkan teman saya? Rumahnya habis,” katanya. “Oke, satu,” kata Aidil. “Eeee, dua,” katanya. Saya tersenyum getir. Aidil menahan geram. Siang amat terik.

Berbagi kepada warga yang datang menjepmput, menyalurkan bantuan kemanusiaan (Dok CAS)

Jumlah itu, dari 72 paket akhirnya menjadi 80 paket. Idaih dengan muka memelas meminta kebijakan. Info akan ada pembagian bantuan, tersebar amat cepat. Jumlah itu meningkat mencapai 100 setelah kami sampai kembali ke Indarung. Sekali lagi, warga tak bisa disalahkan. Sayangnya, begitu juga pemerintah.

Selama kegiatan memberikan bantuan, setiap Aidil menerima telepon selalu terdengar suara dari speker handphonenya “Kayu besar-besar …, rumah …,” kata Aidil dengan tona suara tinggi. Di ketika lain, di suasana sama, Damhuri selalu mengulang, “Padang paling parah. Padang paling parah,” ucapnya. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top