ETC Book Forum 2025, Proposal Berbeda ala Partikular dari Bali

Dok. Partikular

Partikular menyodorkan proposal sedikit berbeda. Jika komunitas lain membuat partisi diskusi buku sastra-alihwahana, komunitas dari Bali ini mencoba berkeliling dalam lingkaran buku. Tentu, buku sastra tetap menjadi subjek. Namun, di tarik-ulur sedemikian rupa.

Jika diskusi sastra langsung membincang karya, Partikular mengubak lapisan -lapisan lain. Pentingkah kover? Bagaimana media sosial melihat buku sastra? Kira-kira, untuk menang penghargaan sastra, apa yang diperhatikan juri? Dengan walk discussion, Partikular ingin mengajak peserta untuk mencari tahu, sedalam apa problematika yang terjadi dalam penerbitan. Bukan sepintas lintas, ketika membincang karya sastra.

Untuk alihwahana Komunitas Aghumi diminta untuk mempreteli buku puisi Pranita Dewi sampai bukan saja soal menampilkan puncak. Sekaligus, meringkus tentang keberanian untuk berhenti, menatap kembali dan bernafas.

Mereka menyebutnya ETC Book Forum 2025. Sebuah koloni yang menawarkan semesta buku mulai dari halaman depan hingga belakang. Di Graha Yowana Suci lantai 1B, Denpasar, tumpah ruahlah dalam ruang yang paling lapang; meja-meja dipenuhi tumpukan zine, komik, dan buku.

Jelang siang, 18 Oktober itu, ada aroma kertas, kopi, dan suara orang yang baru pertama kali berkenalan berbaku-lantun. Sepuluh lapak penerbit, kolektif independen, dan studio kreatif seperti Florto Studio, There But for The Books, Jahebiru, Umah Yuma, Gembira Enterprise, Comicotopia, Partikular, Baca Komik Lokal, Huruf Biru x Toko Rabu, dan Tektonik Records memenuhi ruang.

Inilah yang disebut dalam proposal Partikular sebagai ‘kebutuhan untuk sebuah wadah yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan adaptif, yang dapat merangkul beragam lapisan masyarakat untuk kembali menemukan kegembiraan dalam membaca, berdiskusi, dan berkreasi’.

Inisiatif proaktif ini bertujuan menghadirkan oase literasi yang menarik dan relevan di tengah Denpasar. Mereka beranggapan sastra bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai inti dari beragam ekspresi budaya. Ada syak, acara ini akan berkontribusi signifikan dalam menumbuhkan gairah literasi, memperluas wawasan, dan menstimulasi kreativitas masyarakat Denpasar dan sekitarnya.

Itulah yang terlihat ketika Ndari Sukutangan duduk di bangku narasumber. Perempuan bertato sepenuh badan itu membuat cuaca langsung bertukar. Ia memulai dengan kiasan “Kita pernah membaca don’t judge book by cover, ya?”

***

Dok. Partikular

Dan benar, kita memang menilai buku dari kovernya. Dalam kover tersimpan beragam konten. Menurut Ndari, desain sampul depan buku adalah A skin, A Frame, A Reminder, A Decoration, A Souvenir, A Trophy, A Billboard, A Translation. Kover merupakan riset, interpretasi narasi, dan upaya mengubah ide kompleks menjadi visual yang memikat. Bahkan, ia mengisahkan beberapa karya mereka yang pernah menerima penghargaan maupun yang gagal.

Ya, yang gagal. Dengan detil ia menceritakan bagaimana ‘kisruh’ terjadi dalam menyempurnakan buku ‘Ant Architecture’ karya Walter R Tschinkel. Beberapa opsi disodorkan, tidak memuaskan. Bahkan Ndari membuat sarang semut sendiri. Juga belum memenuhi hasrat kesempurnaan. Sempat, pekerjaan tergenang selama beberapa bulan. Dalam beberapa salindia, ia memilih gambar ‘Sisipus’ dan seorang gadis yang berteriak “help me!” untuk menjelaskan suasana yang sudah berdiri di garis putus asa. “Malah yang pernah ditawarkan, akhirnya dipilih,” katanya sembari menunjuk gambar yang disetujui penulis.

Presentasi menarik itu disudahi moderator, Putu Juli Sastrawan, sekaligus Direktur Partikular, dengan memberikan kesempatan pada beberapa peserta untuk bertanya. Pertanyaan itu menggali kreativitas Sukutangan dalam membedah kerja.

Ndari menjelaskan, ia menerima order dengan beragam tingkat. Ada yang menyerahkan begitu saja. Ada yang mulai dari art director dari penerbit. Misal, saat mengerjakan sampul “Behind Deep Blue” karya Feng-Hsiung Hsu, ia mendapat catatan: Sampulnya masih gelap dan suram. Walau tetap berkeinginan kuda catur dengan cara yang pintar tetap mendominasi.

Buku itu berisi bagaimana proses pertama kali ‘mesin’ (yang tetap dijalankan manusia) mengalahkan Gary Kasparov, raja dunia catur waktu itu. Yang terpilih adalah tangan meletakkan kuda yang dilumuri kata-kata menggantung di papan dengan warna putih-biru serta latar hitam. Elegan. Sekaligus menggambarkan banyak hal. Semisal, latar hitam menggambarkan pekatnya masa depan dalam menghadapai cahaya digitalisasi dari kuda.

Diskusi ini diselesaikan karena sesi kedua sudah menunggu. Dan tak kalah menariknya; Bookstagram. Disebut lokakarya karena Laksmi Mutiara sebagai fasilitator mendedahkan spesifikasi pembicaraan; sastra dan media sosial.

Fenomena ini disebut Laksmi berawal dari para pembaca membagikan buku yang sedang dibacanya. Agar menarik, pembaca buku biasanya membagikan foto-foto ini biasanya dibuat dengan tampilan yang estetik dan dipersonalisasi. Kemudian, diberi latar atau benda-benda pendukung yang menarik secara visual dan emosional. Aktivitas seperti ini sering dianggap remeh. Bahkan dicap sebagai pameran kosong dari generasi milenial + Gen Z yang narsis dan hanya ingin dikenal guna mencari perhatian.

Dok. Partikular

Dari situ, Membaca tidak lagi dianggap sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga cara membangun identitas. Pelan-pelan, interaksi sosial (like, comment, repost) menciptakan komunitas pembaca digital. Sekarang, bukan lagi kritikus atau akademisi yang menentukan “buku bagus”, tapi bisa juga pembaca biasa di media sosial. Dengan visual dan algoritmanya, Instagram membuat buku (sastra) semakin banyak dibicarakan.

Menguarlah ungkapan, Reading is resistance!. “Membaca adalah perlawanan”. Ia jadi konsep yang menyatakan bahwa membaca dapat menjadi tindakan perlawanan terhadap penindasan, penyensoran, atau misinformasi. Tindakan ini mendorong pemikiran kritis, beragam perspektif, dan pemahaman dunia yang lebih mendalam. Membaca dapat menjadi cara untuk melawan narasi palsu, mengenang sejarah, dan melestarikan suara-suara yang terpinggirkan. Sekaligus, sebagai tindakan agensi dan kebebasan pribadi. Organisasi dan individu menggunakan frasa ini untuk mempromosikan buku-buku yang menantang sistem dominan, mendorong pembacaan buku-buku terlarang, dan mendukung beragam penulis dan cerita.

Laksmi melanjutkan lokakarya itu dengan trik dan tips. Terutama bagaimana mengendalian ‘Dari Teks ke Visual, Mengulas yang Bermakna, Menghindari Spoiler, serta Cara-Cara Marketing Konten Perbukuan’.

Ia mencontohkan dengan buku ‘Pulang’ karya Leila S Chudori. Untuk blog yang cenderung teks, Laksmi menulis, “Setelah setahun lalu membaca Laut Bercerita karya Leila S Chudori, akhirnya hari ini aku siap membaca ‘Pulang’. Membaca ini sungguh memberiku pengetahuan baru soal Sejarah yang selama ini mungkin hanya kudapatkan dari buku-buku Pelajaran sekolah.”

Ia menyarankan, blog situlis tak lebih dari 1200 kata.  Beri paparan yang mendalam, garis besar cerita, kekurangan dan kelebihan. Sedangkan kalau memakai SEO keywords, ia memakai Resensi Novel Pulang, Sinopsis Novel Pulang, Review buku Pulang, Kutipan Novel Pulang. 

Sedangkan untuk Instagram, Laksmi menyarankan hanya 264 kata. Fokus pada carousel kutipan novel, ulasan singkat, dan alasan kenapa membaca novel ini. Dan memakai Hashtag: #novelpulang #pulangleilaschudori #leilaschudori.

Ia membincang spoiler cukup lama. Bahkan bertanya kepada peserta. “Suka spoiler nggak, sih?”. Beberapa peserta mengangguk. “Saya juga suka, tapi kadang ada penulis yang tidak suka,” tambahnya.

Untuk itu, ia mendedahkan beberapa hal untuk tidak masuk dalam suka-tidak suka itu. Baginya, Tidak ada aturan pasti bagaimana menulis ulasan di Instagram. Yang penting, sesuai dengan karakter tulisan yang kita inginkan. Boleh saja memberi informasi buku seperti nama penulis, halaman, penerbit, dan elemen lain. Kemudian, mengaitkan dengan sejarah atau situasi yang relevan dengan kehidupan saat ini. Lalu, foto sebagian kutipan buku (hindari satu halaman penuh).

Memberi pendapat personal tentang pengalaman membaca buku tersebut.

Dalm pandangannya, boleh mengkritik, mengungkapan kekurangan dan kelebihan buku. Jangan menjatuhkan apalagi merugikan. Beri simbol tanda seru di dalam segitiga kuning, jika ulasan mengandung spoiler. Banyak fokus pada pengalaman membaca dan alasan mengapa buku ini patut direkomendasikan.

Dua jam terasa cepat berlalu. Sekitar lima puluh lebih peserta dari berbagai latar belakang mengikuti lokakarya ini. Begitu usai kegiatan, bisa disaksikan, peserta langsung mencoba menulis caption di catatan ponsel. Buku dari panitia jadi Sasaram percobaan. Barangkali di tangan-tangan itulah nanti lahir generasi pembaca baru yang juga pembicara kritis di ruang digital.

Dok. Partikular

Setelah jeda selama 30 menit, tampilah kegenda hidup sastrawan Bali, Oka Rusmini. Ia mendapat tema ‘Buku-Buku yang Menarik Dewan Juri”.

Oka memulai perbincangan dengan menjelaskan aktor dalam ekosistem sastra. Ada sebelas item yang terdiri dari pendidik, pengarang, pembaca, komunitas, kritikus/peneliti, penerbit, penerjemah, festival, pengayom (sponsor, lembaga sastra, dinas kebudayaan), kebijakan dan media (massa, daring, alihwahana).

Sebagai sastrawan yang telah lama menjadi juri di berbagai penghargaan sastra, Oka menuturkan pengalaman menilai ratusan naskah dari berbagai penjuru Indonesia. Ia tak memberikan ‘resep’ menulis karya pemenang, tapi justru menekankan kesegaran topik atau cara isu itu disampaikan.

“Isu tentang kasta dan perempuan Bali kan sudah berhenti di Oka Rusminis, saya. Makanya kalau ada yang menulis tentang itu lagi susah untuk menjadi pemenang,” ujarnya sambil memperlihatkan gambar buku-bukunya yang masuk Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK).

Oka melanjutkan dengan bercerita bagaimana proses saat menilai buku Norman Erikson Pasaribu yang berjudul ‘Sergius Mencari Bacchus’. Buku itu memenangkan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Jurinya saat itu adalah Oka Rusmini, Joko Pinurbo (almarhum), dan Mikael Johani. Oka sangat merekomendasikan peserta untuk membaca buku itu, melihat bagaimana isu tentang queer disampaikan dengan segar dan bahasa yang bagus.

Selain itu, ia juga menyapaikan pentingnya konsistensi dalam menulis, hal itu yang biasanya menjadi perhatian dewa juri juga. Rekam jejak kepenulisan seseorang itu sangat penting.

“Buat apa pernah menulis bagus sekali, terus selanjutnya nggak menulis lagi” katanya.

***

Dengan Juli, saya kenal sejak 2016.  Ketemu di Palu. Kami sesama penggiat literasi. Namun, saya baru tahu, ia juga berasal dari Komunitas Mahima, Singaraja. “Bangun tidur di sana, Bang” jawabnya. Mahima memang menjelma menjadi sarangnya seniman masa depan. Kadek Sonia, Sang Nnyonya Rumah, menunjuk tempat tidur Juli saat saya berkunjung ke sana. “Anaknya pendiam. Sangat pendiam,” ujar Sonia.

Kami tak sempat bertemu lagi setelah acara. We a-nya juga rusak. Namun, ia terus bilang, “Kapan nongkrong, Bang?”. Sejak bertemu muka pertama kali, memang belum sempat lagi berdalam-dalam untuk berbincang.

Bagi saya, ETC Book Forum 2025 memiliki masa depan cerah. Juli merasakan gairah yang sama. Ia meneruskan beberapa komentar yang dibuatnya dengan barkod. Bagus banget! Sukaaaa! Enak banget bisa berinteraksi sama narasumber, begitu salah satu komentar. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top