Manapak Jajak, Membaca Kesenirupaan Minangkabau Kontemporer

Hari-hari terakhir ini Yogyakarta terasa berbeda. Kota yang biasanya diselimuti hawa panas dan gerah—atau dalam percakapan sehari-hari orang Jawa disebut sumuk—mendadak berubah dingin. Orang-orang tua menyebutnya bediding, peralihan musim yang membuat tubuh harus menyesuaikan diri terhadap cuaca yang sukar ditebak.

Dari dataran tinggi Dieng bahkan tersiar kabar embun membeku kembali turun. Fenomena ini selalu mengingatkan saya bahwa perubahan sering datang tanpa suara, tetapi perlahan menggeser cara manusia memandang dirinya sendiri. Barangkali karena itu pula ingatan saya bergerak ke arah yang jauh.

Beberapa pekan sebelumnya saya baru saja menuntaskan studi doktoral Penciptaan Seni Musik yang saya jalani selama hampir tujuh tahun. Perjalanan panjang itu berakhir pada sebuah karya berjudul Mantagi Ratok, sebuah komposisi yang berangkat dari pertanyaan yang terus mengikuti saya: mungkinkah suara yang rapuh menjadi ruang bagi seseorang untuk menemukan kembali dirinya?

Pertanyaan itu kemudian membawa saya pada pemahaman baru tentang mantagi. Ia bukan sekadar keberanian, melainkan sebuah keadaan batin ketika tubuh, ingatan, dan emosi saling bertaut, hingga suara tidak lagi menjadi sekadar bunyi, melainkan jalan bagi lahirnya artikulasi diri setelah berhadapan dengan pengalaman traumatik.

Barangkali karena masih berada dalam suasana itu, saya sempat ragu ketika menerima surat elektronik dari Tim Manajemen Sakato Art Community Art Space yang meminta saya menulis sebuah esai mengenai pameran bertajuk Manapak Jajak yang diusung oleh Tambo Art Center dari Sumatera Barat. Keraguan itu beralasan.

Saya bukan perupa. Sehari-hari saya bergulat dengan komposisi musik, penelitian seni, dan penciptaan bunyi. Saya lebih akrab dengan partitur daripada kanvas, lebih sering memperdebatkan tekstur suara daripada komposisi warna.

Suasana Manapak Jajak. (Foto: Nurkholis)

Keraguan itu perlahan mencair setelah Madi Makko, pengelola SAC Art Space, mengatakan bahwa justru karena saya berasal dari disiplin yang berbeda, saya mungkin dapat melihat pameran ini dari sudut yang lain. Bukan semata-mata sebagai peristiwa seni rupa, melainkan sebagai sebuah peristiwa kebudayaan. Kalimat itu mengubah cara saya memandang undangan tersebut.

Semakin sulit saya menolaknya ketika mengetahui bahwa pameran ini memperoleh dukungan dari para perupa senior Minangkabau yang telah lama berkarya dan bermukim di Yogyakarta—Rudi Mantofani, Yunizar, Jumaldi Alfi, Handiwirman Saputra, M. Irfan, Erizal As, Gusmen Heriadi, Joni Waldi, Tan Maidil, dan sejumlah nama lainnya.

Selama puluhan tahun, mereka bukan hanya membangun praktik kesenian masing-masing, tetapi juga ikut membentuk lanskap seni rupa Indonesia melalui Kelompok Seni Sakato maupun Kelompok Jendela.

Ketika Tambo Menjadi Cara Mengingat Ranah dan Rantau

Bagi saya, pameran Manapak Jajak dari tanggal 4-7 Juli 2026 ini bukan sekadar sebuah judul. Ia mengajak kita memikirkan kembali makna jejak, yang lazim dipahami sebagai bekas langkah seseorang. Dalam pandangan kebudayaan Minangkabau, jejak tidak berhenti sebagai sisa perjalanan. Ia adalah tapak: penanda bahwa seseorang pernah hidup, pernah belajar, pernah mengembara, lalu meninggalkan pengalaman, pengetahuan, dan nilai yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Derrida pernah mengemukakan bahwa setiap makna selalu menyimpan trace, jejak dari sesuatu yang telah berlalu dan terus bekerja di balik setiap tanda. Akan tetapi, Manapak Jajak menawarkan pembacaan yang berbeda. Jejak tidak dimaknai sebagai sisa masa lalu semata, melainkan sebagai pijakan yang memungkinkan perjalanan baru dimulai. Karena itu, jejak bukan hanya sesuatu yang diwarisi, tetapi juga sesuatu yang terus diciptakan.

Pemahaman tentang jejak itulah yang kemudian membawa saya menaruh perhatian pada Tambo Art Center, komunitas seni yang digagas oleh Hamzah dan kawan-kawan di Sumatera Barat pada tahun 2015. Saya tertarik bukan hanya pada praktik artistik yang mereka bangun, tetapi juga pada pilihan nama tambo. Dalam pengertian sehari-hari, tambo kerap diterjemahkan sebagai sejarah. Namun, dalam tradisi Minangkabau, tambo tidak pernah sekadar catatan tentang masa lalu. Ia merupakan ingatan kolektif yang hidup melalui kaba, petatah-petitih, adat, petuah para penghulu, dan pengalaman masyarakat.

Berangkat dari titik itulah saya melihat bahwa Tambo Art Center tidak sedang menjadikan tambo sebagai objek romantisme masa lampau. Mereka memperlakukan tambo sebagai metode penciptaan. Bahkan lebih jauh, tambo ditafsir ulang menjadi garis, warna, tekstur, ruang, dan bahasa visual. Mungkin dengan cara itulah tambo terus meninggalkan jejaknya, bukan sebagai peninggalan yang dibekukan, melainkan sebagai praktik artistik yang terus melahirkan jejak-jejak baru.

Di hadapan pameran ini, saya kemudian sampai pada pertanyaan “Mengapa kebudayaan Minangkabau mampu terus hidup tanpa kehilangan dirinya?” Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa jawabannya justru terletak pada satu kata: marantau.

Marantau bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah cara kebudayaan memperluas dirinya. Orang Minangkabau membawa tubuhnya keluar dari ranah, tetapi yang ikut merantau bukan hanya tubuh. Bahasa, adat, ingatan, cara berpikir, bahkan tambo turut bergerak bersamanya, menemukan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan akar yang melahirkannya.

Cara pandang inilah yang mengingatkan saya pada pemikiran Gilles Deleuze tentang menjadi (becoming). Bagi Deleuze, identitas tidak pernah selesai. Kehidupan bukanlah sesuatu yang tetap (being), melainkan proses yang terus berlangsung (becoming). Dalam pengertian itu, marantau memperlihatkan cara hidup yang nomadik: bukan berpindah tanpa tujuan, melainkan membentuk diri melalui setiap perjumpaan. Ranah melahirkan seseorang, sedangkan rantau membuatnya terus menjadi.

Praktik artistik yang terus melahirkan jejak-jejak baru. (Foto: Nurkholis)

Akan tetapi, perjalanan nomadik itu tidak berhenti pada individu. Setiap pengalaman yang diperoleh di rantau selalu dibawa pulang untuk dipertemukan kembali dengan masyarakatnya. Di sinilah musyawarah memperoleh maknanya. Pengalaman yang dibawa pulang tidak serta-merta diterima, melainkan dipertimbangkan, diperdebatkan, dan dimatangkan hingga menjadi pengetahuan bersama.

Proses ini mengingatkan saya pada gagasan Jürgen Habermas tentang ruang deliberatif, tempat masyarakat memperbarui dirinya melalui percakapan yang setara. Menariknya, mekanisme semacam itu telah lama hidup dalam tradisi Minangkabau melalui balai adat, surau, lapau, dan Kerapatan Adat Nagari. Karena itu, musyawarah mufakat bukan sekadar tata cara mengambil keputusan, melainkan mekanisme kebudayaan yang memungkinkan masyarakat terus memperbarui dirinya.

Dengan menyadari bahwa Manapak Jajak bukan sekadar mempertemukan karya-karya seni rupa. Pameran ini mempertemukan tiga gerak besar kebudayaan Minangkabau: tambo yang merawat ingatan, marantau yang membuat kebudayaan terus menjadi, dan musyawarah yang memberi makna pada setiap perubahan.

Dari sanalah saya merasakan adanya pertalian antara para perupa Tambo dan Mantagi Ratok, disertasi yang baru saja saya pertanggungjawabkan. Kami berangkat dari medium yang berbeda, tetapi digerakkan oleh kegelisahan yang sama.

Saya menelusuri ingatan melalui suara, sementara mereka menelusurinya melalui gambar. Yang kami rawat bukan masa lalu, melainkan kemampuan kebudayaan untuk terus melahirkan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan jejak yang membesarkannya.

Jejak yang Menjelma Menjadi Visual

Bertolak dari tambo sebagai cara menepak jejak perupa Minangkabau mengingat dirinya sendiri, imajinasi saya berkembang bukan lagi pada persoalan apa yang dilukiskan oleh para perupa, melainkan “cara berpikir seperti apa yang sedang mereka bangun melalui lukisan-lukisan itu?”

Pertanyaan tersebut membawa saya kepada esai kuratorial Nessya Fitryona, Manapak Jajak: Trias Fragmentasi Visual dalam Karya Art Camp TAC. Nessya membaca bahwa keseluruhan praktik artistik Tambo Art Center bertumpu pada tiga poros besar: alam Minangkabau, kesejarahan Minangkabau, dan kebudayaan Minangkabau. Bagi saya, ketiga poros ini bukanlah tiga tema yang berdiri sendiri. Ketiganya adalah tiga lapisan yang terus bergerak dan saling menyusun satu sama lain.

Dalam penciptaan seni, fragmentasi bukan sekadar tanda keterpecahan. Ia merupakan cara kebudayaan hadir kepada kita. Pengalaman kebudayaan tidak pernah datang secara utuh, melainkan melalui jejak-jejak berupa serpihan ingatan, potongan sejarah, lanskap yang berubah, serta cerita yang terus diwariskan.

Karena itu, tugas seniman bukan menyatukan seluruh serpihan tersebut menjadi narasi yang tunggal, melainkan membuka ruang agar setiap fragmen tetap berbicara dengan suaranya sendiri. Setiap jejak membawa sisa-sisa makna yang tidak pernah benar-benar selesai dan terus hidup dalam setiap penafsiran baru.

Di tangan para perupa Tambo, jejak tidak berhenti sebagai ingatan tentang Minangkabau, melainkan menjadi cara untuk terus merundingkan, menafsirkan, dan menciptakan kembali hubungan dengan tanah asalnya.

Hubungan itulah yang membuat saya memandang alam Minangkabau dalam pameran ini dengan cara yang berbeda. Alam tidak hadir sebagai objek yang dipandang, melainkan sebagai cara berpikir. Itulah sebabnya saya tidak membaca pegunungan, sawah, atau lembah dalam pameran ini sebagai panorama yang dipindahkan ke atas kanvas.

Alam tampil sebagai sebuah epistemologi. Falsafah alam takambang jadi guru mengajarkan bahwa pengetahuan lahir dari kemampuan membaca perubahan, bukan dari upaya mempertahankan bentuk yang tetap. Karena itu, alam tidak hadir sebagai latar, melainkan sebagai cara orang Minangkabau memahami realitas, membangun pengetahuan, dan menempatkan dirinya di dalam dunia.

Begitu pula dengan kesejarahan. Dalam pameran ini, sejarah tidak disajikan sebagai kronologi yang menuntut ketepatan tanggal atau urutan peristiwa. Ia hadir sebagai memori yang terus dinegosiasikan dan ditafsirkan ulang. Nama-nama seperti Minanga Tamwan, Pulau Andalas, Suwarnadwipa, Pulau Perca, peradaban Sumadra, hingga Sumatera bukan sekadar penanda geografis.

Nama-nama itu merupakan simpul dari perjalanan panjang yang dibentuk oleh perjumpaan, perdagangan, perpindahan, perselisihan, konflik, serta berbagai proses perundingan yang terus membentuk wajah kebudayaan. Barangkali karena itulah tambo tidak bekerja sebagai penyimpan masa lalu, melainkan sebagai cara kebudayaan terus memperbarui jejaknya di setiap zaman.

Bagaimana tradisi terus melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru. (Foto: Nurkholis)

Lapisan ketiga adalah kebudayaan Minangkabau itu sendiri. Namun, kebudayaan di sini saya amati tidak diperlakukan sebagai identitas yang telah selesai. Sebaliknya, ia dipahami sebagai sesuatu yang terus menjadi. Setiap perjumpaan membuka peluang bagi kebudayaan untuk bergerak melampaui bentuk-bentuk lamanya tanpa harus melepaskan akar yang melahirkannya.

Karena itu, karya-karya para perupa Tambo tidak sedang mengulang tradisi, melainkan memperlihatkan bagaimana tradisi terus melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru.

Barangkali di situlah nalar nomadik menemukan maknanya: bukan keberanian untuk berpindah, melainkan apa yang saya sebut sebagai kemantagian, yakni kemampuan untuk terus menjadi melalui setiap perjumpaan sambil tetap membawa jejak asal-usul sebagai sumber pembaruan.

Memperlihatkan bagaimana tradisi terus melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru. (Foto: Nurkholis)

Barangkali karena itulah saya tidak melihat sepuluh perupa yang berpameran sebagai sepuluh individu yang sedang menampilkan identitas artistiknya masing-masing. Hamzah, Irwandi, Yoni Indra, Antoni Eka Putra, Ade Herman, Randi Pratama, Romi Armon, Syahrial, Yasrul Sami, dan Imam Teguh justru saya baca sebagai sepuluh artikulasi yang berbeda dari satu gerak kebudayaan yang sama. Mereka tidak sedang mencari bentuk visual Minangkabau yang tunggal, melainkan membuka kemungkinan-kemungkinan baru tentang bagaimana Minangkabau dapat terus dipikirkan.

Di dalam ketidaktunggalan itulah saya menemukan pertalian antara praktik artistik para perupa Tambo dan perjalanan penciptaan Mantagi Ratok. Kami bekerja dalam medium yang berbeda, tetapi berangkat dari kegelisahan yang serupa: bagaimana pengalaman—baik pengalaman kebudayaan maupun pengalaman afektif—ditransformasikan menjadi bahasa artistik yang mampu menggerakkan pengalaman orang lain.

Sebagaimana Edvard Munch melalui The Scream mengubah kecemasan menjadi citra, dan Frida Kahlo melalui The Broken Column menjadikan tubuhnya yang terluka sebagai metafora ketahanan manusia, para perupa Tambo mengolah pengalaman kebudayaan menjadi bahasa visual. Sementara itu, melalui Mantagi Ratok, saya mencoba menempuh jalan yang serupa lewat suara.

Karena itu, saya semakin yakin bahwa pameran ini lebih tepat dipahami sebagai ruang percakapan daripada ruang representasi. Semangat deliberatif yang sejak lama hidup dalam musyawarah Minangkabau seolah menemukan bentuk barunya di ruang pamer. Goresan-goresan pada kanvas tidak menuntut kesepakatan atas satu makna, melainkan membuka ruang bagi setiap orang untuk ikut mempercakapkan apa arti menjadi Minangkabau hari ini. Mungkin di situlah makna terdalam Manapak Jajak: bukan meninggalkan jejak untuk dikenang, melainkan membuka jejak-jejak baru yang dapat terus dilalui bersama.

Yang Sesungguhnya Merantau

Datang untuk membuka percakapan. (Foto: Nurkholis)

Berkaca pada keseluruhan pameran ini, yang paling membekas bagi saya justru bukan hanya karya-karya yang dipamerkan, melainkan sikap para perupa Tambo Art Center ketika datang ke Yogyakarta. Mereka tidak datang dengan keyakinan bahwa telah menemukan jawaban atas seluruh persoalan kesenian. Sebaliknya, mereka datang untuk membuka percakapan.

Hamzah pernah mengatakan kepada saya bahwa tujuan utama pameran ini adalah bertemu kembali dengan para perupa Minangkabau yang telah lama berkarya di Yogyakarta. Irwandi pun mengungkapkan kegelisahan yang sama. Mereka ingin belajar bagaimana sebuah ekosistem seni tumbuh dan dirawat, mulai dari proses konseptual, produksi karya, pengelolaan pameran, hingga jejaring antarlembaga dan antarseniman.

Bagi saya, pengakuan semacam itu justru memperlihatkan kekuatan sebuah kebudayaan yang menyadari bahwa dirinya tidak pernah benar-benar selesai. Karena itu, ia terus hidup selama masih bersedia bertanya, mendengar, dan belajar dari setiap perjumpaan.

Pemahaman itu saya rasakan sepanjang mengikuti proses pameran ini. Yang sedang merantau bukan hanya tubuh para perupa, melainkan juga gagasan, cara berkarya, dan cara mereka memahami Minangkabau. Semuanya bergerak memasuki ruang dialog yang intim sekaligus kritis dengan dunia di luar ranah, tanpa kehilangan jejak yang membentuknya.

Beberapa hari sebelum pembukaan pameran, saya menyaksikan Bapak Oei Hong Djien, kolektor sekaligus pendiri OHD Museum di Magelang, datang mengunjungi para perupa bersama Rudi Mantofani. Saya tidak melihat hubungan formal antara kolektor dan seniman. Yang tampak justru percakapan yang cair, saling berbagi pengalaman, diselingi gegojegan khas Yogyakarta yang meruntuhkan jarak di antara mereka.

Saya merasa bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar persiapan sebuah pameran, melainkan praktik merantau dalam pengertian yang paling hidup: belajar, berbagi, saling menguji gagasan, lalu pulang dengan membawa cara pandang yang baru.

Suasana yang sama saya rasakan ketika anggota Sakato Art Community mempersiapkan pameran ini. Ada yang membersihkan galeri hingga larut malam, menyediakan tempat menginap, mengatur kendaraan, bahkan memastikan setiap kebutuhan para perupa terpenuhi. Tidak seorang pun tampak sibuk menghitung jasa masing-masing.

Gotong royong semacam itulah yang membuat saya percaya bahwa sebuah ekosistem seni tidak hanya dibangun oleh karya-karya besar, tetapi juga oleh kerja-kerja kecil yang dilakukan bersama. Dalam tradisi Minangkabau, semangat itu dikenal sebagai Saiyo Sakato.

Makna itu terasa semakin lengkap ketika pameran Manapak Jajak diresmikan oleh Bapak Oyik Eddy Prakoso. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi rangkaian seremoni, melainkan mengingatkan bahwa ekosistem seni tumbuh melalui perjumpaan banyak pihak. Seniman, komunitas, galeri, kolektor, kurator, hingga publik sama-sama mengambil bagian dalam menjaga agar karya terus hidup dan memperoleh makna baru.

Saya pun merasa beruntung dapat menjadi bagian kecil dari peristiwa ini. Pada malam pembukaan, Putri Simponika membawakan komposisi saya, Hulu Minanga Puan, sebuah karya yang lahir dari penelusuran tambo Minangkabau bersama sastrawan Zelfeni Wimra.

Ketika komposisi itu diperdengarkan di ruang yang sama dengan lukisan-lukisan Manapak Jajak, saya merasakan bahwa nyanyian dan rupa sesungguhnya sedang melanjutkan percakapan yang sama melalui bahasa yang berbeda. Barangkali karena percakapan semacam itulah kebudayaan tidak pernah benar-benar selesai diwariskan. Ia terus hidup selama masih ada yang bersedia mendengarkan jejaknya, menafsirkan maknanya, lalu menciptakan jejak-jejak baru bagi zamannya sendiri.

Melalui Manapak Jajak, saya merasa kebanggaan menjadi orang Minangkabau menemukan maknanya bukan karena mewarisi tambo, adat, atau tradisinya yang kompleks, melainkan karena keberanian untuk terus mempertanyakan diri melalui penciptaan, perjalanan, dan percakapan.

Itulah sebabnya tambo tidak pernah selesai. Setiap generasi akan selalu menuliskan getaran hidupnya dengan bahasanya sendiri, lalu meninggalkan jejak yang kelak akan dibaca, ditafsirkan, dan diciptakan kembali oleh generasi berikutnya. Mungkin di situlah kemantagian menemukan jejaknya, di dalam kebudayaan yang terus menjadi. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top