Panggung “Penghujung” Dosen Pensiun Bukan Dapur Tutup

Malin Kundang, sebuah pertunjukan Drama Musikal karya Venny Rosalina. (Foto: cagak.id)

Seorang dosen seni menjemput masa pensiunnya bukan dengan pidato perpisahan, melainkan dengan panggung. Ia mengajak para dosen dan mahasiswanya berkarya dan tampil bersama dalam pentas bertajuk “Penghujung”.

Rabab baru saja digesek Prof. Ermanto, penanda “Panggung Penghujung Ekspresi Dosen” telah dimulai malam itu, 28 Oktober 2026. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) itu memilih “jalur rabab” untuk menyampaikan kata sambutannya.

Seusai rabab, puluhan mahasiswa mengekspresikan diri lewat tari, musik, dan gandang tambua yang energik. Cahaya telah ditata, perhatian penonton tertuju ke panggung. Itulah karya pembuka malam itu, “Overture Onjak” karya Uswatul Hakim, S.Pd., M.Pd.Hari kian malam. Namun, pendopo justru semakin ramai. Sebagian besar penontonnya mahasiswa. Di luar pendopo, langit Air Tawar, Padang, sedang mendung Rabu malam itu. Gerimis kecil telah turun. Namun, cuaca yang kurang bersahabat itu tak mengurungkan niat penonton, terutama mahasiswa, untuk datang ke pendopo FBS UNP. Mereka ingin menyaksikan karya para dosen dipentaskan dalam bentuk musik, sastra, tari, dan drama musikal.

Rabab digesek Prof. Dr. Ermanto. (Foto: cagak.id)

Sejak sebelum pertunjukan digelar, tata panggung sudah mencuri perhatian. Dekorasinya menarik. Separuh pendopo diatur menjadi panggung.

Di langit-langit, selain lampu panggung, tergantung dekorasi dari bambu dan jerami. Di tengah panggung berdiri latar dari jerami yang dihiasi marawa, hitam, merah dan kuning. Susunannya membentuk pola gonjong, atap rumah adat Minangkabau.

Di sayap kiri diletakkan alat musik modern seperti drum, gitar, dan keyboard. Di sayap kanan, alat musik tradisional khas Minangkabau yakni talempong dan tambua tasa disusun rapi.

Tata letak itu seolah menunjukkan tiga elemen sekaligus: yang modern dan yang tradisional dipadukan, dengan marawa sebagai simbol pemersatunya.

Sembilan Karya dalam Satu Malam

Malam itu, sembilan judul karya dipentaskan. Salah satunya tari “Topeng” karya Prof. Indrayuda, S.Pd., M.Pd., Ph.D., dosen yang juga Wakil Dekan FBS UNP. Indrayuda, yang dikenal sebagai koreografer Sumatera Barat, menghadirkan karya ini bersama penata musik Epi Martison. Melalui empat penari, dengan tata artistik dan properti berupa kursi dan tangga, ia ingin menyampaikan secara kritis lewat gerak sisi lain kehidupan yang penuh kepalsuan atau kepura-puraan, yang menutupi wujud yang sesungguhnya.

Koreografi Topeng, karya Indrayudha. (Foto: cagak.id)

“Topeng dalam konteks karya ini adalah refleksi dari kalangan elit politik dan pimpinan pemerintahan yang sering menampilkan topengnya di hadapan publik, dengan berbagai pencitraan dan berbagai retorika yang menarik, sehingga masyarakat ramai terpedaya, terperangkap kepalsuan,” kata Indrayuda.

Karya ini mengurai persoalan topeng yang selalu dikenakan para elit dan penguasa, serta terperangkapnya publik dalam wajah topeng yang penuh daya pikat itu. Desember mendatang, Indrayuda akan mementaskan karya yang sama di negeri jiran, Malaysia.

Karya-karya lain patut diapresiasi relatif menarik walau beberapa hal perlu banyak penguatan, terutama dalam ritma dan durasi yang menjebak pada perulangan yang membosankan. Namun, perlu malam itu, aplaus perlu diberi. Ada Tari payung dihadirkan dengan riang oleh dosen Departemen Sendratasik, Hendri Yusuf, S.Pd., M.Pd. lewat karya berjudul “Layang Putuih Sampan Pacah”. Ada pula drama musikal garapan Dr. Venny Rosalina, S.Sn., M.Sn., pembacaan puisi yang teatrikal oleh Dr. Andrea Catri Tamsin, S.Pd., M.Pd., serta musik “Mancak Bunyi” karya Rio Mak Dang.

“Penghujung” sebuah panggung yang ekpresif. (Foto: cagak.id)

Selain penampilan band dan musik, pentas drama tari musikal “Malin Kundang” yang digarap Venny Rosalina bersama tim tampil menarik dan memukau. Para tokohnya, baik peran Malin Kundang, sang ibu, maupun sang istri, cukup berkarakter menghidupkan narasi yang dipentaskan. Selain penguasaan panggung para aktor yang kuat, musik dan koreografi juga mampu menguatkan cerita dan alurnya. Inilah salah satu pertunjukan yang relatif kuat dan menarik perhatian penonton: sebuah dunia legenda yang dikemas dengan selera kekinian, tepat disajikan untuk Generasi Z di era digital.

Sang dosen Andrea Catri Tamsin, membaca puisi. (Foto: cagak.id)

Sedangkan Andrea Catri Tamsin, pembaca puisi terbaik yang dimiliki Sumatera Barat, menjadikan malam itu hidup karena puisi yang dibaca dengan gaya seorang aktor, penggalan kata, ritma serta artikulasi yang menyala. Andrea salah satu daya pukau malam itu.

Mancak Bunyi di “Penghujung”. (Foto: cagak.id)

Menyaksikan karya-karya para dosen dan nuansa kolaborasinya dengan mahasiswa-mahasiswa potensial, kita melihat geliat dan gairah berkesenian dosen dan mahasiswa di kampus ini yang relatif baik, walaupun sebagian lahir juga karena tuntutan akademis. Namun, iklim yang kondusif antara dosen dan mahasiswa tentu bisa dimaknai sebagai ruang terbuka untuk melahirkan kreator atau kaum intelektual seni dari kampus.

Panggung “Penghujung” yang Bermakna

Yang perlu diapresiasi dari “Panggung Penghujung Ekspresi Dosen” ini adalah upayanya menjadikan perpisahan seorang tenaga pendidik bukan dengan air mata, melainkan dengan karya sebagai makna, agar senantiasa abadi dalam catatan sejarah, baik di dunia seni maupun pendidikan.

Drs. Wimbrayardi, M.Sn., Warisan seni tak lekang oleh waktu. (Foto: cagak.id)

Mengapa demikian? Panggung ini merupakan ruang yang dihadirkan untuk menyongsong masa pensiun salah seorang dosen panutan mahasiswa, Drs. Wimbrayardi, M.Sn. Wim, sapaan akrabnya, akan memasuki masa purnabakti pada Desember 2026. Dosen Program Studi Pendidikan Sendratasik UNP yang lama menekuni musik tradisi Minangkabau, dari talempong hingga gandang tambua, ini memilih berpamitan dengan cara seorang seniman: membuka panggung, lalu mengajak dosen dan mahasiswanya mengisinya bersama dalam bentuk karya pertunjukan.

Di hadapan para pengunjung, dosen senior itu menyampaikan kalimat yang terdengar seperti salam perpisahan, sekaligus wasiat:

“Setelah menutup tirai, kenangan tetap hidup. Warisan seni tak lekang oleh waktu. Penghargaan tertinggi adalah jejak yang kita tinggalkan.”

Kembali mencermati tata ruang panggung, kita melihat ada tiga pengaturan yang berbeda. Kata Wim, itu bukan kebetulan. Ada maknanya. Ketiganya merepresentasikan tiga ruang yang hendak ia wariskan: ruang kesenimanan, ruang akademis, dan ruang praktis. Ketiganya menjadi bagian penting dalam proses pengembangan kreativitas dan keberlanjutan aktivitas berkesenian.

Warisan Bernama Ruang

Lantas, apa sebenarnya yang ingin ditinggalkan Wim?

Menurutnya, berbicara tentang kegiatan ini sama dengan berbicara tentang cara ia mewariskan sebuah ruang yang seharusnya tersedia di setiap perguruan tinggi: ruang kreativitas yang memungkinkan terjadinya interaksi, baik antara dosen dengan dosen maupun dosen dengan mahasiswa.

Ruang semacam ini, kata Wim, justru langka. Saat ini mungkin banyak kampus memiliki berbagai gedung dan ruangan, tetapi belum tentu kampus-kampus itu menyediakan ruang untuk mengembangkan kreativitas seperti ini.

Kolaborasi itu tampak sejak dapur produksi. Dalam tim produksi, Wim melibatkan beberapa angkatan mahasiswa. Para alumni pun turut berpartisipasi. Dari sana terbangun kolektivitas dalam menciptakan ruang kreatif, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Bagi Wim, hal ini penting. Tidak ada jaminan lulusan pendidikan akan langsung menjadi guru setelah diwisuda. Ada ribuan sarjana pendidikan yang lulus, tetapi tentu tidak semuanya akan bekerja sebagai tenaga pendidik.

Di sinilah ruang kreatif berperan. Ruang seperti inilah yang dapat membantu menyiapkan keterampilan nonteknis (soft skills) mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja di luar bidang keguruan.

Menurut Wim, inilah yang perlu dibenahi dalam paradigma kita terhadap dunia pendidikan. Selama ini kita memang berupaya mencetak tenaga pendidik. Namun, di samping itu, kita juga harus mampu menciptakan ruang bagi mereka untuk mengembangkan jati diri sebagai pelaku seni.

Rio Mak Dang, pencipta “Mancak Bunyi” malam itu, adalah salah seorang mahasiswa Wim yang kini menjadi manajernya. Ia mengamini pernyataan sang guru.

“Bagi saya, inilah salah satu bentuk warisan beliau, yaitu menyediakan ruang di lingkungan kampus bagi dosen dan mahasiswa generasi berikutnya,” ujar Rio.

Panggung Penghujung bukan ruang pertama yang dibangun Wim. Sejak 2006, sudah cukup banyak ruang kreatif yang ia ciptakan. Salah satunya UNP World Ritual Music Festival, festival musik yang hanya diselenggarakan di dua tempat di dunia, yaitu di UNP dan Meksiko. Selain itu, ada pula ruang yang berkaitan dengan pengembangan karya perkusi di Sumatera.

Tradisi yang Harus Terus Bergerak

Padu padan modern dan tradisional di atas panggung itu berangkat dari keyakinan Wim: tradisi butuh inovasi. Ia mengingatkan kembali pesan mendiang Prof. Edi Sedyawati, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, pakar tari, yang pernah menjabat Direktur Jenderal Kebudayaan (1993–1998). Kita tidak cukup hanya mempertahankan tradisi dalam bentuk aslinya. Kita juga perlu berinovasi agar tradisi mampu berkembang dan sejajar dengan kebudayaan global.

“Layang Putuih Sampan Pacah” karya Hendri Yusuf. (Foto: cagak.id)

Jika kita hanya berpegang pada pemikiran bahwa tradisi harus dipertahankan sebagaimana adanya, bukan tidak mungkin tradisi itu justru semakin tenggelam.

Mengapa demikian? Para pelaku seni mulai kurang diminati oleh masyarakat di lingkungan tempat kesenian itu tumbuh. Fungsi kesenian juga mengalami pergeseran seiring perkembangan era digital dan kemajuan teknologi.

Akibatnya, cara pandang masyarakat terhadap tradisi ikut berubah, terutama di kalangan generasi muda. Jika kondisi ini terus dibiarkan, tradisi kita akan semakin tertinggal.

Karena itu, menurut Wim, kita harus menciptakan ruang-ruang yang dapat menggali dan mengembangkan potensi para pelaku seni. Siapa pun dapat terlibat, baik pendidik, seniman, maupun pihak lain yang ingin membangun sesuatu dalam dunia pendidikan dan kesenian. Yang terpenting, kita harus terus bergerak dan berkarya.

Pertama di UNP

Langkah Wim mendapat apresiasi dari pimpinan fakultas. Dekan FBS UNP, Prof. Dr. Ermanto, S.Pd., M.Hum., menyampaikan bahwa ide menutup masa bakti dengan sebuah pertunjukan merupakan yang pertama kali di Universitas Negeri Padang. Langkah ini, katanya, menjadi inspirasi bagi dosen lain yang akan memasuki masa purnabakti.

Konsep yang disuguhkan pun dinilainya menarik karena menggabungkan unsur modern dan tradisional tanpa menghilangkan nilai-nilai lama. Ermanto memandangnya sebagai langkah bagus untuk membangkitkan semangat mahasiswa seni, yang kini agak tersudut oleh kehadiran kecerdasan artifisial (AI).

Sejalan dengan Wim, Ermanto berpendapat bahwa hadirnya AI bukan berarti menyerahkan seluruh urusan penciptaan kepada AI. Teknologi semestinya menjadi “ruang kolaborasi”. Artinya, AI dikembalikan pada fungsinya, yaitu sebagai penyimpan data. Bagaimanapun, orisinalitas adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh AI.

Perkembangan teknologi memang tidak bisa ditolak, sehingga cara menyikapinya penting diperhatikan. Persoalan AI ini memang menyinggung kreativitas mahasiswa. Namun, Ermanto punya catatan yang melegakan: dibandingkan 20 hingga 30 tahun lalu, mahasiswa dan seniman masa kini justru lebih kreatif dalam menciptakan karya.

Tidak Ada Istilah Dapur Tutup

Pesan Wim malam itu terasa personal. Ia sendiri seorang pendidik, tetapi sehari-hari lebih banyak berkecimpung di bidang kesenian. Pengalaman itulah yang ingin ia titipkan kepada murid-muridnya yang kini sudah menjadi dosen.

Sebuah ruang, tempat dosen dan mahasiswa terus berkarya bersama. (Foto: cagak.id)

Bahkan, sebagian besar orang yang berada di lingkungan tersebut saat ini merupakan murid-murid Wim. Panggung Penghujung, dengan begitu, adalah panggung seorang guru bersama murid-muridnya, dari yang kini sudah menjadi rekan sejawat hingga mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah.

Kepada mereka, Wim berpesan untuk menjadi pribadi yang aktif bergerak dan berkarya di bidang seni, bukan sekadar menjalankan tugas sebagai pendidik. Berikan kontribusi dan kesan yang lebih luas melalui karya dan kreativitas. Sebab, tradisi kita masih sangat banyak dan membutuhkan sentuhan serta pengembangan agar dapat terus hidup dan berkembang pada masa mendatang.

Ia pun tak menuntut hasil yang instan. Mungkin hasilnya belum terlihat saat ini, tetapi bisa jadi akan tampak tahun depan atau beberapa tahun mendatang. Karena itu, kreativitas harus terus dirangsang dan motivasi generasi muda terus dibangun. Itulah sebenarnya tujuan yang ingin dicapai Wim.

Perjalanan inilah yang ia maksud dengan penghujung. Bukan berarti semuanya berakhir karena memasuki masa purnabakti.

“Bukan seperti itu,” tegasnya. Penghujung hanyalah batas-batas sebagai aparatur sipil negara (ASN). Pada usia 65 tahun, seorang ASN memang dibatasi oleh umur. “Tapi masalah kreativitas tidak ada batasnya, tidak ada istilah dapur tutup.”

Jadi, penghujung yang dimaksud Wim adalah penanda berakhirnya satu perjalanan, tetapi bukan akhir dari proses berkarya dan berkesenian.

Malam itu, mungkin tirai masa bakti Wim mulai ditutup. Namun, seperti yang ia ucapkan malam itu, kenangan tetap hidup. Dan di pendopo itu, di panggung “Penghujung” ia meninggalkan jejak yang paling ia hargai: sebuah ruang, tempat dosen dan mahasiswa terus berkarya bersama. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top