Bacaan Sejarah Daerah melalui Karya Fiksi

JudulSurat dari Seorang Prajurit 45 kepada Cucunya
PenulisDarman Moenir
PenerbitAngkasa Raya, 1993 (cet. I, 1992)
Tebal71 halaman

Sebagai kelanjutan dari buku yang ditulis oleh Darman Moenir, dan dibahas di rubrik ini minggu lalu, buku ini menceritakan sejarah perjuangan di Sumatera Barat secara lebih luas. Dimulai dengan masa-masa akhir penjajah Belanda, kedatangan Jepang, dan masa agresi Belanda kedua. Dengan menggunakan narasi tokoh pertama yang menceritakan sejarah, buku ini memberikan penjelasan sejarah yang menarik, terutama bagi anak-anak yang sedang duduk di sekolah dasar dan menengah.

Pada masa penjajahan Belanda, si tokoh pencerita, masih anak-anak dan belum memiliki pemahaman yang banyak mengenai kondisi sosial politik, terutama mengenai penjajahan. Hanya saja, ilustrasi mengenai kondisi keluarga dan masyarakatnya dapat memperlihatkan bagaimana penderitaan masyarakat akibat penjajahan itu.

Setelah kemerdekaan, tepatnya mulai 1 Januari 1946, mulailah tokoh yang menceritakan kisah ini, kakek yang mengirimkan surat kepada cucunya dalam keseluruhan  buku ini, masuk dan terlibat dalam latihan dan operasi militer. Ia bergabung dengan Divisi II Tentara Sumatera yang bermarkas di Bukittinggi.

Melalui sejumlah operasi militer ini, dapatlah kita pembaca mengetahui beberapa peristiwa dan kondisi masyarakat Sumatera Barat dalam mempertahankan kemerdekaan. Demikian juga dengan operasi militer di Baso dalam memberangus PKI yang telah menculik beberapa tokoh, seperti Demang Azimar dan kepala polisi Payakumbuh, Amir Hamzah. PKI di Baso, di bawah pimpinan Tuanku Nan Putih dan Tuanku Nan Hitam, memiliki kelompok yang handal, dengan memiliki anggota terlatih berkat bantuan tentara Jepang yang tinggal di sana, dan juga membangun komune-komune yang menerapkan ajaran komunis secara langsung.

Peristiwa penting lainnya yang diceritakan di buku ini, yang sudah diceritakan dalam buku Di Lembah Situjuh Batur, adalah penyerbuan Belanda terhadap tentara yang sedang bermalam di sebuah masjid. Mereka hendak membebaskan Tanah Datar dari Belanda. Namun akibat bocornya keberadaan mereka, Belanda datang dan menyerang mereka.

Buku ini lebih bersifat kronologis dan memberikan ilustrasi yang lebih luas dibanding buku sebelumnya. Dengan gaya penceritaan yang terasa lebih cair, memang bacaan ini penting untuk pengetahuan sejarah. Apalagi, dengan teknik bercerita seperti yang disajikan dalam buku ini, lebih dapat diterima oleh para pembaca anak-anak. Hanya saja, pada beberapa bagian cerita ini seperti tersendat, karena perpindahan dan pemilihan peristiwa sejarah yang dihadirkan berbeda-beda.

Saya pikir buku seperti ini penting untuk dibaca. Apalagi Darman Moenir juga menggunakan bahan-bahan, baik tulisan maupun wawancara, yang dapat memberikan latar belakang sejarah menjadi lebih hidup. Tentu saja, perspektif lain perlu dihadirkan, melalui karya yang lain, untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dan luas mengenai sejarah, terutama sejarah daerah ini.   


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top