Aroma Tubuh

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Mudah saja mengetahui isi pikiran laki-laki. Tinggal menghirup aroma tubuh mereka. Tidak. Tidak. Kau tidak salah baca. Setiap keturunan Adam memiliki aroma tubuh yang khas. Aromanya bisa didefinisikan sebagai aroma permen, aroma kopi, aroma cengkih. Namun, kebanyakan tidak bisa didefinisikan. Lebih banyak lagi yang berbau busuk. Aroma tubuh mereka mencerminkan isi pikiran mereka.

“Tahun ini kamu sudah tiga puluh lima tahun, Miranda.” Sepuluh menit yang lalu Ibu mengetuk pintu kontrakanku. Tidak seperti biasanya, dia datang tanpa berkabar. Buru-buru kumatikan puntung rokok dan menyemprot ruangan dengan pengharum beraroma jeruk yang menyengat, berharap dia tidak bisa membaui sisa-sisa pembakaran nikotinku.

“Iya Bu, dua bulan lagi,” sahutku sekenanya meski sudah kuketahui dengan persis akan ke mana arah pembicaraan ini. “Bagaimana kabar Hans?”

Ibu mendengus. “Aku kemari bukan untuk membicarakan ayahmu. Tunggu dulu, apa kau habis merokok?”

Cepat-cepat kusembunyikan keterkejutan. Boleh juga penciuman Ibu. “Tidak, Bu.”

“Yang benar? Kau tahu kan Miranda, kalau rokok itu bisa menyebabkan rahimmu kering?!”

Luar biasa sekali bagaimana topik pembicaraan berubah dengan cepat. Awalnya membahas usiaku lalu tiba-tiba melompat pada efek buruk rokok. Namun, aku sudah tahu persis apa tujuan dari semua topik pembicaraan ini.

“Belum menikah. Suka merokok. Mau jadi apa kau, Nak!? Laki-laki mana yang mau sama perempuan seperti kau ini? Kau tidak bertambah muda setiap harinya, Miranda!”

Nah, kan. Sudah kuduga. Kedatangan Ibu memang tak pernah jauh-jauh dari urusan menceramahiku tentang pentingnya menikah bagi perempuan. Seolah-olah nasib baik perempuan bergantung pada dengan siapa dia menikah. Jika dinikahi pejabat atau pengusaha batu bara maka beruntunglah nasibnya. Jika dinikahi pengangguran atau seniman, maka buruklah nasibnya. Padahal kebanyakan pejabat dan pengusaha batu bara berbau busuk, sedangkan seniman dan pengangguran beraroma menyenangkan.

“Bagaimana kabar Hans?” Aku mengulang pertanyaan yang belum bertemu jawaban. Sebetulnya tidak benar-benar ingin tahu kabar Hans. Menanyakan kabar lelaki itu pada Ibu hanya demi mengingatkan wanita paruh baya di hadapanku ini bahwa menikah bukanlah indikator kebahagiaan perempuan. Apakah dia lupa hal-hal yang sudah dilakukan Hans sepanjang pernikahan mereka?

Aku bisa mendengar helaan napas Ibu dari tempatku duduk. “Walau bagaimana pun dia itu ayahmu, Miranda. Tunjukkanlah sedikit hormat.”

Aku ingin menyahut, ‘walau bagaimana pun kau juga adalah wanita yang melahirkan anak-anaknya, kenapa dia tidak bisa menunjukkan sedikit saja penghargaan?’ tetapi aku memilih diam. Berbicara dengan Ibu perihal kelakuan Hans sama halnya dengan upaya membangun seribu candi dalam semalam. Mustahil dia bisa sadar. Sejak semula dia selalu berada di pihak laki-laki itu.

Dua puluh tahun yang lalu Hans beraroma vanila. Berada di dekatnya benar-benar menyegarkan. Waktu kecil aku bahkan sering mencuri-curi menjilat tangannya tiap kali sungkem, menebak-nebak jangan-jangan kulitnya juga semanis es krim vanila, rasa favoritku. Namun, tidak lama kemudian aromanya berganti bau busuk yang menyengat. Aku mendefinisikannya sebagai bau bangkai tikus. Bisnis batu bara yang digelutinya melambung secara signifikan diikuti dengan bau bangkai yang makin menyengat.

Awalnya aku pikir ada tikus mati di dalam rumah. Aku meminta abangku memeriksa loteng dan kolong ranjang demi mencari bangkai tikus tersebut, sampai kemudian aku menyadari aroma itu hanya datang ketika Hans ada di dekatku. Kau bisa bayangkan bukan bagaimana bergejolaknya perutku ketika harus satu meja makan dengannya?

Beberapa bulan setelah aku menyadari bau bangkai itu berasal dari tubuh pria itu, Hans mengakui perselingkuhannya. Tidak tanggung-tanggung, si wanita simpanan itu sedang hamil pula. Ibu tidak pernah menggugat cerai. Dia justru menyuruh Hans bertanggung jawab dan menikahi wanita tersebut. Entah apa yang dipikirkan Ibu. Entah terbuat dari apa hatinya. Ataukah mungkin dia takut jika predikat wanita beruntung yang dia sandang karena bersuamikan pengusaha tambang kaya raya tanggal kalau sampai bercerai dari Hans?

Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Ibu, tetapi sejak saat itu aku tahu bahwa aku bisa menebak baik-buruknya pikiran laki-laki hanya dengan menghidu aroma tubuh mereka dari jarak dua meter. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ibu, tetapi sejak saat itu aku membenci konsep pernikahan, setidaknya pernikahan yang dimiliki oleh kedua orang tuaku. Aku tidak tahu apa yang dirasakan Ibu, tetapi sejak saat itu aku berhenti memanggil penyumbang salah satu kromosom X dalam gugus DNA-ku dengan sebutan ‘ayah’.

“Kalau tidak bisa cari calon suami sendiri, biar Ibu yang carikan.”

“Tidak perlu, Bu,” sahutku cepat. Ingin kutambah dengan kalimat ‘ini bukan zaman Siti Nurbaya’ tetapi segera kurungkan demi menghindari percekcokan.

“Si Yandika, anak Tante Karla, kalian pernah bertemu. Sepertinya kalian serasi.”

Aku menggeleng. Yandika yang bau selokan? Aku tidak tahu kejahatan apa yang sudah dia perbuat atau sedang dia rencanakan, sampai memiliki bau tubuh seburuk itu.

“Kalau temanmu, si Erland, yang pernah ketemu Ibu di pantai tempo hari?” Ibu tampaknya tidak akan menyerah dengan mudah.

“Cuma teman kerja, Bu.” Aku kembali menggeleng. Erland awalnya beraroma kopi, tetapi tiga bulan belakangan berbau cicak mati. Indra penciumanku memberikan peringatan. Kuputuskan untuk menjauh bahkan sebelum kami benar-benar dekat.

Ibu mengembuskan napas panjang. Mungkin mulai frustrasi dengan sikap acuh tak acuhku tiap kali dia membawa topik pernikahan ke permukaan. “Usia tiga puluh lima tahun itu masa-masa rawan bagi perempuan, Nak.”

Aku berdecak sebal. “Rawan kenapa sih, Bu? Aku ini manusia, bukan mi instan yang punya tanggal kedaluwarsa. Lagi pula kalau tidak menikah pun sepertinya hidupku baik-baik saja.”

“Dari mana kau yakin hidupmu baik-baik saja? Saat tua nanti siapa yang akan menemanimu kalau bukan suami dan anak-anak? Kau mau hidup kesepian dan mati sebatang kara?”

“Apa bedanya dengan Ibu sekarang?” sahutku kesal yang beberapa detik kemudian kusesali demi menangkap perubahan raut di wajah tuanya. “Maaf.”

“Tidak perlu minta maaf,” ujar Ibu pelan.

Ibu menikahi laki-laki yang dia bilang dia cintai tetapi di usianya yang sudah senja dia tetap saja sering sendiri karena ternyata laki-laki itu lebih senang menghabiskan waktu dengan istri muda dan anak-anak mereka yang jumlahnya tiga kali lebih banyak daripada yang bisa Ibu lahirkan. Sementara aku dan abangku, yang tidak menyetujui keputusan Ibu ketika memilih tetap dalam pernikahan bersama Hans, berusaha untuk cepat-cepat pergi dari rumah begitu kami lulus sekolah.

Ibu memalingkan wajah ke bingkai jendela di sampingnya. Mungkin dia kecewa mendengar ucapanku. Mungkin dia marah mendengar argumentasiku. Entahlah. Aku lelah menebak-nebak isi hati Ibu. Lebih mudah membaca baik-buruk pikiran laki-laki.

Lima menit setelah berdiam diri, Ibu menepuk pahanya. Dia kembali menoleh ke arahku. “Kapan-kapan datanglah ke rumah. Kita makan malam bersama ayah dan abangmu. Rasanya sudah lama kita tidak makan sama-sama. Kapan terakhir, ya? Setahun lalu kalau tidak salah.”

Aku mengangguk pelan. Bukan berarti setuju dengan rencana makan malam dadakan yang Ibu kemukakan, tetapi agar suasana canggung ini segera berlalu dan jika boleh dia segera pergi dari rumahku.  

Ibu akhirnya beranjak dari sofa. “Oh, ya, Ibu lupa bilang. Ayahmu titip salam. Sesekali datanglah temui dia.”

Aku tidak merespons. Bau tikus mati itu masih bertengger di tubuh Hans hingga kali terakhir kami bersua. Aku pernah bertemu dengan laki-laki yang awalnya beraroma jeruk yang kemudian berubah menjadi berbau amis karena tertangkap basah menyelundupkan uang perusahaan. Beberapa bulan kemudian setelah ia minta maaf dan mengembalikan uang itu, aroma tubuhnya kembali berbau jeruk. Yang terjadi pada bau tubuh Hans adalah kasus yang tidak kumengerti. Jadi, kuputuskan untuk tetap menjauh darinya selama tubuhnya masih berbau tikus mati.

Ibu berjalan ke arah pintu tetapi menoleh kembali sebelum memutar kenopnya. “Berhentilah merokok, Miranda. Asap rokok itu hanya menyamarkan bau. Tidak akan pernah menuntaskan akar masalah.”

Aku mengernyit tak paham. Beranjak remaja penciumanku makin tajam. Aroma tubuh laki-laki yang berlalu-lalang di dekatku sangat mengganggu. Syukur-syukur jika baunya menyenangkan. Kebanyakan selama ini mereka membawa rupa-rupa bau busuk yang menyengat. Karena alasan itu, aku menjadi perokok aktif yang bisa menghabiskan setengah bungkus sehari. Kadang-kadang ketika aku butuh untuk fokus dan memusatkan perhatian, aroma nikotin bisa menghalau aroma-aroma lain yang berdatangan. Namun, aku tidak pernah mengatakan semua hal itu pada Ibu. Tidak pada siapa pun. Tidak ada yang tahu keanehanku ini.

“Hanya karena ayahmu berbau busuk, bukan berarti semua laki-laki di dunia seperti dia. Ibu harap kau segera menemukan laki-laki yang bau tubuhnya menyenangkan.”

Aku terkejut mendengar ucapan Ibu tetapi sepertinya mustahil untuk mengamini kalimatnya yang terakhir. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top