Menguatkan Ekosistem dan Menjaga Nyala Api Sastra di Tengah Peradaban Dunia

Lantai pameran Abu Dhabi International Book Fair 2025 riuh oleh rupa-rupa aksara dan gumam percakapan dalam puluhan bahasa dunia. Di tengah labirin stan dari berbagai benua, Indonesia berdiri dengan martabat yang berbeda. Tahun itu, Indonesia resmi didapuk sebagai Guest of Honor (Tamu Kehormatan) pada Abu Dhabi International Book Fair (ADIBF) 2026. Partisipasi ini bertepatan dengan perayaan 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA), di mana Indonesia akan menampilkan kekayaan literasi dan keragaman budayanya di panggung global. Sebuah panggung utama di jantung Timur Tengah, tempat di mana mata para agen sastra, penerbit dunia, dan pembaca internasional tertuju pada lembar-lembar kisah yang lahir dari rahim kepulauan Nusantara.

Berada di ruang tersebut bukan sekadar merayakan seremonial pemotongan pita atau bertukar kartu nama dengan para petinggi perbukuan dunia. Di balik gemerlap lampu partisi pameran dan tumpukan buku yang ditata apik, ada sebuah refleksi: bagaimana narasi-narasi lokal Indonesia yang kaya bisa bertahan dan merebut perhatian dunia jika struktur penopangnya di tanah air masih rapuh?

Perjalanan ke Abu Dhabi menjadi cermin ‘semesta’. Di satu sisi, terpampang potensi luar biasa ketika negara hadir memberikan arah kebijakan dan dukungan penuh di level internasional. Partisipasi aktif dalam pameran buku internasional terbukti menjadi hulu dari peningkatan visibilitas sastra Indonesia. Di sisi lain, kepuasan di panggung global akan menjadi semu jika mengabaikan denyut nadi yang ada di pedalaman, di sudut-sudut kota kecil, dan di ruang-ruang komunitas yang sunyi dari pemberitaan.

Penguatan sastra Indonesia, seperti yang disadari dari ruang pameran yang megah itu, membutuhkan kerja yang menyeluruh dan tidak boleh fragmentaris. Kerja ini harus membentang secara konsisten dari ruang-ruang komunitas di daerah hingga jejaring internasional yang mampu membawa karya Indonesia menembus pasar global. Tanpa adanya jembatan yang kokoh antara hulu dan hilir, kehadiran di panggung dunia hanya akan menjadi letupan sesaat dan kecil, bukan sebuah arus besar yang berkelanjutan.

Dari kesadaran itulah, strategi pengembangan sastra nasional dirumuskan. Strategi yang tidak lagi melihat penulis sebagai aktor tunggal yang terisolasi, melainkan menghubungkan penulis, penerjemah, promotor, penerbit, festival, dan pembaca dalam satu ekosistem yang organik dan saling menguatkan.

Abu Dhabi, dalam perjalanan yang saya lakukan, bisa disebut sebagai hilir. Atau ‘cabang hilir’, semacam stepa, padang-pdang terbuka, tempat sejauh memandang rumput dalam rongga mata, yang akan meringkus seluruh ide. Bagi saya, perjalanan ini selalu bermuara pada ingatan tentang Rumah Rengganis di Cirebon. Mengelola ruang kreatif di daerah memberikan pengalaman empiris yang tak terbantahkan bahwa kreativitas terbesar justru sering kali meledak dari keterbatasan.

Bermula dari kumpul-kumpul di teras rumah komplek akibat Covid-19 merajalela. Di situ, saya menyaksikan bagaimana anak-anak muda berkumpul, mendiskusikan teks-teks klasik maupun kontemporer, menulis puisi di atas kertas-kertas bekas, dan menerbitkan zine secara swadaya.

Di sana, ada ruang tumbuh alami bagi penulis baru, pembaca yang loyal, dan berbagai praktik literasi yang hidup langsung di tengah masyarakat. Mereka bekerja bukan karena insentif birokrasi, melainkan karena panggilan daya kreatif yang menyala-nyala.

Namun, dari Rumah Rengganis pula, jeritan penolakan terhadap ketimpangan struktural itu terdengar paling nyaring. Program Pemerintah waktu itu berseliweran, tapi tak satu pun kumparnya melilit Kota Cirebon.

Kesenjangan yang menganga lebar antara produksi karya dan distribusi menjadi satu poin penting tantangan terbesar sastra Indonesia hari ini. Ironis. Banyak penulis di berbagai daerah menghasilkan karya dengan mutu estetika yang luar biasa tinggi. Dinding tebal dan tinggi bernama keterbatasan akses ada di antara itu. Mereka kesulitan menembus industri penerbitan mayor, tidak tahu bagaimana cara mengakses dunia penerjemahan, minim promosi, dan terisolasi dari jejaring internasional.

Pengalaman empiris ini menegaskan satu keyakinan, pengembangan sastra nasional tidak bisa dilakukan dengan pendekatan top-down yang kaku. Kebijakan harus bertumpu pada dua kekuatan yang berjalan beriringan; komunitas yang hidup di lapangan dan kebijakan negara yang berpihak. Kebijakan tanpa komunitas akan melahirkan program-program menara gading yang kering. Sebaliknya, komunitas tanpa dukungan kebijakan yang berkelanjutan akan mudah lelah dan tumbang oleh tekanan ekonomi.

“Ekosistem sastra yang kuat lahir dari kerja bersama,” menjadi mantra yang terus saya bawa dalam setiap diskusi kebijakan. Negara harus memposisikan diri sebagai penyedia dukungan dan arah kebijakan yang strategis. Di kepingan lain, komunitas tetap memegang kendali penuh atas daya kreatif di lapangan. Keduanya harus saling memperkuat dalam hubungan yang setara dan saling menghormati.

Membaca Kendala dan Membuka Sumbatan

Bergerak dari refleksi Abu Dhabi dan realitas Rumah Rengganis, Kementerian Kebudayaan mengawal lima program prioritas yang dirancang khusus untuk mengurai benang kusut dari hulu hingga hilir. Setiap program merupakan respons langsung terhadap sumbatan-sumbatan yang selama ini membuat sastra terkesan berjalan di tempat.

Program ekosistem sastra pertama adalah Laboratorium Penerjemah Sastra bertujuan penguatan kapasitas SDM penerjemah nasional. Ujungnya, membentuk jaringan penerjemah berkompetensi internasional. Juga, menyiapkan agenda penerjemahan karya Indonesia ke bahasa dunia serta meningkatkan jumlah karya lokal yang terbit di luar negeri.

Partikular, Komunitas Sastra dari Bali. (Foto: Dok Partikular)

Sastra memerlukan ruang tumbuh tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga akses yang lebih luas menuju publik nasional dan internasional. Namun, bagaimana kita bisa mengakses publik internasional jika kekurangan “penerjemah” yang andal? Selama ini, penerjemahan sastra sering kali dianggap sekadar pekerjaan mengalihkan kata dari satu kamus ke kamus lain. Pandangan keliru yang menghambat mutu ekspresi di mata dunia.

Melalui Laboratorium Penerjemah Sastra, fokusnya memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang penerjemahan sastra secara mendasar. Program ini menargetkan terbentuknya jaringan penerjemah sastra nasional yang tidak hanya memiliki kompetensi bahasa yang kokoh, tetapi juga pemahaman budaya yang mendalam serta kemampuan editorial yang memadai untuk bekerja pada standar internasional. Kita memerlukan penerjemah profesional yang mampu menjembatani karya sastra Indonesia ke berbagai bahasa dunia sekaligus—dan ini tidak kalah penting—menghadirkan karya sastra dunia yang bermutu ke dalam ruang baca masyarakat sendiri.

Jika program pertama fokus pada manusianya, maka program Laboratorium Penerjemahan Sastra fokus pada eksekusi teks. Agendanya menjadi penerjemahan karya Indonesia ke bahasa dunia dan meningkatkan jumlah karya lokal yang terbit di luar negeri.

Minimnya katalog karya Indonesia yang sudah siap baca dalam bahasa asing ketika pameran internasional berlangsung, ada dalam kisi kendala terbesar hari ini. Sering datang ke pasar global membawa semangat, tetapi pulang tanpa kesepakatan hak cipta (copyrights) karena ketiadaan sampel terjemahan yang representatif.

Program ini diarahkan untuk secara agresif meningkatkan jumlah karya sastra Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri. Caranya dengan membangun kerja sama yang sistematis dengan penerbit internasional, agen sastra global, lembaga kebudayaan asing, dan para penyelenggara pameran buku dunia. Kita tidak bisa lagi menunggu kesempatan. Stimulus agar industri penerbitan global tertarik melirik narasi-narasi Nusantara, mesti tersedia

Sering kali saya katakan dalam berbagai forum, salah satu tantangan terbesar sastra Indonesia saat ini bukan terletak pada minimnya karya bermutu. Penulis Indonesia sangat produktif, dan estetika mereka sangat kaya. Masalah mendasarnya terletak pada sangat terbatasnya infrastruktur promosi dan distribusi yang mampu memperluas jangkauan pembaca. Karya-karya hebat sering kali ‘mati muda’ di gudang penerbit atau hanya berputar di lingkaran kecil pertemanan sang penulis karena tidak ada yang memasarkannya secara profesional. Inilah yang memantik munculnya program ketiga.

Laboratorium Promotor Sastra hadir untuk mencetak kurator, pengelola acara (event managers), dan promotor sastra yang memiliki keahlian khusus untuk mempertemukan karya dengan publiknya. Sastra membutuhkan manajerial yang modern. Sastra memerlukan figur-figur yang mampu mengemas sebuah buku atau isu sastra menjadi sebuah peristiwa budaya yang memikat publik luas, menggalang kolaborasi lintas disiplin, dan membuka jalur-jalur distribusi baru yang selama ini tersumbat.

Begitu juga dengan program keempat. Festival sastra di Indonesia tumbuh bak jamur di musim hujan, dari ujung Sumatra hingga Papua. Potensi luar biasa. Namun, festival kerap terjebak pada pola kegiatan yang repetitif, kurangnya kedalaman kurasi, dan keterisolasian manajemen dari jejaring yang lebih luas.

Program Penguatan Festival Sastra diarahkan secara khusus untuk menaikkan kelas festival. Peningkatan kualitas kurasi agar festival memiliki karakter tematik yang kuat dan tidak sekadar menjadi ajang hura-hura literasi, tak terelakkan. Lebih jauh lagi, festival harus mampu memperluas partisipasi publik, memperkuat dampak ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar, serta membangun jejaring nasional dan internasional bagi para pelakunya, terutama para pengelola festival itu sendiri. Festival harus menjadi ruang inkubasi, tempat bertemunya gagasan baru, penulis, dan industri.

Terakhir, program penguatan komunitas sastra. Ketika membicarakan komunitas, daya tahan menjadi menu utama. Banyak komunitas sastra di daerah layu sebelum berkembang bukan karena kehilangan daya kreatif, melainkan karena kelelahan organisasional. Mereka kesulitan mengelola ruang fisik, tidak memiliki model keberlanjutan finansial, dan minim regenerasi.

Komplotan Bandit Warung Kopi, Komunitas Sastra di Aceh. (Dok. Bandit Warung Kopi)

Oleh karena itu, program Penguatan Komunitas Sastra berfokus pada aspek yang sangat mendasar, pengembangan kapasitas organisasi, perluasan jaringan antar-komunitas, dan keberlanjutan ruang-ruang kreatif di daerah. Kita ingin membantu komunitas agar mereka memiliki manajemen internal yang sehat tanpa kehilangan independensi dan karakter lokalnya. Negara tidak boleh mendikte arah estetika komunitas, melainkan bertugas memastikan bahwa lantai tempat mereka berpijak cukup kokoh untuk menopang kerja kreatif mereka sehari-hari.

Melihat peta jalan yang sedang dibangun, masa depan sastra Indonesia sebenarnya menyimpan potensi yang luar biasa besar. Sastra bukan lagi sekadar pelipur lara atau hobi kelompok elit tertentu. Jika dikelola dengan pendekatan ekosistem yang tepat, sastra Indonesia dapat tumbuh sebagai ekspresi kreatif masyarakat sekaligus menjadi instrumen diplomasi budaya yang disegani di tingkat global, penggerak ekonomi kreatif yang riil, dan sarana paling efektif untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada dunia.

Namun, jalan menuju masa depan yang gemilang itu dipenuhi oleh rintangan yang membutuhkan keteguhan sikap. Kendala terbesar yang membayangi program ini di masa depan terletak pada resistensi birokrasi dan godaan untuk terjebak pada pendekatan seremonial yang instan. Mengubah mentalitas dari sekadar “membuat proyek acara” menjadi “membangun ekosistem yang berkelanjutan” membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan kesabaran yang luar biasa.

Selain itu, tantangan global juga menuntut untuk terus beradaptasi. Transformasi digital yang mengubah lanskap membaca masyarakat, kehadiran akal imitasi (AI) dalam dunia penulisan dan penerjemahan, serta pergeseran pola konsumsi budaya generasi muda bertumbuh menjadi realitas yang harus dihadapi oleh para pelaku sastra kita. Tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama untuk mengelola potensi yang baru.

Menjaga Api Tetap Menyala

Sastra merupakan jiwa dari sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang abai terhadap sastranya adalah bangsa yang kehilangan kemampuan untuk merefleksikan dirinya sendiri, kehilangan kemampuan untuk berempati, dan kehilangan suaranya di tengah peradaban dunia.

Lima program prioritas yang kini berjalan didesain sebagai wujud ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa tidak ada lagi jarak yang memisahkan antara potensi luar biasa di daerah dengan panggung kehormatan di tingkat dunia. Di masa depan, yang pasti bisa disediakan, penulis di pelosok Nusantara memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang berada di pusat kekuasaan untuk dibaca, diterjemahkan, dan dirayakan.

Ini kerja kebudayaan yang sunyi, lambat, dan sering kali tidak menghasilkan tepuk tangan yang instan. Namun, di sinilah letak kehormatannya. Bersama komunitas yang terus menjaga daya kreatifnya di lapangan, dan didukung oleh kebijakan negara yang memiliki keberpihakan jelas, benih bagi masa depan peradaban Indonesia yang lebih bermartabat sedang disemai. Perjalanan baru saja dimulai, dan api kreatif ini harus dijaga bersama agar jangan sampai padam. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top