
Seisi gedung terdiam dalam gelap. Tak ada suara selain desir pendingin ruangan dan tarikan napas ratusan penonton yang memenuhi Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Lampu-lampu utama padam. Panggung tenggelam dalam kegelapan. Lalu sorotan cahaya warna kekuningan terang, muncul.
Sorot lampu tunggal jatuh tepat pada sebuah podium di sudut kanan panggung. Cahaya itu tidak dramatis. Tidak pula berlebihan. Namun cukup untuk menarik perhatian seluruh mata yang hadir malam itu. Di balik sorotan berdiri seorang lelaki berbaju batik cokelat muda. Wajahnya tenang. Suaranya bariton sedang dan jernih.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Di tempat ini, sebelas tahun yang lalu, tepatnya Senin 16 Maret 2015, Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif berdiri menyampaikan kuliah umum untuk sivitas akademika Institut Seni Indonesia Padang Panjang….”
Kalimat itu meluncur perlahan. Sejenak, waktu seperti berhenti bergerak. Minggu malam, 31 Mei 2026, Gedung Hoerijah Adam yang legendaris itu seolah berubah menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Ruang tempat ingatan, sejarah, seni, dan gagasan bertemu dalam satu panggung.
Empat tahun setelah wafat pada 27 Mei 2022, Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif seakan hadir kembali. Bukan sebagai sosok yang dipahat dalam monumen atau dikenang melalui pidato-pidato seremonial. Ia hadir melalui cerita. Melalui musik. Melalui kaba bertutur. Melalui seni.

Malam itu, Buya kembali bertutur kepada bangsanya dari Kota Padang Panjang. Kehadiran kembali Buya melalui bahasa seni itulah yang menjadi ruh pertunjukan seni bertajuk “Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar yang lebih besar untuk merawat warisan pemikiran dan keteladanan Buya bagi generasi masa kini.
Pertunjukan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Buya Syafi’i Ma’arif yang diselenggarakan MA’ARIF Institute bekerja sama dengan Komunitas Talago Buni dan ISI Padang Panjang. Perhelatan nasional ini mengusung tema “Merawat Suluh, Menjaga Hati Nurani Bangsa”, yang digelar di tiga kota, yakni Yogyakarta, Padang Panjang, dan Jakarta sebagai puncaknya pada pertengahan Juni.
Berbeda dengan seminar, diskusi akademik, atau bedah buku yang lazim dilakukan untuk mengenang tokoh bangsa, peringatan kali ini memilih jalan kebudayaan. Buya dikenang dan dihidupkan kembali melalui seni pertunjukan.
Pilihan itu bukan sekadar strategi artistik.Tampaknya, penyelenggara berangkat dari keyakinan bahwa pemikiran besar tidak cukup disimpan dalam buku, arsip, atau ruang-ruang akademik. Gagasan harus terus bergerak, hidup, dan menjangkau generasi yang lebih luas. Seni menjadi medium yang memungkinkan hal itu terjadi.
Tentu saja pilihan menghadirkan Buya melalui seni bukanlah keputusan yang lahir tanpa pijakan. Justru dari kampus yang sama, sebelas tahun sebelumnya, Buya pernah menyampaikan pandangan-pandangannya tentang pendidikan, intelektualitas, dan peran seni dalam kehidupan berbangsa.
Karena itulah pertunjukan malam itu dibuka dengan pembacaan ulang kuliah umum Buya di ISI Padang Panjang pada 16 Maret 2015 silam.
Maka bukan kebetulan jika pidato tersebut kembali diperdengarkan. Di dalamnya tersimpan pandangan-pandangan yang hari ini terasa semakin relevan. Dalam kuliah umum itu, misalnya, Buya bercerita tentang nasihat gurunya ketika menyelesaikan studi doktoral di Universitas Chicago. Seorang sarjana, kata gurunya, harus melakukan tiga hal: merenung, membaca, dan menulis. Tiga kata sederhana yang bagi Buya menjadi fondasi kehidupan intelektual.
“Merenung tentang profesi kita, tentang manusia dan kemanusiaan. Membaca tanpa henti. Dan menulis agar pikiran kita masuk ke ruang publik untuk diuji,” demikian pesan yang kembali dibacakan dengan artikulasi jernih oleh Dede Pramayoza, seorang aktor dan juga akademisi.
Tentu saja, di tengah banjir informasi digital yang serba cepat, pesan tersebut terasa seperti kritik yang menohok. Buya melihat bahaya terbesar bukanlah keterbatasan informasi. Bahaya terbesar justru kemalasan intelektual.
“Kalau kemalasan intelektual dan spiritual tidak diatasi, seorang sarjana sedang menggali kuburan masa depannya sendiri,” sebut Buya.
Kalimat itu terdengar menggema mengisi sudut-sudut ruang gedung. Sebagian penonton mengangguk pelan. Sebagian lainnya merekam dengan telepon genggam. Namun hampir semua tampak larut dalam suasana, termasuk ratusan siswa dan santri Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang yang hadir malam itu.
Seni dan Kebudayaan
Namun pertunjukan tidak hanya mengajak penonton mengenang Buya sebagai seorang intelektual. Pementasan juga menghadirkan sisi lain pemikirannya yang jarang dibicarakan, yakni pandangannya mengenai seni dan kebudayaan. Pada kuliah umum di tempat yang sama, Buya berbicara tentang seni.
Ia menyinggung talempong dan canang unggan, kesenian tradisional Minangkabau yang hidup di kampung-kampung. Bagi Buya, kesenian rakyat bukan sekadar bunyi-bunyian atau hiburan. Di dalamnya terdapat kekuatan moral yang mampu membentuk karakter masyarakat.

“Saat politik kekuasaan menjadi liar karena kehilangan visi masa depan, maka seni harus tampil ke depan untuk menjinakannya.”
Kalimat itu kembali terdengar dari podium. Dan malam itu, kalimat tersebut seperti menemukan konteksnya sendiri. Di atas panggung, seni memang sedang bekerja. Bukan sekadar menghibur. Bukan sekadar menyenangkan mata dan telinga. Tetapi menghidupkan kembali kesadaran publik tentang pentingnya moralitas, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Bagi Buya, politik tanpa keindahan dan tanpa moral akan menjadi liar. Karena itu seni memiliki tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Seni adalah penjaga nurani.
Gagasan tentang seni sebagai penjaga nurani itulah yang kemudian menjadi landasan konseptual pertunjukan yang digagas Komunitas Talago Buni malam itu.
Direktur Artistik pertunjukan, Edy Utama, menyebut karya tersebut merupakan salah satu upaya menerjemahkan perjalanan hidup dan pemikiran Buya ke dalam bahasa artistik yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Yang kami hadirkan bukan hanya kisah hidup Buya sebagai tokoh, tetapi juga gagasan-gagasannya tentang kemanusiaan, kebangsaan, dan moralitas publik,” kata Edy Utama, yang juga seorang kurator ini.
Ia menjelaskan, pertunjukan dirancang dalam format multimedia. Tradisi tutur Minangkabau dipadukan dengan video art, dokumentasi sejarah, sastra lisan, serta komposisi musik etnik kontemporer.
“Seni tradisi Minangkabau memiliki semua itu. Panggung tampak sederhana karena seni tradisi tidak perlu tampil gemerlap. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat perhatian penonton terpusat pada cerita,” terang pendiri Talago Buni ini.

Di atas panggung duduk enam performer: Muhammad Halim, Susandra Jaya, Emri, Hasanawi, Febrianti, dan Anna Amelia Putri. Sementara dua narator, Andria C. Tamsin dan Dede Pramayoza, membacakan fragmen-fragmen kehidupan Buya dari podium.
Tradisi tutur yang telah hidup berabad-abad dalam kebudayaan Minangkabau itu menjadi kendaraan utama untuk mengisahkan perjalanan hidup, pergulatan pemikiran, serta nilai-nilai yang diwariskan Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif.
Kekuatan penuturan tersebut semakin terasa melalui pembacaan narasi yang dibawakan Andria C. Tamsin. Selama hampir satu jam pertunjukan berlangsung, ia memperlihatkan konsistensi yang terjaga dalam mengolah intonasi, irama, tekanan, dan ekspresi. Narasi yang disampaikan tidak terjebak menjadi rangkaian kata-kata yang verbalistik, melainkan mengalir sebagai tuturan yang hidup, menghubungkan satu fragmen dengan fragmen lainnya, sekaligus menuntun penonton memasuki ruang refleksi yang dibangun sepanjang pertunjukan. Melalui penguasaan vokal dan penghayatan yang terukur, pesan-pesan tentang kemanusiaan, kebangsaan, dan keislaman yang diperjuangkan Buya dapat tersampaikan dengan jernih tanpa kehilangan daya emosionalnya.
Sementara Hasanawi, Febrianti, Amelia, dan M Halim, yang jadi penutur kaba dalam pertunjukan ini, mempertegas bahwa kaba tidak sekadar berfungsi sebagai perangkat artistik atau elemen estetis. Mereka ini mampu menjadi jembatan yang menghubungkan sosok Buya dengan tanah kelahirannya, sekaligus menghubungkan warisan pemikirannya dengan generasi masa kini.
“Melalui tradisi tutur yang akrab dalam kebudayaan Minangkabau tersebut, perjalanan hidup Buya terasa lebih dekat dan membumi. Sosok Guru Bangsa itu tidak lagi hadir sebagai figur besar yang jauh di ruang sejarah, melainkan sebagai seorang anak kampung Minangkabau yang tumbuh dari tradisi, pendidikan, dan pergulatan pemikiran yang panjang,” ujar Edy Utama.
Sementara itu, bunyi hadir sebagai penguat suasana, mempertegas emosi, dan mengantar penonton memasuki setiap fragmen kehidupan yang dituturkan. Seluruh unsur musikal bekerja untuk melayani cerita yang menjadi pusat pertunjukan, yakni kisah tentang Ahmad Syafi’i Ma’arif—seorang intelektual, cendekiawan Muslim, sekaligus guru bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada kemanusiaan, kebangsaan, dan keislaman yang berkemajuan.
Tetap Hidup untuk Generasi Masa Kini
Yusril Katil, sutradara teater Komunitas Seni Hitam Putih Padang Panjang, menilai pertunjukan tersebut berhasil menghadirkan karya kolaboratif yang utuh, baik dari sisi artistik maupun penyampaian gagasan.
Menurutnya, seluruh performer tampil optimal dalam membangun atmosfer pertunjukan. Pembacaan narasi oleh dua narator tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antaradegan, tetapi juga mampu memperkuat dan mempertajam pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
“Pertunjukan hasil kerja kolaborasi malam itu memperlihatkan penampilan yang sangat baik dari seluruh performer. Pembacaan yang disampaikan dua narator mampu memperkuat sekaligus mempertajam pesan yang dituturkan sepanjang pertunjukan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi aspek teknis pertunjukan, terutama tata suara dan pengelolaan sistem audio yang dinilainya dikerjakan secara cermat.
“Selain itu, tata suara dan pengaturan alat bunyi dikerjakan dengan sangat baik. Hal ini membuat keseluruhan pertunjukan menemukan artikulasinya yang tepat, sehingga gagasan, emosi, dan pengalaman estetik yang dibangun dapat tersampaikan secara utuh kepada penonton,” kata Yusril.
Menurutnya, keberhasilan pertunjukan tidak hanya terletak pada kekuatan konsep yang menggabungkan kaba, musik, dokumenter, dan multimedia, tetapi juga pada kemampuan seluruh unsur artistik bekerja secara harmonis dalam menerjemahkan pemikiran dan perjalanan hidup Buya ke dalam bahasa seni pertunjukan yang komunikatif dan menyentuh.
Keharmonisan berbagai unsur artistik itu semakin terasa ketika pertunjukan memasuki bagian-bagian dokumentatif yang menghubungkan kisah personal Buya dengan jejak pengabdiannya di ruang publik.

Resonansi pertunjukan tidak berhenti ketika lampu panggung dipadamkan. Di luar gedung, sejumlah penonton masih tampak memperbincangkan berbagai pesan yang mereka tangkap sepanjang pementasan. Di antara mereka terdapat beberapa santri dari Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang yang sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Aisya Maimunah, salah seorang santri, mengaku terkesan dengan cara pertunjukan menghadirkan sosok Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif melalui perpaduan kaba, narasi, musik, dan dokumentasi visual. Menurutnya, penyampaian gagasan Buya melalui bahasa seni membuat pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh generasi muda.
“Saya jadi semakin paham dengan apa yang disampaikan Buya. Pertunjukan ini memberi pengetahuan kepada kami tentang pentingnya belajar dengan sungguh-sungguh dan menjaga integritas dalam kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menilai bentuk pertunjukan yang memadukan narasi, musik, dan multimedia membuat kisah perjalanan hidup Buya terasa lebih dekat dengan penonton seusianya.
“Pertunjukannya enak diikuti dan tidak membosankan. Pesan-pesan yang disampaikan juga lebih mudah dipahami karena disajikan melalui seni,” tambahnya.
Pengakuan para santri tersebut menjadi salah satu penanda bahwa tujuan utama pertunjukan malam itu tidak sekadar mengenang seorang tokoh bangsa, tetapi juga menjembatani gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif kepada generasi yang tidak pernah berjumpa langsung dengannya. Melalui bahasa seni, pemikiran yang lahir puluhan tahun lalu menemukan cara baru untuk tetap hidup dan relevan di tengah generasi masa kini.
Memang sepanjang pertunjukan, setiap pergantian episode dalam pertunjukan berdurasi sekitar 60 menit itu, perhatian penonton diarahkan ke layar besar yang menampilkan dokumentasi perjalanan hidup Buya. Potret masa kecilnya di Sumpur Kudus, perjalanan pendidikan hingga Universitas Chicago, aktivitasnya sebagai intelektual publik, sampai perjumpaannya dengan berbagai tokoh dunia ditampilkan secara bergantian.Dokumentasi visual itu tidak hanya memperkaya narasi, tetapi juga membantu penonton memahami luasnya jejak pengabdian yang telah ditinggalkan Buya.

Di sela-sela dokumentasi tersebut hadir pula kesaksian sejumlah tokoh nasional dan internasional yang pernah berinteraksi langsung dengannya. Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir mengenang Buya sebagai sosok yang pengabdiannya melampaui batas organisasi dan kelompok. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menyoroti keberanian moralnya dalam menyuarakan kebenaran. Kardinal Ignatius Suharyo mengenang keterbukaan dan kemampuannya membangun persaudaraan lintas iman. Almarhum Azyumardi Azra melihat Buya sebagai intelektual yang berani bersikap kritis terhadap berbagai penyimpangan atas nama agama. Sementara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menempatkannya sebagai pemikir Islam yang pengaruhnya melampaui batas-batas negara.
Rangkaian kesaksian itu memperlihatkan satu kenyataan penting: Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif bukan hanya milik Muhammadiyah, bukan pula milik satu kelompok atau golongan tertentu. Ia telah menjelma menjadi tokoh bangsa yang diterima dan dihormati oleh berbagai kalangan.
Jejak pengaruh yang begitu luas itulah yang menjadi alasan mengapa MA’ARIF Institute memilih memperingati Bulan Buya bukan sekadar sebagai agenda mengenang masa lalu.
Direktur Eksekutif MA’ARIF Institute, Andar Nubowo, menegaskan bahwa peringatan Bulan Buya merupakan ikhtiar untuk menjaga agar warisan pemikiran dan keteladanan Buya tetap hidup dan terus berdialog dengan generasi masa kini.
Menurut Andar Nubowo, ada tiga gagasan besar yang menjadi inti perjalanan hidup sekaligus warisan intelektual Buya, yakni keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
“Ketiga nilai itu tidak pernah berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan menjadi benang merah yang menuntun seluruh sikap serta pemikiran Buya sepanjang hayatnya,” kata Andar Nubowo.
Dalam pandangan Buya, tambahnya, Islam harus hadir sebagai kekuatan yang mendorong kemajuan dan menegakkan keadilan sosial. Indonesia harus terus dirawat dalam keberagamannya. Sementara kemanusiaan harus ditempatkan sebagai nilai universal yang melampaui sekat agama, etnis, maupun kepentingan politik.
Ia menilai pesan-pesan tersebut semakin relevan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia saat ini.
“Dunia sedang menghadapi berbagai krisis kemanusiaan dan krisis multidimensi. Dalam situasi seperti ini, inspirasi dan keteladanan Buya Syafi’i Ma’arif perlu terus kita hidupkan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Rektor ISI Padang Panjang, Febri Yulika. Menurutnya, penggunaan kaba sebagai medium pertunjukan merupakan pilihan yang tepat untuk memperkenalkan kembali sosok Buya kepada generasi muda yang tidak pernah berjumpa langsung dengannya.
“Buya mengajarkan kepada kita bagaimana mencintai bangsa dan tanah air melalui kemanusiaan, melalui keindonesiaan, dan dengan tetap menegakkan nilai-nilai keislaman,” katanya saat membuka acara.
Ia kemudian mengenang salah satu percakapannya dengan Buya ketika berada di Yogyakarta. “Keyakinan bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dilaksanakan.”
Tampak hadir hadir malam itu keluarga besar Buya yang ada di kampung Sumpur Kudus, pengurus Muhammadiyah di Padang Panjang, Ismail Novel (UIN Syekh Djamil Djambek Bukittinggi), jajaran pejabat ISI Padang Panjang, mahasiwa, dan lain sebagainya.
Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Jorong Calau, Nagari Sumpur Kudus Selatan, Kabupaten Sijunjung. Dari kampung sederhana itulah tumbuh seorang anak nagari yang kelak menjadi salah satu intelektual Muslim paling berpengaruh di Indonesia.
Dari kampung Jorong Calau, Sumpur Kudus, langkah hidupnya membawanya ke Yogyakarta, kemudian ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan doktoral di Universitas Chicago, hingga akhirnya tampil sebagai pemikir publik yang dihormati di tingkat nasional maupun internasional. []




