
Aku hidup. Namun, dari bisik-bisik dokter di seberang ruangan, sepertinya tidak akan lama lagi. Kutangkap juga kesan itu dari muka tertekuk Nandya, anak semata wayangku. Wajahnya memang selalu kelihatan sedih, tapi hari itu, dia tampak sedih dan takut—mungkin karena utang-utangku yang sekeliling pinggang tak akan lunas dengan sendirinya saat nyawaku sudah putus. Anak yang malang, batinku. Tapi aku pun teringat diriku sendiri: dicucuk berbagai jarum, dibelit segala selang. Bahkan kencing pun harus sambil berbaring. Maka rasa malang itu hanya hinggap sejenak, lalu didempang oleh perasaan muak yang merajalela akan ketidakberdayaan badan tua ini.
Sejak masuk rumah sakit, aku—terpaksa—rajin salat. Nandya membasuhkan air wudhu ke tubuhku, yang katanya belum boleh berdiri dan berjalan ke toilet. Setelah bersedekap dan memejamkan mata, aku hanya minta satu hal setelah salatku: aku mau mati. Kalau bisa yang cepat. Agar hidup yang bangsat dan memuakkan ini selesai.
Namun, aku tak pula mati-mati. Kenapa susah sekali Izrail menemukan rumah sakit ini? Cepat selesaikan pekerjaanmu, malaikat bersayap tiga! Masih banyak orang yang harus mati di dunia ini setelahku!
Sampai usai salat Ashar, aku tak juga mati. Kuminta Nandya pulang ke rumah untuk makan dan bersalin pakaian lewat kertas yang ditulisi pulpen. Dia langsung beranjak pergi tanpa disuruh dua kali.
Hanya beberapa detik setelah Nandya menutup pintu bangsal, seseorang berjalan masuk. Lelaki pucat dengan rambut kusut masai, namun berwajah tirus lagi tampan. Dia memakai teluk belango1 dan sewet2 hitam, berdiri di samping brankarku.
Apa orang ini Izrail? Seolah membaca isi kepalaku, dia tersenyum. Mulutnya membuka dan aku mendengar kata-kata yang tidak diucapkan mulutnya, tapi aku tahu dia yang mengatakannya.
“Apa masih ada tempat yang mau kaukunjungi?” dia bertanya.
Aku ingin menjawabnya: tempat apa yang bisa kukunjungi dengan tubuh rusak macam ini? Namun sepintas, hanya sebentar saja, aku sempat membayangkan satu tempat, satu tempat yang mustahil aku kunjungi. Lelaki itu menyambung, “Iya, itu. Kita bisa jalan kaki ke sana.”
***
Konon sebelum Mal Blok M dibangun di selatan Jakarta, tempat ini pernah menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia. Namun, itu dulu. Sekarang, tembok luarnya saja terlihat seperti dinding kamar mandi yang sudah lima tahun tidak disikat.
“Kenapa IP3?” lelaki itu bertanya.
Andai aku tahu jawabannya. Dan andai aku bisa menjawabnya dengan apa pun, karena sekarang mulutku masih terkunci. Kanker tenggorokan berengsek itu seolah tak mau melepasku meski di alam bawah sadar.
“Kau dulu bekerja di sini,” lelaki itu menjawab pertanyaannya sendiri. “Pasti ada banyak hal yang mengikatmu ke tempat ini.”
Dia mengajakku berjalan melewati ambang pintu masuk di lantai dasar. Deretan toko kacamata, toko elektronik, dan toko arloji menyambut kami di kanan-kiri lorong, sementara di ujung lorong itu, meja-meja etalase konter ponsel hadir berdempetan mengelilingi satu-satunya atrium milik IP, mirip semacam benteng. Konter tempatku bekerja tidak berada di sana, tapi jauh di dekat pintu masuk parkiran mobil dan motor.
Gedung itu sama sekali kosong, tapi terang. Semua kotak neon dan lampu kios-kiosnya menyala, walau beberapa di antaranya redup dan berkedut. Seakan-akan semua orang hanya sedang pergi meninggalkan dagangan mereka sebentar untuk istirahat makan siang yang sangat panjang.
“Kau teknisi ponsel,” lelaki itu berkata melewati bahunya. “Kau suka membongkar perangkat elektronik sejak masih kecil. Kumpulan kabel, kawat, dan timah itu seperti magis bagimu.”
Kata-katanya mengambang di udara. Terakhir kudengar, IP akan tutup permanen. Bahkan sampai aku jatuh sakit, tak pernah kudapatkan satu alasan pun yang membuatku harus mengunjungi tempat itu lagi. Tidak sejak aku berhenti menjadi teknisi ponsel. Tidak setelah aku berhenti mengunjungi mal itu puluhan tahun lalu, atau sekadar lewat di jalan raya di depannya.
Kami lalu berhenti di depan sebuah gerobak penjual roti yang terselip di jajaran konter-konter itu. Stiker potong “3 Roti = Rp5.000” tertempel di kaca etalasenya. Mungkin konsep waktu menjadi bengkok di dalam mal ini, karena sudah lama sekali tak kutemukan waralaba roti yang harganya tidak masuk akal ini. Dan karena keberadaanku di IP sendiri sudah tidak masuk akal, maka aku mengabaikan akal sehatku.
“Barang pertama yang kaubeli, dengan gaji pertamamu,” lelaki itu menunjuk roti-roti bulat yang berebut tempat di balik kaca gerobak. “Untuk anak dan istrimu.”
Sekarang aku ingat. Segera setelah menerima upah pertamaku bekerja di konter ponsel, aku membeli roti murah itu, untuk kubawa ke rumah dan kutukar dengan senyum anakku, Nandya. Aku hampir lupa Nandya sangat menyukai roti, sama seperti aku hampir lupa kalau aku punya anak. Namun, sekarang aku ingat.
Lelaki itu mengabaikan keinginanku untuk berdiri di sana lebih lama—demikian pula kakiku yang kini berjalan sesuai kehendaknya sendiri, menyusul lelaki itu menaiki eskalator. Aku sempat ragu benda uzur ini masih berfungsi, tapi setelah kami menginjak anak tangganya, eskalator itu mulai bekerja.
“Dulu, ada anak kecil yang kakinya terjepit di sini,” lelaki itu membuka cerita yang sama sekali tidak kuantisipasi, sembari menunjuk tangga berjalan itu. “Kau yang menolongnya, dengan obeng dan linggis. Kau tidak menyukai anak-anak, tapi sejak anakmu lahir kau seperti melihat anakmu sendiri di semua anak kecil.”
Bagaimana bisa aku lupa kejadian yang satu itu? Televisi nasional sampai meliputnya. Kutemukan muka gugupku yang diwawancarai wartawan, ditayangkan di televisi nasional. Semua orang membicarakannya sampai berminggu-minggu. Semenjak itu, eskalator sial itu lebih sering dijadikan tangga biasa daripada dijalankan.
Di lantai dua, kami melewati deretan etalase lainnya yang menjual kaset lagu bajakan, sebelum kami melewati Super Indo. Aku tahu pasar swalayan itu sudah lama hengkang dari sana, tapi Super Indo yang ada di depan mataku saat itu masih buka. Persis seperti saat terakhir kali aku berkunjung ke sana bersama istriku, Siti, dan juga Nandya. Chiller terbuka membujur di sepanjang lorong, sehingga siapa pun yang hanya numpang lewat tetap bisa melihat langsung ikan-ikan segar dipajang di antara serakan es kristal, macam harta karun yang hanyut di pinggir pantai.
Di sebelah Super Indo, bercokol kios KFC, lengkap dengan arena permainan anak-anaknya yang berwarna-warni dan aroma ayam gorengnya yang sudah tercium sejak kami tiba di lantai itu. Aku dan lelaki itu duduk menempati meja di sebelah jendela, menghadap tepat ke patung baterai ABC raksasa yang bercokol di puncak gedung seberang. Aku enggan melihat jalanan yang padat di bawahnya.
Lamat-lamat, kembali kudengar suara Nandya, juga Siti, dan suaraku sendiri yang masih lancar berbicara, muncul dari keheningan tempat itu. Mereka membicarakan ayam goreng besar-besar yang sedang mereka lahap bersama, dibeli dengan gaji keduaku. Siti bahkan melempar ide sinting: bagaimana kalau kita bawa pulang saja piring porselen KFC yang bagus ini? Lalu aku dan dia tertawa. Tentu saja kami tidak melakukannya.
“Pertama kalinya kalian makan KFC sejak mal ini dibuka,” lelaki itu menyela percakapan bising di kepalaku. “Ini masih jadi cerita yang kau ungkit-ungkit dengan bangga sampai sekarang.”
Mentraktir keluarga makan di KFC adalah satu-satunya trofi kebanggaan di lemari prestasiku yang hening. Salahkah jika kuceritakan itu lagi dan lagi kepada semua orang? Meski kepada anak tunggalku yang makin hari bertumbuh makin besar pula bencinya kepada bapaknya sendiri? Aku haqqul yaqin laki-laki ini bisa membaca pikiranku. Tapi dia tidak tertarik menjawabnya, dan justru berdiri meninggalkan tempat itu—disusul kakiku yang masih saja berjalan tanpa disuruh.
Kami naik ke lantai tiga. Matahari. Aku mendengar Nandya berjalan dengan bunyi kelotak sepatu baru, disusul kikik tawa Siti.
“Gaji ketigamu,” lelaki itu kembali berkata. “Persis sebulan sebelum anakmu masuk sekolah.”
Di lantai empat, kutemukan seonggok tas bepergian tergeletak di sudut eskalator.
“Orang-orang menganggapnya bom,” tutur lelaki itu.
Bahkan sampai aku hampir mati, aku tak pernah tahu siapa orang tolol yang menaruh tas sial itu di sana. Pengunjung IP berhamburan keluar setelah seseorang berteriak, “Ado bom!4” Itu adalah masa-masa mencekam pasca tragedi Bom Bali, semua orang menganggap bom bisa tiba-tiba saja muncul di semua tempat yang ramai. Di tengah huru-hara itu, aku yang baru keluar dari toilet langsung kembali ke lapakku, mengepak peralatan listrik dan hendak kabur, saat aku sadar kotak kasirku sudah lengit5. Selalu ada bajingan yang melihat kesempatan untuk menyusahkan hidup orang lain di antara segala kesempitan hidup mereka sendiri.
Iya, itu gaji keempatku, batinku dongkol. Tak perlu dia repot-repot mendiktenya, karena ingatan itu masih jelas sampai sekarang, lengkap dengan rasa kesalku. Kehilangan kotak kasir itu terpaksa kubayar dengan bekerja cuma-cuma selama dua bulan dan segenggam uang hasil berutang dengan kerabat.
Di lantai lima, lantai paling atas IP, menghampar puluhan mesin dingdong yang menyala tanpa ada yang memainkan. Aku tak pernah mengajak anak atau istriku ke lantai lima, karena tempat itu lebih sering dipenuhi anak-anak SMA yang bolos di jam sekolah atau begajul-begajul perokok yang bermain dingdong. Sebagian dari mereka adalah pencopet yang turun dari bus kota yang mengetem di depan IP.
Dan lelaki itu, untungnya, memang tidak membawaku ke sana. Kami mengambil jalan memutar. Namun, saat kulihat tempat apa yang kami tuju, kepalaku seperti diguyur air es. Aku seketika berharap lelaki itu membawaku kembali ke tempat dingdong saja.
“Kita sudah sampai,” ujarnya. Dia tak perlu memperjelasnya. Lampu neon terang. Lantai berkarpet merah. Kios minuman. Loket penjual tiket. Aku tak pernah ke bioskop, tapi Siti selalu menceritakan betapa menyenangkan jika suatu hari nanti kami bisa menonton pelem6 bersama-sama di sana, apalagi Petualangan Sherina yang saat itu baru tayang di bisokop IP. Aku hampir bisa melihat jelas bentuk bioskop itu di kepalaku lewat cerita-cerita Siti. Bentuknya persis seperti yang ada di depan mataku saat ini.
Kami berdiri di depan loket, mengantre dengan udara kosong. Saat tiba giliran kami, lelaki itu menyabet dua helai tiket yang kemudian dia serahkan kepadaku. Petualangan Sherina akan diputar di Studio 3. Jam tayangnya: sebentar lagi.
“Buat apa?”
Pertanyaan itu seolah muak bergumul di dalam kepalaku, lantas mendobrak jalan keluarnya sendiri.
“Ini dari gaji kelimamu,” lelaki itu berkata. “Uangmu sudah lama kau simpan untuk ini.”
“Siti sudah lama mati. Buat apa aku menonton di bioskop ini?” Lidah ini tiba-tiba fasih menyemburkan kata-kata. Demikian pula liang di bawah-atas bola mataku, fasih mengucurkan air mata. “Tabrak lari. Di depan IP. Persis di jalan yang kita lihat dari jendela KFC. Kau juga yang mencabut nyawanya, kan? Lupa kau?” Aku mengangkat tiket-tiket itu dengan berang di depan mukanya. Aku tak peduli jika dia betul malaikat Izrail. Hidupku sudah mati dulu sekali saat Siti meninggalkanku, sebelum sempat kupakai gaji kelimaku untuk membeli tiket-tiket bodoh ini untuknya dan Nandya. Tidak ada lagi yang tersisa untuk dia cabut dariku.
Seolah menjawabku, lelaki itu tiba-tiba merentangkan sayapnya sejauh jarak yang tak bisa kupandang. Suasana berubah dari hening menjadi senyap dan kedap. Sementara itu, kudapati sayap ketiganya menggamit lenganku, dan membawaku menjauh. Aku terantuk-antuk, berjalan menuju Studio 3 mengikuti si Sayap.
“Tiket itu bukan untukku,” ucap lelaki itu. Mimik wajahnya saru, tak tersenyum, tak pula merengut. Tak bisa kuterka apa pun juga dari balik suaranya. Mungkin yang menungguku di kegelapan Studio 3 itu hanyalah siksa kubur. Aku sudah pasrah. Siapa suruh cari gara-gara dengan malaikat?
Si Sayap mengantarkanku ke kursi penonton, sesuai nomor di tiketku. Namun, Studio 3 yang gelap itu tidak kosong. Seseorang tengah berdiri di sebelah kursiku. Seseorang yang sangat kukenal.
“Lamo nian7, Kak Amat!”
Siti mengambilku dari si Sayap, menarikku duduk di kursi penonton. Untuk pertama kalinya di dalam perjalanan itu, aku merasakan kehangatan.
“Ini, Kak, yang namonyo bioskop,” Siti meledekku, seolah tahu bahwa setelah dia mati pun, aku tak pernah menginjakkan kaki di bioskop.
Aku kehabisan kata-kata. Mungkin konsep waktu menjadi bengkok di dalam mal ini. Dan karena keberadaanku di IP sendiri sudah tidak masuk akal, maka aku mengabaikan akal sehatku dan, bersama Siti, menikmati pelem yang terputar di depan kami—yang tak lain adalah kilas balik kehidupanku, Amat si teknisi ponsel, alih-alih Petualangan Sherina.
Di luar, sayap-sayap lelaki itu membungkus IP di dalam kegelapan, melipat, memilinnya dalam gulungan tiada jeda. Aku dan IP terkunci di salah satu pojok kuali lelaki itu, lalu lewat satu gerakan jari yang lincah, tercerabutlah nyawa kami berdua. Matilah mal tertua di Kota Palembang itu bersama seorang teknisi ponsel yang tidak termasyhur di dalamnya. []
Catatan Kaki
- Busana adat Melayu serupa baju kurung, namun lebih longgar dan umumnya dikenakan oleh pria. ↩︎
- Kain sarung yang dipakai melingkari pinggang; sebutan umum orang Palembang untuk sarung yang dipakai saat salat atau mengaji. ↩︎
- International Plaza, mal paling tua di Kota Palembang. ↩︎
- Ada bom. ↩︎
- Hilang; raib. ↩︎
- Merujuk pada segala jenis program/acara di layar kaca dan bioskop, tapi lebih sering diasosiasikan sebagai “film”. ↩︎
- Lama sekali. ↩︎




