Hwan Mong

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Akhirnya bayi itu membuatku sadar bahwa ilmu kanuraganku harus diwariskan. Entah untuk menumpas kejahatan atau sekadar jaga-jaga. Sebagai resi, ternyata orang baik pun harus kuat. Kalau orang baik lemah, kejahatan akan tumbuh seperti ilalang di musim hujan—tanpa perlu ditanam, tanpa perlu dirawat.

Kesadaran itu tidak datang sebagai petir yang membelah langit pertapaanku. Ia datang sebagai suara kecil, hampir tak terdengar, di sela desir angin dan gemerisik dedaunan Gunung Wilis. Waktu itu aku sedang bertapa di lereng timur, tempat matahari terbit lebih lambat karena tertahan punggung hutan. Kabut menggantung rendah, membungkus batang-batang pinus seperti kain kafan yang lembap.

Aku duduk bersila di atas batu hitam yang selama bertahun-tahun menjadi alas semadiku. Napasku kuatur pelan, menyatu dengan ritme bumi. Pada hitungan kesekian—ketika kesadaran hampir lenyap dari tubuh—aku mendengar suara itu.

Raungan kecil.

Bukan geraman harimau dewasa yang biasa menggema dari lembah, bukan pula lolong anjing hutan yang kehilangan kawanannya. Suara itu lebih mirip tangis yang dipaksa menjadi aum.

Aku membuka mata. Hutan tetap sunyi, tetapi kesunyian yang berubah. Ia tidak lagi tenteram, melainkan menunggu.

Suara itu terdengar lagi. Lebih dekat.

Aku bangkit. Usia telah membuat tulang-tulangku ringan, tapi langkahku masih mantap. Kuikuti arah suara, menuruni sedikit lereng, menyibak pakis dan semak berduri. Di tepi hutan, di antara akar pohon beringin yang mencuat seperti jari-jari raksasa, aku menemukannya.

Seorang bayi.

Tubuhnya manusia. Lengan dan kakinya mungil, kulitnya berwarna sawo matang, dada kecilnya naik turun cepat, tetapi kepalanya—kepala seekor harimau kecil. Lorengnya masih tipis, bulunya lembut dan belum sepenuhnya tumbuh. Kumisnya bergetar ketika ia menangis. Mata kuningnya besar dan jernih, menyimpan ketakutan yang tak mengerti sebabnya.

Aku merinding. Bukan karena wujudnya, melainkan karena nasib yang menantinya.

Ia menatapku. Tangisnya berhenti perlahan, seolah ia membaca niatku. Di dalam tatapan itu tidak ada kebuasan, hanya kebingungan.

Aku mengangkatnya. Tubuhnya hangat, lebih hangat dari tubuh manusia biasa. Ia menempel di dadaku, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku merasakan detak jantung lain selain milikku sendiri.

Di saat itulah aku sadar: mungkin inilah sebab mengapa dewata belum juga memanggilku moksa. Ilmuku belum selesai. Ilmuku belum dititipkan.

Sejak hari itu, pertapaanku berubah.

Gua kecil tempatku bersemadi kini menjadi rumah bagi dua makhluk: seorang resi tua dan bayi berkepala harimau. Aku memberinya nama dalam hati—Hwan Mong—nama yang pernah kudengar dalam semadi, nama yang terasa seperti gema dari masa lalu yang belum pernah kujalani.

Hari-hari pertama kuisi dengan mengajarinya tengkurap. Kepala harimaunya membuat keseimbangan tubuhnya ganjil. Setiap kali ia mencoba membalikkan badan, ia tersungkur lebih dulu. Ia menggeram kecil, bukan marah, melainkan kesal pada tubuhnya sendiri.

Aku tidak menenangkannya dengan kata-kata. Aku hanya mengusap punggungnya dan menunggu ia mencoba lagi.

Ia cepat belajar. Dalam hitungan pekan, ia sudah bisa duduk tanpa terhuyung. Kemudian merangkak, dengan gerakan yang kadang lebih menyerupai anak kucing daripada bayi manusia. Cakarnya mencengkeram tanah, meninggalkan jejak kecil di lantai gua.

Ketika belajar berjalan, ia sering jatuh. Namun setiap jatuh, ia tidak menangis lama. Ia hanya menoleh padaku, menunggu isyarat. Aku cukup mengangguk. Ia berdiri lagi.

Tahun-tahun berlalu seperti daun gugur yang tak sempat dihitung. Tubuhnya tumbuh cepat. Otot-ototnya padat, gerakannya lentur. Kepalanya makin gagah, lorengnya makin tegas. Tatapannya tajam, tetapi selalu melunak ketika menghadapku.

Setelah ia tegak berjalan, aku mulai mengajarinya kuda-kuda. Tanah lapang di depan gua menjadi gelanggang. Aku menggambar lingkaran dengan tongkat kayu. Di dalam lingkaran itu, ia belajar menjejak bumi.

“Tubuhmu harus seperti pohon,” kataku suatu sore, meski ia tak benar-benar mengerti kata-kata. “Akar menghunjam, batang lentur, daun mengikuti angin.”

Ia menirukan gerakanku. Kakinya terbuka, lututnya merendah. Tangan manusianya mengepal, cakar harimaunya sedikit menyembul. Setiap kali aku memutar pergelangan, ia mengikuti. Setiap kali aku menggeser kaki, ia menyalin.

Anak ini cukup tangkas. Hanya dengan isyarat saja ia sudah paham.

Aku jarang berbicara panjang. Bagiku, gerak adalah bahasa yang lebih jujur. Ia menyerap bahasa itu dengan kecepatan yang membuatku terkejut. Kadang ia menyempurnakan gerakan yang baru sekali kutunjukkan. Kadang ia menemukan celah yang tak kupikirkan.

Ketika usianya memasuki remaja, aku mulai menurunkan ilmu yang lebih tinggi.

Belajar terbang.

Aku mengajarinya menghimpun napas di pusar, menahannya, lalu melepaskannya ke ubun-ubun. Pada percobaan pertama, tubuhnya hanya bergetar. Pada percobaan kesekian, kakinya terangkat sejengkal dari tanah.

Ia jatuh, bangkit, mencoba lagi.

Suatu senja, ketika matahari menguning di ufuk barat, ia melayang setinggi pucuk pinus. Bayangannya membentang panjang di tanah. Ia tertawa—suara yang lebih mirip auman pendek bercampur desis angin.

Lalu menahan awan.

Kabut yang biasa turun dari puncak Gunung Wilis kugiring ke hadapannya. Ia berdiri di atas batu besar, kedua tangan terangkat. Kabut itu berhenti, membeku seperti dinding putih. Burung yang terbang menabraknya dan terpental ringan.

“Lepaskan,” isyaratku.

Ia membuka telapak tangan. Kabut bergerak lagi.

Menahan dan menciptakan gempa.

Dengan satu hentakan kaki, tanah bergetar. Batu-batu kecil melompat. Aku mengajarinya meredam getaran itu sebelum menjadi petaka. Ia belajar mengatur kekuatan, bukan sekadar melepaskannya.

Memecah halilintar.

Petir yang menyambar puncak pohon ia tangkap dengan kedua tangan. Cahaya biru menyala di antara jemarinya. Ia mematahkan kilat itu seperti ranting, lalu membuangnya ke tanah hingga berubah menjadi asap tipis.

Hingga menahan dan memadamkan matahari.

Pada suatu petang, ketika cakrawala merah membara, ia berdiri menghadap barat. Dengan satu gerak tangan, cahaya meredup. Dunia seketika seperti diselubungi senja yang dipaksa datang lebih cepat. Burung-burung kembali ke sarang dalam kebingungan.

Aku memberi isyarat agar ia mengembalikan terang. Ia menuruti.

Kupikir ilmuku sudah cukup.

Tubuhku makin ringan. Dalam semadi terakhirku, aku merasakan panggilan yang makin dekat. Aku tak ingin turun gunung lagi, tak ingin terlibat dalam riuh dunia. Namun sebelum benar-benar pergi, aku harus memastikan ilmuku tidak ikut lenyap.

Aku memberi isyarat supaya ia turun gunung. Berbaur dan membantu manusia.

Telapak tanganku ke dada, lalu menunjuk ke lembah, ke arah desa-desa yang atapnya tampak kecil dari kejauhan. Ia menatapku lama. Mata kuningnya berkaca-kaca.

Ia mendekat, menyentuhkan kening harimaunya ke lututku. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa makhluk yang kubentuk dengan kekuatan itu menyimpan kelembutan yang tak pernah kuajarkan secara khusus.

Ia pamit dan berlinang air mata.

Beberapa hari setelah kepergiannya, aku merasakan keganjilan. Dalam semadi, kelopak mataku tertutup, tetapi terang dan gelap datang silih berganti menembus kesadaranku.

Matahari padam dan menyala. Seperti lampu yang dimainkan saklarnya.

Burung-burung beterbangan panik. Angin berubah arah tanpa sebab.

Lalu disusul gempa.

Tanah bergetar bukan sekali, melainkan berulang-ulang, seperti seseorang yang sedang mencoba irama baru. Getarannya teratur, hampir indah—jika saja tidak membuat genting rumah berderak.

Jerit manusia sampai ke puncak. Orang-orang berteriak dan mengungsi. Dari kejauhan, aku melihat debu membumbung.

Seorang lelaki kampung mendaki dengan napas tersengal. Bajunya kotor, wajahnya pucat.

“Resi,” katanya sambil bersujud, “ada monster masuk ke desa tanpa permisi. Orang-orang terkejut lalu menyerang makhluk itu. Awalnya ia hanya bertahan, tapi amukan warga yang tak terkendali membuatnya makin buas. Ia menunjukkan kesaktiannya di hadapan kami. Untung belum ada korban jiwa.”

Dadaku seperti diremas tangan tak terlihat.

Aku ingin membantu. Namun aku telah bersumpah pada dewata: aku akan moksa dan tidak akan mengotori tanganku lagi oleh urusan dunia.

Sumpah itu terasa berat kini.

Aku menatap lelaki itu.

“Kenapa kau tidak mengajak makhluk itu bicara?”

Lelaki itu terdiam. “Dia hanya mengaum dan tidak bisa bicara.”

Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari petir.

“Memang makhluknya seperti apa?”

“Manusia berkepala harimau.”

Aku tercekat. Dunia berputar sejenak. Dalam kepalaku, tahun-tahun latihan, gerakan, tenaga dalam, petir, matahari—semuanya berkelebat.

Astaga.

Aku belum mengajarinya bagaimana cara berbicara.

Segala jurus telah kuturunkan. Segala tenaga dalam telah kuberikan. Namun bahasa—yang paling sederhana, paling manusiawi—terlewat dari kesadaranku yang terlampau terpesona oleh kesaktian.

Aku berharap semoga tidak ada korban jiwa.

“Ampuni hamba, Dewata!” seruku, dan untuk pertama kalinya aku melanggar kesunyian sumpahku.

Aku turun gunung.

Desa porak-poranda oleh kepanikan. Orang-orang berlarian membawa anak-anak, memanggul karung, menjerit memanggil nama Tuhan masing-masing. Di tengah lapangan tanah, ia berdiri.

Tubuhnya tegap. Lorengnya tegas. Matanya menyala—bukan oleh kebencian, melainkan kebingungan yang terdesak.

Di tangannya, seorang lelaki dewasa terangkat, tercekik di udara.

Aku melangkah maju.

“Hwan Mong! Pulang! Kau harus belajar bicara!”

Ia menoleh. Mata kuning itu melembut seketika. Lelaki yang dicekiknya dilempar ke samping, jatuh berguling tanpa luka berarti.

Ia mendekatiku, lalu berlutut seperti bersiap menerima titah. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top