| Judul | Dimensi Kata Tiga Penyair |
| Penulis | Adri Sandra, Agus Hernawan, dan Sondri BS |
| Penerbit | Dewan Kesenian Padang dan Yayasan Citra Budaya Indonesia, 2002 |
| Tebal | 117 halaman |
Pada tahun 2002, Dewan Kesenian Padang bekerja sama dengan Yayasan Citra Budaya Indonesia menerbitkan sebuah kumpulan puisi, Dimensi Kata Tiga Penyair. Puisi-puisi dalam buku ini ditulis oleh tiga penyair; Adri Sandra, Agus Hernawan, dan Sondri BS.
Kita dapat menemukan intensitas yang berbeda dan menarik pada puisi-puisi yang termuat dalam buku ini. Saya melihat bagaimana proses kreatif dan penciptaan dari masing-masing penyair ini terdeteksi melalui bentuk dan tema puisi-puisi mereka. Adri Sandra memiliki daya serap yang kuat dari fenomena lingkungan, dan memberikan respon personal untuk kemudian diolah menjadi puisi. Ia bergerak dari impuls yang tertangkap, baik dari fenomena maupun juga sumber-sumber pengetahuan, lalu mengembangkannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Puisi Adri Sandra terasa lebih sublim untuk melihat diri dari berbagai contoh kisah yang pernah ada.
Adri Sandra banyak berbicara tentang pencarian identitas personal aku lirik, kekhawatiran dari lingkungan yang merangsek kehidupan, dan juga merumuskan pandangannya tentang perjuangan individu dalam menghadapi gejolak sosial. Dapat dikatakan bahwa tema-tema yang diangkat dalam puisi Adri Sandra ini merupakan personalisasi atas masalah-masalah sosial.
Di bagian kedua, Agus Hernawan menghadirkan dua puluh sembilan puisi. Secara umum, Agus Hernawan berbicara tentang persoalan-persoalan ketimpangan sosial, nasionalisme, hingga sisi lain dari sejarah bangsa. Menariknya, Agus mampu menghadirkan narasi-narasi besar dengan menggunakan metafor yang sederhana. Saya kira usaha yang dilakukan oleh Agus Hernawan ini cukup menarik untuk dibaca sebagai sebuah pergulatan estetika yang cukup kompleks. Agus Hernawan mampu mengolah persoalan yang rumit, misalnya tentang perjuangan kemanusiaan dalam puisi “Narasi di Tiga Hari” dengan simbolisme naratif yang kuat.
Puisi-puisi Agus Hernawan dalam kumpulan ini menyajikan puisi-puisi dengan seri berjudul insulinde, yang mencatat sisi lain dari pembangunan, perkembangan zaman dan teknologi, dan perubahan yang menghasilkan korban. Puisi Agus ini merupakan kritik sosial yang cukup keras, meskipun tidak dihadirkan dalam bentuk frontal, alih-alih menggunakan perumpanaan yang bahkan melankolis.
Pada bagian ketiga, Sondri BS menyajikan puisi-puisi dengan genre yang romantis dan melankolis. Puisi-puisi Sondri berdialog mengenai hubungan antar manusia, kisah dan suasana yang dicatat dengan menampilkan kesunyian. Puisi Sondri cenderung bersifat personal, meskipun pada beberapa bagian persoalan yang diangkat merupakan permasalahan komunal.
Bentuk puisi Sondri memperlihatkan ekspresi gejolak dari dalam manusia, yang kemudian disampaikan kepada lawan tutur. Dengan demikian, puisi-puisi Sondri menawarkan bentuk pembacaan yang intim antara aku lirik dengan pembaca, yang diajak untuk memasuki isi puisi.
Tiga penyair yang puisi-puisi mereka dihimpun dalam kumpulan ini memang menawarkan bentuk yang berbeda. Sebagaimana dicatat oleh Ivan Adilla dalam pengantarnya, kita dapat melihat dan membandingkan bagaimana puisi dari ketiga penyair ini menawarkan capaian estetikanya. Dari kumpulan puisi Dimensi Kata Tiga Penyair ini kita juga dapat melihat bagaimana keragaman bentuk, tema, dan proses kreatif dihadirkan oleh para penyair di Sumatera Barat.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





