“Yang Terbit, yang Tenggelam” pada 60 Tahun Majalah Sastra Horison

(Foto: S Metron Masdison)

Majalah Sastra Horison menghadirkan 360 edisi majalah, serta sepilihan cerpen, puisi, ilustrasi dan pemikiran redaksi. Pameran 60 tahun Majalah Sastra Horison ini, berlangsung sejak 23 April hingga 24 Mei lalu, di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tema yang diketengahkan “Yang Terbit, Yang Tenggelam”.

Dua kali mengunjungi pameran ini bagi saya, rasanya bagai mengembang seperti adonan roti. Sewaktu pembukaan (23/4), belum diberi ragi; pidato dan seremonial pembukaan. Tentu, makan ada di antaranya.

Namun, saya akan menyimpan baik-baik ucapan Jamal D Rahman, yang diberi porsi sebagai pidato kunci pada acara tersebut.

“Dan pameran ini, dengan jujur, memang juga menampilkan yang tenggelam. Edisi yang gagal. Gagasan yang kandas. Nama-nama yang tidak jadi terkenal. Dan justru dengan mengakui yang tenggelam, pameran ini membedakan dirinya dari pameran-pameran lain yang hanya memuja kejayaan. Ini adalah pameran yang dewasa. Yang tidak takut pada bayang-bayangnya sendiri,” kata Jamal pula.

Tentu, ini keluar dari bayangan yang saya bingkai sejak lama. Ada teman saya bercerita, katanya: “Ada surat sampai ke redaksi, dari penyair terkenal, minta puisinya dimuat dan tidak usah diberi honor.” Ada sedikit distorsi, tapi tak pernah keruh. Horison memang sebagai penjaga gawang sastra Indonesia.

Jamal d Rahman. (Foto: S Metron Masdison)

Yang paling tenggelam, kata Jamal kemudian adalah bagaimana Hans Bogue Jassin menaikkan bahasa Indonesai sebagai profan menuju sakral. “Bacaan mulia adalah proyek Jassin yang berangkat dari keyakinannya bahwa bahasa Indonesia, betapapun telah modern pencapaiannya dalam sastra Indonesia, masih harus didorong ke posisi yang lebih tinggi lagi. Di sini Jassin menaikkan bahasa Indonesia dari tataran profan ke ranah sakral.”

Keheningan secara semena-mena menyergap. Jika menulis cerpen tak bisa membuat ngilu, kalau menulis puisi seperti mengisi biografi di kertas lowongan kerja, bagaimana puncak itu akan tergapai?

***

Kali kedua, saya sengaja datang ketika ruang pameran akan tutup hari itu. Sepuluh hari setelah pembukaan, di Lantai empat Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, terasa sunyi, baru terlihat banyak model arsip yang terpampang. Ada arsip fisik yang memberikan gambaran perkembangan fisik dan konten majalah lintas dekade. Audio puisi yang menghidupkan dimensi lisan (performatif) dari karya teks. visual dan ilustrasi yang menyusun Lebih dari 30 ilustrasi dan desain sampul serta menyoroti kolaborasi antara sastrawan dan seniman rupa (seperti Zaini). Ada juga dokumentasi foto, koleksi dari Dewan Kesenian Jakarta yang merekonstruksi ekosistem sosial dan perjumpaan tokoh-tokoh sastra di TIM. Serta Zona Digital dengan eksplorasi lini masa era digital.

(Foto: S Metron Masdison)

Pada bagian baca puisi, saya “mendengarkan” Sutardji Calzoum Bahri. Saya lupa judulnya, tapi kok terasa berkurang energinya. Padahal, Tardji sedang berada dalam puncak performa. “Pukimak, tak ada alkohol,” katanya usai pembacaan.

Saya juga penasaran dengan diskusi pembelaan Buya Hamka atas karyan yang diserang Lekra. Suaranya khas pembawa acara dan berita tahun 70-an seperti yang sering saya dengar dari Sambas Mangundikarta; berat, dengan tatanan kata  rapi, jelas secara artikulasi tapi penuh kedalaman. Di bagian awal buya Hamka menjelaskan pendidikannya yang tak tersentuh akademik sastra. “ …, akhirnya dilanjutkan di sekolah hidup saja,” ujar Hamka kala itu disambut tawa ditahan dari peserta.

Saya juga menemukan dua buah benda yang berisi sketsa sastrawan Indonesia. Banyak sastrawan dari Sumatera Barat. Ada Upita Agustine, AA Navis, tapi … Wisran Hadi kok tidak ada, ya? Di bagian arsip, saya juga menemukan distributor majalah Horison tahun 80-an di Padang. Jika daerah lain memiki nama, di Padang tertulis ‘Penyalur Bacaan’.

Memang, pameran ini menandai sebuah fase baru dalam upaya pelestarian memori literer Indonesia. Pameran ini bukan sekadar perayaan hari jadi ke-60 sebuah majalah sastra tertua di tanah air, melainkan sebuah dekonstruksi terhadap narasi besar kesusastraan Indonesia yang selama ini cenderung bersifat linear dan hegemonik.

Dengan memanfaatkan pendekatan audio-visual sensoris, kurator Esha Tegar Putra mencoba menghadirkan kembali fragmen-fragmen sejarah yang selama ini terpendam di balik tumpukan kertas buram koleksi PDS H.B. Jassin. Eksplorasi terhadap 360 edisi majalah yang terbit antara tahun 1966 hingga 1990 menjadi basis data utama untuk memahami bagaimana sebuah media dapat menjadi arsitek sekaligus penjaga gerbang (gatekeeper) bagi kanon sastra nasional.

(Foto: S Metron Masdison)

“Namun, begitulah, semua terbit dan tenggelam pada waktunya, mungkin akan terbit lalu tenggelam di lain waktu,” demikian Esha dalam pengantar di buku program pameran.

Ia dan timnya mau mengajak pengunjung untuk menengok bagian lain dari apa yang sekadar tampak dari ruang publik. Yang tertimbun akibat melintas-lintasnya zaman. Bergegasnya narasi, dan yang teredit di rapat redaksi.

Pemilihan Lantai 4, sebagai lokasi pameran membawa beban simbolis yang sangat kuat dalam sejarah kebudayaan Indonesia. PDS H.B. Jassin bukan sekadar perpustakaan, melainkan “wahana” dimana legitimasi karya sastra Indonesia diputuskan melalui tangan dingin Hans Bague Jassin. Hubungan antara Majalah Horison dan PDS H.B. Jassin bersifat simbiotik; jika Horison adalah platform bagi karya yang sedang “terbit”, maka PDS H.B. Jassin adalah rahim yang menjaga agar karya tersebut tidak “tenggelam” dalam kelalaian sejarah.

Pameran ini hadir di tengah krisis literasi dan ancaman degradasi arsip fisik. Sejarah mencatat bahwa PDS H.B. Jassin sering kali mengalami kendala pendanaan yang mengancam keberlangsungan koleksinya, termasuk arsip lengkap Majalah Horison. Oleh karena itu, pameran ini juga berfungsi sebagai pernyataan politik mengenai pentingnya kehadiran institusi publik dalam merawat memori kolektif bangsa melalui sastra.

Penggunaan metode fragmentaris dalam penyajian materi pameran—yang mencakup lini masa, dokumentasi dewan redaksi, hingga ilustrasi visual—mengajak pengunjung untuk melihat sejarah bukan sebagai garis lurus yang pasti, melainkan sebagai kepingan-kepingan peristiwa yang penuh dinamika dan pertentangan gagasan.

***

(Foto: S Metron Masdison)

Horison sempat dianggap sebagai penguasa tunggal koloni kesusastraan. Setelah seluruh majalah sastra yang terbit sebelum dan setelah 1966 pudur satu persatu. Sebut saja, majalah Sastra, Kisah, Tjerpen, Pandji Poestaka, Poedjangga Baroe, Pantja Raja, Pembangoenan, Mimbar Indonesia, Indonesia, Gema Suasana, Aneka, Zenith, Konfrontasi, Boedaja, Gelanggang dan Budaja Djaja.

Kritik terhadap dominasi ini muncul dari berbagai kalangan, termasuk perdebatan mengenai sastra kontekstual dan munculnya fenomena Boemipoetra yang menentang pengaruh komunitas Utan Kayu dan lingkarannya yang dianggap sebagai pewaris estetika Manikebu.

Istilah “Horisonis” sering digunakan secara peyoratif untuk merujuk pada karya-karya yang dianggap terlalu mengikuti standar estetika yang ditetapkan oleh dewan redaksi, yaitu karya yang cenderung liris, individualistik, dan menghindari keterlibatan politik praktis. Dominasi estetika tertentu ini di satu sisi menjaga mutu, tapi di sisi lain berisiko meminggirkan karya-karya yang bersifat avant-garde atau yang berasal dari pinggiran sosiokultural.

Dalam pameran “Yang Terbit, Yang Tenggelam”, kritik ini mulai diakomodasi melalui penyajian karya-karya yang “tidak sempat terpublikasi secara luas” atau yang tenggelam dalam arus utama sejarah.  Hal ini menunjukkan adanya kesadaran reflektif dari pihak penyelenggara bahwa sejarah sastra Indonesia harus dibaca secara lebih inklusif, mengakui adanya kontestasi ideologi dan estetika yang tidak pernah benar-benar selesai. 

(Foto: S Metron Masdison)

Di sebuah spanduk, tertera:

Dan jika kita mulai menimbang-nimbang sejarah kesenian kita, Horison agaknya perlu belajar untuk melupakan mitos yang pernah disandangnya. Horison bukanlah pusat yang maha tahu. Jika pun Horison masih dianggap penting, ia hanya dapat mengerjakan sebagian dari sejumlah besar agenda yang dimiliki oleh khasanah kesenian kita hari ini.
Nirwan Dewanto, Majalah Horison Edisi Juli Tahun 1993

Menghadapi era disrupsi, pameran 60 tahun Horison menunjukkan kesadaran akan perlunya adaptasi medium. Penggunaan elemen audio-visual sensoris dan visualisasi puisi melalui proyek “Sastra Lintas Rupa” adalah langkah berani untuk keluar dari belenggu teks murni. Dengan menerjemahkan arsip sastra ke dalam medium visual dan digital yang lebih kekinian, Horison dan PDS H.B. Jassin mencoba berkomunikasi dengan generasi muda yang lebih akrab dengan literasi digital daripada majalah cetak.

(Foto: S Metron Masdison)

Meskipun demikian, transisi ini menyimpan tantangan tersendiri. Ada risiko di mana kedalaman pemikiran yang menjadi ciri khas Horison selama ini dapat tereduksi menjadi sekadar komoditas visual yang dangkal. Namun, pameran ini membuktikan bahwa dengan kurasi yang tepat, arsip sastra dapat dihadirkan sebagai “wahana” pengalaman yang mendalam sekaligus relevan bagi masyarakat modern.

Enam puluh tahun Majalah Horison adalah cerminan dari dinamika intelektual bangsa Indonesia. Dari perannya sebagai ujung tombak perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Lama hingga menjadi institusi kanon yang disegani, Horison telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah sastra Indonesia. Pameran di Lantai 4 PDS H.B. Jassin bukan sekadar napak tilas, melainkan sebuah undangan bagi kita untuk mempertanyakan kembali fungsi sastra di tengah perubahan zaman yang serba cepat.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top