
Dalam bulan ini pada tanggal yang belum pasti. Kata Ibu, dia belum beli tiket.
“Untuk apa Ibu ke Jakarta?” Aku berusaha tenang supaya Ibu tidak tahu itu hal paling tidak kuingin saat ini.
“Tentu saja melihat kalian.”
“Tahun depan kami pulang,” dustaku.
“Lalu?”
“Ibu tak usah ke Jakarta.”
Ibu tersenyum lebar. “Tahun depan masih lama. Sekarang, aku ke Jakarta. Tahun depan, kalian datang menjenguk. Sudah sangat lama kalian tidak pulang.”
Mungkin empat atau lima tahun. Atau malah enam-tujuh tahun. Aku tidak ingat pastinya. Keinginan pulang kampung anak-anak makin menyurut seiring bertambahnya usia mereka. Ditambah pula kesibukanku bekerja, membuat pulang kampung tidak tertulis di agenda kami.
“Kau baik-baik saja?”
“Tentu saja.”
“Cucu-cucuku? Menantuku?”
“Semua sehat.”
“Wajahmu tampak lain.”
Butuh perjuangan besar meledakkan tawaku. “Aku memang makin tua.”
Ibu mendengus kesal. “Aku jauh lebih tua. Ceritalah padaku.”
Aku pura-pura menoleh ke belakang ketika Ibu menjerat mataku. Ibu tidak boleh tahu. Tidak boleh tahu!
“Kau di mana sekarang? Apa di belakangmu itu?”
Ponsel di tanganku nyaris jatuh.
***
Ketika satu nyamuk kutepuk di pipi kanan, dua nyamuk menggigit pipi kiri. Tangan belum berpindah ke pipi kiri, nyamuk menggigit tangan kanan. Begitulah, hingga malam nyaris melewati puncak, aku masih saja menepuki nyamuk-nyamuk.
Aku duduk di luar tenda, menghadap sisa-sisa rumah kami. Rumah itu kubangun dengan mengumpulkan hasil keringatku bertahun-tahun. Betapa menyakitkan ia lenyap dalam hitungan jam. Hanya tersisa besi rongsokan yang akan berakhir di pengepul besi tua, itu juga kalau masih bisa terjual. Yang lebih membelit pikiranku adalah bisnisku. Belum lama kupinjam tidak sedikit uang dari temanku, sebagai tambahan modal meluaskan bisnis.
Kabar yang diberi ibuku beberapa jam lalu makin erat mencengkeram pikiran. Tidak kubilang padanya bahwa rumah dan usahaku musnah dilalap api. Aku tak mau remuk hatinya. Ibu pasti akan menangis, jauh lebih deras saat dia kuminta datang ke Jakarta ketika rumah itu selesai kubangun.
Dalam bulan ini juga Ibu akan mengetahuinya. Aku tidak mau itu. Jangan sampai Ibu datang ke Jakarta sementara kondisiku masih seperti ini. Tak ada rumah. Tak ada usaha. Hanya ada uang di bank, yang tentu saja tidak cukup untuk membangun rumah sekaligus usaha. Bahkan tidak cukup melunasi tagihan-tagihan pada beberapa rekan bisnis.
Berkali-kali kusesali kebodohanku karena tidak membekali asuransi untuk semua bisnis dan aset. Atau setidaknya bisnis tidak satu atap dengan rumah yang kuhuni, sehingga derita ini tidak begitu kejam menerjang. Ketika api melahap, tidak sekaligus rumah dan bisnisku lenyap.
Berawal dari kabel listrik yang terbakar, dugaan sementara, empat pintu ruko tiga lantai itu pun habis dalam satu malam. Akibat terlalu panik, yang kulakukan saat api menari-menari melahap hartaku adalah histeris sembari lari ke sana kemari. Andai istri dan ketiga anakku tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, mungkin mereka tidak ada lagi sekarang. Kalau saja saat itu aku sedikit tenang, pasti ada benda berharga yang terselamatkan. Namun sudahlah, tak guna berandai-andai. Sekarang aku harus berpikir cepat, mencari jalan supaya Ibu tidak muncul di Jakarta.
***
Ibu kasih kabar, dia sudah beli tiket. Besok Ibu minta dijemput di bandara. Aku seperti bocah baru lahir, kehilangan kemampuan berbicara. Padahal seminggu lalu, beberapa hari setelah Ibu bilang akan berkunjung ke Jakarta, aku sudah menelepon Ibu untuk memastikannya menunda rencana itu. Kubilang, sebulan ke depan aku ada urusan bisnis ke Padang, sekalian aku bisa mampir menjenguknya. Ibu bilang akan memikirkannya. Kupikir dia setuju tidak berkunjung ke Jakarta dalam waktu dekat.
“Kau bisa menjemputku, kan?” suara halus Ibu menyentakku. “Pesawatku berangkat pukul sebelas.”
“Kenapa harus semendadak ini Ibuke Jakarta?”
“Minggu lalu aku sudah bilang padamu.”
“Tidak secepat ini.”
“Kau tidak bisa menjemputku?”
“Bukan masalah menjemput. Tapi …”
Ibu tertawa. “Kau ada masalah. Iya, kan?”
“Tak ada, Ibu. Aku …”
“Sudahlah. Aku tahu kau ada masalah. Perasaanku tentangmu sangat kuat. Melihat mata dan wajahmu saat kita video call tempo hari, makin membuatku yakin terjadi sesuatu padamu. Sekarang saja kau hanya meneleponku. Kau tidak mau aku melihat wajahmu.”
Aku menebak-nebak, siapa yang tega menyampaikan musibah itu pada Ibu. Tidak lama setelah kejadian itu, aku sudah meminta kepada keluarga maupun kenalan supaya tidak menyampaikan padanya.
“Jangan berpikir seseorang mengatakan padaku. Aku ibumu, yang merawat dan membesarkanmu. Aku tahu sesuatu terjadi padamu. Tak mengapa kau merahasiakannya dariku. Tapi percayalah, aku datang untuk membereskan masalahmu.” Ibu tertawa, agak lepas. “Setidaknya, sedikit membereskan,” lanjutnya di ujung tawa.
Kebalikan dari Ibu, aku justru gugup. Sekelebat aku hendak jujur padanya. Untungnya bibirku terasa kaku, kemudian kuputuskan diam saja. Bisa saja Ibu hanya berspekulasi, bertujuan supaya aku jujur padanya. Pikirku, biarlah kukatakan pada Ibu dalam perjalanan dari bandara ke rumah. Sedikit aku merasa bersyukur, sudah mengontrak rumah walaupun demikian sempit. Setidaknya ada tempat menjamu Ibu, tidak menumpang di rumah kerabat.
“Jangan lupa menjemputku, besok. Pesawatku berangkat pukul sebelas. Kau yang lebih tahu sekitar pukul berapa pesawat itu tiba di Jakarta,” kata Ibu sebelum obrolan kami berakhir.
Baiklah. Kuhela napas panjang kurang panjang. Mungkin sebaiknya Ibu memang harus tahu masalahku, supaya beliau membawaku dalam doa-doa yang selalu dia tebar ke langit. Ah, tidak. Lebih tepatnya supaya doa Ibu lebih spesifik, karena aku yakin selama ini Ibu selalu mendoakanku. Kesuksesanku di tanah rantau adalah juga berkat doa-doanya. Cinta Ibu padaku memang luar biasa. Ia memilih fokus membesarkanku padahal Ayah meninggal beberapa bulan sebelum aku lahir.
Tiba-tiba sekepalan rasa bersalah menghantam hati. Beberapa tahun ini aku terlalu sibuk berbisnis, perhatianku bulat pada anak-istri hingga sedikit melupakan Ibu. Kami tidak lagi pernah pulang kampung. Saat libur, anak-anak lebih suka ke Bali dan kota lainnya. Bahkan rencananya tahun depan kami akan ke Singapura dan Thailand. Hanya sesekali kutelepon Ibu, bertanya kabar dan memberi tahu ada sedikit uang kumasukkan dalam rekening banknya. Ibu selalu bilang terima kasih kemudian berkata aku tidak perlu repot-repot memberinya uang. Kata Ibu, beliau masih sanggup menghidupi dirinya sendiri. Ibu lebih suka bila uang itu dipergunakan untuk anak-anakku. Tidak kubilang persediaanku masih sangat lebih dari cukup, sebab tidak begitu banyak yang kuberi padanya.
Makanya, ketika tadi Ibu bilang kedatangannya akan menyelesaikan masalahku, aku tidak yakin Ibu membawa banyak uang untukku. Mungkin Ibu punya simpanan, tapi tentu saja jumlahnya jauh dari cukup, bahkan untuk melunasi tagihan pada suplier.
***
Aku duduk gelisah di sekitar pintu kedatangan. Pukul satu kurang tibaku di bandara, sekitar sepuluh menit lalu. Pikiranku berputar-putar, apa dan bagaimana caraku mengatakan pada Ibu supaya dia tidak terlalu syok. Kurasa tak ada. Sepintar apa pun kujalin kata, hati Ibu pasti tercabik. Sungguh aku tak siap menyambut Ibu, meskipun menurutnya kedatangannya akan membereskan masalahku. Setidaknya, sedikit membereskan.
Setengah dua, pesawat yang membawa Ibu belum tiba. Oh, syukurlah! Beri aku waktu beberapa jenak untuk menguatkan diri, supaya aku tidak meraung dalam pelukannya saat kami bertemu nanti. Setengah jam kemudian aku mulai gelisah. Hampir pukul sebelas tadi Ibu memberi kabar kalau sesaat lagi dia akan memasuki pesawat. Harusnya kami sudah berada dalam gedung yang sama sejak tadi. Dadaku berdentam ketika di papan informasi status penerbangan pesawat yang membawa Ibu tertulis ‘Tertunda’.
Kemudian aku beku, saat pengumuman itu sampai ke telingaku. Tanganku bergetar mengecek nomor pesawat yang dinaiki Ibu. Semoga ada satu huruf yang keliru, harapku. Harapanku tidak terkabul. Bahkan kemudian kudapati nama Ibu pada deretan nama penumpang dan kru pesawat.
Pekikan serta tangis mengambang di sekitarku, sementara aku masih kesusahan melakukannya. Aku ingin berteriak marah, menangis bahkan meratap sekaligus. Seluruh tubuhku bersandar pada dinding, lalu merosot pelan ke lantai. Ucapan Ibu kemarin memukul-mukul pendengaranku: aku datang untuk membereskan masalahmu.
Andai saja ada pilihan. Aku ingin Ibu berada di sini. Biar saja dia tahu masalahku. Biar saja Ibu meraung sedih. Setidaknya ada aku menghapus air matanya. Ada dadaku tempat dia melabuhkan kesedihannya. Biar saja masalahku makin besar. Asal ada Ibu di sini. Aku tidak mau masalahku beres, bila harus ditukar dengan Ibu. []




