
Sebentar!
Aku harus memulai dari mana? Aku tak sepenuhnya ingat, sejak kapan aku merasa tertarik pada api. Tapi sepertinya, di saat umurku 5 tahun, aku begitu gembira melihat Ayah yang menyalakan lilin saat di rumah sedang mati lampu. Aku segera mendekati dan berusaha memegang api di lilin itu, hingga Ibu harus menarik tanganku. “Jangan disentuh! Itu panas!” serunya.
Aku memang tak menyentuhnya hari itu. Namun, di lain hari—saat tak ada Ayah dan Ibu—aku diam-diam mulai menyentuhnya. Memang aku merasakan rasa panas seperti yang Ibu bilang. Jariku pun terasa sakit, hingga memerah. Tapi aku merasa itu sensasi yang luar biasa. Aku sampai harus berteriak, entah itu teriakan gembira atau sekadar kaget. Namun yang pasti aku menyukainya.
Jadi diam-diam aku sering menyalakan lilin saat rumah sepi, dan menyentuh apinya berkali-kali. Di awal kebiasaan itu tanganku sampai terluka dan Ibu harus membawaku ke dokter. Namun makin lama, aku makin tahu berapa lama aku bisa menyentuh api. Saat ada rasa perih yang mulai terasa, aku harus menarik tanganku. Begitu terus, hingga aku bisa melakukannya berkali-kali.
Di masa remaja, sahabatku di sekolah yang bernama Lalinanina berkata, “Kau seorang pyromaniac!”
Aku hanya diam waktu itu. Aku tak tahu apa arti kata itu. Tapi di rumah aku membuka kamus milik Ayah, dan menemukan arti ucapan Lalinanina. Rupanya arti kata itu adalah semacam seseorang yang suka menyalakan api.
Hmmm, aku diam sesaat. Mungkin ada benarnya ucapan Lalinanina itu. Aku memang suka menyalakan api. Aku tak hanya menyalakan lilin diam-diam. Saat mulai membuat mie instan sendiri, aku selalu menyalakan api gas dengan maksimal, hingga Ibu berkali-kali mengingatkanku. Aku juga sering membantu Ayah membakar daun kering di halaman, sampai begitu niat mencari daun-daun kering—juga ranting-rantingnya—di halaman rumah-rumah tetangga. Ternyata makin aku besar, aku makin menyukai api yang besar pula.
Namun kemudian aku menyadari kalau aku tak sekadar menyukai momen menyalakan api. Aku … suka berhubungan dengannya—kalau boleh kukatakan begitu. Aku tak sekadar berlama-lama memandang api bergerak meliuk-liuk di udara dan memainkan perubahan warnanya, tapi aku juga suka menyentuhnya, sama seperti saat aku menyentuh api di pucuk lilin ketika aku kecil. Satu lagi, aku selalu merasa sedih saat tiba waktunya api itu harus padam. Jadi dengan segala pertimbangan itu, kupikir istilah seperti yang diucapkan Lalinanina, tak sepenuhnya benar untukku.
Aku baru menemukan apa yang cocok menggambarkan diriku dengan api saat memasuki masa remaja. Saat itu aku melihat kawan-kawanku jatuh cinta. Aku juga berkali-kali membaca dan menonton film tentang cinta. Aku kemudian menyadari kalau aku—bisa jadi—jatuh cinta pada api. Ya, terdengar aneh, tapi toh, kau tak harus percaya!
***
Ini gila!
Aku ingat sebuah dongeng dari penulis tak dikenal. Di gutenberg.org ia hanya disebut anonymous. Tapi setelah menelisik karyanya sungguh-sungguh, aku menemukan sebuah nama pada ilustrasi dan catatan-catatan tulisan tangannya. Ada nama: Angelina Richard—ah, tiga atau empat huruf terakhir tak terbaca jelas. Mungkin Richardson—yang umum—atau Richardles—ini nama yang tak biasa, tapi huruf terakhirnya memang tampak seperti huruf e dan s. Tapi sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Ada ribuan naskah di gutenberg.org, dan tak semua orang membukanya kembali. Tapi, setidaknya aku senang menemukan sesuatu yang tak biasa. Semua orang hanya membaca Hans Christian Andersen, Grimm Bersaudara, atau Charles Perault, tapi mereka pasti tak pernah membaca dongeng dari Angelina Richardles ini!
Dongengnya tentang seorang anak yang lahir dari ayah dan ibu api. Mereka memang keluarga api. Saat beranjak dewasa, anak itu memutuskan berkelana dan melihat dunia luar. Namun dunia tak pernah berlaku baik pada api. Angin terus menderu, hujan tak henti-henti, belum lagi saat musim salju datang. Itu masih ditambah orang-orang yang selalu merasa takut kalau api membakar barang-barang mereka, jadi mereka pun selalu berupaya memadamkannya. Dongeng ini sebenarnya cukup panjang, tapi aku tentu tak akan menuliskannya di sini. Satu yang pasti kisahnya berakhir bahagia. Seperti dongeng pada umumnya.
Satu yang ingin kutiru dari anak api itu, ketika Ayah dan Ibu sudah tak ada lagi, aku memutuskan meninggalkan rumah dan pindah ke kota yang kuinginkan. Waktu itu harta peninggalan Ayah dan Ibu cukup lumayan. Jadi aku tak merasa kesusahan. Tapi aku kemudian baru menyadari, berapa pun uang yang ada akan selalu dengan mudah habis. Apalagi waktu itu aku sudah menikahi sahabatku, Lalinanina. Ya, sekian tahun kami berteman, pergi menjauh saat kami memiliki kekasih masing-masing, tapi selalu ada masa kami kembali bersama lagi. Minum-minum sampai tengah malam dan bercerita tentang apa pun.
Kupikir ia sahabat yang baik. Ia bukanlah yang tercantik, tapi wajahnya tak pernah membosankan. Satu yang kusuka darinya dari dulu, ia seorang pendengar baik, dan selalu mendukung keinginan-keinginanku. Dari semua itu, satu hal saja keburukannya: ia bukan perempuan yang pandai berhemat. Tapi toh, itu bukan masalah. Perempuan yang pandai berhemat belum tentu mendukung keinginan-keinginanmu, bukan? Bahkan mungkin ia tak pernah mendengarkanmu! Jadi setelah setahun berpacaran, kami pun menikah.
Sebenarnya ada alasan utama yang membuatku menikahi Lalinanina. Ia sudah tahu sejak lama bagaimana hubunganku dengan api, jadi aku tak perlu harus menyembunyikan apa-apa lagi darinya. Ia bahkan yang selalu berteriak kalau aku sudah begitu dekat dengan api. Seperti ketika aku sedang menyentuh api yang cukup besar saat membakar daun kering, ia akan berteriak, “Jangan terlalu lama! Aku tak mau selalu mengobati luka-lukamu!” Atau dengan kata-kata, “Ingat salep lukamu sudah habis dan hari ini semua apotik tutup karena hari libur!”
Aku lebih banyak menurutinya. Satu sebenarnya yang tak ia tahu, pikiranku begitu liar, terutama tentang perempuan dan api. Ini yang kadang sampai membuatku takut sendiri
Sebelum memacari Lalinanina, aku memacari beberapa gadis lainnnya. Yang selalu kubayangkan saat berhadap-hadapan dengan mereka adalah mereka tampak semakin jelita dengan balutan api di seluruh tubuh mereka! Bahkan ketika beberapa dari mereka mampir ke rumahku dan bercinta, aku membayangkan pembaringan kami yang dipenuhi api yang bergerak liar. Itu benar-benar membuatku makin bersemangat.
Tak hanya sampai di situ—dan ini yang kemudian menyisakan rasa takut. Saat gadis-gadis itu tengah terlelap tidur di pembaringanku, aku membayangkan api yang ada di sekitar mereka tak lagi sekadar bergerak di sekeliling, tapi mendekat, lalu membakar dan menelan mereka sampai habis!
Bayangan itu selalu membuat pikiranku bercampur aduk. Sejujurnya, aku begitu gembira membayangkan itu, namun di satu sisi, aku merasakan kegilaan itu tak bisa diampuni lagi. Aku merasa telah begitu sakit!
Aku bersyukur Lalinanina tidak seperti gadis-gadis itu. Mungkin karena ia tak secantik mereka, aku jadi tak kerap memandanginya secara berlebihan. Kami bagai dua sahabat lama, yang butuh teman mengobrol di kafe. Sahabat yang saling mencemaskan saat salah satunya pulang telat. Sahabat yang selalu ada, tanpa aku merasa gembira saat membayangkan api menelannya!
Setidaknya begitulah kami saat keuanganku cukup aman. Namun saat tabungan kami menipis, Lalinanina mulai kerap berkata tak seperti biasanya. “Kau harus bekerja, kita tak lagi punya simpanan emas yang bisa kita jual,” ujarnya.
Aku diam. Sebenarnya aku tahu, kami masih memiliki satu kotak kecil emas peninggalan Ibu. Tapi ucapan Lalinanina bukanlah sesuatu yang perlu dibantah.
“Ini ada lowongan menjadi petugas pemadam kebakaran. Daftarlah!” Lalinanina menyodorkan selembar koran padaku.
Aku diam sebentar. Aku merasa ini agak aneh. Seharusnya Lalinanina tahu, walau pekerjaan itu memang selalu berdekatan dengan api, itu sama sekali bukan pekerjaaan yang cocok untukku. Aku selalu ingin menyalakan api, bukan memadamkannya!
Aku ingin mencari pekerjaan yang lain. Tapi tak banyak lowongan pekerjaan di saat sekarang ini. Padahal dulu pemerintah baru berjanji akan menyiapkan 19 juta lapangan kerja. Tapi yang terjadi, satu lapangan pekerjaan pun begitu susah didapat. Aku pun kemudian kembali mencari koran yang dulu diberikan Lalinanina.
***
Tak banyak yang mau bekerja dengan taruhan nyawa, jadi sainganku saat mendaftar pekerjaan itu sama sekali tak banyak. Aku pun diterima dengan mudah.
Tugas pertamaku adalah memadamkan api di sebuah rumah tua yang terbakar. Semua petugas pemadam kebakaran menuju ke sana. Saat itu, api telah membesar. Aku terpana melihat liukannya yang megah dan liar. Benar-benar tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Karena aku pegawai baru, tugasku hanya membantu pegawai senior untuk memegangi selang air yang dibawanya. Pegawai senior inilah yang nantinya akan menyemprotkan air ke api, dan aku hanya memegangi dari belakang.
Melihat api yang digusur berkubik-kubik air, aku merasa telah mengkhianati api. Padahal aku merasa api hanya menjalankan tugasnya. Di mataku, ia begitu memesona. Saat aku tak henti menatapnya, aku merasakan ia bersemu merah. Aku merasakan ia seperti menyuruhku untuk mendekat. Namun saat aku tanpa sadar melangkah mendekat, rekan seniorku segera menarik bajuku. “Berdiri saja di belakangku!” teriaknya.
Aku hanya bisa menelan ludah.
Seperti dulu, aku selalu sedih melihat api yang padam. Itu seperti sebuah perpisahan. Namun melihat api yang sedemikian besar akhirnya padam, membuatku benar-benar meneteskan air mata.
Keesokan harinya aku pun resign!
***
Aku menganggur hampir 10 tahun. Nyatanya kami masih saja bisa membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Itu artinya tabungan kami sebenarnya masih cukup. Namun Lalinanina kemudian meninggal. Ia tersedak donat. Kebiasaannya makan dengan cepat, membuatnya menelan sebuah donat sekaligus. Ia lupa yang ia makan kali itu bukanlah donat yang tengahnya bolong, tapi yang tidak bolong (Kenapa ini juga disebut donat? Tolong jelaskan!). Jadi tersedaklah ia, karena saat kejadian tak ada siapa-siapa di dekatnya.
Aku memutuskan mengkremasinya, walau keluarganya sebenarnya meminta ia dikubur seperti biasa saja. Tapi aku suaminya, jadi aku yang berhak memutuskannya.
Di ruang kremasi, aku masuk ke ruangan pembakaran.
“Maaf, Pak, Anda tak boleh masuk!” seorang pegawai mengingatkanku.
“Maaf, Pak. Tapi aku sangat mencintainya, dan ingin melihatnya untuk terakhir kali. Izinkanlah!” pintaku sedikit memaksa.
Pegawai kremasi itu hanya bisa mengangguk lemah.
Dari balik kaca pembakaran, aku kemudian melihat tubuh Lalinanina yang terbakar. Ia seperti mengucapkan selamat tinggal dengan meliuk-liukkan api seperti menari-nari di depanku.
Aku menahan napas. Baru kali ini aku menyadari kalau ia begitu jelita. Aku merasa beruntung bisa menikahinya.
***
Kematian Lalinanina bukan akhir kisahku. Saat semuanya bagiku hanya tinggal menunggu waktu, muncul seorang lelaki tua di hadapanku. Aku tak mengenalnya, namun ia langsung berkata padaku, “Ada satu pekerjaan yang cocok untukmu.”
Aku tersenyum meremehkan. “Tak ada pekerjaan yang cocok untukku,” ujarku menggeleng.
Lelaki tua itu memandangku dengan matanya yang ternyata agak berwarna merah. “Bagaimana kalau … kau menjaga sebuah rumah api?” tanyanya kemudian.
Rumah … api …?
Aku setengah tak percaya. Kupandangi lagi lelaki tua di depanku. Matanya yang merah mengingatkanku pada mataku. Apakah ia dan keluarganya memiliki juga ikatan dengan api, sepertiku?
Pada akhirnya aku pun datang ke sana sambil membawa guci abu Lalinanina. Tempatnya begitu jauh dan tak tercantum pada peta. Di sebuah lembah gersang yang ada di perbatasan 4 desa, di sanalah tampak sebuah rumah yang selalu terbakar.
Aku begitu terpesona. Ini seperti dongeng yang dulu pernah kubaca. Dinding-dinding dan atap rumah ini terus terbakar, namun perabotannya di dalamnya ternyata baik-baik saja. Aku bisa tidur di kasur kayu yang ada di kamar, memasak makanan di dapur, dan … hei, ada kursi goyang di sana! Aku bisa bermalas-malasan sepanjang hari!
Sempat kupikir ini adalah akhir kisahku yang bahagia. Tapi aku sudah meyakini, tak ada cerita yang berakhir bahagia, karena kita semua pada akhirnya akan mati, dan tak ada kebahagiaan pada kematian. Termasuk kisahku ini. Jadi aku kemudian menunggu dan menunggu. Benar saja, tepat 1 tahun lebih 1 bulan 1 hari, hujan maha deras tiba-tiba mengguyur lembah yang biasanya tak pernah tersentuh hujan. Hujan itu berlangsung lama hingga nyaris 58 hari.
Dan benar saja, di hari ke-17, rumah api ini pun padam. Apinya mati, dan tak lagi bisa dinyalakan. Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan perih, yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
***




