Kapal yang Kekal, Kutuk yang Janggal, dan Kisah yang Saling Menambal

Ilustrasi: Aprililia

I.
Setelah Adam dan Hawa memakan buah dari pohon purba, yang jadi larangan di tempat sejenis surga, dan terusir menuju bumi yang sunyi, pohon purba itu pun juga rubuh menyusul mereka berdua. Salah satu dari banyak malaikat jatuh, malaikat berbulu sayap biru, terpukau pada kayu pohon purba itu; dan kekagumannya kian besar selepas melihat banjir bandang menerjang—yang hadir dari air mata para malaikat yang masih taat: sebab turut sedih melihat perlakuan umat pada seorang nabi anak turun Adam. Dari sana, malaikat jatuh bersayap biru pun terilhami untuk membuat kapal, membuat bahtera. Karenanya, bertanyalah ia kepada Azazil, kepada pemimpin para malaikat jatuh, tentang bagaimanakah caranya membuat kapal dari kayu pohon purba. Azazil berkata padanya, agar menemui seorang lelaki tua, Geppeto namanya, yang ditinggal mati istrinya dan tak memiliki seorang putra. Azazil pun menyarankan malaikat jatuh bersayap biru itu untuk membuat sebuah perjanjian ….

Apa dia akan mau? tanya malaikat jatuh berbulu sayap biru itu.

Bilang saja padanya, jika ia mau menukarkan alat-alat pahatnya, juga ilmunya, kau akan memberinya sebongkah kayu dari pohon purba. Dan dengan memahat sebongkah kayu dari pohon purba itu, lantas memberi setengah jiwa, maka boneka kayu itu akanlah bisa hidup dan menjadi putra, akanlah menjadi anak disebut nama.

Setelah berterima kasih, malaikat jatuh berbulu sayap biru itu pergi, lantas menggenapi saran Azazil, atasannya sebelum peristiwa Kejatuhan yang menimpa mereka dan juga beberapa malaikat lainnya. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya ia sebab begitu mudahnya Geppeto setuju dengan perjanjian yang dibuat. Setelahnya, ia pun pergi ke sebuah tepi pantai—dan lekas membuat sebuah kapal besar dengan beberapa layar: sebagai variasi dari kapal sang nabi yang pernah dilihatnya sekian puluh ribu tahun yang lalu. Dengan begitu bersemangat, dan tak kenal lelah, dia terus bekerja. Setelah selesai, ketika melihat-lihat kapalnya di tepi, datanglah Azazil mengajukan tanya:

Akan kau apakan kapal yang penuh dengan layar itu?

Adakah saran?

Ada, jawab Azazil sembari memberi lembut senyum. Begini—

Dan setelah mendengar saran itu, pergilah malaikat jatuh berbulu sayap biru itu kepada seorang lelaki yang dikutuk terus mengembara dan tak genap bisa tua, sebab tak mau menolong Anak Manusia. Kepadanya, ditawarkan itu kapal; mengatakan, bahwa bisa saja ini adalah jalan terbebas dari kutukan “tak satu pun pintu terbuka”. Lelaki yang dikutuk untuk terus saja mengambara pun dengan lirih bertanya tentang berapa harga yang mesti diberi untuk mendapat kapal itu. Sebelah mata, sebelah kaki, dan sebelah tangan, sahut malaikat jatuh berbulu sayap biru itu dengan ringan.

Lelaki yang dikutuk untuk terus mengembara itu pun sejenak terdiam, dan memandang langit malam, dan lantas mengiyakan. Sisa potongan dari pohon purba pun dijadikan kaki dan tangan pengganti, juga bola mata yang mengisi celah. Atas saran malaikat jatuh berbulu sayap biru, lelaki yang dikutuk terus mengembara itu pergi menuju Belanda dan mengubah namanya: dari Ahasveros ke Van der Decken. Kapal buatan malaikat jatuh berbulu sayap biru itu diberi nama oleh lelaki itu: Flaying Dutchmen!

II
Sebab tak tahan dengan hinaan dan fitnahan yang diterima, kau memutuskan turut serta sebuah kapal yang akan berlayar ke Belanda—membawa rempah-rempah dari Hindia. Kau pun kabur, meninggalkan surat di kamar busuk yang disediakan tuanmu yang Belanda. Dalam perjalanan, kau teringat hinaan dari tuan, nyonya, tuan muda, serta nona yang menjadi majikanmu: mereka berkata, bahwa seekor tikus busuk tak layak belajar di sekolah-sekolah. Dan sesampainya di dermaga, kau berkata pada dirimu sendiri—dan entah pada apa:

Batavia bukanlah surga, dan kota-kota di Belanda agaknya takkan pernah menjelma tanah yang dijanjikan bagi seorang bumiputra yang kehilangan cinta sebab perbedaan kelas. Keluargaku telah lenyap semua, kekasih yang kucinta dipinang saudagar kaya. Ah, aku bukan tikus, Menir, aku ini ular yang tak begitu rakus.

III
Setelah badai begitu maha, setelah sumpah-kutuk terlontar dari kapten kapal bernama Van der Decken, terdengar petir yang begitu luar biasa. Seolah reka ulang adegan dari The Tempest—tapi berakhir serupa Hamlet. Setelahnya, para awak pun tak mengenal lapar atau hasrat seksual; yang tertinggal hanya keinginan sampai kepada tepi, sampai kepada pantai sebuah negeri. Akan tetapi, para awak dan kapten yang bebal itu gagal.

Ada satu jalan keluar, ujar sang kapten yang mengangkat sumpah-kutuk sebab teringat masa silam. Ini bukan salah kalian semua. Dan kalian tak genap mesti menanggungnya. Akan tetapi, kalian punya dosa, dan hanya dengan mengakuinya kalian bisa pulang—dengan terjun ke dalam lautan. Dan ombak akan membawa kalian ke tepi, ke tepi.

Para awak terdiam sesaat ….

Sang kapten mengambil duduk, dan mulai menceritakan masa silamnya—

Setelah kisah itu tamat, sekalian yang mendengar dengan khidmat menyadari bahwa apa yang disampaikan kapten itu bukanlah dusta, bukanlah kebohongan dinama. Mereka pun lekas melakukan apa yang sang kapten minta. Maka, satu per satu, para awak pun pulang; terbebas dari kutukan. Dan kini hanya tertinggal dirimu!

Kemarilah, Nak, aku akan mendengar, dan kau pun bisa pulang.

Namun, bagaimana denganmu, Kapten?

Kapten mati tenggelam bersama kapal. Aku tak bisa meninggalkan ini kapal, tak bisa meninggalkan kutukku yang janggal.

Aku sudah kehilangan semuanya, Kapten …. Aku sudah kehilangan keluarga, sudah kehilangan gadis yang kucinta, dan sudah tak punya tanah-rumah untuk istirah dan rebah ….

Namun, kau ingin tetap pulang, kan?

Kau mengangguk—

Setidaknya, dengan keluar dari kutuk tiada akhir ini, kau tak genap menderita.

Kau pun membuat pengakuan, dan lekas menceburkan diri ke lautan. Segala gelap! Dan ketika terbangun, kau dapati pantai itu tak lagi menjadi bagian dari Batavia, tak lagi menjadi koloni Belanda yang dinama Hindia. Saat terjaga, di tepi pantai dermaga, sekelompok pemuda lekas membawamu menuju rumah mereka, dan berkata bahwa negara sudah tak lagi menderita; sudah merdeka, tapi kau begitu sulit untuk percaya, begitu sulit untuk percaya:

Paman, mari ke rumah kami, ini hari kemerdekaan kita. Kita Indonesia!

IV
Di kapal Flaying Ducthmen, hanya ada sang kapten: melihat laut penuh kabut. Dari salah satu arah, melesat makhluk bersayap: malaikat jatuh berbulu sayap biru. Ia duduk di hadapan sang kapten, dan berkata:

Bagaimana?

Aku membuat perjanjian dengan malaikat jatuh, tapi rasanya malah seperti membuat perjanjian dengan iblis dari neraka yang rubuh.

Apa kau menyesal?

Tidak. Kupikir memiliki kapal tak benar-benat buruk.

Sekarang apa yang akan kau lakukan?

Entahlah. Aku kira, aku akan terus mengembara tanpa henti ke seluruh tujuh samudra: sampai kiamat tiba. Namun, jika hari kiamat memang ada, sesudahnya pun adalah lautan pula, sebab surga adalah sejenis daratan terhampar: tentu saja, aku takkan pernah menyentuhnya, takkan pernah diizinkan menyentuhnya.

Kau suka membaca puisi?

Lumayan.

Aku menemukan sebuah buku yang bagus, ucap malaikat jatuh berbulu sayap biru itu sambil memberi buku, karya Chairil Anwar dari balik pakaiannya, kepada sang kapten, kepada Van der Decken, kepada Ahasveros.

Terima kasih.

Hidup hanya menunda kekalahan, ucap sang malaikat jatuh berbulu sayap biru— []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top