Kompetensi Tanpa ‘N’

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Orang-orang sering mengira Tamar berhasil karena ia pandai bicara. Sebagai seseorang yang mengenalnya sejak umur sepuluh tahun, aku merasa perlu meluruskan kesalahpahaman itu.

Tamar tidak pandai berbicara. Ia hanya tidak pernah takut mendengar suaranya sendiri. Ada perbedaan yang cukup besar di antara keduanya.

Orang yang pandai berbicara biasanya tahu apa yang sedang ia katakan. Tamar tidak selalu dibebani oleh syarat semacam itu. Ia bisa mengucapkan sepuluh kalimat sebelum sempat berpikir satu pun di antaranya. Ia berbicara seperti orang yang sedang menyeberangi sungai dengan mata tertutup: melangkah dulu, berharap batu pijakan akan muncul setelah kakinya turun.

Anehya, batu itu hampir selalu muncul. Dan seumur hidup, itulah hal yang paling menggangguku dari sosok Tamar.

Ketika kecil, aku mengira dunia menghargai kemampuan. Aku pikir orang-orang yang rajin belajar akan lebih didengar daripada mereka yang asal bicara. Aku pikir keputusan penting lahir dari pertimbangan yang matang.

Tamar mengajariku itu tanpa niat, dan sayangnya—tanpa henti.

Aku masih ingat pertama kali melihatnya membawa sebuah megafon. Alat itu bukan sungguhan. Hanya mainan plastik murahan dari pasar malam yang datang setahun sekali ke kota kami. Warnanya merah terang lengkap dengan warna kuning di corongnya..

Anak-anak lain membeli pistol-pistolan, mobil remot, atau balon yang menyala di dalam gelap. Tamar membeli pengeras suara. Seharusnya itu sudah menjadi pertanda.

***

Pagi setelah pasar malam berakhir, ia datang menenteng megafon ke sekolah dengan sangat percaya diri. Bahkan sebelum bel masuk berbunyi, ia sudah berdiri di tengah lapangan dan mulai berbicara kepada siapa saja yang kebetulan lewat.

Tidak ada yang penting, tidak juga masuk akal.

Kadang ia mengumumkan bahwa hujan akan turun meski matahari sedang terik. Kadang ia mengumumkan bahwa kantin akan menjual es krim gratis bahkan ketika pemilik kantin tidak menjual es krim. Kadang ia hanya menyebut namanya sendiri berulang-ulang seperti pembawa acara yang kehabisan acara.

“Selamat pagi, semuaa …. Tamar hadir!”

“Tamar sudah datang!”

“Tamar akan membuat sesuatu yang besar!”

Aku tidak tahu apa maksud kalimat terakhir itu. Kurasa Tamar juga tidak tahu.

Namun anehnya setiap kali ia berbicara, orang-orang berhenti sejenak, mereka menoleh—mendengarkan. Lebih jauh, mungkin untuk menertawakan.

Akan tetapi, mereka tetap mendengarkan. Dan makin sering mereka mendengarkan, makin sering Tamar berbicara. Seperti api yang diberi kayu.

Dalam diam, aku sering menggurutu soal itu. Menurutku Tamar hanyalah anak yang terlalu percaya diri. Jenis anak yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang tidak ia pahami. Jenis anak yang menawarkan diri memimpin sebelum mengetahui ke mana rombongan akan pergi. Jenis anak yang lebih menyukai tepuk tangan daripada pelajaran.

Singkatnya, Tamar adalah orang yang membuatku yakin bahwa keberanian dan kemampuan adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Aku hanya belum tahu bahwa dunia sering kali tidak peduli pada perbedaannya.

***

Peristiwa itu terjadi pada jam istirahat pertama, beberapa hari setelah Tamar memiliki megafon baru.

Lapangan belakang sekolah cukup ramai.

Biasanya, keramaian adalah tanda bahwa sesuatu sedang berlangsung. Hari itu tidak. Keramaian hanya berarti lima belas anak sedang berdiri melingkar sambil menunggu siapa yang akan mengambil keputusan lebih dulu.

Kami ingin bermain benteng-bentengan. Masalahnya, tidak ada yang mau menjadi pemimpin kelompok. Anak-anak seusia kami selalu menyukai kemenangan. Yang tidak mereka sukai adalah tanggung jawab ketika kekalahan datang.

“Ayo dibagi tiga tim, kita kan ada lima belas orang …,” ujar salah seorang

“Ya udah, kamu yang bagi, lah …,” timpal lainnya.

Gak, males ah! Kamu aja ….”

“Ya udah, gak usah main aja ….”

Kurang lebih begitu percakapan berlangsung selama beberapa menit.

Aku masih ingat saat itu, aku duduk di bawah pohon ketapang, menggaruk tanah dengan ranting kecil sambil menunggu seseorang yang cukup waras untuk menyelesaikan kebuntuan itu.

Lalu Tamar datang. Ia muncul dari arah kantin dengan megafon merahnya yang tergantung di leher. Tanpa bertanya apa masalahnya atau sekadar mencari tahu apa yang sedang terjadi, ia langsung menaikkan megafon ke mulutnya.

“Woi! Diem-diem aja kalian …. Ayok main!”

Suara pecah pengeras itu membuat beberapa anak menutup telinga.

“Kita mau main benteng-bentengan!” teriak seseorang.

“Terus kenapa belum mulai?” tanya Tamar.

Gak ada yang mau bagi tim, Mar.”

Tamar mengangguk pelan. Lalu ia mengangkat megafonnya lebih tinggi.

“Oke ….” Jeda sesaat.

“Kalau begitu … aku akan jadi ketua di sini, aku yang akan bagi tim. Semua harus ikut apa kataku, ya …. “

Tidak ada pemilihan–tidak ada persetujuan. Kalimat itu meluncur dari mulutnya seperti sesuatu yang sudah ditetapkan jauh sebelum kami semua lahir.

Aku menunggu seseorang membantah, tertawa, atau setidaknyabertanya— kenapa harus Tamar. Namun, tidak ada sedikit pun bantahan atau tawa merendahkan.

Anak-anak hanya saling pandang dalam sekian detik.

Lalu salah seorang bertanya,

“Terus, timnya gimana, ini?”

Dan, entah kenapa, pertanyaan itu membuatku kesal. Bukan kepada Tamar. Kepada mereka. Karena pertanyaan itu cukup menjelaskan satu hal: Mereka sudah menerima Tamar sebagai ketua.

Tanpa sadar–tanpa diskusi. Hanya karena ia lebih dulu bersuara.

***

Tamar mulai menunjuk orang-orang.

“Heh, Kamu yang rambutnya gondrong. Masuk tim A, ya .…”

“Kamu yang sepatunya bagus, masuk di tim B.”

“Nah, Kamu kan jago, ya udah kamu masuk tim C sama aku.”

“Kamu pindah, yaa … boleh pilih tim A atau B.”

Ajaibnya, semua patuh. Padahal lima menit sebelumnya tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan siapa pun. Aku memperhatikan semuanya dari bawah pohon. Makin lama, makin muncul perasaan yang sulit kujelaskan.

Aku tidak kagum atau iri, tetapi cukup merasakan kegelisahan–bagaimana bisa sebuah trik sulap receh ini tidak bisa aku tebak letak tipunya.

Tamar bahkan tidak terlihat pintar: Pembagian timnya berantakan, beberapa anak protes, dua tim jelas tidak seimbang, aturannya berubah tiga kali sebelum permainan dimulai, dan ketika permainan akhirnya berlangsung, tim Tamar kalah telak.

Kalah yang cukup memalukan, tetapi lagi-lagi, anehnya, tidak ada yang mengingat kekalahan itu. Yang diingat semua orang adalah bahwa Tamar pemimpin permainan, ia yang sudah membagi tim, memberi instruksi, dan membuat permainan berjalan lancar.

***

Sore harinya, saat kami berjalan pulang, aku bertanya pada Tamar.

“Kenapa tadi kamu teriak-teriak? Lalu kenapa kamu percaya diri sekali untuk bilang jadi ketua?”

Tamar mengangkat bahu. “Loh, mereka gak ada yang mau mimpin, kok ….”

“Maksudnya?” tanyaku.

“Mereka kan udah kumpul semua … terus kenapa diam-diam aja? Padahal kan permainan bisa dimulai hanya dengan membagi tim saja, itu gampang loh ….”

“Itu bukan alasan. Mar .…”

“Justru itu alasannya.” Tamar meyakinkan. Ia tersenyum kecil–senyum seseorang yang menganggap dunia jauh lebih sederhana daripada yang diyakini orang lain.

“Kalau gak ada yang maju, ya … kita majuin.”

Aku mendengus. Menurutku itu jawaban paling bodoh yang pernah kudengar. Dan mungkin itulah pertama kalinya aku mulai curiga: dunia ternyata memiliki kebiasaan aneh. Ia tidak selalu bertanya siapa yang paling mampu.

***

Memasuki pendidikan lanjutan di SMP, aku berharap kebiasaan Tamar akan hilang dengan sendirinya. Banyak penyakit masa kecil yang sembuh karena waktu. Atau setidaknya mati karena malu.

Ternyata kebiasaan Tamar termasuk jenis yang diberi makan oleh pertumbuhan. Tubuhnya bertambah tinggi, suaranya makin berat, keberaniannya makin nekat.

Megafon merah itu masih ada. Warnanya mulai pudar–tombolnya mulai keras ditekan. Kadang suara yang keluar terdengar seperti jatuhan kaleng menuju lantai. Namun Tamar tetap membawanya, seolah benda itu memiliki nyawa yang harus dipelihara. Atau mungkin sebaliknya—benda itu yang selama ini memelihara Tamar.

Di SMP, kemampuannya mulai diperhitungkan. Setidaknya begitulah yang kupercaya.

Anak yang pintar matematika mendapat apresiasi titel jenius di kelas.

Anak yang rajin olah raga masuk tim inti dan menjadi bintang di sekolah.

Anak yang pandai menggambar menjadi andalan delegasi perlombaan kategori poster.

Semuanya tampak masuk akal.

***

Lalu ada Tamar. Ia tidak menonjol dalam bidang apa pun. Nilainya biasa saja, olah raganya hanya mengukur meja di kelas, prestasinya sangat biasa bahkan berlebihan jika aku sebut siswa ambisius.

Bahkan jika namanya dihapus dari daftar murid, aku yakin sebagian guru membutuhkan waktu beberapa minggu untuk menyadarinya. Namun ada satu hal yang tidak biasa. Ia selalu berada di depan, bukan dengan niat menjadi yang terbaik. Hanya paling depan di berbagai kegiatan.

Perbedaan itu penting.

Ketika sekolah mencari panitia untuk acara peringatan kemerdekaan, Tamar menjadi orang pertama yang mengangkat tangan di tengah para siswa yang menundukkan kepala.

Ketika OSIS membutuhkan sukarelawan, Tamar berdiri sebelum guru selesai menjelaskan tugasnya.

Ketika kepala sekolah bertanya siapa yang bersedia menjadi pembawa acara, Tamar sudah berjalan ke depan sebelum pertanyaan selesai diucapkan.

Seolah hidup adalah perlombaan yang hanya memberinya satu aturan: Datang lebih dulu, sisanya pikirkan nanti.

Aku berkali-kali melihat akibatnya, suatu kali Tamar menjadi koordinator lomba futsal antarkelas. Bencana dimulai—jadwal bentrok tidak karuan, perlengkapan lomba tidak tercukupi, peserta salah masuk pertandingan, tiga guru marah pada hari yang sama.

Aku yakin karier kepemimpinan Tamar akan berakhir saat itu juga.

Namun seminggu kemudian, ketika sekolah mengadakan acara lain, nama pertama yang kembali disebut adalah Tamar. Aku sampai tidak percaya.

“Kenapa dia lagi?” tanyaku kepada seorang teman.

Temanku mengangkat bahu.

“Entah, Mungkin karena dia selalu mau, bahkan saat tidak ada tawaran pada dirinya.”

Hanya itu jawabannya: Karena dia mau.

***

Kalimat itu terus menggangguku, karena makin kupikirkan, makin sulit kubantah. Orang lain sebenarnya bisa. Beberapa bahkan jauh lebih mampu.

Masalahnya, mereka menunggu: Menunggu dipilih. Menunggu dipercaya. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu kesiapan diri.

Sementara Tamar tidak pernah menunggu apa pun. Ia mengambil tempat kosong sebelum orang lain sempat mempertimbangkannya.

Suatu sore setelah kegiatan sekolah, aku melihatnya duduk sendirian di tribun lapangan. Megafon merah itu berada di sampingnya.

Aku duduk beberapa kursi darinya. “Mar, Acara tadi berantakan,” sambil menyapa.

Yaelah, berantakan sedikit, gak ngaruh kali ….”

“Hah, gimana Mar? Sedikit?”

Tamar tertawa. “Hahaha … oke, banyak deh ….”

“Nah!” Aku merasa menang, akhirnya ia mengaku juga.

“Tapi acaranya selesai, kan?” Tamar melanjutkan.

Lalu Aku terdiam—acaranya memang selesai. Cukup berantakan, tetapi selesai. Tidak sempurna, tetapi selesai. Tidak bagus, tetapi selesai.

Tamar memandang lapangan yang mulai kosong. Lalu berkata dengan nada santai yang membuatku makin kesal.

“Kebanyakan orang dihantui oleh rasa takut salah, akhirnya mereka beneran salah .…”

“Memang harus takut kalau salah,” kataku.

“Maka dari itu, mereka enggak ke mana-mana, kan?”

Aku memutar mata. Menurutku itu omong kosong yang kebetulan terdengar meyakinkan. Namun yang paling membuatku jengkel bukanlah ucapannya, melainkan kenyataan bahwa dunia tampak setuju.

Sedikit demi sedikit, Tamar mulai dikenal. Guru mengenalnya sebagai sosok yang tampil percaya diri, kakak kelas menjulukinya sebagai megafon berjalan, adik kelas meniru caranya Tamar berbicara.

Semua itu bukan karena prestasi atau karena kemampuan, melainkan karena ia selalu muncul ketika ada ruang kosong yang bisa diisi dirinya.

Dan setiap kali melihatnya berdiri di depan banyak orang, aku selalu menggumamkan kalimat yang sama dalam hati. Kalimat yang bahkan tidak kusadari sedang tumbuh menjadi kebiasaan, Kalau anak seperti Tamar terus naik, habislah kita.

Aku mengucapkannya berkali-kali. Saat melihatnya memimpin acara, berpidato, atau ketika orang-orang menepuk bahunya.

Aku tidak tahu bahwa dunia ternyata pendengar yang jauh lebih piawai daripada manusia.

***

Ketika lulus SMP, jalan kami sempat berpisah–tidak jauh. Aku masuk sekolah yang berbeda dengan Tamar. Kupikir itu akhir dari pengaruhnya dalam hidupku.

Ternyata, aku salah. Orang seperti Tamar tidak perlu berada di dekatmu untuk tetap mengganggu pikiran. Kabar tentangnya selalu datang lebih dulu daripada dirinya: Dari teman lama. Dari guru yang kebetulan bertemu. Dari cerita yang beredar tanpa diminta.

Aku mendengar kabar Tamar menjadi ketua OSIS di sekolahnya, kabar lain menginformasikan bahwa Tamar tidak hanya memimpin satu organisasi internal sekolah, ia juga memimpin unit-unit kerja di dalam.

Tamar dikenal sebagai ketua OSIS yang piawai bicara di berbagai acara. Bahkan, yang tidak pernah aku sangka, Tamar terpilih untuk mewakili lomba orasi ilmiah di tingkat nasional.

Setiap kali mendengar namanya, reaksiku selalu sama–menghela napas, menggeleng kepala, lalu mencari-cari alasan mengapa semua itu tidak masuk akal.

Aneh, memang.

Ada orang yang mengumpulkan prestasi. Namun, Tamar mengumpulkan perhatian. Dan ternyata, perhatian selalu lebih cepat menyebar.

Beberapa tahun kemudian, ketika kami bertemu lagi setelah lulus sekolah, hal pertama yang ada di kepalaku adalah Tamar telah membuang megafon merahnya.

Setidaknya begitu yang kupikirkan.

***

Ia datang mengenakan kemeja rapi yang terlalu berlebihan untuk usianya, lalu berjalan seperti seseorang yang sudah mengetahui akhir cerita sementara orang lain masih membaca halaman pertama.

Kami duduk di warung kopi tempat biasa kongkow semasa SMP. Berdiskusi tentang banyak hal. Atau lebih tepatnya, Tamar berbicara tentang banyak hal.

Seperti biasa.

Broh! Aku bakal bikin usaha yang dibutuhkan orang-orang.”

Aku menyeruput kopi. “Hmm, oke … oke .…”

“Aku yakin, ini bakal besar. Orang-orang bakal butuh dengan perusahaan ini …”

“Hmm … make sensemake sense …,” aku mengangguk.

“Hmm-hmm aja dirimu. Gimana keren, kan?”

“Hmm …,” lagi-lagi aku kesulitan merespons.

Ia menyipitkan mata. “Kamu gak percaya sama ide besar ini?”

Aku hampir tertawa terbahak. Percaya pada apa?

Bagaimana bisa aku percaya pada seorang CEO yang belum memiliki pekerjaan tetap, tabungan yang tipis, dan pengalaman yang nyaris tidak ada. Rencananya terdengar seperti kumpulan kata-kata yang belum sempat berkenalan dengan kenyataan.

Namun aku sudah cukup mengenalnya dan rasanya terlalu buang-buang waktu untuk berdebat soal ini. Perdebatan dengan Tamar selalu berakhir sama. Ia tidak butuh menang. Ia hanya butuh lawannya lelah.

“Mar … aku bukan merendahkan. Aku cuma realistis, di kehidupan yang dinamis ini …,” kataku.

“Heh, Broh! Realistis itu nama lain dari takut. Kalo punya pilihan optimis, kenapa harus realistis?”

Nah, kan! Mulai lagi, dia ….

Tamar tertawa.

Percakapan itu berakhir begitu saja.

***

Namun beberapa tahun setelahnya, ide usaha yang belum aku kuliti dan kritisi itu benar-benar berdiri.

Di sebuah ruko tidak jauh dari tempat kongkow biasa kami, Tamar menjual sebuah benda yang menurutnya menjadi kebutuhan setiap orang.

Ya, megafon.

Aku mengunjungi outlet Tamar secara tidak sengaja tepat setelah aku memesan kopi di tempat kongkow biasa.

Di bagian depan tergantung papan nama sederhana: TAMAR BERSUARA. Di bawahnya terdapat gambar megafon berwarna merah. Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau kagum.

Ketika masuk ke dalam, yang kulihat adalah rak-rak penuh: megafon besar, megafon kecil, pengeras suara portabel, mikrofon, speaker lapangan.

Berbagai alat yang memiliki satu tujuan sama: Membuat suara manusia terdengar lebih jauh.

Tamar berdiri di belakang meja kasir dengan wajah riang. Seolah sedang melihat masa depan yang hanya bisa ia lihat sendiri. “Wahh, selamat datang di TAMAR BERSUARA … ‘semua orang bisa bersuara disini’. Gimana ideku? Bagus kan, Broh?”

Aku mengangguk. “Lumayanlah, Mar. Gimana penjualan?”

“Tenang. Pokoknya bakal ramai, Broh ….” Tamar optimis

Aku menahan senyum. “Sudah ada pembeli?”

“Belum banyak.”

“Berapa?”

Tamar berpikir sebentar. “Tiga ….”

“Hmmmm, hari ini? Atau minggu ini?”

“Bulan ini dong, Broh ….”

Aku tidak bisa menahan tawaku, ia pun ikut tertawa. Dan anehnya, ia tidak terlihat kecewa. Seolah angka tiga hanyalah angka sementara sebelum angka yang lebih besar datang menggantikannya.

“Aku percaya nanti pasti ramai. Angka tiga ini akan beranak beberapa digit, besok ….”

Aku menggelengkan kepala. “Loh, kok bisa?”

Karena pelanggan sedang memilih realistis daripada optimis? pikirku. Namun aku tidak mengucapkan itupercuma.

***

Waktu berlalu dan beberapa bulan setelahnya aku kembali datang. Kali ini suasananya berbeda, rak-rak masih terisi penuh, sebagian kardus bahkan belum dibuka. Debu mulai menempel di beberapa sudut.

Dan kali pertama–sejak mengenalnya, aku melihat Tamar duduk dalam diam yang cukup lama.

Gimana, Mar? Lakukah?”

Ia mengangguk. “Banyak ….”

“Hah, serius banyak?” Aku melihat ulang rak-rak yang masih terisi.

Tamar tertawa kecil. “Oke, sedikit, Broh ….”

Aku duduk di kursi seberangnya. Lalu Tamar memandangi deretan megafon yang memenuhi toko. Persis seperti sedang mencoba memahami sebuah jawaban yang tidak sesuai dengan soal.

“Aku kira orang-orang cuma butuh keberanian, untuk hidup …,” katanya pelan.

Aku tidak menjawab. Tamar berbicara bukan untuk meyakinkan orang lain, melainkan untuk memahami dirinya sendiri.

“Ternyata gak semudah itu, Broh,” lanjut Tamar.

Aku menoleh. “Lalu?”

“Kadang, keberanian juga harus diimbangi dengan kemampuan. Dan karena itu, mereka kebingungan harus mulai dari mana …. “

Di dalam ruko, megafon-megafon itu tetap diam. Aku merasa sedang melihat sesuatu yang cukup berharga.

Bukan kegagalan usaha Tamar, melainkan retakan pertama pada keyakinan yang selama ini membawanya ke mana-mana. Retakan yang kelak mengubah hampir seluruh hidupnya.

***

Usaha megafon itu akhirnya tutup. Tidak dramatis. Tidak ada kebangkrutan besar. Papan nama TAMAR BERSUARA yang masih tergantung beberapa minggu kemudian dicopot juga.

Seperti kebanyakan usaha kecil yang lahir dari banyak semangat dan terlalu sedikit perhitungan. Aku mendengar kabarnya dari seorang teman. Dan, aku akui, ada bagian kecil dalam diriku yang merasa puas. Bukan karena aku membenci Tamar. Setidaknya bukan sepenuhnya.

Aku hanya merasa dunia akhirnya bekerja sebagaimana mestinya. Karena jika menjual megafon bisa membuat seseorang sukses, maka buku-buku ekonomi seharusnya sudah lama ditulis ulang.

***

Beberapa bulan setelah tokonya tutup, aku bertemu Tamar lagi.

Ia tampak baik-baik saja. Tidak terlihat raut wajah kebangkrutan, atau setidaknya wajah datar orang yang baru membakar tabungan. Bahkan senyumnya masih sama.

Aku mulai curiga bahwa kegagalan memang tidak pernah benar-benar berhasil tinggal lama di dalam dirinya.

“Aku lagi bikin sesuatu nih, Broh ….”

Tentu saja. Aku bahkan tidak perlu bertanya. Tamar selalu sedang membuat sesuatu.

“Apalagi sih, Mar? Mau jualan buku tips sukses jalur optimis?”

Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya. Penuh coretan lengkap dengan nama-nama orang dan nomor teleponnya. Panah-panah saling terhubung. Beberapa kata dilingkari tidak teratur.

“Aku lagi ketemu banyak orang, Broh.”

“Untuk apa?” tanyaku,

“Belajarlah ….”

Aku hampir tertawa. Kata itu terdengar aneh dari mulut Tamar. Selama ini ia lebih sering terdengar seperti orang yang ingin mengajar dunia.

“Belajar apa?”

“Aku lagi cari jawaban, kenapa orang-orang bisa gagal?”

Aku mengangkat alis terheran-heran. “Lalu?”

“Banyak alasannya, Broh .…” Ia mulai menunjuk beberapa catatan.

Ada yang gagal karena tidak punya jaringan.

Ada yang gagal karena terlalu takut memulai.

Ada juga yang gagal karena terlalu cepat memulai.

Kalimat terakhir membuatku tersenyum.

“Terdengar familiar ya, Mar.”

Tamar tertawa. “Haha, iya .…”

***

Untuk pertama kalinya, aku melihatnya mengakui sesuatu tanpa membela diri. Aku tidak mengatakan apa-apa. Karena itu mungkin pengakuan paling jujur yang pernah kudengar darinya.

Beberapa bulan berikutnya, aku mulai sering mendengar nama Tamar lagi. Namun kali ini bukan sebagai ketua, atau pembicara. Kali ini, Tamar sebagai penghubung.

Ia mempertemukan orang dengan orang lain. Memperkenalkan pengusaha muda dengan mentor, mengumpulkan pemilik usaha kecil dalam diskusi mingguan, mengadakan kelas sederhana di ruang sewaan.

Kadang hanya lima orang yang datang, kadang sepuluh, kadang tiga, dan Tamar tetap datang. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa memiliki energi sebanyak itu.

Sebagian besar orang membutuhkan hasil untuk tetap bergerak. Tamar tampaknya cukup bergerak untuk menghasilkan ‘hasil’.

Suatu sore aku datang ke salah satu pertemuan yang diadakannya.

Sebuah ruangan sederhana lengkap dengan Kursi plastik dan papan tulis kecil di dalamnya. Tidak ada yang istimewa.

Di dalam ruangan itu, beberapa orang sedang bercerita tentang usaha mereka. Tentang kesalahan mereka. Tentang hal-hal yang seharusnya mereka ketahui lebih cepat.

Tamar berdiri di depan. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali bertanya, lalu mencatat dan tertawa.

Aku memperhatikan cukup lama dan menyadari sesuatu yangjanggal. Tamar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Pemandangan itu terasa hampir tidak masuk akal.

Setelah acara selesai, aku menghampirinya. “Ini apa sih, sebenarnya?”

Tamar melihat sekeliling ruangan. Beberapa peserta masih mengobrol, beberapa bertukar nomor telepon, beberapa terlihat mencatat sesuatu sebelum pulang.

“Lanjutan dari usaha megafon, Broh.”

Aku tertawa. “Aku gak lihat ada kegiatan jual beli megafon di sini, Mar.”

“Justru ini megafon yang sebenarnya.”

“Maksudmu?”

Tamar mengambil salah satu kursi lalu duduk. “Dulu aku pikir masalah orang itu karena suara mereka terlalu kecil.”

Ia menatap ruangan yang mulai kosong. “Ternyata pikiranku kurang tepat.”

“Lalu?”

“Mereka cuma terlalu lama belajar sendirian.”

Tamar melanjutkan, “Kalau ada orang yang sudah pernah jatuh di sebuah lubang, kenapa kita harus jatuh di lubang yang sama?”

Aku memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda dan cukup terlihat.

Tamar tampak tidak sedang berusaha menjadi orang yang paling ingin didengar.

Ia tampak sedang berusaha membuat orang lain lebih siap.

Dan entahlah, perubahan kecil itu terus membuatku jauh tidak nyaman daripada semua pidato yang pernah ia lakukan. Karena kegagalan usaha megafon seharusnya membuktikan bahwa aku benar. Namun yang kulihat justru sesuatu yang lebih berbahaya.

Tamar tidak berhenti. Ia belajar.

***

Beberapa bulan kemudian, sebuah papan nama baru muncul di depan ruko yang berbeda. Lebih kecil daripada toko megafonnya dulu, tetapi lebih ramai.

Di atas pintu masuk tertulis dua kata yang membuatku gelenggeleng: RUMAH CEPAT.

Saat kutanya kenapa namanya seperti itu, Tamar hanya tersenyum.

“Hidup terlalu membosankan untuk mengulang kesalahan yang sebenarnya bisa dipelajari dari orang lain.”

Aku mendengus. “Namanya aneh, kenapa harus Rumah Cepat?

“Agar orang-orang cepat mengingat.”

Dan seperti banyak hal yang pernah kukira salah tentang Tamar, rupanya ia benar: Orang-orang mulai mengingatnya.

***

RUMAH CEPAT tumbuh dengan cara yang tidak kusukai. Pelan, masuk akal, dan karena itulah sulit dibantah. Aku lebih menyukai keberhasilan yang meledak. Karena keberhasilan semacam itu biasanya cepat pula runtuh.

Namun RUMAH CEPAT yang dibangun Tamar tidak demikian. Ia bertambah, sedikit demi sedikit. Satu ruangan menjadi dua. Dua menjadi empat. Empat menjadi sebuah gedung yang sangat layak pakai.

Orang-orang mulai berdatangan dari berbagai tempat. Sebagian ingin belajar memulai usaha, belajar berbicara, belajar memimpin, ada juga yang hanya ingin belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Dan dari situlah nama Tamar mulai muncul lagi. Dulu orang mengenalnya karena ia selalu berada di depan. Kini makin banyak orang mengenalnya karena orang lain berhasil setelah berkunjung ke tempatnya.

Perubahan itu terlihat kecil–padahal tidak, karena suara hanya bertahan selama didengar. Namun, kemampuan bisa hidup jauh lebih lama.

Suatu malam aku menghadiri sebuah forum di daerah tempatku tinggal. Di sana terdapat beberapa pengusaha, akademisi, tokoh masyarakat, pejabat—orang-orang yang menurutku benar-benar memiliki alasan untuk berada di sana.

Di antara mereka, seperti biasa, Tamar selalu ada. Aku sudah siap merasa kesal. Masalahnya, malam itu aku kesulitan menemukan alasan. Orang-orang mendatanginya bukan karena ia berbicara paling keras, bukan juga karena ia memiliki jabatan tertinggi. Mereka datang, karena berutang pada RUMAH CEPAT. Aku memperhatikan semuanya dari kejauhan. Lalu teringat pada usaha megafonnya yang dulu gagal.

Aneh, dulu Tamar menjual alat untuk memperbesar suara, tetapi kini ia justru membantu orang lain menemukan suara mereka sendiri.

Beberapa bulan kemudian, kabar yang paling kutakutkan datang. Tamar mencalonkan diri untuk sebuah jabatan yang jauh lebih besar. Jabatan yang akan kurasakan kepemimpinannya.

Kali ini aku tidak tertawa atau menggelengkan kepala. Aku hanya merasa kehabisan argumen.

Dulu, aku bisa berkata Tamar tidak punya kemampuan—Tamar hanya modal nekat. Kini, itu tidak lagi sepenuhnya benar. Aku mulai menyadari sesuatu yang tidak membuatku nyaman. Selama aku sibuk mengamati kekurangannya, Tamar diam-diam sibuk memperbaikinya.

Dan mungkin itulah hal yang paling menggangguku. Bukan karena Tamar berubah, justru karena aku tidak sadar.

***

Beberapa hari kemudian, Tamar menang.

Sesederhana itu kabarnya datang—tidak ada petir, tidak ada tanda-tanda bahwa dunia sedang membuat keputusan besar. Pagi tetap pagi. Anak-anak tetap berangkat sekolah. Dan Tamar tetap menang.

Aku membaca kabar itu beberapa kali. Lalu meletakkan ponsel di meja.

Anehnya, aku tidak terlalu terkejut. Barangkali karena sebagian diriku sudah melihat hasil itu sejak lama. Saat seorang anak kecil berdiri di lapangan sekolah sambil mengangkat megafon merah dan mengumumkan dirinya sebagai ketua permainan.

Mungkin semuanya memang dimulai dari sana, aku tidak paham. Karena yang kutahu, kini Tamar memiliki sesuatu yang sejak kecil selalu ia kejar: Pengaruh.

***

Dan seperti biasa, belum genap satu minggu kabar itu datang—ia langsung bergerak.

Program baru bermunculan, perubahan mulai dilakukan. Sebagian berhasil. Sebagian berantakan. Sebagian dipuji. Sebagian dicela.

Semua hampir mirip seperti yang pernah dilakukan Tamar sejak dulu.

Ia masih keras kepala: Masih terlalu cepat mengambil keputusan, terlalu percaya diri. Masih Tamar yang dulu—tetapi tidak lagi sama.

Ia mulai mendengar, tetapi tidak ingin selalu mendengar. Setidaknya jauh lebih sering daripada dulu. Ia juga mulai bertanya, tetapi tidak banyak. Setidaknya cukup untuk membuat ia terlihat. Ia mulai mengubah keputusan–ketika memang diperlukan.

Dan entah, aku selalu merasa perubahan kecil itu lebih mengejutkan daripada seluruh keberhasilannya.

***

Beberapa tahun kemudian, karena sebuah urusan, aku datang ke kantornya. Gedungnya cukup besar. Jauh lebih besar daripada ruko kecil tempat usaha megafonnya yang dulu mati perlahan.

Setelah urusan selesai, aku berjalan menyusuri salah satu koridor.

Di ujung lorong terdapat sebuah lemari kaca. Dan di dalamnya aku melihat sesuatu yang langsung menghentikan langkahku: Merah kusam. Retak pada bagian gagang. Corong kuning yang hampir kehilangan warna.

Megafon itu–masih sama. Alat yang pernah dibawanya ke sekolah, yang pernah dijualnya dan selama puluhan tahun muncul dalam pikiranku tentang Tamar.

“Hmmmm … masih ada ternyata,” gumamku.

Suara Tamar muncul dari belakangku. “Masih dong, Broh ….”

Ia tersenyum.

Aku menoleh. “Awet, ya …. Kenapa disimpan? Kenapa tidak beli baru sekalian?”

Ia berpikir beberapa saat. Lalu tertawa kecil. “Mungkin karena alat ini adalah kesalahan paling berguna yang pernah kubuat.”

Aku mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

Tamar menatap megafon itu. “Dulu aku pikir semua orang cuma butuh suara.”

“Lalu?”

“Ternyata suara itu mudah sekali didapat.”

Aku terdiam.

“Ada yang jauh lebih susah dari itu: isi kepalanya ….”

Untuk beberapa detik kami hanya berdiri memandangi benda tua itu.

Lalu, entah kenapa tiba-tiba aku berkata, “Dulu, aku yakin sekali kamu bakal gagal, Mar .…”

Tamar tertawa. “Loh, aku malah lebih yakin darimu, bahwa aku akan gagal. “

Aku menoleh. “Kamu yakin bakal gagal?”

Gak usah ditanya, Broh. Sering .…”

“Terus kenapa kegagalan membuatmu tetap maju? Kamu gak takut terus-terusan gagal, Mar?”

Ia mengangkat bahu. Gerakan yang sama seperti saat kami masih anak-anak.

“Simpel kok Broh … kalau gagal, ya belajar.”

Aku tertawa kecil. Jawaban itu terdengar sangat Tamar: Sederhana, menyebalkan, dan entah—sering berhasil.

***

Ketika keluar dari gedung itu, hari sudah mulai gelap.

Aku berjalan menuju parkiran sambil memikirkan sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal kulihat. Aku selalu mengira sedang mengamati Tamar. Padahal mungkin aku sedang berlomba dengannya.

Aku selalu mengira sedang menilai kehidupan. Padahal sebagian besar waktuku justru habis untuk membandingkan kehidupanku dengan Tamar.

Tiba-tiba aku teringat pada sebuah catatan lama yang pernah kutulis awal remaja.

Kalau Tamar jadi pemimpin, habislah kita.”

“Tamar tidak akan pernah menjadi pemimpin yang baik.”

Aku tersenyum, karena ternyata aku benar sekaligus salah. Benar karena Tamar memang tidak pernah menjadi pemimpin yang sempurna, salah karena aku terlalu sibuk membuktikannya.

Selama puluhan tahun aku percaya diriku berada di pihak orang-orang yang berkompeten. Akulah yang berpikir sebelum bertindak, yang mempertimbangkan segala sesuatu, yang melihat risiko yang tidak dilihat Tamar.

Namun saat berjalan menuju mobil, aku menyadari sesuatu yang jauh lebih tidak nyaman: Kompetensi ternyata tidak berhenti pada kemampuan, kompetensi juga soal keberanian untuk menggunakan kemampuan.

Dan selama ini, mungkin ada satu huruf yang hilang dari hidupku, karena diam-diam aku tidak sedang hidup sebagai orang yang kompeten.

Aku hidup sebagai pesaing yang bahkan tidak pernah diundang ke perlombaan.

Aku terlalu sibuk mengalahkan Tamar di dalam pikiran, sampai lupa membangun diriku sendiri.

Malam itu, setelah puluhan tahun lamanya, aku berhenti memikirkan Tamar dan mulai memikirkan apa yang akan kulakukan dalam hidupku sendiri.

Mungkin dunia memang mendengar setiap ucapan. Masalahnya, dunia tidak pernah bertanya apakah ucapan itu harapan atau keluhan.

Ia hanya mendengar siapa yang terus mengulanginya. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top