Belajar Pasambahan Adat dari Buku Tata Cara Pasambahan Adat Karya DT. Sangguno Dirajo

JudulTata Cara Pasambahan Adat
PenulisH. Mansar Arifin Dt. Sangguno Dirajo
PenerbitPondok Pesantren Syekh M. Thaib Umar Sungayang, Tanah Datar.
Tebalv + 190 Halaman

“Buku ini hanya sebagai contoh pasambahan yang panjang bagi orang kuat daya hafalnya. Tetapi, yang penting diketahui bahwa setiap pasambahan itu harus mempunyai kapalo sambah dan isi pasambahan”.

Begitu dituliskan penulis pada bagian petunjuk teknis pasambahan adat yang akan diuraikan buku ini. Dengan demikian, diterangkan juga bahwa pasambahan adat bisa dalam bentuk yang panjang dan boleh juga dalam bentuk pendek, sesuai dengan daya hafal orang yang akan melakukannya. Buku ini merupakan buku penting dalam menjaga kelestarian pasambahan adat Minangkabau.

Minangkabau dikenal dengan kekuatan kata-katanya, permainan kata-kata dalam kehidupan budaya masyarakat Minangkabau tidak hanya dalam bentuk syair maupun pantun, namun melekat lebih dalam pada prosesi-prosesi adat dalam bentuk pidato adat atau yang lazim dikenal sebagai pasambahan adat. Pasambahan adat Minangkabau secara sederhana adalah cara orang Minangkabau berunding atau berkomunikasi dua arah maupun lebih dalam upacara adat.

Dalam setiap pasambahan ini mengandung bagian pembuka dan kemudian diiringi dengan isi pasambahan. Buku karangan H. Mansar Arifin Dt. Sangguno Dirajo ini menguraikan dengan rinci 15 teks pasambahan adat untuk 12 prosesi dan 3 buah teks tambahan (Beberapa buah palatakan kato, beberapa buah alur, dan beberapa buah pidato tagak) yang diuraikan dalam 10 bab.

Buku ini bisa dikatakan sebagai sebuah kitab pasambahan adat yang detail, karena dalam setiap bab dijelaskan dengan rinci mulai dari susunan acara suatu prosesi kemudian lengkap dengan teks pasambahannya. Dengan demikian buku ini bisa menjadi sebuah rujukan dalam mempelajari pasambahan adat.

Buku ini juga menjelma jembatan pengetahuan antar generasi yang merekam dan mendokumentasikan dengan jelas alur pasambahan adat Minangkabau. Meskipun pasambahan akan memiliki banyak versi antara satu nagari dan nagari lainnya di Minangkabau, tetapi tujuan dan maksudnya reatif sama. Buku ini menuliskan dengan lengkap versi yang digunakan di Batusangkar, Tanah Datar.

15 pasambahan yang dituliskan dalam buku ini adalah pasambahan:

  1. Manjanguak
  2. Mambao Bakubua
  3. Maanta Kapan
  4. Sunat Rasul
  5. Kenduri
  6. Batimbang Tando
  7. Malapeh Marapulai
  8. Mananti Marapulai Baketek-Ketek
  9. Mananti Marapulai Alek Manangah
  10. Pagulatan
  11. Manjapuik Marapulai
  12. Mampataruahkan Marapulai
  13. Beberapa Buah Palatakan Kato
  14. Beberapa Buah Alur
  15. Beberapa Buah Pidato Tagak

Setiap bagian diawali dengan susunan acara kemudian diuraikan teks pasambahan yang digunakan untuk prosesi yang bersangkutan. Sebagai contoh, pada bab I yang memuat pasambahan pada prosesi manjanguak atau melayat. Susunan acara manjanguak diawali dengan manyabuik nan taraso dihati nan takalang dek mato (Menyampaikan yang terasa di hati dan terlihat oleh mata) dengan tertib acara:

  1. Baiyo, artinya mengambil kata mufakat antara yang datang manjanguak untuk memulai perundingan.
  2. Minta sipatan/minta pituah.
  3. Manyabuik nan taraso di hati nan takalang dek mato.
  4. Jawaban dari sialang nan bapangka, karajo nan bapokok (Tuan rumah).

Kemudian dilanjutkan dengan minta izin, dengan tertib acara:

  1. Baiyo untuk minta izin.
  2. Minta sipatan untuk minta izin.
  3. Minta izin
  4. Jawaban dari sialang nan bapangkka karajo nan bapokok (Tuan rumah).
Salah satu halaman buku Tata Cara Pasambahan Adat Karya DT. Sangguno Dirajo.

Seperti pada Bab I, Bab-bab berikutnya ditulis dengan format yang sama. Dengan penulisan yang terstruktur menjadikan buku ini sebagai bahan belajar pasambahan adat yang mudah dipahami. Materi belajar tentang budaya Minangkabau seperti buku ini merupakan sesuatu yang penting adanya di tengah kebudayan Minangkabau. 

Ancaman akan memudarnya nilai-nilai budaya terus mengguncang masyarakat adat, perkembangan zaman yang kian pesat menjadi faktor kunci melemahnya kebudayaan suatu masyarakat. Sebagai benteng yang akan mempertahankan kearifan lokal, buku-buku seperti yang ditulis H. Mansar Arifin Dt. Sangguno Dirajo ini mesti diperbanyak. Sebagai bahan belajar sekaligus arsip kebudayaan buku ini sangat layak untuk dibaca generasi muda Minangkabau.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top