Kota yang Memanjat Langit

ILUSTRASI: Aprililia

Lamat-lamat ia dengar suara musik. Mengalun teramat sayup. Terasa sangat jauh. Jauh sekali. Melengking. Perih menyayat. Seolah mengiris-iris. Ia tidak tahu, musik apakah itu? Bunyinya agak terdengar aneh. Tapi rasanya sangat dekat dan akrab. Semacam alun masa kanak-kanak ….

Akhirnya tanah yang sebidang itu ia jual. Satu-satunya peninggalan orang tua. Tidak terlalu luas. Tapi cukup untuk membangun sebuah rumah mewah dengan sedikit halaman di depannya. Bisa membuat garasi. Apalagi jika rumah tersebut dibangun bertingkat. Sisanya cukup untuk membuat sedikit taman di depan teras atau di samping rumah.

Dengan hasil penjualan tanah itu, termasuk rumah tua tempat ia lahir dan dibesarkan, ia pindah ke desa. Membeli sebidang tanah. Cukup luas. Bisa untuk membuat sebuah rumah kecil dan sederhana, lebihnya sedikit tanah kosong untuk ia berladang dan berkebun. Dengan hasil ladang dan kebun itulah rencananya melanjutkan kehidupan. Hasil yang akan ia jual ke pasar sekali seminggu atau setiap panen.

Betapa berat rasa hati sebenarnya. Dadanya sering terasa ngilu, perih, bila membayangkan rumah yang telah dijualnya. Tempatnya tumbuh bersama kanak-kanak yang lain. Bermain kejar-kejaran. Sepak bola. Sembunyi-sembunyian. Bersama-sama membuat layangan. Berlarian ke arah pantai untuk menaikkan layangan tersebut. Kadang melompat-lompat gembira di tengah deras hujan yang mengguyur. Berkejaran untuk mandi-mandi di pantai. Lalu bergegas pulang sebelum orang tua menjemput dan memarahi. Ber …. Duh, alangkah girang. Betapa riang.

Tapi kemudian pelan-pelan kotanya juga ikut tumbuh. Lalu kian cepat dan tergesa. Di kiri-kanannya gedung-gedung mulai memanjat langit, rumah-rumah menggapai cakrawala. Berpacu dan berebutan. Ia mulai merasa terasing. Tiap hari kehilangan demi kehilangan membuncah, menelan masa lalu satu per satu. Tak ada lagi teman berlarian. Tak ada lagi yang mengajaknya ke pantai melihat matahari terbenam. Tak ada lagi teman bermain kembang api bila malam hari. Juga bermain layangan dan mandi-mandi. Semua menjelma kesunyian. Sementara kotanya makin kencang berlari. Meninggalkan banyak segala. Menelan kenangan apa saja.

Tapi di desa rasa perih itu berangsur-angsur cair. Apalagi istri dan sepasang anaknya yang masih sekolah dasar juga merasa bahagia hidup di desa.

“Kenapa pindah dan memilih hidup di desa, Pak?” tanya tetangga yang kebetulan dan menyempatkan singgah ketika ia sedang asyik membersihkan rumput di kebunnya.

“Saya sebenarnya orang desa, Pak,” jawabnya singkat.

“Tapi sebelumnya bukankah Bapak tinggal di kota?” tetangga itu bertanya lagi. Selah-olah banyak tahu tentangnya.

Ia tercenung sejenak. Beberapa menit diam mengepung. Ia sulit menemukan jawaban. Luka itu seolah diungkit darinya. Sesuatu yang hampir membeku, kini mencair kembali. Leleh. Dirinya seolah ditabuh-tabuh. Bertalu. Berdengung dari kepala hingga ke ujung kaki. Dengung yang kemudian memasung dirinya. Lalu mencampakkannya jauh-jauh. Ia terempas. Pikirannya penuh sesak. Mendesak-desak. Ah ….

Setelah menghela napas panjang, ia menceritakan semuanya. Biarlah semua tumpah agar dirinya lega. Agar kosong segala kusut pikirannya. Agar segala beban masa lalu berkurang.

“Rumah saya di kota itu makin terdesak oleh segala kemewahan.”

“Maksudnya?”

“Teman-teman kecil saya mulai berpindah satu per satu. Entah ke mana.”

Tetangga itu mengangguk-angguk serupa burung balam.

“Kota saya itu dulu sesungguhnya lengang serupa desa,” sambungnya. Kemudian menjelaskan secara beruntun. Semuanya.

“Tanah masyarakat mulai terjual satu-satu. Ada saja cara mereka. Kalau tidak menawar dengan harga yang menggiurkan, tentu dengan cara setengah memaksa dan menakut-nakuti.”

“Tak ada lagi kesunyian yang tenang.”

“Orang-orang menjadi kikuk dengan hiruk yang pikuk”

“Masyarakat berada dalam dilema.”

“Kota saya …,” ia tak sanggup lagi untuk melanjutkan. Dadanya bergelombang. Terasa akan runtuh. Segala satu per satu lenyap. Matanya terasa panas. Mungkin berair tanpa disadarinya.

“Minum teh dulu, Pak,” ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tetangga itu menolak dengan cara yang halus. Pamit untuk pulang. Ia tersenyum melepas kepergiannya kemudian. Ia merasa bebas dari beban yang selama ini secara perlahan ia coba untuk melupakan.

Kemudian kehidupan berjalan. Waktu diputar teratur. Panas langkang dan dingin malam setia bertukar-ganti. Ia larut dengan ladang dan kebunnya di desa. Sekali seminggu ia ke pasar. Kalau belum ada hasil panen yang akan dijual, maka ia akan berbelanja saja untuk kebutuhan keluarganya. Kadang ia mampir di warung-warung kecil. Di warung itu biasanya orang-orang bercerita ke sana kemari mengisi kekosongan seraya menyeruput minuman masing-masing.

“Saya dengar berita di televisi, ada bom meledak di kota D …!” kata salah seorang.

“Berita-berita di televisi sekarang kadang sekadar isu saja,” timpal sesorang.

“Tapi saya juga dengar cerita ini di warung Ota tadi,” ucap seorang lain.

“Meledaknya di mana?”

“Kejadiannya pukul berapa?”

“Berapa orang korbannya?

“Itu karena banyak yang berbuat tidak benar.”

“Kota itu benar-benar berubah.”

“Tenggelam dalam kenikmatan dunia.”

“Jangan sembarang tuduh.”

“Siapa yang menuduh?”

“Kamu!”

“Anda menuduh saya?”

“Bukan menuduh.”

“Lalu?”

Suasana mulai tidak berkejalasan. Simpang-siur. Percakapan beranjak panas dan saling menuding. Salah satu di antaranya mulai berdiri karena emosi.

Diam-diam ia pergi setelah membayar minuman. Pulang. Ia ingin segera menyampaikan pada istrinya, besok ia ke kota D. Kampung mereka dulu.

Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat. Di kota, tentu saja sejenak ia mengunjungi rumah masa kecilnya dulu yang kini telah menjadi sebuah kafe yang ramai. Setelah puas memandangi, ia berjalan ke arah pantai. Melewati jalan tempat ia dulu bermain dan berlarian ketika masih kanak. Sepanjang trotoar ia lihat kafe berebutan di kiri dan kanan. Di pantai ia duduk di sebuah batu besar yang bertumpuk. Orang-orang berjemur seraya tidur atau membaca buku. Orang-orang minum kelapa muda. Orang-orang terus berdatangan. Sebentar lagi sunset akan membentang indah.

Kemudian, ia berjalan ke arah lapak para pedagang pinggir pantai. Memesan kelapa muda. Melihat jauh ke laut.

“Bapak dari desa?” tanya pedagang yang punya lapak.

“Iya.”

Pedagang itu mencuri-curi pandang. Ingin melihat wajahnya secara teliti. Mengamati terus. Berkali-kali. Ketika ia menatap, pedagang itu agak gugup. Berusaha mengalihkan perhatian. Akan tetapi ketika ia sudah berpaling, pedagang itu kembali memperhatikannya dengan saksama.

“Sepertinya wajah Bapak tidak asing rasanya.”

Beberapa jenak mereka berpandangan.

“Saya dulu tinggal di sini!”

“Itu tahun berapa, Pak?”

“Dua puluh atau dua puluh lima tahun yang lalu. Sekitar itulah.”

Pedagang itu wajahnya berubah. Tampak lebih cerah dan riang.

“Nama Bapak … Siman?”

Sekali lagi mereka berpandangan. Ia menggangguk ragu-ragu.

“Saya Manyo!”

“Manyo?”

“Siman ….”

Raut wajah mereka seolah sama-sama tidak percaya. Tiba-tiba, entah siapa yang memulai, mereka berpelukan. Berulang-ulang. Seperti rindu dua orang yang sudah lama tidak bertemu.

“Bagaimana kabar teman-teman kita yang lain?”

“Sejak tanah di sini mulai dibeli satu per satu, mereka pindah, entah ke mana. Dan sampai sekarang saya tidak tahu kabar mereka. Saya tinggal di rumah saudara di pinggir kota. Kalau siang saya berdagang di sini.

Mereka bercerita sepuas-puasnya. Mengingat kembali masa lalu. Mengenang masa kanak-kanak. Masa yang sangat indah bagi mereka. Dan juga barangkali bagi kota tersebut.

Sebuah panorama menghampar luas. Gelombang mengejar tepi. Di mana ombak selalu setia menanti. Lalu pecah menjadi buih. Menjilati pasir sepanjang pantai. Ia beranjak. Sudah saatnya untuk pulang.

Sepanjang jalan ia merenung. Ia bukan laut. Bukan gelombang. Bukan ombak juga buih. Yang bergerak teratur. Tak berubah. Kecuali waktu. Ia terlalu kerdil. Tak akan mampu mengubah setiap yang berpacu.

Berapa tahun kemudian, ketika ia singgah di warung saat ia menjual hasil panen ke pasar desa, orang-orang bercerita.

“Kota D dilanda banjir besar. Nyaris semuanya diterjang dan direndam air ….”

“Manyo …? Bagaimana kabar Manyo?” ia bergumam sendiri.

Ia tak berminat untuk mendengar lagi. Ia hanya ingin pulang ke rumah. Menemui istrinya. Bercanda dengan anak-anaknya. Lalu menikmati peluh di ladang dan kebunnya.

Lamat-lamat ia dengar suara musik. Mengalun teramat sayup. Terasa sangat jauh. Jauh sekali. Melengking. Perih menyayat. Seolah mengiris-iris. Ia tidak tahu, musik apakah itu? Bunyinya agak terdengar aneh. Tapi rasanya sangat dekat dan akrab. Semacam alun masa kanak-kanak ….

Payakumbuh, September 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top