
Harusnya ia tak pernah lagi dipanggil Kulup sejak dua puluh tahun lalu, andai saja hari itu semuanya berjalan baik. Itu adalah hari ketika mantri kampung sudah siap menyunat burungnya.
Dan ini adalah hari seperti hari-hari biasanya. Kulup telah lama menjadi pejalan yang bebas dan tak dibebani apa pun. Dengan sandal jepit Swallow yang warnanya sudah pudar, kakinya mantap menyusuri aspal. Mulutnya tak henti mengepulkan asap rokok, dan kadang diselingi siulan atau nyanyian sebuah lagu yang ia karang sendiri.
Tadi Kulup sempat bercangkung bersama orang-orang di warung kopi dekat pelabuhan. Secangkir kopi dan tiga batang rokok didapatnya tanpa membayar seperti biasa.
“Kopi, Lup?” tawar seseorang. Kulup mengangguk. Secangkir kopi hitam panas mengepul langsung tersaji di hadapannya.
“Rokok, Lup?” tawar seorang yang lain sembari mengoper sebungkus Djarum Super yang telah diambil sebatang.
Kulup tersenyum dan cengar-cengir.
“Kau tidak puasa?” tanyanya pada pria yang membelikannya kopi.
“Tidak,” jawab pria itu.
Keduanya menekuri kopi masing-masing.
“Kemarin Amok Sidik mengejarku. Waktu aku sembunyi di ketiak Biduan Lala, dia terberak-berak di rumah Bupati.” Kulup mendongak dan menatap pria itu.
“Ya, ya, ya,” kata si pria.
Lalu Kulup mengambil gitar pemilik warung yang tergantung di dinding. Ia pun mulai meng-genjreng, dan menggumamkan sesuatu. Kemudian ia meng-genjreng lagi dan mulai bersenandung. Tak ada yang tahu lagu apa yang dinyanyikannya tetapi semua orang di tempat itu sungguh menikmatinya.
Setelah kopinya tandas Kulup bersiap-siap pergi. Sebatang rokok yang ujungnya sudah terbakar terselip di bibir, dan dua batang lagi ia masukkan ke saku celana pendeknya. Ia bergegas, tetapi rasa ingin berkemih menghentikan langkahnya. Kulup pun menuju tepi dermaga dan segera melorotkan celananya sampai menyentuh tanah. Ia memancurkan air kemih ke sungai sesuka hati, tak peduli para nelayan yang sedang lalu-lalang.
“Sehat, Lup?” sapa seorang nelayan.
“Mau ke mana, Lup?” sapa nelayan yang lain lagi.
Kulup tak menjawab karena masih tenggelam dalam kelegaan setelah berkemih. Ia juga sedang sibuk mengibas-ngibaskan perkakasnya sebelum menarik celana dan melenggang pergi.
Kini Kulup terus berjalan ke arah timur, seolah berkejar-kejaran dengan matahari yang terus meninggi. Ia sudah melewati lima kampung dan dua danau bekas tambang.
Di salah satu kampung, seorang janda tua yang baru saja memasak mangut santan ikan kehung menawarinya makan. Namun, ketika Kulup sudah bersila di atas tikar pandan di serambi rumah janda itu dan baru saja menenggak segelas air, ia buru-buru pergi karena terbujuk rayu anak-anak bengal bolos sekolah yang hendak berenang di danau bekas tambang. Di danau itu Kulup bertelanjang bulat dan berenang bersama anak-anak.
Ketika matahari mulai bergerak ke arah barat, Kulup sudah hampir sampai di pusat kabupaten. Sayangnya, di satu perempatan jalan matanya awas terhadap keberadaan Amok Sidik yang sedang berjaga. Pria yang dibencinya itu mondar-mandir di depan mobil dinas dengan seragam khasnya yang berwarna khaki tua kehijau-hijauan. Amok Sidik masih sempat melihatnya dari kejauhan, tapi Kulup buru-buru berbelok, keluar dari jalan raya dan memasuki jalan tanah laterit. Ia berjalan cepat, menuju ke arah pantai.
Kulup sampai di perkampungan orang-orang Sawang. Di sana, warga sedang berpesta selepas mengadakan sedekah laut. Sebuah orkes dengan nyayian seorang biduan, juga makanan yang tumpah ruah, membuat semua orang larut dalam perayaan.
Kulup tampak kelelahan. Sandal jepitnya yang diselimuti warna merah tanah laterit nyaris putus. Seorang lelaki tua berpeci di atas panggung tiba-tiba memanggilnya.
“Ayo, Lup! Mainkan, Lup! Mainkan!” seru lelaki tua itu sembari melambai-lambai—meminta Kulup naik panggung.
Itu tawaran yang tak mungkin ditolak. Kulup segera naik ke panggung dan kali ini ia memainkan organ. Kedua tangannya bergerak mantap menekan-nekan tuts. Meski lelah, ia tetap memainkan musik seakan lupa waktu. Kemudian pesta pun berakhir, dan semburat oranye mulai menguasai langit yang menaungi lautan.
Lelaki tua berpeci mengajak Kulup makan, dan tak kurang dari tiga piring nasi dihabiskannya. Lelaki tua itu juga memberinya seratus ribu rupiah, yang segera dibelikannya sebungkus Djarum Super dan sepasang Swallow. Kulup pulang ketika hari sudah gelap benar. Langkah kakinya mantap dengan sandal jepit baru. Rumah menyambutnya dengan bau apak yang menidurkan angan-angannya. Besok ia akan kembali melabang, menyusuri ruang-ruang aman berdasarkan suara hatinya.
***
Embun masih membasahi kaca-kaca raksasa bandara ketika Dayang mengempaskan pantatnya di kursi pesawat. Ia benci penerbangan sepagi ini, tapi ia tidak punya pilihan. Semalam kekasihnya—yang baru menjalin hubungan dengannya beberapa bulan—masih tak terima dengan keputusannya yang mendadak ini. Keduanya sudah merencanakan perjalanan ke Singapura untuk bertemu calon investor bisnis pertanian urbanyang baru mereka rintis, tapi Dayang membatalkannya demi perjalanan lain yang sulit ia jelaskan.
Dayang tak tenang, dan dicengkeram rasa bersalah.
Mengapa kau meninggalkan Kulup?
Tidak seharusnya Kulup kautelantarkan!
Kau sungguh egois!
Dan setahun belakangan Amok Sidik kerap berkirim pesan padanya; selalu memojokkannya dan membuat rasa bersalahnya makin teruk.
Jangan kau enak-enakan di ibu kota!
Kau kakaknya! Kulup itu tanggung jawabmu!
Kelakuannya makin sinting!
Dia cuma buat malu!
Dia itu parasit! Persis ibumu!
Tak ada yang sanggup mengurusnya. Lebih baik dia mampus!
Sudah delapan tahun Dayang meninggalkan rumah, dan itu bukan keputusan mudah baginya. Ia tahu artinya keluarga. Ia juga tahu bahwa apa pun yang terjadi ikatan darah selalu memelihara kasih sayang yang tertancap dalam naluri paling purba. Namun, ia juga punya mimpi. Salahkah jika ia memilih melepas beban dan mengejar mimpi sendiri? Salahkah jika ia mendamba hidup yang lebih baik—lepas dari nestapa yang tak pernah ia pilih?
Ada amarah yang berkobar dalam kepalanya, tapi juga ada kasih yang tak pernah terkikis dalam hatinya. Namun, bagaimanapun juga Dayang tak bisa lepas dari masa lalu. Di tengah kegetiran memperjuangkan pilihan hidup sendiri, untuk sementara ia kembali pada apa yang telah membentuknya.
***
Karena tadi bangun kesiangan, Kulup masih menyesap kopi hitam di warung tatkala cahaya matahari mulai terasa panas. Lalu matanya terbelalak ketika Dayang memanggil-manggil dan menghampirinya.
“Kau orang tak pernah sedekah! Kau orang tak pernah sedekah!” Kulup beteriak sembari menuding-nuding ke arah Dayang.
Dayang mencoba mendekat, tapi Kulup malah menjauh dan terus menuding-nuding ke arahnya. Lalu ia mengambil gitar yang tergantung di dinding, mengarahkan benda itu ke arah Dayang, mengibas-ngibaskannya, dan memukulkannya ke meja. Warung gaduh. Semua orang panik karena Kulup yang kesetanan.
“Kau orang jahat! Kau orang jahat!” Kulup terus beteriak-teriak. “Tak pernah sedekah! Tak pernah sedekah!” pekiknya makin nyaring.
Gitar yang sudah pecah bagian badannya ia empaskan ke lantai, lalu ia berlari ke arah pasar. Dayang mengejar, tapi percuma saja karena Kulup berlari makin kencang. Dari pasar ia terus berlari entah ke mana.
Dayang terperenyak di tepi jalan. Kemejanya basah oleh keringat, dan matanya berkilauan oleh air mata yang tertahan. Orang-orang mengerubunginya. Ada yang memberinya minum, ada pula yang bertanya kabar.
***
Pintu rumah tak terkunci, dan memang tak pernah terkunci. Hari sudah sore. Cahaya menyelinap melalui atap seng yang bolong-bolong ketika Dayang melangkah masuk. Inilah rumahnya, rumah keluarganya, dulu.
Aroma tak sedap menyergap rongga hidungnya—membuatnya tak nyaman, tapi di saat yang sama ingatan juga melenakannya.
Lantai rumah dipenuhi kertas-kertas folio bergaris berisi tulisan tangan. Tulisan itu amburadul dan nyaris tak terbaca, ditulis dengan tinta hitam tebal. Siapa lagi yang menulisnya kalau bukan Kulup. Namun, apa yang ditulisnya? Lagu? Atau isi kepalanya yang tak pernah beraturan?
Selebihnya rumah ini hanya berisi perabot-perabot yang diselimuti debu. Dayang masuk ke kamarnya—ya, itu dulu kamarnya. Di sana ada kasur tanpa ranjang yang masih persis seperti dulu. Posisinya tidak pernah berganti, begitu pun spreinya. Di lantai, pakaian-pakaian Kulup berserakan.
Dayang merebahkan badan di kasur. Matanya terpejam perlahan. Mulanya ia masih menangkap binar pada lubang ventilasi, tapi seketika segalanya berubah gelap.
Sesuatu menuntun Dayang dari kegelapan menuju ruang yang masih menyimpan cahaya. Di ruang itu ia melihat ibunya, dan Amok Sidik—ketika laki-laki itu masih dipanggilnya Bapak. Ia juga melihat Kulup. Kulup yang masih kecil badannya. Kulup yang sedang makan pagi—sebungkus Indomie goreng pakai nasi, ditambah lauk ikan selar goreng.
“Pak, gitar, Pak,” gumam Kulup sambil mengunyah mi campur nasi.
Amok Sidik tak memedulikannya. Laki-laki itu duduk di kursi kayu dekat jendela, tempat kesukaannya. Ia diam seribu bahasa. Telinganya terasa panas. Tenggorokannya meradang karena menelan kata-kata bengis dari istrinya.
Tak usah pulang sekalian!
Tinggal saja di rumah Bu Lurah gatal itu!
Uangmu habis ke mana? Judi? Atau kauberi ke Lurah gatal itu agar bisa menidurinya?
Amok Sidik masih menahan amarah. Namun raut wajahnya seperti menyimpan bom yang siap meledak.
“Pak, gitar.” Kulup menggumam lagi. “Gitar, Pak. Gitar.”
Tak seperti Dayang yang rapi dengan seragam sekolah, Kulup hanya mengenakan singlet. Pagi ini ia tidak masuk sekolah karena akan disunat. Namun, Kulup awalnya tak mau disunat. Ia mau setelah Amok Sidik menjanjikan akan membelikannya gitar. Ia memang sedang jatuh hati pada gitar. Namun, sampai pagi ini alat musik itu belum juga ada.
Kulup lantas meminta gitar pada ibunya, tapi si ibu malah berkata, “Minta bapakmu yang bajingan itu!”
Si ibu, yang sedang duduk berhadap-hadapan dengan Kulup di meja makan sembari mengupas bawang, terkejut sejadi-jadinya ketika tamparan keras mendarat di pipinya.
Amok Sidik meledak.
Ia kemudian menjambak rambut istrinya itu, mencengkeramnya erat hingga membuat wajah si istri terdongak, lalu membentur-benturkannya ke meja. Berkali-kali. Hingga ibu dari anak-anaknya itu meraung-raung kesakitan dan meminta ampun.
Dayang yang sudah siap-siap berangkat sekolah hanya berdiri mematung melihat kejadian mengerikan itu. Kulup kemudian menghambur ke ibunya.
“Mak! Mak!” pekiknya. “Bapak jahat! Bapak jahat!”
Bocah itu lalu pergi entah ke mana, bersamaan dengan kedatangan mantri kampung yang hendak menyunatnya. Namun mantri itu tidak peduli dengan kepergian Kulup, karena ia harus segera menenangkan Amok Sidik yang kesetanan. Laki-laki itu kemudian pergi, membawa sisa amarahnya.
Dayang masih mematung, tetapi ibunya—yang merintih karena darah mengucur dari hidung dan mulutnya—menyuruhnya segera berangkat ke sekolah. Dayang pun berangkat dengan tubuh gemetar.
Ketika pulang, Dayang mendapati rumahnya begitu sunyi. Seorang tetangga berkata bahwa ibunya tadi masuk ke Hutan Cerucuk, dan belum kelihatan pulang. Dan ibunya memang tidak pernah pulang sampai berbulan-bulan. Ibunya dinyatakan hilang. Ia baru ditemukan pada bulan kesepuluh sejak menghilang. Seorang pencari kayu menemukannya di bawah pohon pelawan di tengah hutan dalam bentuk tulang belulang.
Amok Sidik juga tak pernah lagi pulang. Setahun sejak kepergiannya, ia sudah menjadi seseorang yang lain. Ia menjadi suami Bu Lurah. Ia juga menjadi petugas yang berseragam, yang selalu berbangga diri karena kedudukannya.
Dayang dan Kulup sempat diasuh seorang nenek yang sakit-sakitan sebelum akhirnya sang nenek juga pergi—meninggal karena sakitnya. Setelah itu, Dayang merasa hidup seorang diri. Ia bekerja dengan seorang tauke sebagai penjaga toko di pasar. Sementara Kulup seperti punya dunia sendiri; ia kerap melabang ke mana-mana, berbicara tak tentu arah, dan tergelak tanpa sebab yang jelas.
Suatu hari, manakala Dayang baru saja menerima gaji pertama, Kulup meminta uang kepadanya. Untuk beli gitar, katanya. Dayang menolak karena gajinya sangat tidak seberapa. Kulup berang, dan langsung menyerang kakaknya. Ia mencekik kakaknya sampai-sampai si kakak kesulitan bernapas dan nyaris meregang nyawa.
Dayang terbangun dengan napas tersengal-sengal. Gelap. Bau apak memenuhi kamar. Ia menjamahi lehernya. Sakit itu masih terasa, sehingga membuatnya bertanya: apakah itu mimpi atau kenangan?
***
Rasa ingin berkemih membangunkan Kulup dari tidur. Segera ia bergegas ke bawah pohon sekuncung dan memancurkan air kemihnya. Desau angin laut melenakannya, tapi cericit burung pentis di dahan mengusiknya. Kulup mendongak, menatap burung itu, lalu menunduk—menatap burungnya sendiri yang tak pernah disunat. Ia tercenung. Ditatapnya lagi burungnya, yang masih berkulup, yang membuatnya tidak pernah mekar. []




