
| Judul | Front Palupuh dalam Perjuangan Kemerdekaan |
| Penulis | Dr. Ir. H. Darwis, SN., MS., APU. |
| Penerbit | Tujuh Lurah Kotorantang Sepakat (TKS) |
| Tahun Terbit | 1999 |
| Tebal | 142 Halaman |
Agresi militer Belanda II berupaya mengembalikan kekuasaan Belanda di tanah Indonesia. Usaha-usaha Belanda untuk kembali menduduki Indonesia mendapat perlawanan serius dari rakyat Indonesia yang dengan kukuh mempertahankan kemerdekaannya. Buku yang dibahas kali ini merekam sejarah perjuangan bangsa Indonesia di Sumatera Barat khususnya di Palupuh, bagian dari wilayah kabupaten Agam sekarang. Buku berjudul Front Palupuh dalam Perjuangan Kemerdekaan karya Dr. Ir. H. Darwis, SN., MS., APU ini merupakan sebuah tulisan yang memaparkan sejarah front Palupuh dalam melumpuhkan usaha Belanda untuk menguasai Sumatera Tengah.
Selain mengisahkan sejarah, perjuangan, dan memori yang berkaitan dengan front Palupuh, buku ini juga memaparkan topografi dan sedikit sejarah Palupuh dengan jelas. Penulis terlihat begitu kenal dengan wilayah Palupuh, hingga dengan detail menceritakan kawasan ini sampai kepada jalan dan simpang-simpang jalan yang ada di kawasan tersebut. Sebagai sebuah arsip sejarah, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Palupuh barangkali adalah serangkaian memori yang patut untuk dikenang sebagai sebuah kesuksesan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Mengenai front Palupuh, merupakan sektor II DPA dari daerah pertempuran Agam di bawah komando pasukan Mobile Brigade Polisi. Front ini meraih kesuksesan besar dalam mempertahankan kedaulatan negara Indonesia. Kesuksesan itu terlihat pada rekam jejak front ini yang berhasil mengepung permanen pasukan Belanda di Palupuh selama agresi militer Belanda II, dan menjadi satu-satunya pengepungan pasukan Belanda di Indonesia yang membuatnya tidak bisa bergerak ke mana-mana selama agresi itu berlangsung. Setidaknya begitu yang dituliskan dalam buku ini.

Buku ini terdiri atas 17 bagian termasuk kata sambutan dan pengantar pada bagian pertama dan kedua. Bagian ketiga menerangkan tentang Palupuh dan sekitarnya, meliputi gambaran umum Palupuh, sejarah singkat Palupuh, potensi sumber daya alam, pemerintahan, dan perekonomian penduduk Palupuh. Bagian ini mengenalkan Palupuh kepada pembaca sebelum pembaca dibawa lebih jauh menelusuri sejarah perjuangan di kawasan ini. Bagian keempat menuliskan keadaan Palupuh pada zaman pendudukan Jepang.
Pada bagian ini diterangkan bagaimana Jepang disambut dengan suka ria oleh masyarakat hingga kemudian Jepang melakukan eksplorasi hutan besar-besaran dengan didirikannya pabrik pengolahan kayu di Palupuh yang membabat habis kayu-kayu besar di hutan. Bagian ini juga menceritakan bagaiamana pesakitan masyarakat yang disuruh kerja paksa oleh Jepang.
Bagian kelima menceritakan masa proklamasi kemerdekaan Indonesia, Jepang angkat kaki dari Palupuh, dan perekonomian masyarakat pasca zaman Jepang. Bagian keenam buku ini berjudul agresi Belanda kedua. Pada bagian ini mulai diceritakan bagaimana pasukan Belanda mulai berdatangan dan menguasai Bukittinggi.
Pada bagian ini mulai diceritakan bagaimana upaya-upaya yang dilakukan Indonesia untuk menghadang pasukan Belanda hingga didirikannya Front Palupuh. Pada bagian selanjutnya ppertempuran demi pertempuran di Palupuh diceritakan. Baian kesembilan, belanda menguasai Palupuh. Bagian selanjutnya menceritakan pos Rimbo Panjang dengan keunikan topografinya yang menyulitkan pasukan Belanda. Pada bagian ini juga dimuat lirik sebuah lagu perjuangan yang diciptakan oleh seorang agen polisi bernama Herman.
Sabalon tabik matohari
Kapa tabang lah malayang-layang
Den sandang tomong den baok lari
Pai manembak ka Rimbo Panjang
Tibo di tampek tujuan
Tomong malatuih ndak sagan-sagan
Badaram badabua jan disabuik
Itu karajo nan kami turuik
—lirik sebuah lagu perjuangan dalam buku Front Palupuh dalam perjuangan kemerdekaan
Bagian kesebelas memuat cerita mengenai terkepungnya Belanda di Palupuh hingga berakhiirnya agresi Belanda II, dilanjutkan dengan kisah perjuangan rakyat pada bagian kedua belas dan tiga belas. Bagian keempat belas menuliskan arus perdangangan di Palupuah dan sekitarnya. Pada bagian kelima belas berisikan deskripsi tugu perjuangan Front Palupuh, sebuah tugu yang dibangun pada masa perang.


Bagian keenam belas menuliskan beberapa objek penting dan bersejarah dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Palupuh. Buku ini kemudian ditutup dengan deskripsi beberapa pejuang Front Palupuh.
Sebagai sebuah buku sejarah yang fokus menuiskan sejarah perjuangan kemerdekaan di Palupuh, buku ini patut untuk disebarluaskan guna memberikan literasi mengenai perjuangan kemerdekaan di Sumatera Barat kepada masyarakat luas. Buku sejarah ini menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan tidak terlepas dari semangat nasionalisme rakyat hingga ke pelosok-pelosok negeri.




