Antara Batu dan Kaca, Aku Tunduk dan Tengadah

Pelataran yang menghubungkan Haram dan Abraj. (Foto: Marfaizon Pangai)

“Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”

— Al-Baqarah: 115

Mekah, 9 September 2026, Rabu petang menjelang Ashar. Aku terhuyung terapung-apung di lautan manusia yang menggelombang antara dua kutub magnet bertegangan tinggi: Masjidil Haram dan Menara Abraj.

Sebelum azan berkumandang dari pelantang suara Masjidil Haram, pengunjung mal Abraj bersegera gegas keluar menuju mesjid. Usai salat, jemaah kembali tergesa-gesa meninggalkan sajadah memasuki mal. Kedua tempat ini, tegak berhadapan muka, dimasuki penuh antusiasme; jemaah yang tawaf mengitari Kabah di Haram terlihat sama khusuknya dengan ketika mengelilingi aneka konter mal di Abraj.

Berdiri tepat di pelataran Masjidil Haram, Kabah adalah simbol ketelanjangan manusia di hadapan Tuhan: hitam, sederhana, tanpa ornamen. Dua ratus meter darinya menjulang Abraj Al-Bait, menara jam setinggi 601 meter dengan hotel bintang 5, mal, dan apartemen mewah.

Fenomena berdampingannya “kekosongan” dan “kemewahan” ini bukan sekadar persoalan arsitektur. Ia sekaligus adalah cermin pertarungan makna, kuasa, kelas, dan spiritualitas di era modernitas.

Peziarah Langit Rendah. (Foto: Marfaizon Pangai)

Mekah hari ini punya dua langit,  jauh beda dibandingkan yang kudengar dulu dari cerita nenekku.

Langit pertama: rendah. Ia menudungi Kabah. Hitam. Telanjang. Tanpa hiasan. Di sana manusia melepas nama, melepas pangkat, melepas kulit dunia. Yang tersisa hanya kain putih dan dahi yang menempel ke tanah.

Langit itu berbisik, “Lupakan. Kosongkan. Pulang.”

Langit kedua: tinggi. Ia menembus awan. Kaca. Berkilau. Di sana ada jam yang lebih besar dari bulan. Ada lift yang naik lebih cepat dari doa. Ada ranjang empuk yang menghadap langsung ke arah sujudmu.

Langit itu berbisik, “Nikmati. Dekat. Layak.”

Dan di antara dua langit itu, aku berdiri. Bingung.

Dilihat dari kamar hotel Peziarah Langit Tinggi, pemandangan paling suci di dunia: Kabah. (Foto: Marfaizon Pangai)

Dulu, yang kutahu, suci itu sederhana. Suci adalah debu di kaki. Suci adalah antre air zamzam. Suci adalah tidur beralaskan sajadah di pelataran. Sekarang, suci punya lantai. Lantai 3, lantai 15, lantai Royal di Abraj. Suci bisa dipesan. Suci bisa diantar room service. Suci punya view.

Aku bingung, sungguh. Tapi tidak demikian halnya dengan Nour, seorang perempuan Arab—cantik, tentu saja: semampai, bermata zamrud, dan wangi semerbak Gissah. Kuamati dia sejak selesai Zuhur tadi. Ia terlihat nyaman dengan dirinya sendiri, dan menikmati naungan kedua langit itu bagaikan keniscayaan yang terberi sejak ia lahir.

Ia duduk di sebelahku dalam Kafe Brew92° mal Abraj.

“Keefik?” kusapa dia dengan bertanya kabar.  

“Wallahi tamam,” jawabnya. Lembut dan tenang.

Brew92°, kafe pertemuanku dengan Nour Al-Hijazi. (Foto: Marfaizon Pangai)

Kemudian kami ngobrol atau, lebih tepatnya, bertukar gestur dan mimik karena keterbatasan bahasa Arab-ku. Kefasihan Inggris-nya yang Amrik lebih banyak membantuku memahami ucapannya.

Ia mengenakan abaya abu dusty, bahan linen. Lengan digulung sekali. Kerudung shayla diikat santai. Bersahaja, tanpa aksesoris yang mencolok. Tipikal kalangan old money yang tidak butuh lagi validasi.

Di meja, ada Quran kecil, buku catatan dan iPad. Kuperhatikan,  dia selalu menunduk setiap kali menyebut nama Kabah, dan tangannya sering menunjuk ke langit saat berbicara.

Nour adalah keturunan keempat dari keluarga orang kaya lama Al-Hijazi. Kakeknya dulu punya gudang tekstil di Al-Balad. Sekarang keluarganya pegang beberapa hotel wakaf di Mekah plus yayasan tahfidz.

Dibesarkan dalam keluarga yang mewajibkan anak-anaknya hafal Quran sebelum SMA, Nour kuliah di Columbia University jurusan Cultural Studies. Skripsinya membedah tentang “Komodifikasi Ruang Suci: Dampak Ekonomi Abraj terhadap Ritual Jamaah.”

Bagi Nour, seraya menyitir kajian pasca-strukturalisme, Haram dan Abraj adalah dua “teks” yang saling mendelegitimasi. Haram memproduksi wacana: kesetaraan, kefanaan, pelepasan dunia. Ihram putih meleburkan raja dan kuli. Bahasa tubuhnya adalah tawaf, sujud, tangis.

Sebaliknya, Abraj memproduksi wacana: hierarki, efisiensi, dan konsumsi. Bahasa utamanya adalah “check-in“, “suite“, “view Kabah”, dan “jam global”. Jam raksasa di puncak Abraj adalah simbol paling kuat. Ia memaksa waktu spiritual Islam—yang berbasis salat dan siklus—untuk tunduk pada waktu kapitalis yang linier dan produktif.

Abraj Al-Bait. (Foto: Marfaizon Pangai)

Akibatnya, makna “kesucian” menjadi cair. Tidak ada lagi pusat tunggal. Jemaah hidup dalam ironi: 10 menit lalu sujud di Multazam, 10 menit kemudian scroll harga kamar di lantai 40. Kesucian bukan lagi tempat, melainkan medan tarik-menarik.

Kini, makna sudah retak. Kita tidak lagi sepakat apa itu dekat. Yang satu bilang dekat itu jalan kaki satu jam dengan kaki lecet. Yang lain bilang dekat itu menekan tombol lift.

Nour juga sadar bahwa ia sendiri ikut dalam pertarungan makna itu; ia pelaku aktif, bukan korban pasif. Ada semacam hubungan timbal-balik antara Haram dan Abraj sebagai struktur  dan dirinya sebagai agen.

Abraj adalah “struktur dominasi” baru: ia menyediakan sumber daya berupa kenyamanan, kedekatan, dan teknologi. Sementara Haram adalah “struktur legitimasi”: ia menyediakan aturan dan makna ibadah.

Nour dan tamu Allah lainnya sebagai “agen” lalu memanfaatkan kedua struktur ini. Ada yang memakai lift Abraj agar tidak telat salat jamaah—di sini modal Abraj dipakai untuk kepentingan Haram. Ada pula yang menggunakan foto Kabah dari kamar Abraj untuk konten—di sini simbol Haram dipakai untuk kepentingan Abraj.

Dengan demikian, Abraj sebenarnya tidak “merusak” Haram. Keduanya sedang dalam proses negosiasi berkelanjutan. Tindakan jemaah hari inilah yang 20 tahun lagi akan membentuk ulang apakah batas antara yang sakral dan yang profan akan semakin cair atau ditarik kembali dengan tegas.

Nour Al-Hijazi, generasi keempat keluarga terpandang Al-Hijazi. (Foto: Marfaizon Pangai)

Dan perlu diketahui, Nour adalah seorang konsultan syariah hotel yang punya akses langsung ke direksi Abraj. Dialah yang  menulis proposal ke pemerintah agar dibikinkan lantai khusus buat jemaah gratis di Abraj dan dibangunkan museum di lantai bawah yang mengisahkan sejarah Mekah sebelum ada Abraj.

“Kita tidak mungkin salahkan gedungnya,” Nour mengingatkan, “karena kita juga yang ikut membangunnya. Kita yang klik ‘pesan kamar view Kabah.’ Kita yang upload story: ‘Alhamdulillah, bangun tidur langsung lihat Kabah.’ Kita yang mengeluh macet, lalu memuji hotel karena ada shuttle.”

Namun demikian, Nour juga akui, Abraj  telah menjadi mesin reproduksi kelas di tanah yang dulunya paling egaliter. Pertama, terjadi pergeseran “modal.” Dulu modal simbolik tertinggi seorang haji adalah kesabaran dan kesederhanaannya. Kini modal itu bisa dibeli: dengan modal ekonomi untuk kamar mahal, lahirlah “modal simbolik” baru berupa foto pemandangan Kabah dan akses VVIP.

Kedua, terbentuk “habitus” baru. Generasi baru menganggap wajar bahwa “haji yang baik adalah haji yang nyaman”. Standar ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan diproduksi oleh industri pariwisata haji selama 20 tahun terakhir.

Ketiga, muncul “kekerasan simbolik.” Ketidaksetaraan dibungkus bahasa agama: “dekat masjid lebih afdhol”, “nyaman agar ibadah khusuk”. Padahal di baliknya adalah logika pasar. Dengan cara ini, kelas ekonomi atas berhasil menerjemahkan uangnya menjadi prestise spiritual.

Ya. Ini kini bukan tentang iman semata. Ini juga tentang modal. Dulu modal seorang haji adalah sabarnya. Sekarang modalnya adalah limit kartu kreditnya.

Dulu yang dihormati adalah yang paling khusuk. Sekarang yang difoto adalah yang kamarnya paling tinggi.

Kemiskinan jadi memalukan. Kekayaan jadi berkah. Ketidakadilan dibungkus dalil: “Memudahkan jamaah adalah jihad.”

Pelan-pelan, tanpa sadar, kita mengganti kitab ukuran dengan katalog harga.Dari point of view Sufi, Nour  menambahkan, Abraj adalah “dunia” yang sengaja diletakkan Allah tepat di depan “akhirat” yang bernama Kabah. Ini ujian pamungkas zuhud. Merujuk Ibnu Athaillah, ia menyebut dunia sebagai bangkai. Dan kini bangkai itu disepuh emas dan ditaruh di depan pintu rumah Allah.

Kabah dalam Masjidil Haram. (Foto: Marfaizon Pangai)

Lantas, masihkah kita heran kenapa hati kita tetap keras dan bau?

Sepengamatannya, ada tiga makam jemaah: Pertama, Awam—yang masuk karena butuh istirahat; Kedua, Khowas—yang sengaja menjauh demi menjaga hati, dan kemudian Khowasul Khowas—yang tinggal di Abraj tapi matanya “buta” terhadap kemewahan.

Maka tanyailah dirimu: “Saat sujud, ke mana hatiku menghadap? Ke Allah, atau ke pantulan lampu chandelier di kaca jendela?” Dan, “Saat azan berkumandang, ke mana mataku pertama kali menoleh? Ke jam di puncak menara…atau ke Kabah di bawahnya?”

Abraj bukan musuh. Ia hanya cermin raksasa. Ia memantulkan dengan jujur: seberapa bising duniamu, sampai-sampai suara azan kalah oleh notifikasi. Abraj tak ubahnya gaung dari bunyi berisik hasrat dan galaumu. Ia menggemakan siapa dirimu. Apakah kau datang untuk “mengonsumsi Kabah” atau untuk “melebur di hadapan Kabah”?

Sampai di sini Nour berhenti, menatap Kabah di kejauhan, yang masih di sana—abadi: dulu, kini, dan nanti. Diam. Tidak naik. Tidak turun. Ia tetap hitam, tetap kosong, tetap menerima semua orang dengan lantai yang sama.

Di zaman di mana segalanya bisa dibeli, Allah masih menyisakan satu tempat yang tidak bisa ditawar-menawarkan. Yang selalu meluputkan diri. Yang senantiasa bertukar tangkap dengan lepas. Satu tempat di mana Raja dan kuli sama-sama sujud di marmer yang sama.

Dalam diamku saat menyimaknya, terpikir olehku: Di akhir zaman, ujian terbesar iman mungkin bukan lagi di padang pasir, melainkan di sebuah kamar hotel dengan view paling suci di dunia: Kabah.

Maghrib mulai mendekat lagi ketika kami berpisah, tepat di tengah-tengah Haram dan Abraj. Aku pasti akan merindukannya: Nour, yang modern enough to understand capitalism, dan zuhud enough to cry over it.

Kini tinggal aku sendiri, berdiri cemas dan harap di antara struktur batu dan kaca—tunduk sekaligus tengadah. Tunduk: apakah semua ini akan membawaku kepada penyerahan diri penuh-seluruh kepada-Nya atau membuatku kehilangan kepercayaan diri di hadapan dunia yang dengannya selalu kujaga jarak dan akhirnya mengabaikanku. Tengadah: apakah, setelah ini, aku hanya akan selalu bermohon kepada Dia satu-satunya pemilik bumi dan langit atau kian abai dan lalai karena kemilau dunia yang melambai dan membelai…

Antara Haram dan Abraj, aku tunduk dan tengadah. []

Mekah, 9-12 September 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top