
Sering kubayangkan Mak menyimpan dan merawat mimpi-mimpinya sebaik aku memperlakukan buku-buku cerita koleksiku: disusun rapi, sesekali diangin-anginkan supaya tidak jamuran, dan ada yang dibaca berkali-kali. Yang terakhir itu, seperti mimpi-mimpi Mak, yang suka dia ceritakan ulang.
Dipan yang ditempati Mak berbaring tidak tinggi, jadi sambil berbaring di atas kasur di lantai aku dapat memegang dan memijiti lengannya. Sudah berminggu-minggu Mak hanya bisa berbaring, mengatup mata dan menggeleng samar setiap ada keluarga yang mau membawanya ke rumah sakit.
Penciuman Mak, mungkin juga kenangannya, masih berfungsi baik. Selimut lusuh yang kututupkan ke setengah tubuhnya, yang warna birunya sudah pudar, setiap mau diganti dengan selimut lain Mak selalu menolak. Bau selimut tua itu sudah sangat akrab di hidungnya. Sewaktu masih bisa berbisik lirih, Mak pernah bilang, “Selimut itu bekas selimut bapakmu.”
Aku tak tahu kapan persisnya bapakku pergi meninggalkan rumah. Saat kondisinya belum seburuk sekarang, Mak pernah cerita bapakku pergi ke pulau seberang, mencari kerja yang lebih baik dari pekerjaannya sebagai supir truk. Pada lain waktu cerita Mak berubah, katanya bapakku kawin lari dengan perempuan pelayan warung makan langganannya. Sejak bapakku pergi itulah Mak mulai pula sakit-sakitan.
Cerita soal perginya bapakku tidak pernah jelas, Mak malah pernah berkata, “Hidup bapakmu di sana sudah enak. Sudah punya rumah besar, usahanya berkembang, dan mau beristri lagi.”
“Siapa yang mengirimi Mak kabar itu?” ragu-ragu aku bertanya. Kepergian bapakku itu bermasalah, apa mungkin masih telepon-teleponan dengan Mak?
“Maksud saya … saya bermimpi melihatnya seperti itu.”
Jawaban Mak menerbitkan tawa kecilku.
Kepergian bapakku itu kemudian menjadi alasan kakak sulungku ikut pergi. Cerita Mak padaku, hanya beberapa hari setelah tamat SMA, anak laki-laki Mak itu pamit, “Aku mau cari kerja di ibu kota, Mak. Sekalian cari Bapak.” Entah alasannya serius atau bagaimana, karena kakakku itu perginya berombongan dengan beberapa temannya. Ada tetangga yang cerita ke Mak katanya mereka mau merantau.
Keinginan Mak supaya kakakku yang satunya lagi menjadi dokter berubah pula menjadi mimpi. Mak mengakui hampir di setiap tidurnya dia melihat anak perempuannya itu sibuk melayani pasien di rumah sakit, dan sorenya dengan penuh wibawa duduk di belakang meja praktiknya. “Pasiennya banyak, berjejer di ruang tunggu,” begitu kata Mak tempo hari. “Saya bangga pada kakakmu itu.”
Kakak perempuanku itu juga cuma bersekolah sampai SMA. Mak sudah menceritakan ke aku bahwa sebenarnya ada saja paman yang mau membantu kalau dia mau kuliah, tetapi kakakku itu ngotot mau jadi penyanyi, kepingin punya album rekaman dan terkenal. Awalnya dia sering ikut-ikut di grup organ tunggal, menghibur tamu di acara pengantin atau acara-acara lain saat ada event perayaan di kota. Mungkin merasa pengalaman bernyanyinya sudah cukup, dia pergi jauh ke ibu kota negara, dan kabar yang sampai pada Mak kakakku itu menjadi penyanyi di kafe-kafe. Namun dasar Mak, masih saja selalu melamun dan mengoceh, “Di sana, kakakmu kuliah. Di kedokteran. Kakakmu kan mau jadi dokter.”
***
Kehadiran anak ketiga Mak tidak direncanakan. Bakal bayi itu katanya sudah ada di rahim Mak sebelum bapakku pergi, tanpa mereka menyadari kehadirannya. Seiring perkembangan besar perutnya, Mak mulai menyimpan harap agar kelak anak bungsunya itu menjadi orang sukses, sampai sering meniupkan harap ke kandungannya, “Kamu akan jadi dokter seperti kakakmu ….”
Anak bungsu Mak terlahir perempuan. Anak itu lahir dengan bentuk kepala berbeda dari bayi normal; ukuran kepalanya tumbuh membesar lebih cepat dari proporsi perkembangan badannya, sampai tampak menenggelamkan bola matanya ke dalam batok kepalanya yang besar itu. Dokter yang menangani bilang ada cairan di kepala yang terus bertambah dan harus dikeluarkan, yang akan dialirkan lewat selang kecil ke bagian bawah tubuhnya. Kepala anak itu kemudian dioperasi saat usianya masuk tiga bulan.
Setelah dioperasi, ukuran kepala anak itu memang bisa stabil, tidak lagi mengalami pertambahan ukuran, tetapi tubuhnya tetap saja lemah. Ukuran kakinya kecil, tidak seimbang dengan ukuran tubuhnya. Ketika usianya yang seharusnya sudah bisa berjalan, anak itu malah mengesot, dan jika mau berpindah tempat atau mengambil sesuatu dia menggulingkan tubuh seperti bantal guling yang menggelinding.
Meski Mak sangat prihatin melihat kondisi anak bungsunya, harapan tetap terbit karena anak itu ternyata masih punya minat pada hal-hal tertentu: sangat suka membuka-buka halaman buku yang ada gambar dan ceritanya, gemar menonton film fantasi di televisi, sampai hapal jadwal tayang film-film kesukaannya.
Mak tidak ingin pasrah begitu saja dengan keadaan anak bungsunya. Si anak dimasukkan ke sekolah luar biasa, sejak dari tingkat SD sampai SMP. Dalam periode itu, anak Mak ini lahap pula membaca novel, terutama genre fantasi. Di kelasnya, anak itu lumayan menonjol: menjadi juara bercerita dan mendongeng, bahkan bisa tampil di panggung membaca puisi bikinannya sendiri saat penamatan sekolah.
Sebagian kejadian pada anak itu diceritakan Mak padaku, sebagian lagi aku ingat sendiri. Anak bungsu Mak itu aku.
***
Aku bersekolah hanya sampai tamat SMP. Jenjang sekolah berikutnya tidak bisa lagi kujalani karena keadaan. Sekolah itu jauh, di kota sebelah, dan tidak ada yang bisa mengantarku. Tubuhku tumbuh cenderung gemuk, tetapi pertumbuhan kakiku jauh lebih lambat dan seperti tidak menyimpan tenaga. Berkali-kali aku jatuh terduduk bila memaksakan berjalan sendiri tanpa ada yang memegang, atau tanpa berpegangan.
Karena merasa otakku baik-baik saja, maka aku bertanya pada Mak, “Mak, kapan aku bisa sekolah lagi?”
“Nantilah,” Mak hanya menggumam.
“Hh, harusnya aku sekarang sudah SMA, lho Mak.”
“Kamu temani saja dulu saya di rumah, ya?” Suara Mak ketika berbicara itu sudah lemah; memang sesekali masih bisa bangun dari tempat tidurnya, tetapi harus dibantu. Untung ada keluarga dan tetangga yang biasa datang membantunya, sekalian memapah bila Mak ingin ke ruang lain.
Mau tidak mau alasan aku tidak bisa dulu melanjutkan sekolah harus aku terima. Soalnya, untuk berangkat ke sekolah, harus ada yang mengantarku. Naik ke atas boncengan motor, begitu juga bila mau turun, harus ada yang membantuku. Mak ragu kalau yang mengantar dan menjemputku dari sekolah itu orang lain, mengingat kondisiku akan merepotkan orang karena harus dinaik-turunkan dari motor.
Sampai aku pernah bilang pada Mak, “Coba aku bisa bawa sendiri motor ya, Mak?”
Dengan gerak tubuh yang dipaksakan, Mak memelukku.
Tidak lama setelahnya, Mak terjatuh sewaktu memaksakan diri ke kamar mandi sendirian. Selepas dirawat di rumah sakit, kondisinya malah makin payah, lebih banyak berbaring. Aku iba melihat penurunan kondisi Mak. Aku memang harus tahu diri, banyak hal yang membuatku tidak bisa lagi meneruskan bersekolah.
***
Tidak ada lagi kegiatan saat bersama Mak kecuali menemaninya berbaring, menaik-turunkan selimut biru-lusuhnya mengikuti keadaan suhu ruangan. Untuk membersihkan tubuh Mak, ada keluarga yang selalu datang membantu.
Sebelum-sebelumnya memang aku juga yang selalu bersama Mak. Aku menemaninya di dapur, meski hanya bisa membantu memotong-motong sayuran berdaun karena keterbatasan tenaga dan kemampuanku. Atau menemaninya duduk-duduk di teras: Mak dengan tatapannya yang lurus ke jalanan, sedang aku asyik sendiri membaca buku-buku cerita koleksiku yang selalu dibelikan salah seorang paman. Pada lain waktu, giliran Mak yang menemani aku menonton film kesukaanku di TV.
Sekarang Mak tidak lagi bereaksi banyak, tidak seperti pada hari-hari dan minggu-minggu sebelumnya dengan selalu membisikkan mimpi-mimpinya, “Saya larang dulu kakakmu punya suami. Punya suami akan membuatnya repot, bisa mengganggu jadwal praktiknya.” Kuusahakan selalu tetap tersenyum-senyum menanggapi cerita mimpi-mimpi Mak.
“Eh … Diro sudah jadi direktur di salah satu perusahaan bapakmu,” gumam Mak lagi, menyinggung kakakku yang laki-laki.
Akhirnya aku memancing, “Info dari siapa lagi, nih?”
“Tidak dari siapa-siapa.”
“Terus, dari mana Mak tahu?”
“Dari mimpi saya.” Sejenak Mak mengatup matanya; maksudku mengatup lebih rapat, karena dari tadi sebetulnya sudah mengatup.
“Aih, cuma mimpi pula?”
“Tapi … siapa tahu bisa jadi benar….”
Ada kalanya Mak bisa juga merajuk. “Dasar bapakmu … karena saya tidak bisa bawa motor, malah saya mau dibelikan sepeda. Biar serasi, katanya, karena saya sudah tua, jadi cocoknya pakai sepeda ontel saja.”
“Itu pasti cuma mimpi Mak, iya kan?” pancingku.
“Entahlah … kalau yang itu, saya sudah lupa kapan kejadiannya.”
Mimpi tentang kedua kakakku, sesekali tentang bapakku, Mak selalu ulang-ulang menceritakannya. Sedang mimpi tentang aku, hanya sekali Mak menceritakan, seperti ini: “Kulihat kamu berjalan-jalan di pantai … lalu kamu berlari … berlari-lari mengejar kepiting-kepiting kecil yang cepat-cepat bersembunyi, masuk ke lubang-lubangnya di pasir ….”
“Aku sudah lupa, Mak, kapan dan di mana itu,” kataku, mencandai Mak ketika itu.
Sejenak Mak terdiam. Ujung-ujung bibirnya yang keriput tersenyum samar. Setelahnya dia bergumam, “Oh … itu memang cuma mimpi saya.”
Biarlah orang tua lain menceritakan dongeng kepada anaknya saat berbaring bersisian, sedang Mak lebih suka menceritakan mimpi-mimpinya.
Dan sekarang, Mak tidak bisa lagi menceritakan mimpi-mimpinya. Dia terus tertidur, terus mengatup mata, dengan gerak naik-turun dadanya yang terlihat sangat pelan. Lewat gelengan kepalanya yang samar, Mak menampik bujukan keluarga yang hendak membawanya ke rumah sakit. Aku manut saja; biarlah di rumah Mak meneruskan tidur, meneruskan bermimpi dan menyimpan mimpi-mimpinya itu dengan rapi.
Keluarga mulai ada yang dongkol, bingung mencari cara memanggil kedua kakakku pulang karena nomor HP mereka sudah berubah, sama bingungnya mencari tahu keberadaan bapakku. Aku tahu Mak tidak mau peduli lagi; mereka mau pulang atau tidak, bagi Mak sama saja: Mak hanya ingin meneruskan tidur dan merawat mimpi-mimpinya.
Dari sekian mimpi-mimpi Mak, kupinjam satu untuk kusimpan sendiri; mimpinya tentang aku: “Kulihat kamu berjalan-jalan di pantai … lalu kamu berlari … berlari-lari mengejar kepiting-kepiting kecil yang cepat-cepat bersembunyi, masuk ke lubang-lubangnya di pasir ….” Kutatap kakiku yang kecil, yang sama sekali tidak menyimpan tenaga. Berdiri pun aku harus dibantu. []
Bukit Wekke’e Parepare, 2025/2026




