
| Judul | Maulud di Pariaman |
| Penulis | Dra. Izati, Lisa Sri Dwiyana, S. Sos., Abasrul, S. Sos., Ermawati, Erisanto. |
| Penerbit | Pemda. Sumatera Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, UPTD Museum Adityawarman. |
| Tahun Terbt | 2009 |
| Tebal | vi + 88 Halaman |
Buku yang ditulis oleh Dra. Izati, dkk ini menggambarkan perayaan maulid nabi Muhammad S. A. W. yang dirayakan begitu meriah di Pariaman, lebih tepatnya di kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung dan kecamatan Nan Sebaris. Buku ini bukanlah sebuah buku cerita yang menguraikan ritual keagaamaan sekelompok masyarakat menggunakan pendekatan sastra, melainkan sebuah hasil penelitian yang terstruktur, berisi data empiris, dan dituliskan dengan format penulisan ilmiah. Sebagai sebuah tulisan ilmiah, buku ini ditulis dalam VII bab. Bab I Pendahuluan, Bab II Identifikasi, Bab III Sejarah Masuknya Islam ke Minangkabau, Bab IV Maulud di Pariaman, Bab V Makanan dan Peralatan dalam Upacara Maulud, Bab VI Fungsi Peringatan Maulud dalam Kehidupan Masyarakat, dan Bab VII Penutup.
Bagian pendahuluan berisikan latar belakang, perumusan masalah, dasar penulisan, tujuan, ruang lingkup, dan metode. Pada bab ini diterangkan apa yang melatarbelakangi penelitian ini dikakukan hingga metode yang digunakan. Ringkasnya, penulis menerangkan bahwa perayaan maulud atau maulid Nabi Muhammad S.A.W. di Pariaman merupakan bagian dari salah satu unsur kebudayaan secara universal yang dirumuskan Koentjaraningrat, yaitu sistem religi atau kepercayaan. Kebudayaan bersifat dinamis, sistem religi atau kepercayaan merupakan unsur yang paling lambat mengalami perubahan dibandingkan dengan 6 unsur lainnya.
“Memperingati hari kelahiran nabi atau Maulud tidaklah sama dengan merayakan hari ulang tahun orang biasa. Dalam memperingati dan memuliakan bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. maksudnya adalah upaya untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat muslim bagaimana sejarah kehidupan nabi, perjuangan beliau dalam menyiarkan dan mengembangkan serta menegakkan agama Islam semasa beliau hidup”
(Izati. et al. 2009).
Tidak hanya menjelaskan tentang perayaan maulud, buku ini juga menguraikan secara singkat sejarah, bentang alam, penduduk, dan latar belakang sosial dan budaya Pariaman. Dengan adanya uraian ini pembaca seolah diajak untuk lebih mengenali Pariaman sebelum selanjutnya dijelaskan menganai upacara maulud yang dilaksanakkan dengan meriah di daerah ini.
Setelah uraian mengenai Pariaman, buku ini juga menjelaskan sejarah masuknya agama Islam ke Minangkabau. Pada bagian ini, beberapa pendapat ahli sejarah dibentangkan untuk kemudian ditarik satu kesimpulan mengenai tahun masuknya islam ke Minangkabau. Pada bagian selanjutnya diuraikan tentang maulud di pariaman. Pada bagian ini maulud di pariaman dituliskan mulai dari sejarah maulud hingga pelaksanaannya di Pariaman. Pelaksanaan maulud di pariaman dilaksanakan di rumah pribadi, surau, dan masjid.
Perayaan di rumah pribadi dasarnya adalah sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang telah didapat. Ini dilaksanakan secara mandiri oleh keluarga yang bersangkutan. Sedikit lebih besar dari perayaan di rumah pribadi, maulud juga dilaksanakan di surau. Pelaksanaan maulud di surau dilaksanakan oleh satu kaum dan melibatkan lebih banyak orang. Perayaan yang paling besar dan merupakan puncak kemeriahan maulud nabi dilaksanakan di masjid. Pelaksanaan di masjid melalui serangkaian proses yang menghabiskan sedikitnya satu bulan waktu persiapan. Persiapan tersebut antara lain:
- Sidang pleno. Rapat besar-besaran yang dihadiri oleh alim ulama, niniak mamak, cadiak pandai dalam nagari. Sidang ini bertujuan membentuk panitia pelaksana.
- Rapat panitia inti.
- Menyiapkan tempat dan sound system.
- Mendudukkan orang siak.
- Kegiatan puncak. Kegiatan puncak dari perayaan maulud adalah badikie.

Bab selanjutnya menjelaskan mengenai makanan-makanan yang dihidangkan dan peralatan yang digunakan dalam perayaan maulud di pariaman. Dengan adanya bagian ini, buku Maulud di Pariaman ini juga mengeksplorasi kekayaan gastronomi yang dihidangkan dalam upacara maulud di pariaman dimana makanan yang dihidangkan adalah makanan-makanan yang khas dan melekat pada kebudayaan masyarakat Minangkabau. Salah satu makanan yang identik dan melekat dengan perayaan maulud adalah lemang atau lamang.

Sama halnya dengan makanan yang disajikan, peralatan yang digunakan juga identik dengan kebudayaan masyarakat Minangkabau seperti carano. Secara tidak langsung buku ini juga menggambarkan bagaimana akulturasi terjadi dalam upacara keagamaan di Minangkabau. Selain itu, buku ini juga menjelaskan bahwa acara maulud di Pariaman juga menjadi momen penggalangan dana untuk pembangunan masjid. Momen maulid nabi rupanya juga memperkuat tali silaturahmi, memperkuat semangat gotong royong, dan memupuk rasa persaudaraan masyarakat.
Sebagai sebuah hasil penelitian, buku Maulud di Pariaman karya Dra. Izati dkk. Ini telah merekam dengan detail bagaimana perayaan maulid nabi di Pariaman yang begitu meriah. Sampai hari ini kita yang berada di Sumatera Barat masih bisa menyaksikan upacara ini, untuk menambah pengetahuan tentang perayaan tersebut buku Maulud di Pariaman ini sangat direkomendasikan untuk dibaca.




