
Pameran tunggal retrospektif Asrul Sani tentu bukan sekadar upacara penghormatan kepada salah satu figur sentral perfilman dan teater Indonesia. Ia adalah sebuah studi kasus kuratorial yang cermat. Eksperimentasi konseptual tentang bagaimana cara memosisikan karya artistik dan intelektual masa lalu agar tidak hanya dipajang sebagai objek museum. Sekaligus, dihidupkan kembali sebagai subjek aktif dalam percakapan budaya kontemporer.
Diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), pameran ini dirancang untuk menjawab pertanyaan fundamental: bagaimana seorang maestro dari generasi perjalanannya dapat “terdampar” dengan kuat di tengah-tengah realitas sosial dan intelektual saat ini? Ini sekaitan dengan tema pameran. Taklimat itu bukanlah frasa semata. Tersangkut di dalamnya, kerangka kerja naratif yang sengaja dipilih untuk menciptakan sebuah dinamika dialog.
Kata ‘berkelana’ menggambarkan perjalanan luas dan dinamis Asrul Sani, seorang dokter hewan yang lahir di Rao, Sumatera Barat pada 10 Juni 1926. Daya jelajah termaktub pada ranah perfilman dan sastra, arena politik dan institusional budaya Indonesia pasca-kemerdekaan. Di sisi lain, kata ‘terdampar’ menyiratkan sebuah momen konfrontatif atau resonansi yang tiba-tiba. Ide-ide, dilema, dan bahkan trauma dari masa lalu seketika menyerbu, menjadi sangat relevan dan menyentuh realitas kini.
Pengalaman seorang pengunjung yang menyatakan, “Saya datang untuk melihat masa lalu, tetapi saya merasa seperti melihat masa kini beberapa kali,” (https://www.kompasiana.com/valenciomickelind) seperti menciptakan efek emosional dan intelektual.
Membongkar Makna Frasa Tema
Kerangka naratif pameran merupakan fondasi intelektual yang menggerakkan keseluruhan pengalaman pengunjung. Analisis terhadap frasa di atas menunjukkan bahwa ia dirancang bukan sebagai deskripsi pasif, melainkan sebagai instrumen aktif untuk menciptakan sebuah dialog dinamis antara dua kutub waktu.
Kurator dan periset secara sadar membangun pameran ini sebagai sebuah medium percakapan, bukan monumen statis. Langkah pertama dan paling fundamental dalam kerangka ini adalah penempatan Asrul Sani bukan hanya sebagai seorang ‘sutradara film’ atau ‘maestro’, melainkan sebagai seorang polimatik. Penempatan ini adalah sebuah gerakan kritis yang menggeser fokus dari spektrum pencapaian profesionalnya ke arah keseluruhan ekosistem pemikiran dan praktik artistiknya.
Dengan birai ini, Asrul Sani diposisikan sebagai individu yang bergerak lintas batas— antara sastra dan teater, antara teori dan praktik, antara seni dan politik. Audiens tidak lagi melihat film-filmnya secara terisolasi, melainkan sebagai bagian integral dari sebuah sistem gagasan yang koheren namun kompleks, yang mencakup karier panjangnya sebagai sastrawan dari Angkatan 45, pendiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), politisi partai-partai Islam, rektor lembaga seni tinggi (IKJ), DKJ, dan intelektual-translator yang produktif.
Dengan pendekatan ini, DKJ ingin membantu publik memahami tulisannya dalam konteks yang lebih luas dan multifaset, sehingga karyanya tidak hanya dinilai dari standar perfilman semata.

Frasa ‘Berkelana ke Masa Lampau’ mengundang audiens untuk melakukan perjalanan jelajah bersama Asrul Sani. Perjalanan ini tidak hanya fisik, dari Sumatera Barat ke Jakarta, Rotterdam, California, tetapi juga intelektual dan ideologis. Ia melintasi periode-periode sejarah yang krusial bagi bangsa Indonesia, mulai dari era Angkatan 45 yang idealistis, masa Orde Lama yang sarat polemik politik sastra seperti perseteruannya dengan Lekra dan Pramoedya Ananta Toer, hingga Orde Baru yang ditandai dengan produksi film-film dengan nuansa religius-dawah.
Pameran yang berlangsung dari 21-30 Agustus 2026 ini, menampilkan arsip-arsip dari berbagai periode, secara visual dan naratif memetakan perjalanan ‘ke masa lampau’ ini. Sebuah lini masa panjang, sebagai misal, memenuhi seluruh ruangan di dinding menjadi titik acuan utama, melukiskan rentang hidup Asrul Sani dari kelahiran di Rao pada 1926 hingga wafatnya di Jakarta pada 2004.
Galeri waktu diperkaya dengan foto-foto lawas, kliping koran, dan poster film, yang secara kolektif menunjukkan betapa luasnya ‘kelanaan’ intelektual dan artistiknya. Pameran yang berlangsung di Ruang Museum Koleksi TIM ini menempatkannya dalam konteks historisnya yang sesungguhnya. Ia bukan tokoh tunggal yang unik, melainkan bagian tak terpisahkan dari sebuah gerakan budaya besar yang sedang mencari bentuk dan identitasnya setelah merdeka.
Di sinilah frasa kunci kedua, ‘Terdampar ke Masa Kini’, masuk sebagai titik pemicu dialog. Kata ‘terdampar’ memiliki ambiguitas yang kaya: ia bisa merujuk pada situasi di mana seseorang atau sesuatu tiba-tiba dan tanpa kontrol di suatu tempat yang asing, atau bisa juga berarti sebuah penemuan tiba-tiba di sebuah tempat yang baru. Dalam konteks pameran, ‘terdampar’ menggambarkan fenomena di mana warisan ideologis, sosial-politik, atau bahkan personal dari masa lalu Asrul Sani tiba-tiba menjadi relevan dan bahkan konfrontatif di masa kini.
Kuratorial ingin menciptakan perasaan ‘terdampar’ ini melalui beberapa strategi. Pertama, dengan menyoroti isu-isu dalam karyanya yang belum terselesaikan. Drama Mahkamah, misalnya, yang merupakan ‘autopsi psikologis dan moral’ atas trauma Tragedi Madiun 1948, ‘terdampar’ pada diskursus modern tentang keadilan transisional, reformasi hukum, dan rekonsiliasi nasional yang masih hangat dibicarakan di Indonesia.
Kedua, ‘terdampar’ bisa merujuk pada persoalan-persoalan universal yang tidak pernah usang. Film-filmnya seperti Apa yang Kau Tjari Palupi? dan Kemelut Hidup seringkali berpusat pada dilema moral individu, identitas, dan perjuangan antara prinsip dengan lingkungan sosial yang keras. Isu-isu ini tidak memiliki label tanggal dan oleh karena itu, setiap generasi penonton dapat kandas di dalamnya, menemukan cerminan diri mereka sendiri.
Ketiga, kuratorial menggunakan artefak pribadi untuk menciptakan perasaan ‘terdampar’ secara emosional. Menampilkan mesin tik tua, catatan tangan, atau koleksi majalah lawas seperti Budaya Djaja dan Gelanggang mengubah Asrul Sani dari sosok abstrak maestro menjadi manusia konkret dengan proses kreatif dan kebiasaan sehari-hari. Audiens tersesat bukan di ruang sejarah, tetapi di ruang pribadi sang maestro, menciptakan koneksi intim.
Tujuan akhir dari bingkai ini, seperti yang diungkapkan oleh Ketua DKJ, Dewi Umaya Rachman, adalah untuk mengubah arsip Asrul Sani dari sekadar ‘ingatan’ menjadi sebuah ‘percakapan baru’. Pameran ini secara eksplisit tidak ingin meninggalkan karya-karya Asrul Sani sebagai objek yang sudah mati dalam lemari arsip, melainkan memaksanya untuk kembali berbicara dan berdialog dengan generasi sekarang. Hal ini terlihat dari pemilihan materi arsip yang tidak hanya bersifat formal (poster film, naskah), tetapi juga informal (majalah pribadi) dan pribadi (catatan tangan).
Resonansi di Panggung Modern
Resonansi kontemporer Asrul Sani tidak hanya terbatas pada trauma sejarah kolektif, tetapi juga merambah ke ranah moralitas dan identitas individu, tema yang universal dan tidak pernah usang. Banyak filmnya, seperti Jembatan Merah (1981) dan Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), berpusat pada karakter-karakter yang menghadapi dilema moral yang ekstrem dalam lingkungan sosial yang keras. Tokoh-tokoh ini seringkali berjuang untuk mempertahankan integritas dan harga diri mereka di tengah godaan nafsu, kekuasaan, atau tekanan situasi.

Topik tentang identitas, kehormatan, dan perjuangan antara prinsip dengan kebutuhan hidup adalah benang merah yang menghubungkan karya Asrul Sani dari masa lalu dengan kebutuhan penonton modern. Di tengah maraknya diskursus soal etika publik, korupsi, dan penurunan nilai-nilai moral, citra karakter-karakter dalam film Asrul Sani menjadi referensi yang menarik untuk direfleksikan kembali. Pameran, dengan menampilkan film-film ini melalui pemutaran berkala, secara aktif memfasilitasi dialog ini, mengajak penonton modern untuk ‘berdialog’ dengan karakter-karakter dari film-film lawas tersebut.
Selain relevansi tematik, warisan filosofis Asrul Sani juga menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Salah satu konsep paling sentralnya adalah pandangannya tentang fungsi seni. Ia mendefinisikan budaya dan seni sebagai “keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga: agama, ilmu pengetahuan, dan seni. Pandangan ini, yang ia sampaikan dalam konteks dialog dengan Nahdlatul Ulama (NU), menempatkan seni bukan sebagai hiburan semata atau komoditas pasar, melainkan sebagai alat transformasi sosial dan spiritual.
Di era digital saat ini, di mana seni seringkali dieksploitasi sebagai produk konsumerisme atau alat propaganda, pesan ini terasa sangat segar dan relevan. Ia mengingatkan kita pada peran edukatif dan reflektif seni, sebuah kontraplan terhadap budaya instan dan permukaan. Pameran dengan sengaja menempatkan kutipan ini sebagai bagian dari narasi, sehingga pengunjung dapat merasakan dampak pemikiran intelektualnya di luar ranah perfilman.
Arsip sebagai Medium Percakapan
Pameran Maestro Film dalam menciptakan dialog antara masa lalu dan kini terletak pada cara memperlakukan arsip. Alih-alih menampilkan arsip sebagai barang koleksi yang kering dan kaku, pameran ini secara sengaja merancangnya sebagai medium percakapan.Bahan mentah yang potensial untuk memicu interpretasi, nostalgia, dan refleksi baru.

Gabungan berbagai sumber ini (Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan yang terpenting, arsip pribadi dari keluarga Pak Asrul), tidak hanya memperkaya narasi, tetapi juga memberikan rasa keaslian yang kuat. Pengunjung dimungkinkan untuk merasakan kehadiran sejarah secara langsung. Namun, yang membuat arsip ini berbicara adalah cara ia dipresentasikan— tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi sebagai artefak yang hidup.
Salah satu elemen penataan yang paling kuat dan berpengaruh adalah penempatan naskah asli dari film ‘Jenderal Nagabonar’ dalam sebuah etalase terbuka. Keputusan ini adalah sebuah gerakan kuratorial yang brilian. Alih-alih hanya menampilkan poster film atau cuplikan video, kurator memilih untuk menunjukkan ‘mesin cetak’ dari film tersebut: proses kreatifnya. Pengunjung didorong untuk berhenti, membungkuk, dan membaca dialog antara karakter Nagabonar dan Bujang langsung dari sumbernya.
Aksi membungkuk dan membaca ini sendiri adalah sebuah ritual yang mengubah pengalaman dari yang pasif (melihat) menjadi aktif (membaca dan berpartisipasi). Ini adalah cara yang sangat efektif untuk menjembatani masa lalu (proses pembuatan film pada tahun 1980-an) dengan masa kini (pengalaman sensorik dan intelektual pengunjung di tahun 2026). Pengunjung tidak lagi hanya menonton hasil akhir yang sudah jadi; mereka diajak untuk merasakan proses kreatif Sang Maestro. Hal ini secara fundamental mengubah hubungan mereka dengan karya tersebut, dari konsumen menjadi mitra dalam proses interpretasi.
Elemen pengorganisiran yang berlawanan, tapi sama kuatnya adalah penampilan artefak pribadi yang sangat personal. Di balik kaca etalase, tersimpan mesin tik tua, kacamata baca, dan koleksi majalah-majalah lawas seperti Budaya Djaja dan Gelanggang.
Artefak-artefak ini berfungsi sebagai portal temporal yang kuat. Mesin tik, sebagai alat produksi intelektual, mengingatkan kita pada proses kerja keras dan rutinitas kreatif yang mendasari karya-karya monumental Asrul Sani. Kacamata baca, sebuah aksesori yang sering diabaikan, secara ajaib mengubah sang maestro yang legendaris menjadi seorang pria tua yang sedang berusaha membaca teks-teks yang tipis. Majalah-majalah lawas ini, dengan desain grafis dan tipografi zamannya, bukan hanya dokumentasi, tetapi sampul-sampul dari dunia intelektual Asrul Sani pada masanya, dunia di mana ia berinteraksi, berdebat, dan membentuk opini bersama rekan-rekannya.

Pengunjung yang membaca sampul-sampul majalah itu, meskipun tidak memahaminya sepenuhnya, merasakan getaran dari atmosfer budaya di era 1950-an hingga 1970-an. Pameran ini, dengan menampilkan artefak pribadi ini, berhasil ‘menyeret’ audiens masuk ke masa lalu, menciptakan empati dan koneksi pribadi yang sulit dicapai melalui poster film atau biografi saja.
Jangan lupakan berbagai jenis dokumen dan materi visual untuk membangun narasi yang lebih kaya. Lini kehidupan dan karya yang panjang di dinding menjadi peta yang mengarahkan pengunjung melintasi lintas waktu Asrul Sani. Poster-poster film dari berbagai periode menunjukkan evolusi gaya dan tema dalam kariernya sebagai sutradar. Kliping koran, baik dari masa lalu maupun komentar-komentar dari media kontemporer, menunjukkan bagaimana citra Asrul Sani dibentuk dan diperdebatkan seiring waktu.
Setiap jenis arsip ini dipilih bukan untuk tujuan nostalgik belaka, melainkan untuk membangun sebuah argumen: Asrul Sani adalah subjek yang kompleks dan multi-wajah. Dengan menempatkan artefak pribadi di samping naskah film yang monumental, dan lini masa yang formal di samping poster-poster yang penuh warna, kuratorial bermaksud menciptakan dialog vertikal dan horizontal antar-arsip tersebut. Pengunjung diajak untuk menyusun kembali makna dari fragmentasi sejarah ini, menjadi detektif budaya yang merekonstruksi kembali sosok Asrul Sani.
Dengan demikian, arsip dalam pameran ini bukanlah akhir dari sebuah percakapan, melainkan titik awal yang baru. Ia adalah medium yang berhasil menghidupkan kembali ingatan dan mengubahnya menjadi percakapan yang dinamis dan relevan bagi generasi masa kini.
Ruang Diskusi sebagai Arena Diskursus
Program tidak berhenti pada batas-batas etalase arsip dan layar dokumenter. Pameran juga menghadirkan program-program paralel yang bertujuan untuk mengubah pengunjung dari sekadar penonton pasif menjadi para peserta aktif dalam dialog yang ingin dibangun.
Serangkaian diskusi publik yang dirancang dengan tema-tema spesifik. Diskusi pertama, bertajuk Asrul Sani di Mata Generasi Muda. Rebecca Kezia (Kurator Seni Pertunjukan), Aisha Shaidra (Jurnalis Tempo), Shadia Pradsmadji (Dosen Film) tampil sebagai pembicara. Sedangkan moderator diampu Lulu Ratna (Dosen Film).

Forum ini secara eksplisit membuka ruang bagi para pemuda untuk menginterpretasikan kembali warisan Asrul Sani dalam konteks mereka sendiri. Ini adalah bentuk partisipasi langsung yang sangat kuat. Diskusi bisa menjadi fasilitator yang memungkinkan lahirnya perspektif baru dari generasi yang tidak mengalami masa keemasan kreativitas Asrul Sani.
Diskusi II bertajuk Asrul Sani dan Inovasi Arsip. Kepala Sinematek Indonesia Farry Hanief dan peneliti film, Bunga Siagian sebagai narasumber. Umi Lestari, yang baru jasa pengurus Komite Film DKJ menjadi moderator.
Diskusi itu seperti membuka panorama perlakuan ‘kita’ terhadap arsip. Farry menceritakan bagaimana awal sinematek terbentuk. “Bermula dari pengumpulan foto syuting,” katanya. Separo mengeluh, Farry membincangkan gedung arsip yang juga didirikan Asrul bersama Misbach Yusa Biran. Kondisinya kini. Ia sudah tidak mampu menerima arsip baru.
Bunga mengingatkan film bisa sebagai aktivisme. Selama bertahun ia hanya fokus pada film Asia-Afro. Ide ini dipantik oleh Konfrensi Asia Afrika di Bandung. Ia melihat pengarsipan butuh banyak cara agar tetap bisa hidup.

Sebagai periset, saya mengajukan usul fiksionalisasi dalam pameran. Misalnya, membuat pertunjukan pendek dialog Asrul dengan Bung Karno. Ini mengelakkan kekerontangan pameran arsip.
Pada Sesi III, diskusi Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario, perbincangan semakin mendalam. Baik Riri Riza dan Azalia Muchransyah mengupas beberapa film untuk melihat jejak Asrul. “Pagar Kawat Berduri adalah master,” kata Riri. Sementara, Azalia meneropong feminisme dalam beberapa film, termasuk Jembatan Merah dan Kemelut Hidup.
Lagi, sebagai periset saya membayangkan Asrul sebagai pecinta aktor. Begitu juga soal naskah. Ia mengkritik penulisan skenario yang benar-benar buruk. Kalau diambil dari penyutradaraan, bisa dilihat, Asrul tidak terlalu tertarik. Bahkan, dalam teater kalau ada yang bilang Asrul sutradara bagus, itu mesti direset ulang. Pertunjukan Mahkamah (1988) yang disutradarainya mendapat respons ‘datar’ dari bebragai media ternama. Padahal, ia sudah menggunakan ‘aktor kejutan’ seperti Rosihan Anwar atau, Bob Sadino.
Selain diskusi, program pemutaran film dan pembacaan karya juga memainkan peran vital. Pameran ini secara rutin menyelenggarakan pemutaran delapan judul film yang ditulis dan/atau disutradarai oleh Asrul Sani, seperti Terimalah Laguku, Pagar Kawat Berduri, dan Omong Besar.
Pemutaran ini lebih dari sekadar hiburan. Ia menghidupkan kembali pengalaman menonton film di bioskop. Menonton film-film hitam-putih atau berwarna lawas dalam suasana komunal di Teater Asrul Sani dan teater Sjuman Djaja menciptakan pengalaman sensorik yang berbeda dari menonton di rumah. Ini mengingatkan kita pada masa ketika film bukan hanya produk, tetapi sebuah peristiwa budaya yang bisa membangkitkan ‘kegelisahan’, ide, dan pandangan hidup.
Program pembacaan esai oleh aktor kondang Teuku Rifnu Wikana menambah lapisan lain, mengubah teks-teks intelektual Asrul Sani menjadi sebuah pertunjukan luring yang emosional dan mudah dicerna oleh audiens luas. Selain itu, ada juga pengulangan adegan melalui dramatic reading dari skenari Kejarlah Daku Kau Kutangkap.
Kehadiran berbagai program ini secara kolektif berfungsi untuk memastikan bahwa pameran tidak pernah menjadi monolog. Sebaliknya, ia adalah sebuah arena diskursus yang dinamis. Setiap elemen— diskusi, pemutaran film, pembacaan puisi— merupakan sebuah node dalam sebuah jaringan percakapan yang lebih besar. Pengunjung yang datang hanya untuk melihat arsip mungkin terdorong untuk menyimak diskusi, atau penonton film mungkin tertarik untuk melihat naskah aslinya.
Pameran ‘Asrul Sani’ tak sekadar pameran seni tradisional. Ia menjadi sebuah festival mini. ‘Pusat stud’i sementara, dan yang terpenting, ruang publik di mana berbagai pemangku kepentingan —para sejarawan, para kritikus, para kreator, para pemuda, dan para pencinta seni— dapat berkumpul untuk berdialog, bertanya, dan berefleksi bersama tentang relevansi seorang polimatik dari masa lalu di tengah-tengah dunia yang terus berubah.
Meski tak pernah kenal secara pribadi, bagi saya, Asrul Sani adalah tonggak. Skenario ‘Nagabonar’ selalu menjadi inspirasi. Ke beberapa orang selalu terucap, “Sebagai skenario saja lucu,” atau “Lawan paling berat (dalam dunia skenario) hanya Pak Asrul,”.
Itu makin solid ketika menelusuri arsipnya. Judul pameran “Berkelana ke Masa Lampua, Terdampar ke Masa Kini’ merupakan judul bahasa Indonesia dari skenario Song of Joy. Skenario yang disiapkan untuk produksi internasional. Apakah itu terwujud, tak satu pun terbaca ditumpukan kliping yang tersedia.
Di Sinematek, 54 naskah skenarionya tersedia. Karena tak bisa dikopi, saya membaca beberapa di antaranya; Kemelut Hidup, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Titian Serambut Dibelah Tujuh dan Song of Joy. Itu saja membuat saya menghela nafas. Panjang. Ia memang master. []




